London Fog

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #2

#2

Senin tanggal dua puluh April, matahari menantang siapa saja untuk berhadapan dengannya perihal sinar, niscaya akan kupercayakan segala hari ini kepadanya. Adalah kali pertama menjalani hari, tanpa sistem yang menuntun hatiku untuk melakukan sebuah perkara, demi segala asa berjalan sesuai kehendak. Mungkin aku harus tidur sepanjang hari untuk menghilangkan semua kehampaan ini, sinar matahari hari ini nyaris mengangkatku kedalam pelukannya, namun tubuh ini entah mengapa sulit sekali rasanya membangun hubungan yang harmonis dengan hati dan pikiran ku. Alih-alih, aku mengambil sebuah buku metamorphosis karya Franz Kafka, lalu membuka lembar demi lembar dan ingin tinggal selama-lamanya pada dunianya. Sebuah kehilangan mendapati bahwa semua harus diterima dengan lapang, sebab tak satupun yang memahami perasaanku, tengah berjalan tenang dipinggir tebing tapi mendadak tiba tiba terperosok hingga jatuh jauh ke dasar. Sebuah penghinaan bagiku, jika hari ini lebih buruk dari kemarin, jadi cepat-cepat kutinggalkan ranjang ini, berjalan menuju kamar mandi untuk menghilangkan sisa sisa rasa malas dan energi negatif yang terdapat di seluruh wajah. Setelah itu aku sibuk memilih pakaian yang ingin kukenakan pada hari ini, karena hari ini tampak terasa tidak terlalu istimewa jadi aku pilih pakaian sederhana tak terlalu mencolok. Kaos kuning polos dan bawahan jins biru laut, serta sweater abu-abu berleher kura-kura agar terlindung dari paparan matahari langsung yang menyengat, tak lupa juga, kuambil baret berwarna maroon yang tergantung pada gantungan berdiri sebagai penutup kepalaku. Merasa sudah yakin aku berjalan ke depan cermin bundar untuk memastikan diriku terlihat feminin, kemudian melangkah ke arah pintu untuk mengenakan sepatu yang juga terdapat rak untuk sepatu-sepatu. Tepat seperti dugaanku ketika melangkah ke luar, matahari dengan arogannya menghamparkan cahaya ke seluruh penjuru, memantul pada kulitku, menusuk, namun anehnya tetap menghadirkan sejuk yang tipis. Pukul sembilan pagi, suasana di sini tampak lengang, sesunyi lorong yang menahan napas. Sesekali terlintas di benakku, haruskah aku berteriak, berharap seseorang muncul dan ia berlari menuju sumber suara itu?. Aku terus berjalan, berputar-putar tanpa tujuan selama dua puluh menit, seolah mencari pantulan dari sesuatu yang tak bisa kupastikan, refleksi kecil yang mungkin bisa menenangkan kepala. Tanpa kusadari, langkah-langkahku membawaku kembali ke bangunan utama kampus, seakan kampus ini memiliki gravitasi yang tak terlihat. Perjalananku bermula dari sebuah taman mungil yang asri, letaknya agak tersembunyi di belakang bangunan utama itu. Dari sana aku berjalan memutar, hingga akhirnya kembali menghadap pada bangunan yang sama. Di depanku terbentang sebuah ruangan setengah tertutup dan setengah terbuka, menampilkan deretan panel kaca yang memuat berbagai hal, status kampus, potongan sejarahnya, dan jejak-jejak yang membentuk tempat ini menjadi seperti yang kulihat sekarang. Universitas Brunel sejak 1966 sangat mengesankan dan reputasinya tumbuh dari tahun ke tahun. Sekarang universitas dengan 12.746 mahasiswa sampai 13.896 mahasiswa yang terlibat dalam studi pascasarjana, dan penelitian mewakili 150 negara hingga pendekatan khusus Brunel adalah menggabungkan kekakuan akademis dengan pendekatan praktis, kewirausahaan dan imajinatif yang dipelopori oleh Isambard Kingdom Brunel. Isambard Kingdom Brunel (1806-1859) adalah salah satu insinyur hebat Inggris abad ke-19. Isambard dilahirkan dalam keluarga yang rajin pada tahun 1806, dengan ibunya Sophia Kingdom yang bekerja untuk Royal Navy dan ayahnya Marc Brunel menjadi insinyur Prancis yang terkemuka. Isambard mengikuti pelatihan formal sebagai insinyur dan melanjutkan untuk membangun dua puluh lima jalur kereta api, lebih dari seratus jembatan, termasuk lima jembatan gantung, delapan sistem dermaga dan dermaga, tiga kapal dan rumah sakit lapangan tentara pra-pabrikasi. Untuk menambah ini dia adalah seorang insinyur sosial yang tajam, membangun perumahan, gereja dan rumah sakit.

