London Fog

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #4

#4

Musim semi ingin cepat-cepat berangkat menuju tempatnya bagai urat nadi yang tak mau kehilangan lajunya. April dihabiskan begitu saja, tak terduga oleh siapapun semester baru telah menyapa. Akhirnya aku memulai langkahku menuju persimpangan yang disebut perjalanan tahap akhir dalam pendidikan. Kebebasan masa kecilku mulai menua, terkurung di tengah-tengah kewajiban seseorang yang telah dewasa. Meninggalkan masa remajaku memang tidak buruk-buruk amat setelah di pikir-pikir, apalagi ini masa peralihan. Boleh jadi babak baru yang sesungguhnya benar-benar akan terjadi apabila aku berhasil menyelesaikan semua ini dan tentu semua ini bukan tentang soal siapa yang keluar sebagai pemenang, melainkan bagaimana cara bertahan hingga akhir. Daun-daun yang menguning diluar ikut menyambut pembukaan semester baru, artinya peserta didik baru berkumpul untuk mengikuti seremoni menyambut ajaran baru, di pertengahan Mei anak-anak baru memandang tugu kebesaran di halaman kampus. Setelah selesai seremoni, semua berkeliling memutari seluruh wilayah gedung. Wakil pimpinan kampus memandu serta menjelaskan letak dan fungsi bangunan dan juga fasilitas, aku sendiri pun tak begitu menikmati sebab beberapa waktu lalu aku sudah mengalaminya sendiri, oleh karena itu hanya beberapa informasi saja yang menurutku penting untuk diserap. Usai semua berjalan dengan lancar dan tertib kami semua kembali ke tempat masing-masing, hari pertama yang kukira juga akan langsung mengikuti kelas ternyata hanya di isi kegiatan yang tak begitu menarik. Nyatanya kelas baru akan dimulai pada keesokannya.

Daisy menghampiriku setelah kegiatan, ia mengajakku untuk mencari sesuatu yang bisa membungkam suara perut. Lalu kami memutuskan pergi ke kantin yang terletak di tengah-tengah area kampus, tidak begitu jauh dari titik terakhir selesai kegiatan tadi. Jadi tak lebih dari tiga menit kami sudah sampai pada etealse kaca yang berjajar dengan rapih dan rata-rata di isi beberapa makanan cepat saji, mungkin setelah ini aku akan berpikir untuk lebih banyak menghabiskan waktu mencari makan diluar. Sesudah mendapatkan ikan tuna asap dan beberapa kentang dan juga segelas jus apel, aku lanjut mencari tempat untuk kami makan, sementara Daisy masih sibuk memilih hidangan untuknya. Kemudian seorang perempuan datang ketika aku mengunyah kentang pertamaku,

“Hai, apakah aku boleh ikut makan denganmu?” pintanya tiba-tiba dari belakangku,

dan aku mempersilahkannya bergabung denganku. Perempuan itu, murid baru seperti diriku juga, berambut pirang bondol dan tampaknya sedikit lebih tinggi dariku. Ia duduk tepat di hadapanku, membawa wadah aluminium berisi sayur lobak, jagung manis, daging sapi panggang, dan kentang. Setelah kupikir-pikir, selera makannya tak buruk sama sekali, malah terasa lengkap dan hangat, tak seperti milikku yang hanya terdiri dari beberapa macam. Ada sesuatu yang sederhana namun menenangkan dari caranya menikmati makanan, semacam ia sedang merawat dirinya sendiri dalam sunyi yang tenang.

“Selamat makan! aku Luna Scholes, senang berjumpa denganmu,” salamnya sambil menggigit daging,

“aku Liza, senang juga berkenalan denganmu.” jawabku.

“Hey, mungkin kita akan menjadi teman setelah ini, apa kau keberatan?” sambungnya,

 “tidak masalah.” kataku singkat.

