Pukul sebelas siang aku terbangun, kesaradanku belum sepenuhnya menyatu, pandanganku yang masih buyar menatap seorang dihadapanku sedang duduk persis di sebelahku saat aku tertidur. Dengan mata yang berkedip berkali-kali, mencoba membuka lebar hingga tak mau kehilangan konsentrasi. Kubangunkan tubuhku sambil meraih sesuatu agar aku dapat bersandar pada kepala ranjang seperti bangkit sehabis tergilas roda truk, ternyata setelah ruhku kembali kedalam tubuh, seseorang perempuan memandangku dengan senyum yang menarik diriku untuk kembali ke sebuah taman penuh bunga anggrek. Ia menatapku dengan manisnya, seorang yang memiliki rambut hitam sepertiku, namun aku tak memiliki kulit sepertinya. Kulit yang putih hampir mendekati transparan, dan tangan yang melambai lambai kewajahku seakan mengartikan keberadaannya tak diketahui olehku, serta memastikan apakah diriku telah sadar sepenuhnya. Lalu kata pertama yang keluar dari mulutnya.
“Heyyy…”
tetapi detik itu aku masih belum mengira kalau itu nyata atau sebenarnya aku masih berada di dimensi lain.
“Maaf aku membuatmu bangun,” lirihnya,
“kamu siapa?” tanyaku, yang hampir sepenuh sadar.
“Aku Daisy, orang yang akan jadi teman sekamarmu.” jawabnya,
“Ohh, hai aku Liza. Senang berkenalan denganmu.” salamku.
Ia mencoba menjabat tanganku,
“Daisiy victoria hazard, senang juga bisa menjadi teman sekamarmu.” ujarnya,
lalu kami berdua melanjutkan bercakap-cakap mengenai latar belakang satu sama lain. Diriku dan dirinya tentu sangatlah berbeda, terutama dia adalah seorang bruxellois, sebutan khusus dari bangsa Prancis untuk orang Belgia. Ia lahir di Brussels hingga dewasa, umurnya hanya berjarak enam belas hari dariku tepatnya ia sepuluh april, sedangkan aku lebih muda darinya. Lantas aku bertanya mengapa dirinya kuliah disini, namun dengan cukup tegas ia menjawab, bahwa menurut kulturnya, orang yang berdarah Belgia khususnya, akan dianggap sebagai ‘barakresse’ ungkapan untuk perempuan jika berpendidikan rendah dan ‘baraki’ untuk para lelaki. Pada revolusi tahun 1830 membawakan kepada di dirikannya sebuah negara merdeka di bawah pemerintah sementara dan kongres nasional. Nama ‘Belgium’ diadopsi untuk negara ini, kata ini diturunkan dari Gallia Belgica, sebuah provinsi Romawi di Gaul bagian paling utara yang sebelum di invasi oleh Romawi pada 100 SM, dihuni oleh Belgae, campuran dari orang Keltik dan Jermanik, begitulah kurang lebih menurut penjelasannya. Kemudian ia membujukku untuk belajar bahasa Belgia, namun aku menjawab dengan tertawa kecil, haha terimakasih, mendengar pelafalannya yang rumit saja sudah cukup membuatku sinting, kataku.
“Apa mau kubuatkan kopi?” katanya,
“tak usah repot-repot, kau pun juga baru tiba, tak perlu memaksakan diri.” sahutku.
“Tak apa, lagi pula tidak lengkap rasanya jika kita bercengkrama tetapi tak menyeruput sesuatu,” jelasnya sambil mengedipkan satu mata kearah ku.
Lalu dia berjalan mengambil cerek yang terletak di dapur, dan berteriak
“apa kau mau teh?”,
“yaa…, teh terdengar lebih baik.” pintaku.
“Oh yaa Liza, apa kau punya pacar?” ia berteriak lagi.
“Hmm… baru juga lima belas menit, pertanyaan mu sudah agak berat ya!” jawabku.
“Hahaha, memangnya kenapa? Lagipula kau dan aku nanti ujung-ujungnya juga akan saling terbuka kan?” timpalnya sedikit meledek.
Bagaimanapun dia ada benarnya. Akan sia sia jika aku menutupi meskipun hanya sedikit saja. “Hmm… bagaimana ya menjelaskannya.” gumamku.
Lalu aku mulai buka masa lalu ku dikit demi sedikit mengenai hal percintaan dan nampaknya ia mulai memahami model manusia sepertiku ini, oleh karena itu ia mendamaikan perselisihan antar aku dan masa laluku. Dengan cara membagikan nasihat juga kiat-kiat sepengetahuannya dan pengalamannya.
“Perempuan seperti kita, tak perlu cemas. Aku sendiri pun sebetulnya tak setuju dengan sistem patriarki, kehidupan bukan hanya berisi laki-laki saja, dalam berbagai aspek keseteraan adalah hal utama.” jelasnya.
“Semua berhak memilikinya, galaksi ini penuh dengan bermacam-macam urusan, tak adil rasanya kalau hanya satu yang mendominasi, begitu pula tak patut berbicara keadilan tanpa di iringi kedamaian, justru yang ada malah melahirkan pihak-pihak yang merasa di rugikan.” tambah Daisy
“Menurutku carilah sebanyak banyaknya, apapun itu. Kecuali cinta dan kematian, sebab mereka akan datang hingga waktunya tiba.” lontarnya, di depan wajahku sambil memberikanku secangkir teh yang ia buat.
