Hawa sejuk pendingin udara sentral di lantai dua Shields Library sudah meresap terlalu lama ke balik serat hoodie putihku. Di luar kaca jendela yang membentang lebar menghadap ke arah pelataran barat, langit Davis telah sepenuhnya kehilangan semburat senja. Tanggal lima belas September, sembilan hari sebelum ketukan palu perkuliahan Fall Quarter resmi dibuka, dan aku justru memilih mengurung diri di antara barisan rak tinggi yang memancarkan aroma kertas tua bercampur fiksatif buku baru.
Aku tidak sedang berkejaran dengan tenggat tugas, belum ada silabus yang menodong di meja belajar. Namun, membayangkan harus memutar kunci dan mendorong pintu apartemen di koridor Russell Park membuat dadaku terasa sempit seketika.
Aku tidak ingin pulang ke sana. Tidak untuk malam ini, dan jika semesta bermurah hati memberi jalan keluar, mungkin tidak untuk seterusnya.
Setiap jengkal lantai vinil di apartemen sewa itu seakan telah dipasangi radar oleh Clara Stephanie. Entah bagaimana caranya, rekan sekamarku sesama perantau asal Surabaya itu selalu punya cara untuk mengubah ruang bersama menjadi panggung dominasi pribadinya. Mulai dari caraku meletakkan wadah bekal di rak lemari pendingin, durasi pemakaian air panas, hingga bagaimana aku mengatur tumpukan jurnal di atas meja belajarku sendiri, semuanya tak pernah luput dari komentarnya yang meluncur tanpa saringan kesopanan. Clara memperlakukanku seolah aku hanyalah penumpang gelap yang menumpang tidur di sudut kamarnya, menafikan kenyataan bahwa lembar tagihan sewa bulanan yang ditarik dari rekening kami berdua bernilai sama persis hingga ke hitungan sen terakhir.
Daripada menghabiskan sisa waras untuk berdebat atau menelan getir dari mulut cabainya, aku lebih suka melarikan diri ke sini. Terkadang, jika meja perpustakaan terlalu dingin untuk berdiam diri, aku memilih menyeberang ke apartemen Kanya, mahasiswa program magister asal Chulalongkorn yang selalu menyambutku dengan teh melati hangat dan senyum ramah tanpa tuntutan.
Di hadapanku, dua jilid tebal literatur anestesi veteriner tergeletak terbuka berdampingan dengan iPad yang layarnya dipenuhi coretan diagram alir farmakokinetik. Di Yogyakarta dulu, semasa masih berkutat dengan stase klinik di FKH UGM, mendapatkan satu buku teks anestesi dengan pembaruan protokol sedasi terbaru seperti ini membutuhkan perjuangan tersendiri. Kami harus berburu salinan digital berkualitas buruk, atau merogoh koalisi uang tabungan berbulan-bulan hanya demi menebus satu buku impor yang tebalnya menyerupai bantal tidur. Kedokteran hewan di tanah air masih sering dipandang sebelah mata, membuat akses pustaka medis kami begitu terbatas dan mahal. Namun di perpustakaan ini, di salah satu episentrum riset veteriner terbaik dunia, buku-buku berharga jutaan rupiah itu berjajar rapi di rak terbuka, menunggu jemari siapa saja yang haus untuk merengkuhnya secara cuma-cuma.
Bantalan busa headphone merah muda yang melingkari telingaku terus berdenyut lembut, mengalirkan transisi ketukan lagu dari daftar putar Spotify yang melompat tanpa arah: dari denting pop akustik, beralih ke irama lambat RnB, hingga ketukan rapat lagu pop Korea. Musik itu menjadi dinding tak kasat mata yang kubangun untuk membendung dengung sunyi perpustakaan, menjaga fokusku tetap melekat pada catatan dosis darurat atropin dan lidokain.
