Pada akhir-akhir Mei 1983, kelompok burung laut gannet bermigrasi dari perbatasan laut selatan mediterania dan laut hitam yang memisahkannya dari benua Afrika dan sebagian Asia. Mereka mengangkasa dengan gagah menembus cakrawala yang tak terbatas. Hingar bingar kota ini terjadi akhir-akhir ini, sabtu tiba aku pergi ke bagian jantung London menaiki tube. Berpergian sendiri tanpa Daisy, dikarenakan ia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tenggat waktu pada awal bulan depan. Sementara akhir bulan ini bagiku adalah masa-masa lenggang dan waktu yang tepat untuk berpergian, jadi aku melakukan perjalanan akhir pekanku ke jantung kota London sendiri. Aku sempat bilang kepadanya jika kemungkinan aku akan kembali sekitar penghabisan Mei atau menjelang Juni. Kereta yang mengantarku akhirnya berhenti di jalur piccadilly circus, keluar dari sini aku langsung dihadapkan sebuah pusat keramaian dimana orang-orang berbisnis. Aku berhenti di depan sebuah restoran cukup ramai dan mampir sebentar untuk memuaskan rasa lapar. Menariknya didalam sini, sebagian besar orang-orang mengenakan setelan jas rapih dan flat cap lalu setelah itu mereka langsung bergegas pergi setelah makanan dimeja benar-benar habis, oh inikah yang disebut pusat peradaban modern. Yang kuperhatikan mereka membawa tas kulit kotak yang talinya disilangkan dari pundak ke pinggang, berjalan tergesa-gesa menuju Square Mile, distrik yang sudah menjadi pusat keuangan internasional terkemuka sejak lama dan tetap dominan pada periode tersebut. Pada pertengahan abad delapan belas, Inggris mulai menjadi pusat bisnis dan perdagangan dunia. Menjadi tempat kelahiran revolusi industri, yang mengubahnya dari ekonomi agraris menjadi kekuatan industri terkemuka. Inovasi dalam manufaktur tekstil dan tenaga uap meningkatkan kapasitas produksi secara dramatis. Kemudian didorong oleh produksi industri yang masif dan imperium britania yang luas, Inggris mendominasi pasar global dengan produk-produk manufakturnya. London berkembang menjadi ibu kota politik, perdagangan, dan keuangan global terbesar di dunia pada abad ini. London telah menjadi pusat keuangan internasional terkemuka sejak abad ke sembilan belas, berperan sebagai pusat peminjaman dan investasi di seluruh dunia. Pembentukan Bank of England pada 1694 dan regulasi keuangan yang inovatif turut memperkuat posisi ini. Singkatnya, fondasi diletakkan pada pertengahan abad ke delapan belas melalui industrialisasi, dan Inggris mencapai puncak posisinya sebagai pusat bisnis global selama abad ke sembilan belas.
Makanan dan kopi yang kupesan telah habis, tak heran kenapa tempat ini ramai. Tapi harga makanan disini lumayan mahal, mungkin wajar saja letaknya yang bersinggungan langsung dipusat kota dan bukan hanya makanannya saja yang enak, tempat dan pelayanannya juga menyajikan pengalaman dan atmosfir yang berbeda, kita seolah diajak menjelajah masuk ke dapurnya melalui aroma asap yang menerjang hidung namun tak terlalu menyengat. Setelah aku keluar dari situ aku ingin melihat papan nama tempat restoran itu, dengan maksud barangkali, suatu waktu aku pergi lagi ke sekitar sini, mungkin aku bisa menyempatkan diri kesini lagi. Faulkner’s, baiklah akan kuingat-ingat dengan baik. Berjalan sendiri di bahu jalan kota sebagai pelancong bersama sekumpulan orang-orang yang menggadaikan akhir pekannya demi hidup yang lebih layak, seperti melihat mesin pencetak uang berjalan, tidak. Lebih dari itu, mereka tampak menyerupai pabrik coca-cola, ya… namun mereka adalah kalengnya, yang berbaris di jalur mesin pengisi cola nya. Setelah kaleng terisi penuh lalu disegel, dan kemudian di giring otomatis ke tempat pengemasan. Sebuah pemandangan yang sebelumnya belum pernah kusaksikan di Filipina, semenjak kecil aku dan ayahku sering pergi ke Quezon Boulevard di Santa Cruz atau biasanya di Binondo. Pasar umum dan pusat perbelanjaan modern pertama kala itu, untuk mencari bahan makanan atau berbelanja kebutuhan yang lain. Dengan berbekal sepuluh peso kami sudah bisa membawa pulang bahan-bahan makanan segar seperti telur, beras, ikan, ayam, daging dan kebutuhan sekunder untukku dan juga adikku.
