Lucu rasanya, dunia terus berputar, sementara aku terjebak pada satu detik yang tak pernah mau melepasku. Semeseter satu telah berakhir, tampak terlihat naif jika menyebut aku telah berada di tengah perjalanan. Sementara setengah diriku sudah lancar mengeja kehidupan disini, meski begitu, aroma ingatan akan masa-masa kemarin masih meninggalkan sedikit jejak, di batu kehidupanku yang sudah berlalu. Memasuki semester dua, pertengahan desember tahun ini jelas berbeda. Namun kekuatanku seperti bertambah, ketenanganku juga semakin terlatih, pengendalian emosi didalam diriku tampak juga bisa mudah kuatur semauku. Tapi satu kelemahan baru yang muncul baru-baru ini, yaitu, gelisah yang menuai panjangnya perjalanan ini, lelah akan penantian, berharap segalanya berjalan sesuai kehendak, benci mengulangi hari yang sama. Bisa saja aku terbunuh berkali-kali kemudian memilih menyerah, namun menurutku bukan begitu cara yang pantas untuk menyelesaikannya. Setelah kupikir-pikir, aku menyadari lagi bahwa selama ini aku sering menderita didalam bayangan, namun tidak begitu dengan kenyataannya. Sekali-sekali aku ingin berpaling dari tempat paling gelap dibumi, keluar mencari sesuatu yang kuanggap sebagai ruang yang menolak kedatangan sunyi. Bukankah suatu keajaiban yang nyaris tak dapat dipahami bila seseorang, setelah sekian lama terperangkap dalam perangkap yang dipasang oleh kepalanya sendiri, lalu akhirnya berhasil merangkak keluar darinya, kemudian entah bagaimana, ia hidup untuk seterusnya didalam semacam ketenangan yang begitu murni hingga terasa seperti ruang asing yang tak sepenuhnya dapat ia percayai. Apa pun bentuknya, apapun itu, intinya aku…, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Kadang rasanya seperti membuka pintu ke sebuah terowongan asing yang tak pernah benar-benar kupilih, tetapi entah bagaimana sudah menelan jejakku. Ada malam-malam ketika aku berjalan sendirian, mendengar langkahku sendiri bergema seperti suara orang lain, dan di kejauhan kurasakan sesuatu, mungkin kenangan, mungkin masa depan memanggil pelan dari balik asap tebal. Aku tidak tahu apa yang menunggu di ujung perjalanan itu. Mungkin hanya keheningan yang redup, mungkin jawaban yang tak akan kubaca sepenuhnya. Tapi tetap saja, ada dorongan aneh dalam diriku, seperti mesin kecil yang terus berdetak, memaksaku menuntaskan jalan yang sudah terlanjur kubuka, seakan di sanalah satu-satunya tempat dunia ini akhirnya masuk akal, meski hanya sebentar.
Akhir-akhir ini pelajaran di kelas membuat diriku terpacu, hari demi hari sangat berdebar-debar untuk terus belajar sungguh-sungguh. Satu semester sudah kulalui, namun yang sangat aku sesali adalah mengetahui bahwa saat libur semester bulan november kemarin, orang tuaku tidak dapat mengunjungiku karena beberapa alasan. Ya, meski semuanya bisa kuterima, tapi lagi-lagi sulit rasanya berlayar sendiri dilaut lepas tanpa kompas. Bahkan musim dingin kurasa tahu, ini tak dapat membekukan kegelisahan, hampir tiap malam ia datang tanpa permisi seolah ditugaskan untuk datang menemuiku pada waktu ketika pikiranku berlarian tanpa arah, pada jam-jam ketika kepala bergema sendirian. Akan tetapi kali ini, aku tak mau musim dingin ini mengganggu alur peletakkan batu dinding benteng yang sudah kususun perlahan. Detik demi detik waktu; kupungut dari lintasan yang terselimuti tebal oleh salju. Rute angin yang pemberhentian terakhirnya menuju kesini pun akan kucegat, belum lagi cahaya tipis yang kedatangannya seperti surat didalam kotak surat, tetapi isinya hingga kini tidak tersirat. Setiap pagi, aku selalu melangkah dibawah jilatan api penuh ambisi walaupun langkahku sedikit terasa berat karena hamparan gundukkan salju. Suatu ketika aku dan Daisy memutuskan pergi setelah kelas kami berakhir, pukul empat sore yang rentan dingin serta minim cahaya dari sang surya. Kami berjalan mencari tempat dimana tubuh kami bisa menyerap hangat dari minuman yang Daisy gemari, kami datang kesebuah pub tapi kali ini tebilang agak jauh. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Daisy meminum segelas johnnie walker dan akupun merasa aku dapat bertanggung jawab dengan keputusanku sekarang ini. Aku memesan hot toddy, campuran brendi, air panas, madu, dan lemon. Ini pertama kalinya aku mencoba minuman alkohol, meskipun kadarnya rendah namun aku bukan berniat untuk pengar, melainkan untuk sebatas menghangatkan saja.