Layar ponsel pintarku yang terbaring telungkup di sebelah sudut binder tiba-tiba memancarkan getaran panjang di atas permukaan meja kayu. Bukan sekali dua kali. Denyutnya berulang secara ritmis, menciptakan getaran halus yang menjalar ke ujung sikuku.
Aku menghela napas pendek, mengangkat sisi kiri headphone hingga bertengger di belakang daun telinga, lalu membalikkan layar ponsel. Deretan bilah pemberitahuan berwarna putih langsung bertumpuk di panel layar, menenggelamkan jam digital yang menunjukkan angka tujuh malam lewat beberapa menit. Di belahan bumi seberang, jam dinding di ruang tengah rumah keluargaku di Yogyakarta sedang berdetik menuju pukul sembilan pagi di keesokan harinya. Perbedaan waktu empat belas jam yang membentang tak ubahnya jurang benua.
Ibu: Nduk, sudah makan belum di sana? Jangan dingin-dingin terus badannya. Amandelnya dijaga, Sekar.
Ayah: Jangan lupa shalat dan istirahat yang cukup. Belajar secukupnya saja, jangan diforsir.
Mbak Oca: Kar, kabar apartemen gimana? Aman kan sama Clara? Aku lagi nunggu persetujuan cuti tahunan kantorku nih, kalau tembus rencananya mau nyusul main ke California pas Thanksgiving.
Ibu jariku tertahan di atas papan ketik virtual. Hati kecilku teremas pelan membaca nama Mbak Oca. Kakak perempuanku itu adalah tempatku menumpahkan segala keluh kesah sejak kami masih berbagi ranjang susun semasa kecil. Rasanya dorongan untuk mengetikkan kalimat panjang tentang betapa sesaknya tinggal bersama Clara sudah berada di ujung kuku. Aku ingin mengeluh tentang pintu kamarku yang kerap dibuka tanpa ketukan, atau tentang aroma asap rokok dan tawa bising teman-teman pesta Clara yang sering kali menyusup ke sela-sela jam tidurku.
Namun, aku menahannya sekuat tenaga. Jika Mbak Oca tahu, kecemasannya akan menular seketika ke meja makan Ibu dan ruang kerja Ayah. Mereka yang membiayai langkah awalku dengan doa-doa panjang tak boleh ikut menanggung kepeningan tentang hunian yang salah pilih ini. Aku sudah berumur dua puluh enam tahun, seorang dokter hewan yang sedang meniti gelar master di tanah asing. Masalah remeh seperti teman sekamar yang tidak cocok harus bisa kuselesaikan sendiri tanpa harus merengek ke rumah.
Sebelum sempat mengetikkan balasan singkat penenang hati untuk Mbak Oca, sebaris notifikasi berwarna hijau toska menyelinap turun dari bagian atas layar, memotong alunan lagu Ghost milik Justin Bieber yang sedang mengalun di telingaku.
Pesan iMessage itu datang dari nama yang baru beberapa hari tersimpan di daftar kontakku: Mason Reed.
Mason Reed: Hey, are you free tonight? I'm heading over to Tyler's for drinks and to hang out with the others. Nong and Maura will be there, along with some other students from Indo.
Keningku berkerut tipis. Mason Reed adalah dokter hewan lulusan program DVM UC Davis yang kini terdaftar di program magister ilmu klinis komparatif satu angkatan denganku. Perjumpaan kami empat hari lalu bermula dari kesialanku sendiri. Pagi itu, dalam kepanikan luar biasa setelah menyadari ponselku tertinggal di kedai kopi dekat kawasan Downtown, aku mendatangi kantor polisi terdekat dengan napas tersengal. Namun, petugas di balik meja konter hanya menggeleng tenang, menjelaskan bahwa kepolisian setempat tidak menangani kehilangan barang pribadi sebagai keadaan darurat kriminal. Bagiku itu bencana, tetapi bagi sistem birokrasi kota kecil ini, ponselku hanyalah seonggok benda tak bertuan yang menunggu seseorang berbaik hati menyerahkannya ke loket barang temuan.
