Dua puluh tiga Desember, waktu seakan tetap menjaga kewarasannya agar tidak membuatku berpaling dari dunia, hari demi hari tampak hanya meninggalkan bekasnya yang kemarin saja. Sebenarnya aku sedikit mulai membenci mengulangi hari yang sama, namun segalanya terasa sedikit berbeda seperti gerakan fotosintesis yang kehadirannya datang tanpa aba-aba. Seperti daun yang tiba-tiba mengenali cahaya matahari yang tepat. Adakalanya ketika sinar itu jatuh pada sudut yang aneh, hampir malu-malu, lalu seluruh tubuh daun bekerja tanpa suara, mengubah cahaya menjadi sesuatu yang dapat membuatnya terus hidup. Begitu juga denganku, kehadirannya datang tanpa diminta, pelan seperti cahaya yang bocor dari celah pagi, namun cukup untuk membuat bagian-bagian diriku yang tadinya layu lalu bergerak kembali, mengolah harapan baru yang tak pernah kuminta tapi entah bagaimana selalu kubutuhkan. Terkadang aku merasa hidup hanya sekadar menunggu kekalahan berikutnya, sambil pura-pura percaya bahwa esok masih layak diraih. Pepatah dari Persia mengatakan; saat pohon tumbang, semua orang mendengar suaranya. Tapi saat pohon itu tumbuh, tak seorang pun mendengarnya. Aku menyaksikan beberapa kejadian belakangan ini, pada akhirnya, hidup selalu membawaku ke persimpangan-persimpangan yang tidak pernah diminta. Ada hari-hari ketika situasi datang begitu saja, seperti gelombang yang terlalu tinggi untuk dihindari. Tapi sikap… sikap entah mengapa selalu berada di tangan sendiri seperti memilih untuk tetap berdiri di antara angin yang melintas, atau duduk diam dan mendengarkan suara langkah waktu yang jauh di belakang. Mungkin aku tidak bisa mengatur arah arus, namun aku bisa memilih bagaimana tubuh dan hati mengapung di atasnya. Dan kadang, keputusan kecil itu, yang tampak sepele justru menjadi cara paling jitu untuk tetap bertahan dalam kenyataan.
Semakin dekat dengan Natal, dan semakin dekat dengan kenangan yang membekukan. Aku berjalan di siang hari yang dingin sekeras mineral alami setelah kelas pertama usai, bingung entah harus kemana. Pikiranku terombang-ambing seiring langkah yang mengubur tujuannya, aku hanya bisa berharap hari ini cepat berlalu dan segera menginjak esok lusa. Kini aku tak mengetahui dimana seorang Daisy berada, aku hanya mengandalkan insting manuver tubuhku. Hingga tiba di suatu tempat paling senyap diantara lingkungan kampus, taman kecil yang pernah kukunjungi pada awal-awal kedatanganku. Kolam kecil yang dulu tenang seperti terapi alami bagi ruang jiwaku kini membeku, bukan sekadar menjadi es, tetapi seperti lembaran waktu yang kehilangan arah putarnya. Semak-semak liar yang tertutup salju berdiri berjajar, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang, mungkin sesosok makhluk yang tersesat di antara dua dimensi. Batu-batu kerikil yang tak beraturan memantulkan cahaya dingin bulan, seakan ikut menahan napas, menunggu langkah seorang penjelajah waktu yang tak pasti kapan datangnya. Diantara penghuni asli taman ini, pendatang seperti angin juga menggoda siapa saja agar senantiasa selamanya berada digelembung sunyi yang menutup rapat suara dunia luar. Di sini, suara-suara menjadi hening, waktu menjadi ringan, dan batas antara diriku dengan kesunyian mengabur seperti tinta yang larut di dalam air. Semakin aku mengenal siapa aku, dari bayangan yang muncul dari pantulan kolam yang berubah es sehingga membentuk cermin. Tanah yang biasanya dipenuhi rerumputan kini tertutup lapisan salju tipis, memantulkan cahaya pucat matahari yang enggan muncul dari balik awan. Pohon-pohon meluruh berdiri seperti siluet, cabang-cabangnya kaku dan sunyi, seakan sedang menahan napas menunggu musim berganti. Udara begitu dingin hingga setiap hembusan napas dapat mengubah kepingan es yang hinggap di mantel wol-ku. Bangku taman diselimuti embun beku, dan bahkan makhluk lain selain manusia pun enggan menempatinya, hanya jejak burung atau hewan kecil yang sesekali tampak di permukaan salju. Sementara angin bergerak perlahan, membawa aroma dingin yang tajam namun menenangkan, kemudian suara langkah seseorang terdengar menjadi gema lembut yang memecah kesenyapan, menghampiri gelembung kesunyianku:
“Ngapain kau disini?” Mount menyusup lewat belakang pagar,
“Aduh… lagi-lagi kau, selalu mengganggu. Kenapa setiap saat aku butuh kedamaian, kau selalu datang layaknya hantu.” kataku geleng-geleng,
“Tunggu dulu, ini bukan seperti yang kau kira, aku bukan sengaja membuntutimu. Tapi karena aku sedang mengejar dua ekor tupai yang membawa sarung tanganku.” terangnya dengan napas tersengal-sengal.