Uxbridge adalah pinggiran kota di London barat, dan kantor pusat administratif London Borough of Hillingdon. 24,4 km (24,8 km) barat laut Charing Cross, adalah salah satu pusat metropolitan utama yang diidentifikasi dalam London Plan. Uxbridge secara historis membentuk bagian dari paroki Hillingdon di daerah Middlesex, dan merupakan pusat komersial lokal yang signifikan sejak awal. Kota ini dekat dengan perbatasan Buckinghamshire dan sungai Colne, daerah tersebut adalah tempat berdirinya wilayah Brent dan Harrow, serta Watling Street kuno. London dianggap sebagai salah satu kota global paling penting di dunia dan telah disebut sebagai kota paling kuat di dunia, paling diinginkan, paling berpengaruh, paling banyak dikunjungi, termahal, inovatif, berkelanjutan, paling ramah investasi, dan paling populer untuk pekerjaan kota di dunia. London memberikan dampak besar pada seni, perdagangan, pendidikan, hiburan, mode, keuangan, kesehatan, media, layanan profesional, penelitian dan pengembangan, pariwisata dan transportasi. Beberapa lulusan Brunel telah menjadi pemimpin di dunia akademis kesehatan masyarakat, di bidang-bidang seperti ekonomi kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit menular, dan di bidang teknik manufaktur, teknik sipil, serta sektor jasa dan pemerintahan. Universitas secara konsisten berusaha untuk memenuhi standar akademik yang ditetapkan oleh kode kualitas Inggris untuk pendidikan tinggi, yang diterbitkan oleh badan penjaminan mutu, yang menetapkan harapan nasional bahwa semua lembaga pendidikan tinggi Inggris diwajibkan untuk memenuhi. Proses dan prosedur universitas secara konsisten memenuhi kerangka kerja untuk kualifikasi pendidikan tinggi di Inggris, Wales dan Irlandia Utara (FHEQ) untuk memastikan standar akademik yang tinggi dan kualitas pendidikan yang diharapkan oleh mahasiswa dan lulusan. Mereka menamakan semua ini sebagai balai perhimpunan spektakel kampus, kira-kira begitu kurang lebih isi nya setelah selesai kuhabiskan tujuh belas menit waktuku untuk memahami semuanya.

Lagi pula aku baru resmi belajar disini pada dua minggu kedepan, kataku dalam hati. Sehabis mengeja kalimat demi kalimat dalam kepingan persegi pemaparan terkait identitas kampus, hingga membuat diriku tak sadar bahwa sejak tadi perutku menggaung seakan berkata roti isi daging pada siang ini tampaknya enak. Lantas aku berjalan sambil berpikir apa gerai kecil kemarin juga menjual roti lapis isi, setibanya disana aku bertanya pada perempuan yang sama kemarin, namun katanya disini tidak ada apa yang sedang aku cari, kemudian katanya jika aku ingin mendapatkan hal semacam itu, aku harus menjelajahi Pavilions yang terletak di bagian timur kota Uxbridge dan untuk kesana harus menempuh jarak lima kilometer dan memakan waktu sekitar dua puluh menit jika berjalan kaki, sementara jika naik sepeda hanya memakan waktu setengahnya. Disana merupakan pusat pasarnya bagi orang-orang yang mencari suguhan atau sekadar mencari kudapan, terlihat tak begitu luas wilayahnya namun selalu ramai, dari berbagai pelancong ataupun penduduk sekitar, begitu katanya. Aku pun juga bertanya apakah disini juga menyediakan sepeda untuk aku pergi kesana lantaran sebetulnya aku malas sekali jika harus menaiki kereta lagi karena jujur aku sendiri masih belum menguasai jalur lintas kereta itu, terangku. Lalu dengan murah hati dia menawarkan sepedanya kepadaku, terus terang aku memang memerlukan tapi batinku, aku sendiri saja belum mengenalnya begitupun sebaliknya. Alhasil apa boleh buat aku meminjam sepedanya dari pada harus berjalan kaki, yang barang kali sial-sial nya bisa saja pada tengah malam aku baru tiba di kamarku, akan tetapi aku berjanji padanya bahwa aku akan kembali tanpa tangan kosong. Demikian dengan rasa tergesa-gesa, aku mengayuh sepeda dibawah sengatan sinar kesombongannya, untungnya hari ini secara tanpa sadar sweaterku melapisi kulit mirip seperti benteng lengkap dengan artileri, sehingga aku tak lagi khawatir dari ujung kepalaku sampai ujung kaki ku akan hangus. Meskipun di tempuh dengan bersepeda, keringat mencuat dari rambutku yang sedikit  bersemi dari baret maroon, seakan-akan terlihat seperti embun pada setiap sisi ilalang kala pagi hari.

