Live Plastic

Voidham Kreator
Chapter #1

Prolog: 1

Sepuluh tahun lalu, sebuah kecelakaan tabrak lari merenggut seluruh kenangan di kepala Wira, memaksanya menyusun kembali kepingan hidup dari nol dengan identitas baru. Kini, di usianya yang menginjak 26 tahun, ia duduk di salah satu ruang kuliah sebuah universitas di Jakarta, berusaha merajut masa depan yang normal di tengah kepala yang hampa sejarah.

Di depan kelas, sang dosen tengah menerangkan materi perkuliahan dengan suara yang datar. "Dalam fisika optik, prinsip pemantulan cahaya mengajarkan kita bahwa sudut datang selalu sama dengan sudut pantul. Apa yang kita lihat di cermin hanyalah proyeksi dari pantulan cahaya, bukan objek aslinya," jelas dosen itu sambil menuliskan rumus sederhana di papan tulis.

Wira mencatat beberapa poin penting di buku catatannya, matanya fokus menatap papan, namun pikirannya sempat melayang jauh.

Begitu bel tanda selesai kuliah berbunyi, suasana kelas langsung berubah riuh. Teman-teman seangkatannya langsung membereskan alat tulis dan bersiap keluar.

"Wir, buruan! Kantin keburu penuh nih," ajak Dani, salah satu teman kuliahnya, menepuk bahu Wira.

"Sebentar, gue beresin buku dulu," jawab Wira sambil memasukkan pena ke dalam tas.

Saat ia berdiri dan melangkah keluar barisan bangku, sudut matanya menangkap sebuah keributan kecil di barisan belakang kelas. Wira menghentikan langkahnya sejenak. Di sana, seorang mahasiswa berbadan agak kurus dengan kemeja agak longgar tengah terduduk lesu di lantai. Kacamata tebalnya dirampas begitu saja oleh Haidar, mahasiswa terkenal yang dikenal sebagai anak penyumbang dana terbesar di kampus itu, dikelilingi oleh tiga orang pengikut setianya.

"Wah, penglihatan lo buram ya tanpa benda ini? Makanya, jangan sok caper di kelas," cibir Haidar sambil melemparkan kacamata itu ke temannya, membuat seisi sudut kelas tertawa mengejek. Mahasiswa malang itu—Arya namanya—hanya bisa meraba-raba meja, mencoba mencari kacamatanya dalam kepayahan tanpa berani melawan.

Beberapa dosen yang lewat di koridor luar hanya melirik sekilas lalu mengalihkan pandangan, memilih pura-pura tidak melihat demi menghindari masalah dengan keluarga Haidar yang punya pengaruh besar. Mahasiswa lain pun memilih menunduk, takut terseret.

Dani menarik lengan Wira pelan. "Udah, Wir, gak usah dilihatin. Cari mati kalau ngurusin Haidar. Ayo jalan," bisiknya cemas.

Wira terdiam sesaat, menatap Arya yang masih kesulitan memungut pecahan bingkai kacamatanya, lalu menghela napas berat. Ia tahu betul rasanya tidak berdaya di dunia ini. Namun, memilih diam adalah cara terbaik untuk bertahan hidup di tempat baru ini. Wira akhirnya mengangguk pelan dan mengikuti langkah Dani meninggalkan ruangan.

Suasana kantin kampus yang bising seketika terasa jauh saat Wira memisahkan diri untuk duduk di bangku taman beton yang berada di bawah rindangnya pohon ketapang. Ia sedang menikmati makan siangnya seorang diri ketika bayangan langkah kaki seseorang berhenti tepat di hadapannya.

Wira mendongak. Seorang perempuan muda berdiri di sana, menatapnya lekat dengan napas yang sedikit memburu, seolah ia baru saja berlari mengejar Wira sejauh kilometer. Wira sama sekali tidak mengenali wajah di hadapannya itu.

"Hmm... maaf, ada yang bisa dibantu?" tanya Wira dengan nada bingung, keningnya berkerut.

Perempuan itu—Arina—tersenyum tipis, meski ada getaran nyata di sudut bibirnya. "Kamu benar-benar gak ingat aku, Wir?" suaranya bergetar halus.

Wira meletakkan botol minumnya di atas meja. "Maaf, sepertinya kamu salah orang. Atau mungkin salah sebut nama."

Arina menggeleng pelan, lalu tanpa meminta izin, ia langsung duduk di kursi kosong seberang Wira. "Gak, aku gak salah orang. Aku tahu betul bola mata itu, cara kamu menggigit bibir bawah kalau lagi mikir keras, dan cara kamu memegang cangkir kopi. Itu pasti kamu... Wira."

Seketika atmosfer di sekitar mereka terasa lebih dingin bagi Wira. Nama aslinya disebut oleh seseorang dari masa lalu yang sama sekali terkunci di kepalanya.

"Aku mengalami kecelakaan parah sepuluh tahun lalu," kata Wira dengan suara tenang namun tegas, memasang perisai pertahanannya. "Dokter bilang memoriku hilang total. Aku bahkan hampir gak tahu siapa diriku sebelum umur enam belas tahun. Jadi, kalau kamu kenal aku yang dulu... maaf, Wira yang sekarang gak bisa ngasih respons apa-apa."

Arina menatap Wira lekat-lekat, seolah mencari sisa-sisa bayangan masa lalu di dalam manik mata Wira. Ada kelegaan sekaligus kesedihan yang mendalam di wajahnya.

"Jadi... kamu bener-bener gak ingat apa pun tentang malam itu?" tanya Arina lirih.

"Kosong," balas Wira singkat. "Hidupku sekarang bersih dari masa lalu. Aku cuma mahasiswa biasa yang lagi nyoba bertahan hidup di Jakarta."

Arina terdiam cukup lama. Angin siang berhembus pelan, menerbangkan helaian rambutnya. Ia lalu merogoh tas selempangnya, mengeluarkan selembar kartu nama kecil berwarna putih polos yang bertuliskan sebuah alamat apartemen, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Wira di atas meja.

Arina bangkit dari duduknya. "Yaudah kalau gitu... Syukurlah kalau kamu berhasil menemukan hidup yang damai sekarang, Wir."

Lihat selengkapnya