Suara gesekan handuk kecil di wastafel terdengar lirih, memecah keheningan malam di kamar mandi apartemen kecil Wira. Ia baru saja tiba setelah perjalanan panjang menggunakan motor gigi peninggalan masa lalu yang setia menemaninya. Pemuda berusia dua puluhan itu menunduk, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba melunturkan sisa-sisa debu jalanan dan kepenatan yang melekat di kulitnya.
Ia mendongak. Menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin kamar mandi yang berembun.
Wira menyipitkan mata, memperhatikan garis rahang dan struktur wajahnya yang kini tampak semakin tegas. Dan kini tampak penuh dengan ketakutan.
"Tenang, Wira. Lo aman. Nggak ada yang tahu dan liat gua di apartemen arina," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri seraya mencengkeram tepi wastafel erat-erat.
Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debar jantungnya, Wira mengambil sebuah foto dari sakunya. Sebuah foto yang ia ambil di apartemen Arina. Jemarinya terulur, membalik foto tersebut. Di bagian belakangnya, tertulis tiga nama dengan goresan tinta hitam yang mulai memudar: Daffa, Daud, dan Arina.
Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia terdiam kaku. Otaknya terasa kosong sejenak, namun ada rasa tidak asing yang menusuk pelan di dalam dadanya. Nama-nama itu... mengapa terasa begitu akrab sekaligus menakutkan? Seolah ada bagian dari ingatannya yang terkunci rapat di balik dinding tebal bernama amnesia.
Belum sempat ia merenungkan lebih jauh, layar ponselnya bergetar. Wira mengambil ponselnya. Dan ada Sebuah notifikasi pesan yang masuk.
Sebuah undangan digital berdesain mewah terpampang di layar. Pesan dari seorang teman lama, mengundangnya ke sebuah resepsi pernikahan megah yang akan dilangsungkan malam ini. Setelah beberapa hari terakhir mencoba menjalani hidup normal di kampusnya sembari samar-samar meraba kepingan masa lalu, Wira akhirnya memutuskan untuk datang.
Kemeriahan pesta pernikahan itu menyambut Wira begitu ia melangkah masuk ke dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi dengan lautan bunga segar dan kerlip lampu gantung kristal. Di atas panggung utama yang megah, pasangan pengantin baru, Mira dan Aditya, berjalan berdampingan dalam balutan busana pengantin yang elegan. Senyum merekah di wajah mereka, menyapa para tamu undangan yang bertepuk tangan riuh.
Di sisi panggung, seorang pemuda berkalung kamera DSLR berdiri siaga. Arya. Dengan sigap, ia membidikkan lensa kameranya ke arah pengantin.
"Satu, dua, tiga... senyum, dan klik!" seru Arya pelan di balik kameranya, mengabadikan momen kebahagiaan palsu itu sebelum sesi foto resmi akhirnya ditutup.
Arya menurunkan kameranya, mundur perlahan ke tepi ruangan, lalu menatap hasil jepretan di layar LCD kecil kameranya. Ia menghela napas pendek, bergumam kecil pada dirinya sendiri, "Kira-kira... apa aku sanggup hidup bahagia seperti itu?" Senyum tipis tersungging di bibirnya, menyembunyikan rasa lelah seorang fotografer bayaran.
Wira, yang berdiri tidak jauh dari sudut ruangan, Kedatangan Wira ke acara ini bukan tanpa alasan. Aditya adalah sahabat yang ia kenal di masa lalu—tepatnya ketika mereka sama-sama menghabiskan waktu berbulan-bulan di ruang rehabilitasi rumah sakit akibat kecelakaan parah yang merenggut kemampuan fisik Aditya.
Wira seketika terlempar ke memori masa lalu itu. Ingatannya berputar kembali ke masa-masa tergelap dalam hidupnya.
Tahun-tahun awal setelah kecelakaan itu, Wira hanyalah sosok pemuda yang hancur berkeping-keping. Fisiknya tersiksa, mentalnya runtuh, dan ia tidak memiliki secercah pun semangat hidup. Setiap hari, ia menangis dalam sunyi, bertanya-tanya siapa sebenarnya dirinya yang asli. Di ruangan rehabilitasi yang berbau antiseptik itu, Wira sering berharap mobil malam itu langsung merenggut nyawanya saja, alih-alih harus hidup kembali dari nol tanpa satu pun orang yang mengenali namanya.
Suatu sore, saat ia duduk sendirian meratapi nasib di kursi roda, seorang pemuda sebaya menghampirinya. Aditya. Dengan kaki yang sudah mulai pulih setelah melewati masa patah tulang parah, Aditya berjalan mendekati dan duduk di sebelah Wira.
"Hei, kenapa muka ditekuk terus?" tanya Aditya ramah kala itu.
Wira menunduk, air matanya tumpah tanpa bisa dicegah. "Gue... gue nggak tahu siapa gue. Rasanya kosong. Harusnya gue mati aja waktu kecelakaan itu. Ini bukan diri gue..." rintihnya parau.