Setengah perjalanan telah kutempuh tapi sialnya lagi-lagi aku rasa aku salah jalan, maka sebab itu aku mencari papan penunjuk arah yang mengarahkanku ke tujuan. Perut yang mengoceh semenjak meninggalkan lingkungan kampus, sudah kuduga ingin mengeluarkan pendapatnya agar aku melesat secepatnya, setelah berjalan dua menit akhirnya aku melihat aparat penegak hukum wilayah sekitar yang sedang berpatroli, mengendarai kuda hitam jantan yang berasal dari Belanda. Kemudian aku menghampiri lalu bertanya dengan napas naik turun, layaknya petugas pada umumnya ia memberi arah jalan secara jelas hanya perlu sekali menyampaikan sambil membuat gestur tubuh, aku segera memahaminya. Tanpa mengingat-ingat, aku segera melaju sekuat tenaga serta mengjingkrak-jingkrakkan bokongku ke pelana sepeda, dengan kecepatan penuh aku membelah angin yang membabi buta jalur lintas tersebut. Tiba di pavilions perutku sudah gemetar namun tidak membuat tubuhku kehilangan keseimbangan, bagian seluruh otak masih berfungsi dengan baik, guna melanjutkan penjelajahan. Aku tak akan punya kehidupan yang cukup jika hanya mengandalkan keberuntungan saja, meskipun aku termasuk salah satu diantaranya, sekalipun aku lihai dalam meneteskan air mata. Setelah meletakkan sepeda di tempat khusus, aku berjalan di permukaan tanah yang di balut oleh bata putih, dari jauh daerah ini terlihat tertata terutama pada peletakkan bangunan-bangunan yang tersekat membentuk labirin. Disetiap bahu jalanannya terdapat tiang tiang lampu yang berjajar beriringan, menyerupai kelompok parade karnaval sebagai penerangan menjelang pada malam hari, tetapi mataku sedikit terpikat oleh lentera yang menggantung seperti tali yang membentang dari satu tiang ke tiang lainnya. Membuatku teringat pada sebuah tempat di negaraku, seketika aku di bius dalam lamunan. Kaki melangkah perlahan menuju bau daging yang dipanggang, menghentak seperti kuda yang di pecut lalu membawa tubuhnya ke tempat itu, didepanku berdiri tiga orang yang sedang mengantri. Tepat berdiri di belakang seorang perempuan bertudung kain dikepalanya, aku mendengar dia berbincang dengan penjualnya, bertanya daging apa yang dibakar, lalu penjual itu menjawab, ini sapi, bukan babi nona, tenang saja, sambil terkekeh. Mendengar percakapan mereka rasa penasaran ku hilang, sebab tahu aroma hidangan yang disajikannya, lantaran aku sendiri tak makan babi. Karena saat aku kecil ibuku memasak daging itu tanpa sepengetahuan diriku kemudian membuat sekujur tubuhku merah lebam serta gatal. Semenjak kejadian itu ibuku tak pernah lagi menghidangkan. Perempuan itu berpaling melewatiku kini giliranku menghampiri sisi samping mobil karavan yang terbuka atap jendela atasnya, seseorang laki-laki melayani berdiri dari dalam mengenakan topi jaring putih dan celemek putih yang terikat setengah dipinggangnya. Menyapa, dan menanyakan kabarku. Segera kujawab sambil bercanda, bahwa aku sedang geram karena seluruh asap nya memasuki hidungku hingga tenggorakan rasanya seperti disilet oleh dua bilah pedang, lantas ia meminta maaf dengan sedikit tertawa lalu berjanji akan memberikan daging asap nya secara cuma-cuma kepadaku. Sementara aku membalasnya lagi jika itu tertuju kepadaku dan berasal dari kemurahan hatinya, maka aku meminta sepuluh potong daging asap sebagai permintaan maaf dengan nada bercanda, baik nona manis akan ku persiapkan sepuluh potong daging asap beserta keju diatasnya, katanya. Aku memasang wajah heran dan menyela perkataannya dan berkata semuanya hanyalah bercanda, demikian ia menanggapi dengan raut wajah, yang setengah serius dan setengahnya lagi tersipu malu seraya berkata, ya lagi pula jika aku memberikan sepuluh potong kepada mu, tentu saja esok aku tak akan berjualan lagi disini, sambil sibuk membalik sisi daging yang sudah matang. Kendati demikian, beberapa detik tersulap manjadi keheningan antara aku dengan penjualnya, namun di samping itu kami berdua saling memahami situasi sebelumnya merupakan sekadar guyonan yang terdapat persamaan diantara perbedaan latar belakang budaya kita, sehingga akhirnya makananku datang dengan terbungkus dalam stirofoam cokelat, segera kukeluarkan uangku yang berada didalam saku sambil menutur, ambil saja kembaliannya sebagai tanda awal perjumpaan yang berkesan tanpa menyindir siapapun.

