Tahun pertamaku sebagai mahasiswi di Universitas Brunel, sulit rasanya menyangkal bahwa aku akhirnya benar-benar hidup sebagai bagian dari tempat ini. Aku bangun dari ranjang berseprai biru muda, udara pagi yang dingin rasanya masih betah bersarang di sela-sela selimut. Kulirik jam weker masih aman. Kelasku baru dimulai pukul sepuluh, aku melirik Daisy yang masih terbenam dalam selimut, tubuhnya tak bergerak selain napas yang naik-turun. Pelan, kubangunkan dirinya. Dengan suara serak ia bertanya pukul berapa sekarang. Pukul delapan, kita masih punya waktu untuk menyiapkan diri, jawabku. Kelas kami berbeda, tetapi hari ini entah kebetulan atau nasib, jadwal mulai kelas kami sama. Aku mengambil alih kamar mandi lebih dulu. Daisy tetap bergeming di ranjang, seperti seseorang yang terikat pada mimpi yang enggan dilepaskannya. Setelah selesai, aku keluar dan Daisy menyusul masuk. Tak lama kemudian ia keluar begitu saja, telanjang bulat sambil meminjam handukku. Aku terkejut dan berteriak, namun ia hanya berlalu tanpa menoleh, seperti halnya angin yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Setelah kami selesai berpakaian, Daisy menghias rambutnya dengan bandana merah kusam, sementara aku mengenakan sepatu bot kulit cokelat yang sudah mulai menua di ujung-ujungnya. Kami meninggalkan kamar, pintu kukunci rapat, lalu sepakat mengisi perut yang kosong di kantin. Sesampainya di sana, ternyata lebih ramai dari dugaanku. Kursi-kursi terisi oleh wajah-wajah baru mereka yang sama seperti kami, mencoba mencari ritme di tempat asing ini. Ada sesuatu yang lucu dari pemandangan itu, semua orang tampak ingin memulai sesuatu, entah apa. Aku dan Daisy makan secukupnya, tidak terburu-buru tetapi juga tidak ingin berlama-lama. Setelah selesai, kami berjalan bersama menuju lapangan tengah. Di titik itu, jalan kami bercabang. Kami berpisah tanpa drama, seperti dua garis lurus yang saling menyilang sebentar lalu melanjutkan arah masing-masing.
Pada saatnya aku tiba ruang kelas ku, aku mencari tempat duduk. Segalanya terasa asing bagiku sekarang. Tak ada yang kukenal, tak ada yang bisa kuajak bicara. Semua yang ada didalam sini hanya menunggu waktu pelajaran dimulai dan menunggu dosennya datang, rasa bosan membuatku mengantuk. Tetapi selang beberapa menit kemudian seorang perempuan kutaksir berusia 49 tahun berambut pirang masuk ke ruangan dan langsung memperkenalkan diri. Namanya Ny. Ellena maria, dia yang mengajar kelasku hari ini, ia dosen yang ahli epidemiologi. Alih-alih bukannya memberikan materi dasar atau memulai kegiatan belajar, ia malah memberikan kami semua sebuah rubik. Seseorang dari kami bertanya; mengapa anda memberikan kami semua sebuah rubik bodoh yang tak ada hubungannya dengan materi kita hari ini? lalu dijawablah dengan tenang olehnya, sebelum kalian memasuki kompetensi dasar, sebelum kalian memahaminya apa itu kesehatan medis. Anda semua yang ada disini, akan di ajarkan oleh benda yang ada dihadapan kalian. Kenapa demikian? tanya nya balik. Bagi orang awam ini hanya sebuah permainan, namun bagi dalam dunia medis, ini adalah ‘first aid box’. Alat ini akan membantu kalian melatih keterampilan motorik halus, bukan cuma itu. Secara kognitif; melatih kemampuan berpikir, melatih daya ingat, meningkatkan kesadaran spasial. Secara psikologis dan emosional; mengurangi stress atau kecemasan, meningkatkan kesabaran, meningkatkan rasa percaya diri. Dan dari aspek motorik kalian akan dapat meningkatkan koordinasi tangan dan mata. Dari situ kami semua terdiam dan baru memahami maksudnya, lalu semenit kemudian ia berbicara lagi. Setelah penghitung waktu ini saya tekan, kalian bisa menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit, tak penting hasilnya. Pokoknya setelah penghitung waktu berbunyi, semua tangan diangkat ke atas kepala, begitu katanya.