“Oh… silahkan mengejar mereka kalau begitu, dan jangan pernah menampakkan dirimu secara tiba-tiba lagi didepanku,” kataku,
“iya… sampai jumpa gadis berwajah teduh.” ia berlari melanjutkan pengejaran.
Tanah terasa bergetar malu-malu tampak seperti ketakutan kecil yang tak punya harapan untuk hidup, imbas dari hentakkan kakinya, seseorang sedang berupaya mengetuk pintu dimensi lain, namun tak benar-benar ingin diketahui bahwa ia ada di sana. Ini bukan yang pertama kalinya, batinku. Sesosok remaja yang hilang, kembali, lalu hilang lagi begitupun seterusnya. Bagaikan umang-umang yang terseret deru ombak, dan terlihat berjalan di tepi pantai lagi seminggu kemudian. Kini, partikel hening berdiri di sebelahku, seolah sebuah makhluk yang tak diundang namun merasa memiliki hak atas udara yang kuhirup. Aku menatap pohon oak yang layu, yang kini mengenakan jubah putih seperti narapidana yang dihukum oleh musim itu sendiri. Dari cara diam itu merayap ke arahku, aku merasakan sesuatu mencoba menembus dadaku, bukan kehangatan, bukan pula pesan apa pun, melainkan semacam tuntutan agar aku mengakui keberadaannya. Namun pikiranku, yang selalu tiba terlambat dalam menafsirkan dunia, hanya mampu berucap lirih dalam diriku sendiri: betapa ironis melihatmu hari ini, ketika bahkan alam pun tak lagi mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya maupun padaku. Hari ini, aku perempuan yang mati, kembali ke titik nol lagi, titik dimana aku memulai semuanya disini, semacam seutas tali melingkar di leher dan hanya tinggal menunggu kapan putus. Aku perempuan yang rapuh, semacam lemari kayu yang dibiarkan lapuk oleh rayap dan hanya menunggu waktu untuk runtuh. Namun kadang, di sela-sela serat kayunya yang mulai terkelupas, ada suara kecil yang bergetar pelan. Mengatakan bahwa mungkin, hanya mungkin, keretakan itu bukan tanda kehancuran, melainkan sebuah pintu tipis menuju sesuatu yang belum pernah kusentuh. Dan setiap kali angin malam lewat, aku merasa pintu itu bergoyang sedikit, seakan ada seseorang di sisi lain yang mencoba bicara padaku dengan bahasa yang bahkan belum kupahami. Atau mungkin, bila kupikir-pikir lagi, penjelasan yang paling masuk akal justru adalah, aku sebenarnya sedang menunggu seseorang berdiri tepat di belakangku, seseorang yang tahu kapan harus memasang tubuhnya untuk menangkapku saat aku akhirnya jatuh ke belakang. Bukan karena aku lemah, tapi karena ada bagian dalam diriku yang selalu percaya bahwa di dunia yang sunyi dan penuh celah ini, seseorang kadang muncul seperti bayangan yang diam-diam menjaga.