Beragam bangunan khasnya yang berwarna seperti benteng kastil yang megah, bus tingkat merah yang ikonik, hingga taksi hitam yang berderet di jalanan berpadu padan dengan sentuhan masyarakat kelas pekerja yang serba klasik, menciptakan pesona tersendiri yang kian menarik perhatian dunia luar dan perlahan memengaruhi budayanya. Perpaduan itu menambah pesona kota, memikat pandangan dari luar, dan sedikit demi sedikit membentuk warna budayanya. Seperti halnya New York di Amerika, London pun termasuk ke dalam kota yang hampir tak pernah tertidur. Sampai pada aku tidak sadar bahwa aku sudah berjalan selama satu jam lebih disini, meskipun kulakukan dengan berjalan kaki namun sampai detik ini kakiku masih baik-baik saja. Sebenarnya aku datang kesini pun tidak tahu kemana tujuannya, hanya berjalan sampai sejauh mana kubisa saja sudah beruntung. Bagiku ini menjadi bagian pelarianku dari dunia yang terlalu berserat lapisan dalamnya, kurasa setiap orang membutuhkan ini dan tentunya berbeda cara dalam melaksanakannya. Didepan Big Ben aku menatap tingginya, sungguh bagai khayalan bisa menapaki kaki di bawah bangunan penting kota ini. Sungai Thames, jembatan Westminster, dan para pejalan kaki menjelma elemen kuat berasal dari fragmen yang tidak sengaja pada waktu itu. Mereka sangat sulit dipisahkan, Big Ben adalah lonceng besar di dalam menara jam yang sekarang dikenal sebagai menara Elizabeth, yang merupakan bagian dari istana Westminster di London. Memiliki lima lonceng, lonceng yang paling besar tingginya lebih dari 2,1 meter dan diameternya memiliki lebar 2,7 meter. Telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa penting dan pernah mengalami kerusakan selama perang dunia kedua, namun tetap berdiri kokoh hingga aku berdiri tepat dibawahnnya. Dari berbagai sumber yang kubaca, didalam menara terdapat sebuah penjara. Untuk menahan anggota parlemen yang melanggar kode etik. Akan tetapi penjara itu tidak lagi digunakan sejak tahun 1880an.
Aku sendiri menamai perjalanan ini dengan sebutan perjalanan lini masa sejarah, menghendaki dari tempat ke tempat demi mengenal dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Perkiraan disini aku bisa menghabiskan dua atau tiga hari, tergantung kepuasan batinku. Ketika sore menjelang, langit dari bawah sini tampak sangat dekat, meskipun sedikit terhalang oleh gedung yang menjulang, kendati demikian merah dan oranye langit terlihat seperti dibuku mewarnai saat aku kecil. Menjadi ilusi ketika ditatap dalam waktu yang lama, membayangkannya aku mirip dalam adegan difilm Annie Hall. Terdampar di hamparan sepanjang bahu jalan, dan kini tak tahu arah mana yang akan dituju selanjutnya menjelang matahari terbenam. Kotak telepon berwarna merah hampir terdapat disepanjang jalan, aku mencoba masuk lalu menggunakannya. Memang awalnya aku berniat coba-coba menghubungi ibuku disana, kuingat-ingat lagi nomor telepon rumahku lalu setelah kuingat kutekan satu persatu nomor, kemudian menunggu berapa saat. Telepon pada masa ini sangat sulit didapat, tidak semua orang memilikinya. Beruntung dirumahku ada satu untuk urusan pekerjaan ayahku. Namun di negara ini, telepon menjadi hal yang penting, alat yang membantu seseorang selain kendaraan. Oleh karena itu pemerintah sini menyediakan fasilitas ini yang tersebar di beberapa tempat. Berbeda di negara asalku, telepon hanya bisa dipakai oleh kalangan tertentu, lantaran biayanya yang cukup mahal dan saat itu pemerintah sana belum bisa menyediakannya secara umum.