Dan ia kembali duduk disebelahku sambil menyeruput kopi yang ada ditangannya. Dari situ aku menyimpulkan bahwa ia sesungguhnya seorang feminisme yang akut, akan tetapi seketika ada satu hal yang baru kusadari disisi lain, bahwa orang ini memiliki cara pandang yang modern, lugas dalam pemilihan kata-katanya, dan sangat keras kepala soal tekad. Kendati demikian, tipikal perempuan seperti ini dari beberapa yang pernah kutemui, sangat pilih-pilih terhadap laki-laki. Lalu ia Membakar sebatang rokok yang ia keluarkan dari saku celananya, kemudian menghembuskan asapnya ke atas seperti meniup poni rambut yang bergelayut disekitar alis mata. Pendapatnya itu membuatku merasa lebih lega. Aku mengangguk pelan, karena sejauh ini aku memang tak pernah memusingkan hal semacam itu. Lagipula yang kubutuhkan hanyalah tempat untuk bercerita, bukan untuk sekadar saling bertukar liur, lalu berakhir tidur bersama. Dalam urusan percintaan, ternyata ada satu kemiripan yang diam-diam kami bagi. Kami sama-sama belum pernah benar-benar merasakannya. Memang, Daisy pernah sekali berhubungan dengan seorang laki-laki, tetapi semua itu tak pernah diperkokoh oleh perasaan apa pun. Di kepalanya, bayangan tentang laki-laki muda yang penuh gairah selalu berubah menjadi sosok yang, pada akhirnya, brengsek. Satu-satunya yang masih ia percaya hanyalah dirinya sendiri. Dan entah bagaimana, di titik itu, aku merasa kami berdua sedang melihat sebuah kenyataan yang sama, walau dari dua arah yang berbeda.
“Kau perokok juga, ya?” tanyaku pelan.
“Iya. Kenapa?” ia balik bertanya sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
“Kau juga merokok?” ia menjulurkan kepadaku.
“Tidak, terima kasih.” Aku menggeleng.
“Aku hanya teringat ayahku… rokokmu itu persis seperti yang dulu selalu ia hisap.” Bibirku tergerak menunjuk bungkus rokok di tangannya.
“Yang ini? Marlboro,” ujarnya sambil mengangkatnya sedikit.
“Siapa yang tidak suka rokok ini?”,
“Siapapun boleh menyukai rokok ini,” lanjutnya dengan nada tegas,
“tapi bagiku, tak boleh ada yang membencinya.” Matanya tertuju pada rokok yang ia putar-putar di antara jarinya, seolah menyimpan cerita yang tidak ingin ia ceritakan.
Ia mengalihkan pandangan kepadaku.
“Hey, Liza… orang Filipina suka berpesta, ya?”
“Tidak begitu,” jawabku.
“Hanya pada keadaan tertentu.”
“Hmm…” Ia menyandarkan siku di lutut, tangannya menopang dagu, ekspresinya seperti sedang mengukur sesuatu.
“Lalu… gadis seusiamu diperbolehkan minum vodka?”
“Tidak semua,” jawabku sambil tersenyum tipis.
“Tidak ada aturan masyarakat yang jelas soal itu. Hanya… biasanya bergantung pada orang tuanya.”
“Seperti aku, ibuku melarang sedangkan ayahku memperbolehkan kalau usiaku sudah 21 tahun” aku menambahkan.
“Andaikan umurmu hari ini tepat 21 tahun, apa yang kamu lakukan?” celetuknya,
“entah, aku tak bisa menimbang hal-hal yang tak bisa kukendalikan, biarlah segalanya berjalan seperti selembar daun di sungai yang mengalir.” ujarku.
“Apa kau juga akan membiarkan ranting kayu menghalangi gerak lajumu?” tanya nya kembali,
“Ya, tapi bukan seperti itu aku melihatnya. Itu artinya pertanda memang kita perlu berhenti sejenak, dalam waktu yang berbeda, derasnya arus akan membantu menyingkiran ranting itu.” jawabku,
“tapi bagaimana jika pohon besar yang tumbang menghalangi sehingga satu sungai tak bergerak.” lalu tanya Daisy lagi dengan penasaran, hingga membuat ia mengernyitkan dahi.
“Kurasa kita tak akan bisa lari, terkadang perlu jutaan tahun untuk mengerti takdir berkata, tidak lain takdir seperti angin puyuh yang terus berubah arah. Kita pun mememutar balik demi menghindarinya, tapi angin puyuh itu masih mengejarmu. Lantas kau berbalik lagi, kemudian angin puyuh itu juga menyesuaikan diri, mau berapa kali kita menghindar? akan terdengar lucu, seperti kau mencoba berlari dalam mimpi namun kakimu tak pernah bergerak. Mengapa demikian? karena angin itu bukanlah sesuatu yang ditiup dari jauh melainkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kita, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menyerahkan semua kepadanya. Melangkah masuk ke dalam angin tersebut, menutup mata dan menutup telinga agar debu dan pasir tidak masuk, dan berjalan melewatinya, selangkah demi selangkah. Tak ada matahari di sana, tak ada bulan, tak ada arah, tak ada ketakutan. Hanya pasir putih halus yang berputar-putar ke langit seperti tulang yang hancur. Itulah jenis angin puyuh dalam kehidupan ini yang perlu kau bayangkan”.