“Hari ini kau tampak seperti bukan Liza yang kukenal.” Daisy tersenyum bermaksud mencemooh
“Ya kita liha saja nanti bisa bertahan sampai kapan,” aku menimpali,
“kau sudah dewasa Liza, kau berhak atas semua pilihanmu,”
“lagian, kau sudah mencoba menyukai kehidupan ini.” tambahnya dengan suara yang tak begitu jelas akibat bibir yang disumpal Marlboro.
“Ya kau benar! tetapi kehidupan selalu membalas dengan cara yang membuatku ragu apakah aku pantas berada di sini.” kataku dengan pandangan lurus kedepan.
“Tidak perlu berkata seperti itu. Kau bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang menganggap sendiri adalah tempat paling menenangkan.” Daisy mengulurkan Marlboro kepadaku, namun kutolak.
“Terkadang saat kita sendiri, kita merasa nadi-nadi ditangan kita mendidih. Upaya yang kita kerjakan kerap sia-sia. Tapi menatap sesuatu yang belum tentu akan datang ke diri kita, apakah sebuah dosa?” Daisy melanjutkan.
“Daisy! yang kupercaya seperti ini. Manusia lain memanggilnya harapan, tetapi bagiku ia hanyalah tali tipis yang semakin menjerat setiap kali aku mencoba menggenggamnya.” ujarku sambil menyesap hangatnya hot toddy.
“Ya memang seperti itulah hidup, sebagian orang tidak menganggap itu hal yang ideal dan ada juga yang menganggap bahwa hidup adalah penjara.” ia berhenti sejenak, menatap kosong ke luar jendela.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia melanjutkan,
“Tapi kau tahu? Penjara yang selama ini kusebut ‘hidup’?… ternyata bukan hidupnya. Ternyata aku sendiri yang memenjarakan diriku.” lalu ia terdiam.
Pukul enam sore kami keluar dari pub itu, menjajal rasa udara pada sore ini di balik balutan jaket setebal mesin kapal tongkang. Keluar dari kawasan Uxbridge demi mencari hal-hal yang bisa memanjakan perut, kami pergi ke Pavilion, karena Daisy penasaran dengan roti isi yang pernah kumakan waktu itu, jadi aku mengajaknya kesana. Setiba disana udara makin menipis, angin berayun kencang, dinginnya mengusap rongga-rongga pada bagian kulit yang tak tertutup. Beruntungnya aku membawa sarung tangan dan penutup kepala, kugosok-gosokkan kedua telapak tanganku sebelum kukenakan sarung tangan itu. Hitam nya malam berpadu dengan putihnya salju mengingatkanku pada corak warna penguin, bintang diatas telihat lebih banyak, meskipun bentuknya hanya titik-titik yang bertabur dilangit, akan tetapi terangnya mengisyaratkan malam ini mungkin akan meresap sampai ke tulang-tulang. Setelah membeli roti isi, kami mencari tempat duduk dekat situ. Kursi yang permukaannya terhalang salju tipis, kursi yang dulu mungkin pernah menyimpan pertemuan, tapi kursi tetaplah kursi. Kursi itu mungkin pernah menyimpan sebuah pertemuan dua orang yang berbicara terlalu pelan, atau justru selalu terputus, aku sendiri tidak yakin. Kadang, aku merasa tempat-tempat seperti itu lebih ingat apa yang terjadi dibandingkan manusia yang pernah duduk