Beberapa menit menunggu, akhirnya ada seorang yang menjawab. Ialah suara yang ingin kudengar, suara yang halus memanggil seolah meminta agar dihampiri. Hampir lima belas hari aku tak mengetahui kabar ibu dan begitu sebaliknya, selama aku kuliah waktuku sungguh terbatas untuk sekadar mengirim surat ataupun berpergian keluar seperti sekarang. Di kampusku kami tidak bisa memakai telepon, telepon hanya tersedia di kantor kepala rektor dan untuk wilayah kampusku kotak telepon merah, atau red telephone booth belum tersedia. Setelah aku membayangkan kembali wajah ibuku hanya dari suaranya di telepon, aku tertegun. Kalimat yang paling kurindukan, bagaimana keadaanmu, Nak. Baru saja meluncur dari bibirnya beberapa detik lalu, namun cukup untuk menyeretku keluar dari lamunan panjang yang penuh bayangan dan khayalan yang tak menentu. Ada kerindangan dalam nadanya, semacam kelembutan yang terasa seperti menjangkau tenggorokanku yang kering. Getaran itu… entah mengapa membuatku ingin bergegas pulang, seolah kehadirannya satu-satunya tempat di mana jiwaku tidak terasa compang-camping. Kuliahmu bagaimana, kapan terakhir kau makan, dan kau harus bisa di repotkan oleh pakaian kotormu. Aku baik-baik saja, ibu tenang saja. Aku bisa mengatasi semuanya. Cuaca disini berubah-ubah, jadi tentu saja aku terkadang memakai pakaian yang sama dengan yang kemarin karena beberapa belum ada yang kering. Aku sekarang sedang berada di tengah kota London, bu. Sedang menikmati masa-masa sendiriku, ibu tak usah khawatir. Loh, kenapa sendirian. Dimana temanmu. Apa kau masih nyaman juga dengan dirimu sendiri, jangan terlalu mengikuti keinginan diri sendiri. Terkadang kau perlu melakukannya dengan seseorang. Iya bu, sudah kulakukan. Daisy tidak bisa ikut karena masih banyak tugas pekerjaan yang belum selesai. Lain kali kau juga perlu belajar menanam rasa percaya kepada orang lain, nak. Ibu dan ayah akan berusaha menemuimu saat musim libur nanti, kau jaga dirimu sebaik mungkin sebelum kami kesana. Iya bu, aku akan mengusahakan sebaik mungkin, aku titip salam kepada ayah, bilang agar jangan merokok terus, sayang paru-paru nanti hitam. Dan salam untuk Giza agar belajar sungguh-sungguh sepertiku hehehe. Iya, nak nanti ibu sampaikan. Kau jangan terlalu memaksakan diri, pergilah sejauh langkahmu mampu, nak. Dunia di luar sana luas dan penuh pelajaran. Tapi ingat, setiap kali kamu menatap langit malam, langit yang sama juga menaungi rumahmu di sini. Kami selalu mendoakanmu, tutup ibuku.
