Kandungan Putri makin membesar, tentu saja pihak sekolah tidak lagi mengizinkannya buat kembali dirinya sekolah. Tentu sedih dan malu berkecamuk dalam dirinya, sindiran kasak-kusuk murid-murid menatap sinis sepanjang lorong jalan.
Makin sedih dan putus asa makin jadi terasa, dua matanya tidak berani menoleh kiri-kanan. Bibir-bibir kelihatan bergerak komat-kamit makin terasa sinis bicarakan apa yang tengah terjadi padanya.
Tatapan sinis banyak pasang mata mengarah pada perut Putri makin besar membuncit. Seragam putihnya kelihatan menyundul kedepan, langkah dua kakinya berjalan terasa berat menahan beban dalam perutnya.
"Putri ..." teriakan dari belakang terdengar.
Semua murid berlarian seakan takut saat dua langkah berjalan tertatih dibantu tongkat kayu terjepit pada ketek kanan.
"Plug ... Plug ..." suara ujung tongkat mengajak jalan jinget Arsi.
"Loe kenapa?! Ngapain loe disini?! Pergi! Pergi loe semuanya dari sini ...!" teriak kesal mengusir terlontar dari bibir Arsi tidak suka masih ada berapa siswi perhatikan Putri.
Rosi dan Ageng mengapit jalan Arsi makin mendekati Putri berbalik sedikit bingung perhatikan.
"Ar?"
"Putri?" sama-sama terdengar memanggil.
"Loe, Ar?" tanya Putri bingung.
"Ngak! Ngak Putri. Loe, jangan ngerasa bersalah. Apa yang gua alami sekarang, wajar karena gua selalu jahat dan dengki sama loe. Waktu itu, andai aja loe yang naik paralayang itu. Mungkin loe yang bakalan celaka. Niat jahat gua sama loe, sekarang udah kebayar, Put." sedihnya Arsi sedikit bercerita.
"Loe, balik aja sama Oscar?" sahut Rosi wajahnya menunduk ketakutan.
"Iya, Put. Loe balik lagi aja sama Oscar," timpali Ageng.
"Ngak. Gua ngak bakalan balik sama siapapun. Loe, tetap harus sama Oscar," sahut Putri wajahnya menunduk tangan kanannya mengelus perut.