Turun dari terminal bandara Heathrow pandanganku seketika terhipnotis beberapa kali ketika menginjakkan kaki pertama kali di kota ini, bangunan-bangunan yang menjuntai keatas, gedung gedung yang berlomba-lomba untuk menggapai cakrawala berserakan dimana mana, serta orang orang berjalan terburu buru saling mendahului betapa sangat menggambarkan sesibuk apa kota ini, benar apa yang dibilang orang orang dari negara negara luar sana bahwa kota ini memaksa siapa saja untuk terlihat seperti sebuah mesin pencetak uang, dan hasilnya memang kota ini tak pernah luput jadi sorotan negara negara lain. Di seluruh dunia, banyak yang menjadikan kota ini menjadi kiblat gaya hidup bagi sebagian kaum, dan ada juga sebaliknya yang mengatakan bahwa kota ini tak pantas disebut pusat perhatian dari berbagai macam budaya. Namun aku tak mempedulikan soal itu, biarlah menjadi urusan orang lain, lagipula itu hanya sebuah pendapat, jadi siapa saja terserah untuk berpendapat seperti apa, selama itu tak menyinggung urusan ku. Dari awalpun tujuan ku kemari hanya untuk sekolah, bukan mengurusi hal hal yang belum sepatutnya dikerjakan oleh orang seusia ku, bagi ku jika suatu saat nanti kepala ku harus berhadapan dengan hal seperti itu, mungkin aku akan mendatangi kantor pemadam kebakaran setempat untuk membantu memadamkannya. Menjalani kehidupan yang baru di sini pun bukan semata mata rencana ku, namun ini semua berkat kepiawaian orang tua ku dalam membujuk ku pergi untuk meneruskan tekad mereka yang menginginkan salah satu dari anak mereka, harus mempunyai gelar sarjana di universitas ternama diluar negeri karena memang aku anak pertama yang mereka lahirkan, jadi apa boleh buat, boleh dibilang aku ini menjadi korban percobaan pertama nya mereka. Aku adalah gadis manila yang berada disebuah negara kepulauan di Filipina dengan membawa harapan menempuh pendidikan perguruan tinggi di daratan benua biru, di Inggris. Di umurku yang telah menginjak sembilan belas tahun memaksaku, untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus dari sekolah menengah teratas di kota lahir ku. Pergi berangkat dari tempat tinggalku dengan niat mencari gagasan baru serta gelar baru adalah untuk pertama kali nya dalam seumur hidupku tanpa siapa-siapa, waktu kecil memang aku pernah sekali keluar negeri, ke jepang; itupun dengan keluarga ku. Jadi ku rasa inilah momen yang sungguh membuatku tak lagi ingin merasakan rasanya tumbuh dewasa, sunggguh batinku ingin berteriak kembalikan waktu ku yang sepuluh tahun berlalu.