Aku mendengar salah seorang berbisik, merasa mustahil untuk diselasaikan dalam waktu singkat bagi pemula sepertiku, katanya dengan menggerutu. Ada juga yang mengeluh dari belakangku, bahwa soal gaya belajar seperti ini bukanlah kemampuannya, berbisik dengan teman sebelahnya. Akan tetapi aku sebaliknya, malah aku tak tahu apa yang akan aku lakukan pada benda ini, menit terus berjalan dan aku belum juga menyentuhnya. Selanjutnya kutengok sekeliling, beberapa ada yang sudah setengah jalan dan ada beberapa yang masih terjebak di pola yang sama. Sementara aku baru meletakkan jariku pada satu sudut atas rubik, kumulai awal dengan warna kuning lalu berikutnya kususun warna merah dan setelah merah selesai, penghitung waktu berbunyi keras dan semua orang mengangkat tangannya keatas termasuk diriku. Ny. Ellena berdiri dan bertanya siapa yang berhasil melakukannya, tapi tak ada satupun yang mengangkat tangan kecuali seorang laki-laki berkacamata yang duduk di paling belakang. Kemudian Ny. Ellena hanya melihat dengan tatapan yang biasa. Sebaliknya tidak ada apresiasi atau semacamnya, ia hanya berkata dalam hidup atau dunia medis, banyak orang yang gagal bukan karena tidak punya mimpi atau keinginan. Tapi karena terlalu sibuk dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak begitu penting. Tiga puluh menit kemudian kelas selesai dan aku keluar dari ruangan. Perutku terasa mulai lapar padahal sebelum mengikuti kelas sudah di isi dengan roti lapis dan jus apel. Apa mungkin karena terlalu banyak berpikir dan menyerap materi kecil tadi, batinku.
Didalam perjalanan di sebuah koridor tempat lemari lemari kecil untuk menyimpan barang mahasiswa seperti tas dan lain-lain, aku berpapasan dengan Mount yang sedang mengambil barang nya dari lemari penyimpan. Kemudian kusapa dirinya dan menagih jawaban yang semalam, namun kata yang keluar dari mulutnya adalah temui aku di kantin saat jam makan siang. Lalu dia bergegas pergi meninggalkanku, dan kutengok arlojiku ternyata waktu masih memperlihatkan pukul sebelas lewat empat puluh lima. Jadi masih ada beberapa waktu lagi makan siang tiba, dan kutentukan kegiatanku selanjutnya dengan pergi ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku yang sedang kucari. Setelah mendapatkan bukunya aku segera menulis namaku kedalam daftar peminjaman buku non fiksi. Setelah aku selesai dengan urusanku disini aku menyongsong ke pintu keluar, akan tetapi aku berbenturan oleh seseorang yang baru masuk. Nasibku sial kala itu, buku yang kupinjam jatuh dan catatan kecil bekas kelas tadi juga jatuh berhamburan. Tanpa perlu berpikir lama-lama aku menunduk menyatukan kembali semua kekacauan pada kertas yang kuanggap berharga.
“Maafkan aku, semua salahku. Biarkan aku saja yang membereskannya.” kata laki-laki yang sama sekali tak kuhiraukan siapa dia.
“Tidak usah, tidak apa-apa,” ucapku dengan cepat-cepat,
“biarlah ini jadi urusanku, dan aku minta maaf sekali lagi.” ujarnya seraya memperhatikanku.
“Iya tidak apa-apa.” jawabku selagi juga menatap wajahnya dan hening sesaat.
“Kaukah yang waktu itu? di…” ucapnya belum selesai.
“Pavilions?” jawabku bermaksud meneruskan kalimatnya.
“Sedang apa kau disini?” tanyanya lagi,
“selesai meminjam buku.” jawabku singkat.
Aku buru-buru memasukan kertas dan buku yang sudah tersusun kembali kedalam tas bahuku, lalu berdiri dan segera pamit dari hadapannya. Namun ketika aku berpaling, dia memanggilku.
“Tunggu!”
“bagaimana jika kita makan siang bersama, tapi setelah aku mendapatkan jurnal ilmiah didalam sini.” imbuhnya sambil menunjuk dengan ibu jari.
“Maaf, sekarang tidak bisa, aku tidak punya waktu.” jawabku meninggalkannya.
Apa sebenarnya yang sedang hatiku rasakan dan apa yang dipikirkan kepalaku, aku sendiri tidak sepenuhnya tahu. Apakah tindakanku barusan melukai hatinya? atau jangan-jangan aku hanya salah menafsirkan semuanya? pertanyaan-pertanyaan itu berputar pelan, seperti jarum kompas yang kehilangan utara. Mungkin ini hanya sebuah ketidaksengajaan yang kebetulan terjadi saat itu juga sesuatu yang tidak benar-benar kuinginkan, namun entah bagaimana tetap terjadi. Pada kenyataannya, aku memang sudah punya janji dengan Mount di kantin. Itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Aku hanya… penasaran. Penasaran pada petunjuk yang ia sebutkan, pada sesuatu yang mungkin sederhana, mungkin juga tidak berarti apa-apa. Hanya itu, tapi tetap saja, perasaanku bergeser seperti bayangan sore hari, pelan, nyaris tak terdengar, namun terasa jelas mengusik langkahku.