di atasnya. Dan malam itu, ketika angin bergerak seperti hembusan napas dari dunia lain, aku melihat sesuatu yang aneh. Bayangan kursi itu tampak bergeser sedikit, bukan karena cahaya, tapi seperti ia mencoba mengingat bagaimana rasanya dihuni. Untuk sesaat aku berpikir bahwa kursi itu akan berbicara atau mungkin meminta seseorang kembali. Tapi tentu saja, kursi tetap kursi, dan musim dingin tetap musim dingin. Namun ketika aku berjalan pergi, aku mendengar suara samar-samar, seperti gemerisik kain yang tersapu angin. Aku menoleh, dan salju di atas kursi itu tampak bergeser disebelah Daisy, seolah seseorang baru saja bangkit dari sana. Aku berdiri cukup lama untuk memastikan itu hanya imajinasi. Tapi, hal-hal seperti itu, sering terjadi di musim dingin, benda-benda yang diam tiba-tiba terasa hidup, dan kenangan yang sudah lama hilang keluar dari persembunyian, duduk tepat di sebelah tanpa permisi.
“Ingat Daisy, bahwa benda yang kita duduki ini. Pernah merekam sebuah pertemuan dan selamanya akan dirahasiakan oleh benda ini.” aku tiba-tiba bergumam sendiri.
“Maksudmu?” Daisy bingung.
“Percakapan antara laki-laki dan perempuan itu berlangsung seperti dua bayangan yang lupa siapa yang memunculkannya lebih dulu. Mereka berdiri di depan sebuah peta yang terbentang di dinding, peta aneh dengan garis-garis kusut, seolah digambar oleh seseorang yang tidak pernah melihat dunia, hanya mimpi. Perempuan itu tersesat di dalam peta yang ia yakini. Setiap kali ia melangkah, jalur di dalam pikirannya berubah bentuk, seperti ular yang menggulungkan badan dan lalu meluruskan badannya lagi dengan gerakan yang tak beraturan. Laki-laki itu memperhatikannya dalam diam. Ada sesuatu yang dingin dalam tatapannya, bukan jahat, hanya terlalu jujur. Seperti seseorang yang telah melihat terlalu banyak pintu tanpa gagang. Katanya: Kau membaca peta ini dengan cara yang salah. Dan kemudian ia mengatakan dengan suara datar seperti lantai ruang kosong. Peta ini tidak menunjukkan tempat. Ia menunjukkan apa yang hilang darimu. Begitu katanya.” aku menceritakan kejadian waktu itu.
“Lalu apa lagi pesan rahasia yang terkandung pada benda ini?” Daisy mengetuk kursi itu.
“Tak ada lagi, paling hanyaaa..,” aku berpikir sejenak,
“hanya gangguan kabel telepon yang kadang terputus,” jelasku.
Lalu Daisy mengangguk mengerti.
“Banyak penjual makanan sering kali menerima protes dari pelanggan. Sebagian kecil protes tersebut tertuju pada rasa makanannya, sedangkan sebagian besar justru muncul karena sikap atau perilaku dari penjualnya. Jika dilihat lebih jauh, kedua hal tersebut tentu memiliki pemicunya, bukankah benar begitu?” ucap Daisy sambil membuang bara rokok kebawah.
“Hufft...” aku menghela napas.
“Ada baiknya kita bicarakan di lain waktu. Sekarang sudah pukul sembilan, kau tahu risikonya jika kita belum kembali?” aku memelototi matanya.
“Yaa…baiklah.” Daisy mengangguk.