Yang orang orang lain perlu tahu, aku adalah kekosongan dari segala kekosongan di seluruh muka bumi itu sendiri, ketika hatiku berjalan beberapa langkah lebih lambat dibanding tubuhku. Dari luar, aku terlihat lengkap, tersenyum seperlunya, menjawab pertanyaan dengan nada yang wajar, bahkan bisa tertawa pada waktunya. Namun jauh di dalam, ada sebuah ruang yang tak pernah benar-benar terisi. Ruang itu seperti kamar kecil di ujung koridor hotel yang lampunya selalu redup, tak ada yang tahu keberadaannya kecuali diriku sendiri. Kesepian seperti itu tidak muncul dengan gaduh, ia merambat pelan, seperti bayangan yang mengambil bentuk manusia dan duduk di bahuku. Ia tidak mengganggu, hanya mengingatkanku bahwa betapapun banyaknya orang di sekelilingku, ada jarak halus yang tak bisa diseberangi. Jarak yang tak terlihat, tetapi terasa rinci. Dan pada saat-saat tertentu, ketika angin malam lewat terlalu pelan, atau ketika suara kota tiba-tiba mati, aku menyadari bahwa yang paling setia menemaniku bukanlah siapa pun, melainkan kekosongan yang diam-diam tumbuh bersamaku sejak masa pendewasaan. Sebuah kekosongan yang anehnya tidak membuatku takut, hanya membuatku terus berjalan tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kucari. Aku selalu menjaga diriku tetap seperti ini, tanpa mengindahkan suara-suara apa kata akar kepada ranting, tanpa ragu keluar berjalan pada teriknya siang tanpa busana, dan aku akan tetap berjalan mencari sesuatu yang selalu berlari dariku.
Memang ada masa-masa khusus di mana hariku perlu seperti hari ini, sunyi, sedikit retak, dan berjalan pelan seperti seseorang yang tidak ingin tiba di tujuan terlalu cepat. Namun, pada waktu yang bersamaan, ada bagian dalam diriku yang berharap hari ini lekas berlalu, seperti ruas jalan yang sudah terlalu sering kulewati, hafal setiap retakan, lubang, dan tikungannya, namun tetap harus kulangkahi lagi tanpa bisa memilih arah lain. Mungkin begitulah cara hidup bekerja, batinku. Menghadirkan hari-hari yang terasa penting tanpa sebab, sekaligus melelahkan tanpa alasan. Dan aku, tanpa pilihan lain, hanya bisa membiarkan diri hanyut di tengahnya, berharap sesuatu yang kecil dan tak terlihat sedang tumbuh di kedalaman yang tidak bisa diperiksa karena berada di dasar. Seorang pria bersembunyi di balik ketenangannya, seperti danau tua yang permukaannya tampak jernih padahal di dasar airnya arus kecil terus berputar, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mampu memberikan nama. Ia memilih diam, bukan karena tidak ingin berbicara, tetapi karena kata-kata yang ia simpan terasa seperti burung-burung yang enggan keluar dari sangkar. Ada bagian dalam dirinya yang goyah, namun ia belajar menutupinya dengan senyum tipis yang tak pernah menjelaskan apa pun. Sementara itu, seorang perempuan bersembunyi di dalam tangisnya, seperti hujan malam yang jatuh tanpa suara, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar memperhatikan. Ia tidak ingin terlihat kuat, namun ia juga tidak ingin kelemahannya dianggap sesuatu yang berlebihan. Ia menangis dengan cara yang aneh. Bukan untuk meminta pertolongan, melainkan untuk memberi tanda bahwa dirinya masih hidup, masih merasakan sesuatu, meski dunia sering kali tidak membalas perasaannya. Di antara keduanya ada jarak yang halus, nyaris tak terlihat, seperti benang sulam tipis yang menghubungkan dua mimpi yang berjalan pada arah berbeda. Yang satu berusaha keras menutupi rapuhnya, sementara yang satu diam-diam berharap ada seseorang yang cukup sabar untuk melihat rapuh itu dan tidak pergi. Dan mungkin, jika angin suatu hari bergerak pada arah yang tepat, mereka akan bertemu di tengah-tengah benang itu, dan menemukan bahwa keretakan pada manusia tidak selalu untuk disembunyikan, kadang justru untuk dikenali oleh seseorang yang kebetulan lewat pada momen yang tepat.