Di tengah keputusasaan yang membuat mataku memanas, sebuah panggilan masuk ke ponsel Clara dari nomor tak dikenal. Mason-lah yang menelepon. Dia menemukan ponselku tergeletak di kolong kursi meja sudut, sempat membawanya ke kantor polisi yang sama sebelum berinisiatif mencongkel pelindung silikon di balik ponselku. Di sana, terselip kartu identitas mahasiswa UC Davis atas namaku. Berkat bantuan Noah, barista kedai yang kebetulan mengenali Clara sebagai pelanggan setia, Mason mengantarkan ponsel itu langsung ke tanganku.
Nama kedua yang disebut Mason dalam pesannya langsung membangkitkan bayangan sosok lain di kepalaku: Tyler Vance.
Mengingat Tyler membuat keningku berkedut samar. Teman dekat Mason itu memiliki reputasi yang sulit diabaikan di sekitar klinik hewan kampus. Wajahnya yang berahang tegas sering kali dihiasi senyum miring yang terkesan meremehkan segala hal, pembawaannya urakan di balik kemeja flanel longgar, dan nada bicaranya selalu terdengar seperti ajakan berdebat. Sudah berkali-kali Tyler melontarkan undangan santai lewat kelompok obrolan klinik agar kami berkumpul di rumahnya, tetapi aku selalu lihai berkelit. Aku lebih memilih meringkuk di atas kasur sempitku atau bersembunyi di sudut perpustakaan daripada harus berada dalam satu ruangan dengan cowok yang auranya terlalu bising dan intimidatif itu.
Namun, kalimat penutup Mason mengubah pertimbanganku. Along with some other students from Indo. Ada mahasiswa Indonesia lain yang akan hadir.
Aku terdiam sejenak, menimbang udara dingin yang mulai merayap di sela kakiku. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi manusia gua yang hanya mengenal jalur perpustakaan dan sudut sempit kamar Clara. Aku butuh relasi baru. Aku butuh informasi mengenai alternatif kamar sewa atau siapa tahu ada mahasiswa lain yang sedang mencari teman satu unit untuk membagi biaya hidup.
Jemariku bergerak cepat mengetikkan balasan.
Sekar Nitisari: I'll be there, but give me a sec cause I still gotta grab an Uber.
Belum genap lima detik pesanku terkirim, tanda titik tiga yang bergelombang sudah muncul di bawah gelembung abu-abu. Mason membalas kilat.
Mason Reed: Why even get an Uber? Save it, just tag along with the Indo kid going to Tyler's too. I told him to pull up to the library and dropped your digits.
Aku memundurkan kepalaku sedikit dari layar, tertegun. Menitipkan nomor ponselku pada orang asing? Dan siapa yang dimaksud Mason dengan mahasiswa Indonesia itu? Selama dua pekan menginjakkan kaki di Davis, pergaulanku begitu kerdil hingga aku mengira hanya ada segelintir anak Indonesia yang lolos seleksi beasiswa dan pascasarjana di bidang kedokteran hewan tahun ini. Ternyata ada lingkaran lain yang belum pernah kusentuh.
Sekar Nitisari: Wait, a guy? Who is it?
Layar ponselku mendadak membisu. Tanda gelombang mengetik menghilang tanpa menyisakan jawaban.
Dua menit berlalu dalam keheningan, membuat pandanganku teralihkan pada kekacauan di atas meja belajarku. Botol minum berbahan baja nirkarat milikku sudah berbobot ringan, isinya telah tandas sejak setengah jam lalu. Menyadari waktu yang terus bergulir, aku segera mencabut kabel pengisi daya iPad, memasukkan binder dan kotak pensil ke dalam ransel kulit sintetis merek Jims Honey berwarna krem yang kubawa dari rumah.