Menyusupi malam yang tenang namun dinginnya mematikan, Aku membayangkan diriku memanjat pohon tinggi untuk mengambil sebuah balon yang tersangkut di pucuknya. Balon itu akhirnya berhasil kugenggam, licin dan ringan, seolah tak punya beban apa pun. Namun tepat ketika aku hendak turun, angin malam yang tak terlihat mendorong tangga yang kupakai hingga jatuh tergeletak ke tanah. Balonnya selamat, tapi jalanku pulang seperti lenyap begitu saja, ditelan gelap yang tak memberi petunjuk. Ada sesuatu di balik benderangnya bintang malam itu, sesuatu yang tak bisa kutunjuk dengan jari tetapi bisa kurasakan dengan menekan dada. Tumpukan salju yang terbentang luas seperti lautan putih membuat sinar bulan tampak tersesat, memantul, terseok-seok, lalu tenggelam perlahan dalam ketebalannya. Bahkan jika bulan berhasil menembus, ia tetap akan terkubur di sana selamanya, tanpa nama. Entah mengapa, aku ikut merasakan hal yang sama, meski hanya duduk di dalam bus yang melaju pelan di jalan yang sunyi. Dari jendela, kulihat deretan pohon yang berdiri seperti penjaga bisu, rindang, asing, dan sedikit tak ramah. Roda bus membelah sisa-sisa salju di atas aspal, membuatnya beterbangan sebentar sebelum kembali jatuh tanpa suara, seperti sesuatu yang berusaha bicara namun selalu terlambat satu detik. Aku mengucap dalam hati, suatu hari aku akan memaparkan setenang lautan yang menjaga buih-buih agar tidak pecah dihantam ombaknya sendiri, mencoba berbicara pelan-pelan dengannya. Seperti halnya menanggalkan pakaianku tanpa terburu-buru, hingga kedua matanya yang pilu menyaksikan kejujuranku yang mengalir pada pendar kelopak matanya.
Yang kuyakini atau mungkin lebih tepatnya, yang kupaksakan untuk kupercaya adalah ini; bila tak ada satu pun yang ingin mendengar suaraku, aku sama sekali tak memaksa diriku untuk berbicara. Kata-kata yang diucapkan tanpa telinga untuk menerimanya hanya akan memantul kembali seperti kelelawar buta yang kehilangan arah, menabrak dinding-dinding ruangan sempit yang bahkan aku sendiri tak menyadari telah mengurungku sejak lama. Masalahnya, aku pernah mencoba berbicara sekali. Hanya sekali. Saat itu, udara di sekelilingku terasa seperti koridor kantor yang tak berujung panjang, dingin, dan selalu bergema dengan langkah-langkah yang bukan milikku. Setiap suaraku keluar seperti fragmen tubuhku yang terlepas, rapuh, bergetar, dan segera dihantam sunyi yang lebih tebal dari tembok mana pun. Tak ada yang mendengarkan. Bahkan diriku sendiri seperti menutup pintu rapat-rapat dari dalam, seolah takut mendengar apa yang sebenarnya ingin kukatakan. Namun disisi lain, aku menyadari sesuatu ada yang ganjil, mungkin jika ada satu saja manusia ataupun sekadar bayangan manusia, atau sekadar sosok samar yang menyerupai pendengar yang bersedia menoleh, walau hanya setengah derajat, maka kesempatan akan menyusup masuk. Ia akan merayap melalui celah-celah kecil yang bahkan aku sendiri tidak tahu ada di sana. Ia tidak mengetuk pintu, ia tidak meminta izin. Ia seperti angin abu-abu yang diam-diam merambat dari belakang punggung, masuk ke dalam tulang, hingga terasa bahwa seluruh hidupku mungkin selama ini hanya menunggu saat itu terjadi. Dan anehnya, kehadiran satu pendengar itu membuat semuanya terasa lebih berat. Kata-kata yang selama ini terbenam seperti lumpur tiba-tiba memaksa naik ke permukaan, membawa serpih-serpih masa lalu yang tak pernah ingin kubuka. Mau itu duduk, atau berdiri atau mungkin berada di ruang abstrak yang bahkan tak memiliki lantai dan lalu mulai berbicara dengan suara yang nyaris bukan milik sendiri. Kata-kata itu tersendat, berubah bentuk, kadang menjadi asap, kadang menjadi burung, kadang menjadi sesuatu yang menjijikkan. Tapi ia terus keluar, karena kini ada yang mendengarkan. Dan yang paling menakutkan lagi adalah, ketika seseorang telah bersedia mendengar, meski hanya satu, aku tak dapat lagi bersembunyi di balik kebisuanku. Aku harus mengakui bahwa diriku tidak serapuh yang kukira, atau mungkin justru jauh lebih rapuh dari yang pernah kubayangkan. Kesempatan itu yang datang dari celah kecil tadi, akan terus mengikuti seperti bayangan yang tak mau pergi, menuntut untuk jujur, untuk berbicara, untuk mengungkapkan hal-hal yang seharusnya terkubur dalam arsip gelap yang tidak pernah ingin dibuka. Dan pada akhirnya aku bertanya-tanya, apakah lebih mudah hidup tanpa seorang pendengar sama sekali, atau hidup dengan satu-satunya pendengar yang diam-diam, mengetahui kerapuhanmu lebih baik daripada dirimu sendiri?