Selama permbicaraanku di telepon dengan ibu, rupanya aku menitikkan air mata hingga sepatu putihku bercak bintik-bintik kecil. Hati yang tersayat, nelangsa, merana sudah kulalui beberapa waktu silam kemudian membaik, namun kerap terulang seiring telepon rumah berdering. Mengapa hal-hal yang tak disengaja bisa berjalan ke masa lalu melintasi lembaran lama yang dinamakan kenangan, batinku. Terdengar rumit meski begitu setiap orang pasti merasakannya. Waktu malam tiba pukul delapan aku mencari penginapan yang murah tapi layak untuk bermalam, disekitaran New Charlton, aku menemukan penginapan dekat dengan sungai Thames jaraknya. Walaupun murah tapi cukup bagus juga untuk ukuran lima belas quid yang dikeluarkan, seketika aku naik dua lantai menuju dimana kamarku berada. Pasalnya penginapan ini belum memiliki lift jadi hanya ada anak tangga sebagai penghubung dari setiap lantai, beruntungnya kamarku hanya perlu naik dua kali dan tas punggungku dibawakan oleh porter yang bertugas. Setelah tiba didepan kamarku aku berterimakasih dan memberikan tiga quid kepada porter yang membantuku tadi. Aku sempat dibuat bingung lantaran wajah porter itu sangat senang sekali, apakah ada yang salah dengan nilai tip yang kuberikan atau memang aku yang tidak begitu memahami acuan tip di negara ini. Tapi nampaknya itu nominal yang besar baginya, maka itu dia melemparkan senyum yang begitu lebar. Begitu aku masuk, kamarnya jauh diluar bayanganku. Ternyata hotel ini menyajikan pelayanan dan fasilitas yang jauh lebih baik, ketika aku masuk kedalam dan memperhatikan setiap sudutnya, aku mengira aku seperti berada di asramaku. Ya meski hanya berbeda sedikit, tapi tidak rugi juga jika hanya dipakai semalaman saja.
Bagaimana mungkin aku bisa langsung tertidur pulas sementara perutku meraung-raung, batinku. Sejenak aku berpikir untuk keluar, sekadar mencari tempat makan malam. Aku pun turun ke lobi hotel, dan bertanya pada resepsionis di mana aku bisa mendapatkan makanan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Ia menyarankan The Valley, semacam pasar makanan yang terkenal di dekat sini ini, lengkap dan ramai, tanpa perlu naik bus tingkat untuk mencapainya. Aku tiba di sana tepat pukul sembilan. Syukurlah kios-kiosnya belum sepenuhnya tutup. Tanpa banyak ragu, aku menuju kios pizza dan membeli sepotong, harganya lima quid. Satu potong kurasa cukup untuk mengisi perutku malam itu. Kini tinggal mencari sesuatu untuk menghilangkan dahaga. Aku berjalan mengitari blok demi blok, sampai akhirnya hanya menemukan air mineral kemasan dan itu pun rasanya sudah lebih dari cukup. Malam semakin larut. Jarum arlojiku berhenti di angka sepuluh kurang dua menit. Sudah waktunya kembali ke penginapan, meski tempat itu tak mengatur jam keluar-masuk seketat asramaku. Udara malam di sini terasa menusuk. Sesampainya di kamar, kututup rapat jendela, namun angin dingin tetap menyelinap lewat ventilasi kecil di atasnya. Akhirnya, aku memutuskan tidur dengan jaket wol masih membungkus tubuhku, dan sarung tangan menutupi jemariku. Namun dingin itu tetap saja menggerogoti bagian yang tak terlindungi, meski aku sudah meringkuk rapat-rapat di balik selimut. Jika esok pagi tubuhku membeku seperti es, hal pertama yang akan kulakukan adalah memastikan otakku tidak ikut beku, agar masih ada sedikit ruang untuk memikirkan langkah selanjutnya. Selebihnya… biarlah menjadi urusan penginapan ini.