Kini aku menyusuri jalan yang berliku-liku, diwarnai kerumunan manusia yang berselang-seling seperti karikatur kehidupan, sambil menikmati makan siangku dan meluruskan pandangan agar tidak tersandung pembatas jalan. Semua orang tampak serupa, yang membedakan hanyalah warna kulit, isi kepala, dan riwayat yang mereka bawa. Namun ada satu hal yang membuat mereka sama, cinta, yang tumbuh dari benih kecil, dirawat pelan-pelan, lalu bermekaran mengikuti pergantian musim pada orang yang mereka sayangi. Aku mencari tempat duduk. Beberapa bangku telah terisi oleh pasangan yang saling menautkan dunia mereka, sebagian lainnya hanya menyisakan satu tempat kosong. Kursi-kursi panjang itu menyerupai bangku taman, alas dan sandarannya dari kayu jati, sementara penopang lengannya terbuat dari baja ringan berbentuk silinder, begitu pula kaki-kakinya. Tak ada satu pun yang benar-benar kosong, kecuali satu bangku di dekat tempatku berdiri. Di sana duduk seorang laki-laki, kira-kira seusia denganku.

“Apakah aku boleh izin duduk di situ?” tanyaku, dengan sopan,

“ya tentu.” sambil tersenyum.

Dalam perkiraanku nampaknya ia sedang menunggu seseorang, tapi daripada aku lagi-lagi menipu pikiranku, lebih baik aku bertanya hal itu sebagai maksud menjernihkan keadaan.

“Apakah kau kesini sendirian atau sedang menunggu seseorang?” tanyaku.

“tidak,” jawabnya,

“sebetulnya aku kesini pun juga karena ingin membunuh kebosananku...,” sambungnya,

“aku disini kuliah, aku murid baru semester ini.” pungkasnya,

“Oiya, aku belum memperkenalkan nama, namaku Terry, senang berkenalan denganmu.” sambungnya.

“Aku Liza, senang berkenalan denganmu juga,” jawabku,

“aku pun disini senasib dengan mu, harus melewati banyak rintangan ke depannya, terpenjara dalam beberapa waktu, menggadaikan rasa bahagia bersama keluarga di masa mudaku.” sambungku sambil mengunyah daging, tinggal segigit lagi.    

Lihat selengkapnya