*
Dua puluh desember 1983, semakin dekat dengan perayaan Natal. Orang-orang disini rupanya sama dengan di seluruh dunia, mereka berlomba-lomba menghias dapur mereka, halaman mereka, meja makan mereka. Dengan ornamen-ornamen bintang, bunga advent dan boneka santa yang terbuat dari kaca dan logam dan tanah liat. Anak-anak disini biasanya menggantung kaus kaki atau meletakkan sepatu mereka didepan pintu untuk di isi hadiah, dan selama perayaan Natal sepanjang jalan akan dipenuhi oleh penerangan lampu berhias natal. Aku berkaca sambil bertanya dengan sopan kepada kepalaku, kado Natal apa yang pantas kira-kira untuk seorang berjiwa redup dari sinterklaas. Pada hari menjelang Natal, kelas tetap akan berlangsung hingga sebelum malam Natal tiba. Bel kampus berbunyi lebih keras dari sebelumnya seakan panggilan itu melebihi iring-iringan kematian yang ingin mengubur jiwa, namun jiwa-jiwa menolak. Menolak sebab didalamnya terdapat kenangan yang bersemayam. Sebagian keyakinan percaya, kenangan yang tak pantas dikenang itu seperti tisu yang terbakar jatuh melayang, lalu dilahap oleh timbunan es. Pada perhelatan Natal di kampus mengadakan sejumlah kegiatan, seluruh mahasiswa maupun mahasiswi diperintahkan menghias lingkungan kampus berupa asrama, kantin, dan kelas di titik-titik tertentu dengan berbagai pernak-pernik bertema Natal yang hijau penuh berkat. Setelah aku dan Daisy selesai menghias pintu kamar kami, kami menuju aula besar kampus serbaguna. Sedangkan yang dijadikan aula tersebut sebenarnya adalah lapangan basket, yang disulap sementara demi kebutuhan perhelatan malam Natal nanti. Ratusan anak membantu demi kelancaran rencana, kami seperti sekelompok babi yang bekerja sama merobohkan kandang agar bisa bebas berkeliaran di ladang jagung. Pengawas dan penanggung jawab acara ini adalah Florian Fernweh, ia yang waktu itu bertemu aku dan Daisy di pub dekat kampus. Saat ini dia menjabat sebagai kepala student union di kampusku. Seratus kepala dihimpun oleh satu orang didalam aula untuk dibentuk beberapa kelompok, agar nantinya setiap kelompok diberikan tugas berbeda-beda.
