"Bunda ..." terjaga bangun Putri dari tidur.
Dirinya sedih melirik Parhan tidur di sampingnya. Mungkin Putri baru sadar atau dirinya mengigau terbawa dalam mimpi. Tapi firasat makin tidak enak, pelan-pelan turun dari atas ranjang tidak mau sampai bangunkan Parhan.
"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel terdengar.
Tidak jadi Putri melangkah keluar, hatinya mulai terkulik ingin sekali menjawab panggilan ponsel milik Parhan. Tapi rasa ragu makin kentara pada wajahnya, kalau-kalau dia menjawab panggilan telpon itu takut bila dari wanita lain.
Padahal dia sudah berdiri tidak jauh dari meja nakas. Masih terus berdering ponsel ingin cepat diangkat dan dijawab panggilan telpon.
"Kring ... Kring ..." suara dering tidak terlalu kencang.
Terlihat samar cahaya siapa yang memanggil, cuman lampu meja menerangi kamar jadi bikin dua mata Putri tidak terlalu jelas melihat layar ponsel hanya sedikit cahayanya terlihat.
Setelan panjang piyama biru tua yang dipakai malam Putri, persis sama juga dengan setelan panjang piyama yang dipakai Parhan masih terlelap terbaring tidur. Terasa lelah sekali tersirat pada raut wajahnya bikin nyenyak sekali tidurnya, sampai-sampai dering panggilan ponsel saja tidak terdengar.
"Hallo?" dijawab suara pelan Putri.
Sontak wajahnya sedih, dua bola matanya berkaca-kaca mengajak buat menangis. Terdengar kecil suara sambungan telpon dari seseorang terdengar kecil suaranya dari cerobong kecil speaker ponsel.
Sontak tidak terbendung tetesan air mata mulai berlinang basahi wajahnya. Tidak lagi menjawab bibirnya yang juga tidak terbalut lagi lipstik. Kuping kanannya masih menempel ponsel tertahan lemas tangan kanannya mulai terasa lelah.
Terduduk Putri dilantai, mungkin dua kakinya tidak bisa lama-lama menopang kesedihan air mata makin membanjiri wajahnya makin sembab. Pundaknya di sandarkan pada besi ranjang, ponsel begitu saja di geletakan dilantai tidak lagi terdengar suara seseorang dari luar sana.
Tidak tahu siapa yang barusan menghubungi Putri, sebentar dua kakinya melonjar nyaman dilantai lalu cepat di tariknya setengah melipat. Wajah sedih menoleh pada Parhan, lagi-lagi tidak sedikitpun terpancing bangun dengan suara isakan tangis kesedihan Putri.
Terasa ada sesuatu yang bikin hatinya terhujam bola-bola salju dingin yang makin menghujami seluruh tubuhnya. Deraian air mata dan isak tangisan pilu makin terdengar lirih sedih suaranya, tapi tidak membangkitkan terjaga bangun Parhan.
"Bunda?" lirih sedih pilu terdengar.
Mungkin yang barusan menghubungi ponsel Parhan adalah Nadira, tapi tidak mungkin dia yang menghubungi. Tapi siapa yang sudah bikin hatinya Putri bersedih sampai dirinya menangis terisak dan tetap saja Parhan masih terlelap tidur.
Beranjak bangun sedih Putri, langkahnya mengajak dirinya berlari keluar dari dalam kamar. Pintu di biarkan saja terbuka, sebentar langkahnya terhenti wajahnya menoleh pada Parhan tapi masih tetap tertidur.
"Tok ... Tok ..."