*
Hari minggu pagi, terlihat cerah dari jendela hotel kamarku yang menghadap langsung ke sungai Thames. Beberapa orang terlihat sedang lari pagi disekitaran tepi sungai Thames, aku baru menyadari satu hal ketika memandangi sekeliling sini. Nampaknya hampir tiada pepohonan yang tumbuh dibeberapa titik sedangkan udara pagi disini terbilang cukup bagus. Karena sepengetahuanku, kualitas udara yang baik disebabkan lingkungan yang ketersediaan vegetasinya tinggi, seperti pepohonan yang membantu menyerap polutan lalu menghasikan oksigen. Oh aku baru mengerti. Disini memang polusi sangat minim sekali, karena umum dijumpai para penduduk sini lebih suka berjalan kaki daripada naik kendaraan, dan hal itu bisa saja menjadi jawaban yang sangat masuk akal jika ditimbang-timbang. Kali ini aku baru teringat, bahwa pukul sembilan aku segera harus meniggalkan hotel, kemudian aku bergegas mengemas barang-barangku lalu turun kebawah memberikan kunci kamar dan lalu membayar biaya sewa. Selanjutnya aku lagi-lagi di repotkan oleh perutku yang kosong. Dalam hatiku sepertinya menyenangkan jika sekarang Daisy berada disisiku, dan tentunya ia akan menjadi pemandu jalan yang bisa diandalkan. Dijalan Bugsby aku menemukan sesuatu yang menarik, didepan toko pinggir jalan ada sebuah kios kecil yang menjual koran, lalu aku membeli koran hari itu, sambil berjalan aku sambil membaca berita-berita tentang kejadian yang terjadi belakangan ini, namun tak ada satupun yang menarik perhatianku. Tanpa disadari aku tepat berada di depan toko yang menjual khusus aneka macam roti. Dari depan baunya sangat tercium, aroma mentega, dan wangi asap tungku pemanggang yang khas seolah melambaikan tangan kepadaku, agar aku menghampiri lalu masuk untuk mencicipi. Setelah aku masuk, seperti rasanya masuk ke pintu surga. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tidak pula bisa digambarkan. Pada intinya membuat siapapun yang masuk akan ditumbuhi sayap kecil di punggungnya, kemudian terbang lalu berputar-putar di dalam ruangan ini.
Dalam etalase terpajang banyak jenis roti yang terdiri masing-masing hanya satu jenis saja yang dipajang. Tapi lebih banyak yang asin dan manis, setiap jenis roti terpasang banderol harga dari papan kecil. Bagiku harganya cukup terjangkau untuk berbagai jenisnya, shepherd pie, cornish pasty, suet crust, victoria sponge, dan scone. Kata penjualnya itulah yang lebih sering laris terjual. Aku membeli shepherd pie dan suet crust, untuk keduanya aku hanya menghabiskan tiga puluh lima penny. Dan ketika aku berada di pintu keluar semakin banyak orang berdatangan, hingga menimbulkan antrian cukup panjang. Ya, sudah sewajarnya, dalam hatiku. Jujur sangat sulit untuk mengatakannya dalam setiap gigitan, tampak semacam roti pada umumnya. Namun ada satu hal yang kurasakan yang mungkin tak bisa ditemukan dibelahan dunia ini, menurutku. Perjalanan ini masih berlanjut, aku mengitari lekuk tubuh kota ini. Kemarin aku sudah merasakan di jantungnya, kali ini aku ingin merasakan bermain disekitar kakinya. Aku menaiki bus tingkat pada hari ini, mungkin yang seorang turis hanyalah aku. Orang-orang disini menyebutnya Routemaster, bus ini kerap mengalami beberapa kali transformasi. Rute bus ini menuju London bagian selatan, lalu di Norwood Road aku turun berhenti, aku berjalan menuju taman besar yang terhimpit ditengah-tengah kota. Brockwell Park Walled Garden, tertulis besar pada papan kayu dengan lapisan cat coklat di pintu masuk utama, gerbang dan tembok besar yang mengitari area taman seluas lima puluh hektar. Awalnya sebelum aku memutuskan berhenti turun, diperjalanan didalam bus aku melihat hamparan hijau dari jauh yang begitu luas, menyerupai stadium sepakbola dan kemudian akhirnya aku sampai disini.