Etalase-etalase kaca tinggal tersisa sedikit isinya, orang-orangpun masih ramai bercengkrama sana sini, tapi tak nampak wujud sedikitpun dari Mount. Aku mengambil kotak alumunium kosong yang akan kuisi nanti dengan jacket potato berisi kacang, tuna, dan keju. Dan tentu tidak lupa dengan apel jus kesukaanku. Tidak disangka ketika aku sedang celingak-celinguk mencari meja kosong disitu Mount memanggil, lalu kuhampiri dirinya.
“Seperti orang yang sedang mencari nomor gerbong MRT.” katanya saat aku duduk di hadapannya.
“Kau sendiri seperti ditelan bumi, tak terlihat sana-sini,” balasku,
“aku sambil makan dan silahkan kau jelaskan maksud dan intinya.” aku menggerutu dan memalingkan pandangan.
“Sebentar…, kau tidak bertanya dulu kalau aku sudah makan atau belum?” tanyanya sambil menopang dagu.
“Aku tak punya banyak waktu lama, cepat! sebentar lagi ada kelas lagi.” kataku sambil mengunyah.
Lalu dia mengerti dan menghela napas, akupun tentunya menyimaknya sambil mengunyah makananku.
“Nostalgia dan waktu yang hilang, kue madeleine menjadi simbol kuat untuk nostalgia dan pencarian kembali waktu atau masa lalu yang terasa hilang. Momen tersebut menunjukkan hubungan mendalam antara pengalaman indrawi saat ini dengan masa lalu emosional yang jauh.”
“Kalau hidupmu selalu bersandar pada rasa memiliki, maka hidupmu akan dibayangi oleh rasa takut kehilangan, bukan begitu?” lanjutnya sambil merapihkan rambutnya kesamping.
“Sebentar, tahu apa kau tentang yang kualami?” tanyaku penasaran.
“Tidak hanya satu orang yang sepertimu!”,
“Apa kau mengerti sekarang?” ujar Mount
“Rasanya mengerti, tapi tidak mengerti,” aku menghela napas,
“selamat tinggal, sampai bertemu lagi. Dan selamat makan.” dia membereskan bekas makanannya kemudian beranjak dan meninggalkanku sendiri.
Kendati demikian, tak lama setelah ia pergi, aku malah terjebak dalam lamunanku sendiri. Lalu, tanpa aba-aba, Terry yang tadi sempat berpapasan denganku di perpustakaan, sudah duduk tepat di hadapanku. Rasanya seperti sedang menyeberang jalan dengan tenang, lalu sebuah kendaraan melintas begitu dekat hingga napasku tertahan. Aku hanya terpaku beberapa detik. Di depanku kini ada seseorang yang, entah bagaimana, mungkin telah terluka oleh sikapku barusan. Bila kupikirkan baik-baik, semuanya tampak seperti kebodohan belaka… atau mungkin sekadar kebetulan yang kejam. Aku sendiri tidak benar-benar mengerti apa yang sedang kualami kali ini.
“Sudahlah, tak perlu kau simpan dalam hati. Ini benar-benar bukan masalah besar,” ucapnya. Suaranya ringan, seolah hendak meredakan gemuruh kecil yang tak henti berkecamuk di dadaku.
“Entah mengapa,” kataku pelan,
“kita sering lupa bahwa tidak semua teka-teki diciptakan untuk dipecahkan.” Aku menggeleng, lebih kepada diriku sendiri.
Ia menatapku, matanya dipenuhi kebingungan yang tenang, seperti seseorang yang baru saja tersesat di dalam pikirannya sendiri.
“Mungkin kau ada benarnya.” katanya.
“Ayahku dulu seorang jurnalis. Tidak terlalu hebat, setidaknya begitu anggapan dunia… meski ia diam-diam masih percaya pada dirinya sendiri. Ia biasa mengumpulkan potongan informasi yang bahkan ia sendiri tak yakin kebenarannya. Suatu hari, dari serpihan-serpihan yang tampak tak berharga itu, ia menemukan sesuatu yang kecil, terlalu kecil untuk dianggap petunjuk. Namun justru dari situlah ia membuka jalan menuju kasus besar. Tanpa sengaja, ia berhasil menggagalkan jaringan distribusi obat ilegal yang dua puluh tahun tak pernah disentuh.”