Luna scholes, Daisy, dan Emily yang di sebut-sebut kekasih Luna tergabung dalam satu kelompok, mereka terhimpun untuk berperan membuat rumbai-rumbai dari benang sulam dan plastik poliester. Aku bersama kedua teman kelasku Georgia dan Catherine dan juga ada Mount berperan membuat papan besar ucapan selamat Natal untuk diletakkan dipanggung, dan kelompok sisanya menyiapkan panggung kecil. Pekerjaan itu sangat terbantu berkat hadirnya, tangga, perkakas tangan, dan juga gunting. Mereka menari seperti menghampiri bumi dengan merinai lembut, meski dengan tangan kami sebagai nyawa dari mereka, bekerja tanpa melihat paksaan datang dari siapa. Bibir gunting melirihkan serpihan benang sulam ketika sebagian dirinya jatuh berkeping-keping, sebab ia tahu bahwa sebagian dirinya lagi tampak bermanfaat bagi denyut yang membutuhkan cahaya ketentraman. Tangga tegap berdiri tenang di sudut ruangan, seakan menjadi rekan setia yang mengulurkan langkah-langkahnya ke udara. Dari anak-anak tangganya yang dingin, aku memanjat menuju cahaya kecil yang ingin kususun. Lampu, pita, dan harapan. Ia menopang tubuhku, juga kesibukan kecil yang menggantung di malam-malam Desember, seolah tahu bahwa setiap dekorasi Natal bukan sekadar hiasan, melainkan cara sederhana untuk membuat dunia terasa sedikit lebih hidup. Acara khusus ini diselenggarakan bagi mahasiswa atau mahasiswi lintas negara, yang tidak dapat merayakan hari natal bersama keluarga. Dalam ruangan penuh cahaya hangat, diatas anak tangga timbul percakapan bisu yang melintang diantara diriku dan Mount saat sedang menancapkan pita terakhir.
“Natal tahun ini suram, menurutku.” ucap Mount di atas kepala anak tangga.
“Ya kau betul, malah bukan hanya Natal mu saja..,” jawabku saat mengatur papan agar sejajar,
“tapi dirimu juga.” aku mengejeknya.
Kemudian ia memasang senyum licik saat sedang memaku papan dengan palu. Saat Mount ingin turun dari tangga ia berkata:
“Gadis yang jauh dari rumah. Rupanya menyimpan beragam muslihat untuk menutupi luka.”
Aku pun ikut turun kebawah, “maksudmu apa?” kataku tersinggung.
“Kau bukan gadis biasa.” ujar Mount melipat tangga.
Mount meninggalkan ruangan berjalan bersama tangganya, cara dia berjalan adalah tenang yang tak pernah dimiliki siapa-siapa, tetapi selalu ingin ditatap dari kejauhan. Seperti laut yang menenangkan sekaligus menyesakkan, sementara aku melihat Daisy dan yang lain terlihat tertawa dibawah malam penuh kebisuan tanpa kehilangan kesadaran dari lamunan anginnya. Aku mencari wastafel untuk membersihkan tanganku dari sisa-sisa lem perekat, saat aku sedang membilas tangan, tiba-tiba kulihat Terry sedang membawa kotak karton berisi remahan sampah. Aku menghampiri sosok bayangan yang pernah mengejutkanku pada mimpi malam yang tak pernah berujung.
“Hey...” aku menepuk pundaknya,
lalu ia menoleh, “ehh kau...” ia kaget.
“tugasmu sudah selesai?” ucap Terry dengan suara pelan.
“Ya.” jawabku.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku,
“hampirr… sedikit lagi” ucapnya membuang kotak karton ke tempat sampah.
“Kau ingat kata-kata terakhirku saat kau pergi pada malam terakhir di depan penginapan?” ucapku,
“yang mana? yang rambutmu bagus?” terry menutup tutup tempat sampah.
“Ihh... bukan itu. Itu sih mungkin, suara dari hati kecilmu.” ejekku.
Kemudian Takumi lewat dan menyapa kami,
“Hai Liza! hai Terry!” ia melewati aku dan Terry.
“Hai…Takumi.” sahutku dan Terry kepada Takumi.
“Aku tak ingat, maaf” lalu ia pergi begitu saja seperti meniru diriku sebelumnya dan lenyap beserta bayangan-bayangannya.