Namun, kedua itu tidak berlaku pada diriku. Aku tidak tampak seperti keduanya, tidak cukup tenang untuk menyembunyikan apapun, tidak cukup rapuh untuk menangis sebagai tanda. Aku berdiri di tengah-tengah, seperti seseorang yang terperangkap di antara dua musim yang ragu menentukan dirinya sendiri. Orang-orang melihatku sebagai sosok yang baik-baik saja, sebuah karikatur yang berjalan tanpa terganggu angin, tapi sebenarnya di dalam diriku ada ruang luas yang selalu menahan gerak, seperti lapangan kosong yang tidak tahu harus menumbuhkan rumput atau dibiarkan tetap tandus. Aku tidak sedang menyembunyikan apa pun, tetapi juga tidak menunjukkan apa pun, seperti seluruh hidupku berputar pada garis tipis yang membelah diam dan kejujuran. Dan di garis tipis itu, aku hanya berjalan, tanpa siapa pun benar-benar tahu apa yang sebenarnya kulewati, tanpa ada yang mengerti apa yang hilang, apa yang tertinggal, atau apa yang sejak awal tidak pernah kumiliki. Aku tetap berdiri di sana, seakan tanah di bawah kakiku memiliki kehendaknya sendiri. Enggan berpindah kesuatu tempat, bayangan kakiku selalu mengikuti apa yang dibenarkan oleh hati, tidak satu suara dengan logika, setiap langkah yang coba kuambil selalu kembali pada garis yang ditarik hatiku. Garis yang samar, kadang bergetar, tetapi tetap lebih keras dari suara logika yang berbisik pelan di belakang kepala. Juga ada tirai tipis yang menggantung di jendela batinku, bergerak perlahan seperti hendak membuka, namun tak pernah benar-benar memberi jalan pada cahaya. Seolah dunia menunggu aku memilih arah, sementara aku hanya berdiri di antara dua napas, mendengarkan detak waktu yang terasa semakin asing. Aku merasakan semacam tabir yang mentup jendela dalam setengah terbuka.
*
Natal, bagi hampir semua orang di dunia, selalu membawa kesan damai, seperti sebuah lagu yang sudah lama mereka hafal tanpa perlu benar-benar mendengarkannya. Namun bagi diriku, Natal tahun ini justru terasa seperti sehelai daun yang jatuh pelan, menyerahkan dirinya pada angin tanpa sedikit pun menyimpan dendam. Ada sesuatu yang meluruh begitu saja di dalam diriku, sesuatu yang bahkan tak sempat kutangkap bentuknya. Dan mungkin, seperti daun itu, aku hanya sedang belajar menerima arah yang tidak pernah kupilih. Bagi manusia di berbagai belahan dunia, serupa sebuah pesta perayaan yang telah diwariskan sejak sebelum mereka lahir, sebuah ritual yang terus berulang tanpa pernah mereka pahami sepenuhnya. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencatat nama setiap orang dalam daftar panjang kewajiban, menyalakan lampu, menukar hadiah, menghadirkan senyum yang entah berasal dari hati atau sekadar wajah yang dibersihkan setiap tahun. Di kota-kota yang tertimbun salju, orang-orang berjalan mengendap seperti terdakwa yang menuju ruang sidang, mencoba menafsirkan makna kehangatan di tengah dingin yang semakin liar. Sementara itu, di negara yang tak mengenal musim beku, Natal berkumandang seperti sebuah siaran radio asing, gelombang sinyalnya datang dari dunia lain lalu menuntut untuk diterima, atau setidaknya diakui keberadaannya. Setiap orang merasa harus bergembira, walaupun tak ada yang benar-benar yakin apa yang sedang mereka rayakan. Pohon-pohon cemara dipasang tegak, namun dalam kegelapan malam mereka tampak seperti penjaga tua yang mengawasi manusia yang saling menyembunyikan kegundahan di balik kertas kado. Lilin-lilin dinyalakan, seolah ingin membuktikan bahwa cahaya masih memiliki hak hidup, meski hanya sementara. Dan entah kenapa, di hari itu, setiap orang merasa sedikit lebih kecil dibanding bayangannya sendiri. Seolah dunia yang merayakan adalah ruangan besar yang terus menyempit perlahan, memaksa setiap manusia menunduk pada sesuatu yang tak bisa mereka sentuh, sebuah harapan samar, sebuah keinginan untuk diperhatikan oleh kekuatan yang mungkin sudah lama tidak peduli.