Setelah aku dan Luna selesai saling membuka latar belakang kami, asal, jurusan, dan hal-hal kecil yang entah mengapa terasa penting untuk diceritakan, Daisy datang dan duduk begitu saja di samping kami. Ia membawa sebuah piring kotak aluminium, penuh sesak oleh taburan lauk yang tampak seolah dikumpulkan tanpa pertimbangan, sayur, daging, sesuatu yang digoreng, dan entah apa lagi yang diseretnya dari barisan menu. Aku menatapnya diam-diam. Hari ini, Daisy tampak seperti gadis yang kehilangan sebagian akalnya. Ada keganasan kecil dalam cara ia menyendok makanannya, seakan lapar adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup. Dan di tengah suapan-suapan itu, aku dilanda kegelisahan yang sulit dijelaskan. Apakah Daisy yang duduk di hadapanku ini benar Daisy yang kemarin kukenal? atau justru Daisy yang kemarin hanyalah kedok yang rapuh dan yang sekarang ini, yang lahap dan tak peduli pada dunia, adalah wujud dirinya yang sesungguhnya? entahlah. Di antara denting sendok dan wajahnya yang tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun, aku merasa sedang menyaksikan seseorang yang perlahan-lahan melepaskan jiwanya, namun tetap berusaha makan seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap menjadi manusia.

“Hey Liza! kenapa kau melamun ke arah makananku?” celetuknya,

“apa benar kau sanggup menghabiskan semuanya?” tanyaku heran.

“Mungkin ini yang dinamakan fase hormon yang sedang naik…”

“jadi…, ya biarkan kali ini aku dikalahkan oleh sistem metabolisme tubuhku.” jelasnya.

“Ya dia benar! biarkan saja dia menikmati masa pertumbuhan secara alami” ujar Luna kepadaku,

“oh iya, aku belum memperkenalkan diriku kepadamu, aku Luna! aku dari Bolton, kota seberang Manchester. Senang berkenalan denganmu.”

“Aku Daisy, dari Brussel. Senang juga berkenalan denganmu.”

Kendati demikian tak banyak urusan topik yang di keluarkan selama jamuan makan siang berlangsung. Luna merupakan tipikal gadis yang cukup pandai menjaga citranya, sehingga begitu sulit mengenalinya secara langsung. Tidak banyak bicara, pribadi yang tidak begitu terbuka terhadap siapapun. Tapi kulihat dari sisi yang lain, ia orang yang mampu menutup pikiran buruk orang lain terhadap dirinya sendiri. Selama makan kami hanya sibuk dengan hal yang masuk kedalam mulut kami, hingga selesai pun tak ada yang sanggup memecahkan batu yang menghalangi kami bertiga. Tapi daripada aku yang harus memikirkan cara keluar dari jalan buntu tersebut, lebih baik aku mendamaikan rasa kenyangku saat ini. Kemudian usai memainkan tusuk gigi di bibirnya yang digigit-gigit, Luna beranjak membawa wadah alumunium kosong dan berpamitan kepada kami.

“Aku duluan ya, terimakasih! sampai bertemu lagi.”

Aku dan Daisy membalasnya, “ya, sampai jumpa lagi Luna.”

“Hmm…apakah kau juga berpikiran yang sama, Liza?” tanya Daisy,

“hmm, tidak.” jawabku.

“Maksudmu dia orang yang aneh?” kataku,

“tidak lebih dari itu, hanya kurang sedikit berperasaan saja.” ujar Daisy.

“Apa kau dari tadi tidak sibuk bertikai dengan pikiranmu, hanya untuk mencairkan suasana?” tanyanya yang ternyata sepemikiran denganku.

“Yaa… sudah kulakukan. Tapi apa boleh buat? Rasanya wajar saja, kita baru berkenalan beberapa menit, jadi belum ada alasan untuk saling melihat lebih jauh,” jawabku,

“oh iya, Liza. Sepertinya orang-orang di sini akan sangat beragam jenisnya. Jadi kuharap kau tidak kaget dengan hal-hal semacam itu.” Daisy mengedipkan mata.