Orang tua ku mengantar ku hanya sampai bandara Ninoy Aquino selebihnya aku di paksa melakukan semuanya sendiri, aku…, sebelum tiba disini, diantar oleh mereka mengendarai honda estilo tahun sembilan dua milik ayahku, yang juga merupakan pemberian kakek ku. Dalam rangka perjalanan mengantarku di dalam mobil kami berempat, aku, ayah, ibu dan adikku saling meluapkan emosi satu sama lain, sosok ayah dimata putrinya tetap adalah laki-laki cinta pertamanya. Meski ayahku terkadang seringkali membunuh kasih sayang dari laki-laki lain terhadap putrinya semasa kisah masa-masa remajaku, waktu dulu di sekolah menengah, cukup banyak anak laki-laki seusiaku dulu datang kerumah, lalu pulang tanpa berhasil mengajakku pergi dibuatnya. Memang ayahku dari lahir, memang dianugerahi sedikit ketampanan, dia aseli Filipin, tepatnya di kota Quezon, berumur lima puluh empat tahun, orang tuanya memberikan nama Agustin Sandro, yang diambil dari bahasa yunani, yang berarti pria pembela yang terhormat atau yang dimuliakan, sedangkan aku diberi nama olehnya Liza Agape Lê, menurut ayahku Agape diberikan karena memiliki arti cinta tanpa syarat. Dia ingin aku seperti cinta tanpa syarat bagi semesta ini, dan Lê sendiri merupakan marga asli dari ibuku karena ayahku sendiri tak memiliki nama keluarga resmi dibelakangnya, sedangkan Liza sendiri katanya, diambil saat dimana ayahku tak sengaja matanya melirik kelayar televisi yang sudah menyala, dan kebetulan menampilkan seorang aktris cantik bernama Liza Nathelly sebagai presenter di sebuah program acara berita terkini, menjelang waktu dimana orang orang pulang kerumah untuk beristirahat. Sungguh penuturan alasan pemberian nama pada waktu itu, membuatku sedikit agak jengkel. Ibuku memiliki paras terbilang sama dengan ku, kulitnya coklat namun tidak begitu gelap, rambutnya hitam lurus pendek se-leher dan yang menjadikan ayahku kepincut olehnya adalah mata yang menyerupai sinar pantulan bulan ke dalam laut serta bibir nya yang kecil tetapi ketika disentuh terasa sangat halus.
Berbeda dari ayahku, ia perempuan yang berasal dari negeri naga biru, umumnya orang-orang menyebutnya Vietnam, entah bagaimana ceritanya mereka bisa bertemu lalu menikah, tetapi yang ku dengar dari mereka katanya, mereka dulu adalah rekan kerja di kantor kedutaan besar negara Filipina, ibuku bekerja sebagai staff kedutaan negara asalnya sedangkan ayahku seorang sopir utusan kepala duta besar bagi Filipina, jadi kurang lebih nya ayahku hanya menuruti lalu membawa kemana pun duta besar itu ingin pergi. Mereka mulai menyalakan api cinta mereka sejak ayahku ditugaskan saat itu mengantar ibuku dan dubes Filipina untuk mengahadiri pertemuan, membahas perkembangan diplomasi antar negara mereka, ayahku menjemput ibuku dibandara dengan dubes nya ,setelah ibuku masuk kedalam mercedes benz boxer berwarna hitam yang terpasang bendera Filipina kecil di depan penutup kap mesinnya, ibuku duduk ditengah lalu di ikuti mata ayahku yang mencoba melirik-liriknya beberapa kali melalui kaca spion, alih-alih bukannya merasa risih ibuku juga menanggapinya dengan senyuman setipis selembar tisu dari bibirnya yang mungil itu, dan ayahku membalasnya lagi dengan senyum juga, namun tampak terlihat sedikit gigi, ketika dulu mendengar ceritanya pada bagian ini saja sudah membuatku menutup telinga dan tak mau lagi membayangkannya. Tetapi ayahku dengan bangganya mengakui kejadian tersebut sesuatu yang direncanakan oleh tuhan dan tidak bisa ditolak olehnya, dirinya sendiripun membaptis hal semacam itu merupakan mukjizat paling romantis, yang tak semua orang boleh memilikinya di dunia ini. Beberapa tahun kemudian ayahku mendapatkan tawaran untuk menjadi bagian staff resmi kedutaan negaranya, tidak sedikit orang mengatakan, keberuntungan ayahku ini tak pernah habis, karena banyak yang merasa iri ketika dirinya telah resmi mengemban tugas di kantor kedutaan sebagai administrasi bagian imigrasi bukan lagi seorang sopir pengantar duta besar. Ayahku juga mengungkapkan semuanya, berkat dari perjumpaan dengan ibuku lah yang dapat membuat jalan pendakiannya terasa ringan, oleh karena itu, ketika ayahku melewati jalan yang melalui bandara atau hanya sekadar melihat bandara dari televisi dirinya selalu mengingat kembali kejadian manis pada hari itu. Kali ini aku tak bisa membantahnya jika soal ini, kuakui, dia orang yang mudah meromantisasi kenangan yang padahal sudah lama bersarang di hipokampus bagian dalam otaknya.