Aku tidak percaya pada tempat ini, begitu luas di dalamnya. Jika seseorang berhasil berjalan mengelilingi taman ini, dua puluh empat jam waktu yang ia punya akan hilang begitu saja. Diujung sana juga ada satu danau cukup besar dekat tembok. Setelah kuperhatikan baik-baik aku mengira hanya ada satu danau, namun ada lagi dua danau kecil di tengah-tengah, namun sebenarnnya bentuknya tak seperti danau melainkan seperti kolam yang tampak tak begitu besar. Entah apa karena ini hari minggu, tempat ini disusupi sejumlah besar keluarga yang memillih menikmati akhir pekannya di Brockwell Park ini. Barangkali hanya aku yang sendirian mengunjungi tempat ini, aku melintasi jalur yang dibuat khusus pejalan kaki, permukaan aspal selebar dua meter. Lalu sepanjang jalan di kanan kiri dikelilingi rumput halus dan semak-semak setinggi pinggang orang dewasa. Di kolam yang kukatakan tadi, dihuni sepasang angsa yang cantik yang sedang berenang. Lima meter dari kolam itu ada seorang anak kecil sedang bermain lempar tangkap dengan anjingnya, dibawah langit yang teduh ditutupi perisai awan kelabunya. Anjing itu berlari, memungut bola kecil, dan mengembalikan ke anak kecil itu. Sampai pada ketika bola yang dilempar anak itu terlempar jatuh ke kolam angsa itu, lalu anak kecil itu berteriak: ayo Gary! kau pasti bisa melakukannya, dan kemudian anjing itu berlari kearah kolam dan berenang untuk mengambill bolanya. Aku beranjak dari dari kursi taman melanjutkan penelurusan kebagian ujung, aku mengira hal-hal baru yang kutemui pada hari ini sudah selesai. Akan tetapi masih berlanjut, selain satu keluarga kecil berpiknik dibawah pohon besar. Ada satu yang menarik perhatianku, daun-daun gugur sebagai simbol perubahan waktu, pasangan tua berjalan pelan sambil bergandengan tangan kemudian membeli es krim. Seorang kakek berbisik kepada nenek, kamu mau rasa apa. untuk mulut yang berongga sepertinya coklat, jawab sang nenek sambil tertawa, dan sang kakekpun ikut tertawa. Keriput di tangan mereka hanyalah peta perjalanan panjang cinta yang tak pernah tersesat, mereka tak lagi berlari seperti dulu, tapi setiap langkah kecil masih berdenting dengan irama kasih yang sama. Rambut mereka memutih, namun hati mereka tetap bersemi dua jiwa yang menua bersama, tapi tak pernah kehilangan musim cintanya. Giginya mungkin hilang, tapi aku mengetahui betul cinta di balik senyum itu tidak sedikitpun berkurang, batinku.
Saat tiang-tiang lampu mulai menyala pada pukul lima sore, aku berjalan keluar menuju tepi jalan. Menunggu bus tingkat sambil membaca peta yang kuambil dirak depan gerbang taman tersebut. Sesampainya bus tiba aku langsung menggendong tasku yang kuletakkan dibawah, dan aku segera naik mencari kursi paling belakang. Selanjutnya aku memutuskan perjalananku menuju Fullham Road tepatnya di London bagian barat daya, dari jauh bangunan besar terlihat dari sini. Salah satu stadium sepakbola terbesar di London bernama Stamford bridge stadium, anehnya ratusan orang berjalan kaki menuju tempat itu. Akupun belum mengerti ada apa disana, aku turun di persimpangan lalu mengikuti kerumunan itu. Berteriak penuh lantang, sepanjang jalan bernyanyi, dari usia muda hingga tua saling merangkul hingga ke stadium itu. Aku berada di pinggir himpunan orang itu sambil terus memperhatikan, ketika sudah dekat dengan pintu masuk, mereka antri berbaris bersamaan menunjukkan tiket yang mereka punya. Pikiranku terus mengeluarkan pertanyaan, mungkin aku harus mencoba masuk kedalam dan aku bertanya kepada seseorang, bagaimana caranya mendapatkan tiket masuk ke tempat itu dan ada apa sebenarnya didalam situ. Katanya aku harus kebelakang loket bertemu dengan seseorang yang memegang tiket pertandingan, lalu kuikuti arahannya dan membeli dari orang itu. Aku menemui orang itu dibelakang loket, kuberitahukan tujuanku lalu dia berkata kepadaku dengan rokok yang menempel pada mulut, jarang sekali kulihat gadis muda bisa tertarik pada sebuah klub ini, begitu katanya. Kemudian aku menukar tiketku dengan tiga puluh quid dan berjalan kembali ketengah antrian tadi. Tiba giliranku, aku menunjukkan tiket lalu dipersilahkan masuk. Sebelum bisa masuk kedalam, aku dipaksa menaiki tangga yang cukup tinggi. Bangunan megah ini bisa berdiri karena ditopang pilar-pilar bata merah yang menjulang tinggi, terdapat empat pintu masuk di setiap sisi dibangunan yang berbentuk persegi ini. Pada bagian awal sebelum memasuki stadium, ada lorong yang menjadi penghubung ke tempat tribun penonton. Aku berjalan menuju lorong itu bersama beberapa orang, jarak sekitar dua puluh meter mengantarku tepat dibagian atas, dimana bangku-bangku stadium tersebar diseluruh bagian dalam tempat ini. Mungkin jumlahnya puluhan ribu menurutku, dan diantara bangku-bangku yang berlingkar berbentuk persegi, dari atas aku melihat lapangan hijau yang cukup besar dibawah tribun.