Daisy menatapku sejenak, lalu menambahkan,

“Kau harus mulai membiasakan diri, belajar beradaptasi dengan lingkungan seperti ini. Apalagi kau datang dari Asia… jadi rasanya aku perlu memberitahumu sejak sekarang.”

“Iya! terimakasih atas sarannya, akan kucoba.”

“Ngomong-ngomong kemana kita setelah ini?” tanyaku,

“aku sedang tidak punya ide, tapi… kudengar tak jauh dari gerbang kampus ada bar kecil yang bisa menghilangkan kebosanan kita.” ujar Daisy sambil menyemburkan senyum yang mencoba memikatku.

Lagi-lagi tak punya pilihan bukan berarti tak pula berdaya, tapi jujur. Aku hanya bisa mengandalkan kemampuan menjelajahnya seorang Daisy, jika kepolisian memiliki anjing pelacak untuk menemukan sesuatu, maka aku memiliki Daisy yang serba bisa membaca segala arah mata angin. Pertama kali masuk pub orang inggris, dadaku merasakan apa yang seharusnya tak kurasakan. Pencahayaan yang redup, meskipun sebelum masuk kesini teriknya siang merepotkan semua orang untuk berkegiatan diluar. Aroma khas yang tercium berbeda dari tembakau biasanya mengganggu hidungku, setelah kucari tahu ternyata bau asap rami atau kanabis. Layaknya bar yang lainnya, musik juga berputar melalui alat pengeras suara. Hampir sembilan puluh persen dalam ruangan persegi ini, berisi laki-laki dan sisanya perempuan remaja seperti kami, namun katanya minuman disini banyak berbagai macam dan tempat ini menjadi tempat anak-anak yang tengah menunggu jam kuliah tiba. Satu per empat jam waktuku yang baru kuhabiskan disini, aku hanya melihat satu orang saja yang meracik minuman, tak ada pelayan lain, dan tak ada meja kasir. Kepala botak berbadan gemuk dan mengenakan kemeja lengan pendek, dia orang yang menerima pesanan, membuat minuman, dan juga pula ia yang menerima pembayaran atau memberikan kembaliannya.

Daisy mengawali dengan memesan segelas vodka cranberry atau cape codder, lalu aku hanya memesan air tonik dengan es batu yang penuh dalam gelasku. Daisy mengangkat gelas nya yang sudah ia cicip lalu berkata, ini enak sekali, kemudian disambut terimakasih nona oleh pria gemuk yang belum mencukur kumisnya itu. Didepan meja bar kami duduk menghadap pria yang sibuk dari tadi dengan botol botol dan gelas kaca, dua menit waktu kami. Kami habiskan untuk menontonnya, kemudian pemantik api bergerak diantara jari-jari milik Daisy. Dan juga satu batang Marlboro telah mendarat di genggaman bibirnya, saat itu juga pemantik besi zippo mengeluarkan bunyi khasnya yang membuat seluruh orang mengenal suaranya yang gagah. Api kecil yang keluar bukan sekadar api yang membakar lalu hilang, tetapi api yang dikeluarkan oleh tarian jemari yang bergesekkan dengan roda pemantik batu api, sehingga nyalanya mengisyaratkan apa yang ada di hadapannya harus diam dan bersiap untuk memulai ritual agung nan abadi. Setelah proses penyulutannya selesai, kepulan asap pertama menandakan permintaan dimulai dan lalu asap kedua bergulir menegaskan permohonan usai.

“Hey, Liza. Jadi… bagaimana akhirnya soal pendirianmu itu? yang kau bilang tidak ingin menyentuh alkohol sebelum waktunya.” ucap Daisy sambil menutup kembali penutup zippo di tangannya.

Lihat selengkapnya