Pada akhirnya, Natal menjadi semacam pengadilan sunyi yang tidak pernah mengeluarkan putusan. Manusia hadir, menunggu, berharap, namun tak seorang pun benar-benar tahu untuk apa. Yang tertinggal hanya sebuah kesan, bahwa pada hari itu, semua orang di bumi, dengan caranya masing-masing, mencoba keluar dari kesendirian mereka dan justru menemukan bahwa kesendirian itu semakin jelas menyelimuti mereka, seperti salju yang tak berhenti jatuh. Dan entah mengapa hal-hal yang tak pernah dilewati sebelumnya bersama keluarga, kini di hadiahkan langsung kepada pemilik tubuh yang rentan terhadap iklim subtropis, semacam kuda yang pada awalnya digunakan untuk membawa seseorang, sekarang digunakan untuk membawa tong besar berisi anggur. Di tengah perjalanan itu, aku merasa diriku serupa kuda yang dipaksa mengerti arah tanpa pernah diajari bahasa penunggangnya, hanya mengikuti tekanan halus di sisi tubuh, langkah demi langkah, meski tak ada yang menjamin bahwa tujuan akhirnya benar. Tubuhku membawa beban yang bukan milikku sejak awal, beban yang diberikan begitu saja oleh waktu, oleh jarak dengan keluarga, oleh ruang yang tak pernah benar-benar menyatu dengan diriku sendiri. Anggur dalam tong besar itu mungkin hanyalah anggur, tetapi di kepalaku ia berubah menjadi simbol perjalanan yang tak bisa kuhindari, perjalanan yang kadang terasa manis dan hangat di dada, namun pada waktu lain menguap aroma pahit yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Dan meskipun aku memahami bahwa aku harus terus berjalan, bagian kecil dalam diriku tetap merindukan sesuatu yang samar, sesuatu yang dulu mungkin pernah disebut rumah, atau mungkin hanya bayangan tentang rumah yang tak pernah ada. Dalam langkah-langkah panjang itu, aku terus mengingat bahwa ada hal-hal yang hanya bisa diterima begitu saja, sebagaimana seekor kuda menerima bebannya tanpa keluhan, dan sebagaimana anggur menerima nasibnya menjadi cairan merah yang dibawa ke tempat yang tak ia pilih. Dan sementara semua itu berlangsung, aku tetap maju, pelan, nyaris tanpa suara, membiarkan dunia mengarahkanku seperti aliran udara musim dingin yang tak pernah bisa sepenuhnya kumengerti.