Pertanyaanku masih belum kunjung terjawab, aku bertanya kepada laki-laki yang mengenakan syal biru sambil memegang bir, aku bertanya apa yang kalian tonton disini. Sore ini pertandingan tuan rumah klub sepakbola Chelsea melawan Arsenal, katanya. Meskipun sejujurnya aku tak begitu mengerti tentang olahraga ini, hal yang membuat aku sampai disini hanya rasa penasaran dan ada hal yang membuatku perlu kuketahui rasanya. Berada dibagian timur aku mencari tempat duduk, posisiku persis menghadap membelakangi gawang. Terhalang oleh beberapa orang yang berdiri bernyanyi, sorakan mereka masih menaungi seisi gemuruh stadium ini selama sebelum pertandingan dimulai. Di pojok tribun, seorang anak laki-laki berdiri di samping ayahnya, matanya berbinar menunggu para pemain keluar dari terowongan. Pukul enam lewat tiga puluh pertandingan dimulai, sementara masih tiga puluh menit lagi sebelum menuju pertandingan, namun seluruh bangku terisi oleh pendukung dari kedua tim. Meskipun warna biru lebih banyak daripada warna merah, tapi keduanya sama-sama lantang bersorak. Angin berhembus dingin sore itu, membawa aroma batu basah dan bunyi nyanyian para pendukung yang mengalir didalam stadium seperti arus sungai yang tak sabar menemukan muara. Di atas kepala, langit tampak redup seolah menahan napas bersama puluhan ribu dada yang berdebar. Tribun tua masih berdiri gagah, catnya mulai pudar dimakan tahun, namun justru di sanalah gairah sepak bola paling murni hidup. Asap rokok menari-nari dalam cahaya lampu stadion, membentuk kabut tipis yang menyelubungi para penonton. Suara terompet, nyanyian, dan canda kasar antar rival memenuhi udara, bergema di antara rangka besi yang dingin. Ketika pemain tuan rumah berlari memasuki lapangan, sorakan membuncah seperti badai kecil, sementara pendukung tim lawan tak mau kalah, balasan chant mereka melambung tinggi, bagai dua gelombang besar yang saling menghantam tanpa henti. Di tengah lapangan rumput yang sedikit berpasir, para pemain tampak seperti pejuang yang bersiap menulis legenda singkatnya sendiri, saling mempertaruhkan harga diri. Bola kemudian bergulir, memantul, menorehkan jejak-jejak bunyi yang menggetarkan dada. Setiap tekel keras mengundang decak kagum dan umpatan, setiap serangan balik membuat udara di sekitar terasa lebih tebal. Stamford Bridge malam itu bukan sekadar stadion, ia seperti ruang berdenyut tempat harapan, hasrat, dan dendam kecil antar dua London biru-merah terjalin menjadi satu. Dan ketika sorotan lampu menimpa tribun, tampaklah wajah-wajah penuh gairah, ada yang tegang, ada yang tersenyum, ada pula yang hanya diam, menikmati tiap detik dengan mata yang berkilat. Seolah waktu berjalan lebih lambat, seperti ingin memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menyimpan kenangan ini jauh di dalam hati. Di era ketika sepak bola masih terasa liar dan nyaris tanpa polesan, malam pertandingan itu menjadi saksi bahwa di Stamford Bridge, cinta pada klub bukan sekadar hobi melainkan napas, denyut, dan rumah bagi ribuan jiwa yang datang mencari sedikit kehangatan dalam hiruk-pikuk kota.
