Udara di dalam ballroom itu mendadak terasa jauh lebih tipis dari sebelumnya. Di bawah kerlip lampu kristal yang memantulkan kemewahan semu, Wira menelan ludahnya yang terasa kelat. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Arya bagaikan bilah es tipis yang langsung menusuk dada kirinya tanpa ampun.
"Arina..." desis Wira pelan, nyaris tak terdengar di antara bisingnya alunan musik latar yang mengiringi pesta.
Arya tidak melepaskan tatapannya sedetik pun. Di balik lensa kamera yang menggantung di lehernya, mata pemuda itu menyiratkan ketajaman seorang pengamat yang jeli—seseorang yang terbiasa menangkap detail terkecil yang coba disembunyikan oleh subjeknya.
Wira tahu, menyangkal tidak akan mengubah apa pun. Topeng ketenangannya mulai retak, memperlihatkan jurang kepanikan yang selama ini ia kubur rapat-rapat di balik amnesianya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Wira memilih untuk memecah keheningan itu dengan sebuah kejujuran pahit.
"Lo benar, Arya,"aku Wira dengan suara parau, memaksa dirinya menatap lurus ke mata sang fotografer. "Arina... perempuan itu memang sempat mendatangi gue kemarin. Dia datang membawa kepingan masa lalu yang selama ini hilang dari kepala gue. Dia tahu siapa gue sebelum semuanya gelap."
Arya mengerutkan kening, menunggu kelanjutan dari pengakuan tersebut.
"Tapi, bukan berarti gue pelakunya," lanjut Wira cepat, nada suaranya meninggi penuh keputusasaan saat ia mencengkeram lengan Arya. "Gue memang sempat bertemu dia, mencoba mencari jawaban atas identitas gue yang hilang. Namun, keesokan harinya... saat gue mendatangi apartemennya, Arina sudah terbujur kaku. Dia sudah meninggal, Arya. Sumpah, bukan gue pembunuhnya!"
Suasana di sudut ruangan itu mendadak sunyi secara psikologis. Arya menatap Wira lekat-lekat, menimbang setiap getaran di suara pemuda itu, membaca kepanikan murni yang terpancar dari manik matanya. Alih-alih meneriaki atau menjauh, Arya justru menghela napas panjang. Ada beban nurani yang sama di pundak pemuda itu—rasa sakit karena pernah diabaikan dunia, kini terikat dalam satu simpul misteri yang mematikan.
"Gue percaya sama lo, Wira," ucap Arya akhirnya dengan suara rendah namun tegas. "Gue nggak tahu skenario apa yang sedang mempermainkan hidup kita. Tapi kalau lu memang butuh seseorang buat membongkar siapa bajingan di balik semua ini... gue bakal bantu lu cari pembunuh aslinya."
Wira terpaku, merasa ada setitik cahaya harapan di tengah badai keparat yang menghimpit dadanya. Namun, sebelum percakapan itu merambat lebih jauh, dunia di sekitar mereka mendadak terdistorsi oleh tragedi yang bergerak dalam sunyi.
Jauh dari keramaian pesta, di dalam sebuah kamar tidur bernuansa klasik yang temaram, waktu seolah berjalan dengan lambat. Di atas ranjang berukuran besar, seorang wanita paruh baya terbaring kaku. Tubuhnya kurus kering, tak berdaya menghadapi vonis kelumpuhan total yang telah merenggut seluruh geraknya semenjak kecelakaan tragis sepuluh tahun silam.
Pintu kamar perlahan terbuka. Aditya melangkah masuk, mendekati sang ibu dengan senyuman yang dipaksakan agar terlihat tegar. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari ibunya yang dingin.
"Aditya... nak," panggil sang ibu dengan suara berbisik, napasnya terdengar memburu di setiap suku kata. "Katakan pada Ibu... apakah hari ini kau benar-benar bahagia dengan pernikahan itu?"
Aditya menelan ludah, menatap manik mata ibunya yang menyimpan kekhawatiran seumur hidup. "Aku suka, Bu. Aku baik-baik saja," jawab Aditya, mencoba meyakinkan. Ia mengelus punggung tangan ibunya lembut. "Ibu tidak perlu khawatir lagi memikirkan aku. Setelah ini... kalau pun suatu hari nanti Ibu harus pergi meninggalkanku, Ibu tidak perlu cemas aku hidup sendirian di dunia ini."
Sang ibu hanya bisa menitikkan air mata di sudut matanya, sebuah lambang kepedihan bisu dari seorang ibu yang tahu persis bahwa pernikahan putranya hanyalah sebuah benteng kesepian yang dibangun di atas fondasi keterpaksaan.
Di sisi lain gedung, terisolasi di dalam ruang rias pengantin yang sunyi, Mira menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin meja rias. Gaun putih megah yang membalut tubuhnya mendadak terasa seperti kain kafan yang menyesakkan. Matanya kosong, menatap pantulan sosok wanita asing yang terjebak dalam sangkar emas.
Apakah keputusan ini benar? batinnya menjerit dalam sunyi. Menjual jiwa demi kedamaian keluarga, sementara cinta sejatinya dikubur hidup-hidup?
"Keputusan yang sangat indah untuk ukuran seorang pengecut," sebuah suara dingin mendadak berbisik tepat di telinganya.