Setahun bekerja menjajaki posisi tersebut, akhirnya mereka dipertemukan kembali dengan ibuku yang dipindah tugaskan oleh kantornya dalam beberapa waktu lama di kedutaan besar luar negeri di Filipina, dikarenakan ada posisi kosong yang harus di isi, sebagai delegasi kementerian, itu artinya mereka akan sering bertemu, dan kemudian mereka melanjutkan kisah mereka yang dulu sempat menjadi ember yang hanya terisi setengah air dari keran. Begitu ku mendengar dan bertanya bagaimana bisa ibu mencintai ayah, lalu kalian memutuskan menikah? dengan rasa ingin tahu lebih dalam. kemudian pada suatu waktu, di tengah makan malam kami di ruang keluarga setelah mengunyah adobo yang terbuat dari daging ayam, ibuku menjawab dengan tarikan napas sedikit panjang:
“Nak..benar apa yang dikatakan ayahmu, pertemuan kita telah dirancang sedemikian rupa oleh pencipta ini,” ibu sekali lagi meyakinkanku,
“takdirlah yang membawa kita ke dermaga selanjutnya,” lanjut ibu lalu menarik napasnya kembali,
“jika ibu harus menuturkan semua alasan mencintai ayahmu kepadamu malam ini, mungkin ibu akan lelah, layaknya ibu disuruh menghitung jumlah padi didalam lumbung.”
“Hmm… kenapa?” aku yang masih belum mengerti maksud ibuku,
“Yaa..tak terhingga hahaha” ibu menjawab dengan sedikit cekikikan.
Aku yang sedikit kesal terus menagih jawaban sesungguhnya dari ibuku,
“Dulu waktu ibu kecil, orang tua ibu bukanlah siapa-siapa di kota tempat ibu lahir,” ujar ibuku sambil menumpuk piring sisa makan kami di meja makan,
“mereka bekerja keras hingga rambutnya jika tersingkap oleh sinar matahari akan putih mengkilap, dan persendian tulangnya jika dipaksa memikul dirigen berisi dua belas liter air akan copot lalu jatuh menggelinding ke tanah.” ungkapnya sambil menggeser bangku dari meja makan kami.
Kemudian bergegas untuk mencuci noda-noda di piring bekas makan kami berempat, sementara ayahku, sejak tadi nampaknya hanya menyimak dan sekarang mulai mengeluarkan sebatang rokok yang bersembunyi disebuah laci dekat meja televisi ruang tamu, lalu mencari cari pemantiknya seperti orang baru yang memasuki daerah asing pertama kali tanpa membawa kompas, kemudian merasa putus asa entah atau memang harus membeli lagi pada esok pagi, dan kemudian akhirnya ayahku menyalakan api kecil yang mencuat dari kompor dua tungku persegi panjang berbahan bakar gas tabung, tepat di samping ibuku mencuci piring. Beberapa detik setelah rokok nya terbakar sangat tampak jelas raut mukanya, nampak berubah sembilan puluh derajat dari sebelumnya menjadi seperti teriakan kemenangan sebuah lomba duel bela diri satu lawan satu, dari jarak pandanganku di meja makan, setelah ibuku selesai dengan urusannya ibuku mengelap tangan yang basah dengan kain putih hitam berserat katun, lalu kembali duduk ditempat semula sementara ayahku dengan rokoknya yang telah terbakar dan terhimpit oleh dua jarinya, membuka pintu depan rumah lalu menutup kembali untuk sekadar menikmati udara malam diteras yang kebetulan pada malam itu, bulan dan bintang serentak saling memuji berkat kerja sama mereka, sehingga menghasilkan cahaya seindah aurora.