Aku mulai naksir pada kota ini, tradisi dan budaya yang belum pernah kutemui sebelumnya. Ritual diakhir pekan yang tak biasa, dikala senin sampai jumat kebanyakan orang-orang disini memilih mati tenggelam dibawah arus rutinitas yang melelahkan. Hingga pada sabtu dan minggu tiba, jiwa mereka terangkat kembali ke daratan bersama darah kesetiaan mengalir yang telah menjadi jalan hidup mereka. Yang kuketahui, mereka yang mati di hari senin sampai dengan jumat kemudian dihidupkan kembali pada sabtu dan minggu, adalah mayoritas para kelas pekerja di negara ini. Kidung dukungan tak pernah surut hingga peluit panjang dibunyikan, seperti mendengar himne kuil-kuil suci yang dinyanyikan oleh orang-orang saleh. Laga berakhir namun para penggemar masih pada posisinya menyambut tim masing-masing yang menghampiri mereka di tribun penonton. Ketika berbicara tentang bingkai perjalanan, tentang pengalaman yang mengendap dalam diri, sering kali seseorang harus melihatnya dengan mata sendiri agar dapat merasakan fragmen-fragmen halus yang tak sanggup dijangkau telinga mana pun. Meski dalam hatiku mengatakan biasa saja, tapi setiap perjalanan pasti menyimpan pelajaran yang dapat diulas sewaktu-waktu ketika kilas balik menghampiri. Emosi terasa mengalir didarahku saat melihat penggemar tuan rumah merayakan kemenangan di kandangnya, aura mereka diam-diam menyelam ke batinku. Aku turut gembira sambil berteriak tipis. Seusai permainan menemui ujungnya, para pemain kembali ke dalam. Di sertai pula penggemar yang berbondong-bondong meninggalkan stadium dengan menjunjung rasa bangga, partitur malam yang gelap pun tak mampu membendung nyanyian mereka. Aku berjalan di antara manusia lain, namun langkahku selalu memantul kembali pada kekosongan yang hanya bisa kudengar sendiri, ada hari-hari ketika senyum orang lain terasa seperti cahaya, tetapi bagiku, cahaya itu hanya memperjelas bayanganku sendiri. Hari sudah cukup berakhir untuk hari ini, waktunya aku kembali berjalan di ruangan jiwa yang berisi hampa. Pukul sembilan malam dibawah halte Fullham road, menunggu bus seorang diri, mencari penginapan terakhir untuk malam ini, lalu esok kembali ke asrama. Jalan-jalan masih ramai, orang-orang pun senantiasa membanjiri sekitar stadium ini. Sampai lima belas menit menunggu bus pun belum datang, tiba-tiba dari jauh seseorang berjalan kearah halte, memakai beanie penutup kepala dari rajut wol, sweter hitam, dan jins robek. Ketika jaraknya dekat ia menatapku sambil memperbaiki penutup kepalanya dengan kedua tangannya.
“Liza? sedang apa disini?” katanya tercengang.
“Terry…?” ekspresiku sama dengannya.
“Kau juga ngapain disini?” tanyaku lagi.
“Habis dari nonton pertandingan.” jawabnya sambil membungkus kedua tangan dikantong sweater.
“Hah…aku juga dari sana.” kataku terkejut.
“Maksudmu kau juga menyukai klub ini?” Terry mengangguk kecil berulang kali.
“Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya kebetulan pergi kesini dan tidak sengaja karena penarasan.” ungkapku sambil menggeleng.
“Oh, lalu kau mau kemana?” terry menggaruk hidung.
“Mau mencari penginapan, kau sendiri kenapa datang jauh-jauh sendiri demi hanya menonton pertandingan itu?” tanyaku sambil berpinggang tangan.
“Tunggu… tunggu… kau juga belum menjelaskan bagaimana bisa perempuan sepertimu menyukai sepakbola, bukankah itu terdengar aneh jika hanya kebetulan?” Terry masih menyangkal dan tidak percaya.
Namun ketika aku baru ingin menjelaskan semua, bus tiba-tiba datang. Aku meminta maaf lalu pamit kepadanya, ketika aku mau naik dia menarik tanganku.
“Hey, bagaimana kalau aku ikut denganmu?”
“Aku mau mencari penginapan, dan perkiraan pulang ke asrama besok pagi.” jawabku masih tercengang.