Aku menghela napas sekali, namun panjang. Betapa berat rasanya menyadari bahwa dunia berjalan tidak lagi memikirkanku, batinku. Semua berkata waktu akan menyembuhkan, tapi sebaliknya. Waktu justru membuatku semakin mengenali luka-lukaku. Layaknya aku yang sedang melihat rak buku utuh diperpustakaan, semua buku tersusun rapih, rak-rak adalah monumen berharga bagi buku-buku itu. Tapi beberapa saat kemudian seseorang datang mengambil satu buku sehingga menciptakan celah bagi buku-buku yang lainnya. Berupaya menganggap kejadian lalu adalah akar mulanya dari sikapku, bukanlah hal yang dibesar-besarkan, bukan sesuatu yang naif, atau menyebutnya tangan yang ingin berjabat dengan tangan lain, tapi tangan yang mengajak berjabat itu masih dalam keadaan basah dan berminyak. Aku paham, tanpa melanjutkan tugasku pun rasanya tidak menjadi masalah, barangkali waktu yang bijak akan menemukan detik yang berpihak. Setelah tugasnya selesai Daisy menghampiriku membawakan air mineral.
“Bagaimana? kau sudah selesai?” Daisy mengulurkan botol.
“Sudah.” aku mengambil botol.
“Kenapa mukamu? kaya abis melihat jin.” terang Daisy.
“Tidak apa-apa,” kataku,
“apa yang terjadi?” Daisy curiga.
“Tidak ada.” kataku menyembunyikannya.
Beberapa detik kemudian, suara Florian merambat ke seluruh ruangan. Pelan, namun anehnya mampu menggema seperti gelombang yang mencari tempat berlabuh. Suara itu menahan udara di tengah-tengah perjalanan, membuat setiap pasang mata yang sebelumnya sibuk dengan dunianya sendiri tiba-tiba terhenti, seolah seseorang diam-diam memutar kenop realitas satu tingkat lebih pelan. Dalam sekejap, waktu terasa melengkung, dan semua orang, tanpa mereka sadari, ditarik masuk ke pusat gravitasi yang diciptakan oleh suaranya. Membuat kami bergerak mengikuti suara itu berasal, lalu berkumpul dengan tertib seakan keadaan semua tubuh telah dipasung dan menuruti dengan pasrah lantaran tidak ada lagi harapan diruangan ini.
“Terimakasih atas bantuan serta kerja sama kalian teman-teman, tanpa bantuan kalian pada malam ini, Natal tahun ini mungkin akan ampas. Kalau begitu kalian boleh kembali, sekali lagi terimakasih. Selamat malam dan selamat beristirahat.” ucap Flo diatas panggung.
Ditutup dengan tepuk tangan meriah dari semua orang yang ada sini, lalu kami semua meninggalkan tempat ini. Saat aku dan Daisy memutar balik badan, seketika aku dipanggil oleh Florian,
“Hey, kau! yang pakai blazer panjang pink.” teriaknya.
Aku menoleh, “siapa? aku?”, aku menunjuk diriku.
“Yaa… siapa lagi orang di dunia ini, di ruangan ini, yang mengenakan blazer terang malam-malam begini.” celetuknya yang masih berdiri diatas.
“Kenapa? apa ada yang salah dengan cara berpakaianku?” jawabku dengan nada rendah.
“Tidak, aku memanggilmu bukan karena masalah cara berpakaian, warna pakaian, atau apapun itu namanya.” terangnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Kau yang waktu siang itu di pub?” ia menghampiri mendekat.
“Iya, memangnya ada apa?” jawabku.
“Kebetulan sekali, siapa namamu aku lupa?” ia menggaruk kepala.
“Liza, kebetulan kenapa?” ucapku.
“Setelah sekian purnama, tak pernah kulihat lagi gadis asia sepertimu. Kau berbeda sekali dari yang lain, dari kau memasuki pub berdua dengan temanmu ini dengan rasa percaya diri yang tinggi, sampai tampil mencolok memakai blazer pada malam seperti ini, sungguh lebih langka dari sekaleng dandelion dan burdock.” ucapnya.
“Kau memanggilku hanya ingin mengatakan itu saja?” kataku menyesalinya.
“Tidak, bukan hanya itu. Kau harus belajar menjadi mooncake, sesuatu yang dijaga, dihargai, dan dipercayai sepenuhnya oleh negeri tempatmu berasal.” ucapnya.
“Asalku bukan dari Tiongkok!” aku sedikit kesal.
“Oh, maaf kalau gitu.” ia tersenyum.