Kali ini mataku, melirik kearah jendela yang terbuka sedikit gordennya, dan ikut menyaksikan keindahan pemandangan malam diluar, secara tiba-tiba ibu menepuk pundakku, lalu membuyarkan semua yang sudah hampir nyaris menjadi fatamorgana oleh retina mataku, dan berusaha melanjutkan obrolan kami,
“Sampai mana tadi kita?” ujar ibuku,
“sampai…waktu ketika ibu kecil dan lalu kondisi orang tua ibu kalau tidak salah…” jawab seingatku.
“Ohh iyaa ya?”
“dahulu sekali untuk membeli beras dan pangan lainnya, membutuhkan waktu seharian, dan tenaga jika di ukur-ukur kurang lebih sama dengan kerbau pembajak sawah,” penjelasan ibu terhenti sebentar karena ibuku melihat mataku yang mengeluarkan ekspresi sedikit tidak percaya,
“pada dasarnya ibu dulu memang tidak percaya pada keajaiban,”
“namun seiring berjalannya waktu, orang tua ibu sekali lagi membuka cahaya di hati ibu, bahwa segalanya bisa terjadi diluar kehendak manusia.” tambah ibu saat menggaruk alis.
Kemudian mulai menopang dagunya dengan tangan diatas meja,
“Mereka akhirnya membuktikan bahwa bumi tidak hanya berputar pada satu titik poros saja, segenap dengan pencapaian di usia renta mereka.”
Segera ibuku mengambil selembar tisu yang berada di tengah meja makan, lalu mengusap setitik air yang mau jatuh melewati kantung mata, dengan nada bicara yang mulai berubah ibu melanjutkan ceritanya yang tersendak,
“Setelah hidup kami mulai bangkit, waktu terus berjalan kemudian keluarga kami mulai dikenal karena kerja keras dan ketabahannya,”
“sebelum semua itu terjadi, marga ibu adalah yang paling terkucil.” ibuku berhenti sejenak, menarik napas lagi.
“Membawa hasil panen dari kebun sendiri ke pasar yang berjarak delapan kilo meter, dengan berjalan kaki tiap harinya untuk dijual sudah menjadi kebiasaan, yang ibu sendiri tidak kuat lagi terus-terusan melihat upaya mereka.”
Memang seperti yang kudengar dari kakekku dulu, menghimpun lalu membawa hasil jagung, bunga bakung putih, dan juga kedelai kuning seberat traktor pembajak sawah, sudah menjadi kutukan mereka dari kecil, aku pun sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan jelas. Tapi, nampaknya ketika aku mulai memasuki sekolah menengah atas, aku baru bisa membayangkan ucapan kakekku dulu, jika sehari mereka harus bolak-balik dengan jarak delapan kilometer kurang lebih yang itu artinya bisa di kali lipat andai hasil panen nya sedang melimpah ruah, tapi juga penderitaan mereka tidak hanya sampai disitu saja, belum lagi jika nasib buruk sedang bertamu melalui kemarau panjang sehingga membuat mereka harus menelan ludah.
“Sejak saat itu ibu memutuskan!...,” ia menegakkan tubuhnya,
“dititik pencapaian apa yang sudah mereka raih selama ini, ibu ingin membalas pengorbanannya dengan menjadi perempuan bermartabat. Yang memiliki kualitas serta mampu mendorong naik derajat keluarga setinggi-tingginya.” sambung ibuku, kali ini membuka senyum dengan lebar.
Aku melihat senyum ibuku yang begitu manis, dan entah mengapa senyum itu selalu menular, membuatku ikut tersenyum tanpa perlu alasan. Dari sedikit cerita tentang keluarga ibuku, aku tahu bahwa para perempuannya memang dikenal memiliki kehangatan yang khas, manis dalam cara mereka berbicara, dan tatapan mata yang mampu membangunkan siapa saja dari lelahnya hari. Seolah, hanya dengan melihat mereka, siapa saja bisa kembali menatap tujuh warna pelangi yang muncul tepat di luar jendela.
“Ehhh…” ibuku kaget seperti baru menyadari sesuatu,