Hari sabtu pagi menjelang Natal, persiapan semakin dekat. Malam Natal disini sangat sakral dan menjadi pusat perayaan. Banyak keluarga berkumpul untuk makan malam Natal, lalu menghadiri misa tengah malam di gereja. Tradisi turun-temurun sangat kuat, lilin, lagu-lagu Natal klasik, pasar Natal, dan dekorasi rumah sejak awal Desember. Cuaca musim dingin menciptakan atmosfer khas, rumah-rumah hangat di dalam, lampu-lampu kuning temaram di luar, makanan khas sangat berperan, kalkun, angsa panggang, kentang panggang, stollen, panettone, mulled wine. Kota menjadi sangat tenang pada malam Natal, banyak toko dan restoran tutup, transportasi berkurang. Orang-orang memilih berada di rumah bersama keluarga. Dan saat aku membandingkannya dengan tempatku berasal, aku sadar bahwa perbedaan itu bukan hanya soal bentuk rumah atau pepohonan, tetapi karena di sini aku berada sebagai seseorang yang tengah diuji oleh ruang, waktu, dan absurditas kecil yang melekat pada kehidupan sehari-hari, yang disebut jarak. Disana, Natal datang pada musim panas atau hujan, bukan musim dingin. Tanpa salju, suasana lebih tropis dan lebih ramai, perayaan cenderung bertumpu pada dekorasi buatan, lampu kota, dan pusat perbelanjaan. Malam Natal lebih sering dianggap acara sosial. Berjalan-jalan di kota, melihat lampu, makan malam bersama pasangan atau teman. Tidak selalu ada tradisi turun-temurun yang kuat seperti disini. Di beberapa negara, Natal lebih dianggap sebagai sebuah festival budaya daripada ibadah. Makanan wajib perayaan Natal di Filipina, lechon yang dipanggang perlahan hingga kulitnya pecah renyah, ham manis yang digantung seperti ingatan masa kecil, serta bibingka dan puto bumbong yang mengepul lembut di tepi jalan, semuanya terasa seperti ritual kecil yang diciptakan manusia agar malam itu tidak terasa terlalu sunyi. Nuansa sentimental tetap ada, tentu saja, tapi tidak seterikat tradisi lama, ia lebih seperti aroma kelapa bakar yang terbawa angin, menyentuh sebentar lalu menghilang tanpa memberi tahu arah tujuannya. Natal di sana bukan sesuatu yang mengekang atau menuntut. Ia hadir lebih sebagai denyut kecil dalam kehidupan sehari-hari, sederhana, hangat, dan sedikit kacau, seperti seseorang yang memainkan lagu lama di radio tua tanpa alasan yang jelas. Dan entah bagaimana, justru dalam ketidakterikatan itulah, orang-orang menemukan cara mereka sendiri untuk merayakan, untuk tertawa, untuk merasa dekat dengan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa mereka jelaskan. Sebuah perayaan yang tidak pernah memaksa siapa pun untuk percaya, hanya mengundang mereka untuk sejenak berhenti dan merasakan dunia berputar sedikit lebih pelan.
Di malam itu, kota tampak sama seperti biasanya, namun segala sesuatu terasa sedikit bergeser, lampu jalan lebih lembut, udara lebih jernih, dan langkah kaki orang-orang terdengar seperti percakapan yang belum selesai namun memilih pergi meninggalkan. Ada kesan bahwa seluruh dunia sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak benar-benar bisa dijelaskan, semacam keajaiban kecil yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar memperhatikan. Bagi beberapa orang, malam Natal adalah pengingat akan rumah, aroma kayu hangus, dan suara tawa yang dulu pernah mengisi ruangan. Bagi sebagian lainnya, justru menjadi cermin besar yang menunjukkan betapa sepinya seseorang ketika keramaian berhenti. Namun disini, aku menuliskan kesepian bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesuatu yang membuat aku harus lebih mengenal diri sendiri, seperti duduk di sebuah pub kosong pada sore hari sambil memegang segelas minuman dan mendengar lagu jazz yang tak ada judulnya. Pada akhirnya, malam Natalku tahun ini bukan tentang hadiah atau kerlap-kerlip lampu, melainkan tentang pertemuan diam-diam antara seseorang dan dirinya sendiri, di monumen selamat datang. Ketika dunia melambat, dan hati punya kesempatan untuk berbicara tanpa harus berteriak. Sejak malam terakhir di Hillingdon, aku tidak pernah lagi melihat Terry. Sejak saat itu ia menghilang seolah keberadaannya tertimbun saju tebal dan kabut pagi. Seperti seseorang yang perlahan ditelan oleh panorama musim dingin bukan dengan kekerasan, tapi dengan keheningan yang tak pernah memberikan penjelasan apa pun. Hari-hari berjalan terus, namun jejaknya memudar seperti langkah kecil di permukaan salju yang diterpa angin laut. Kadang aku merasa ia masih ada di suatu tempat, berdiri di balik tirai putih yang menggantung antara dunia nyata dan tempat-tempat, yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang tak lagi ingin ditemukan. Dan setiap kali kabut turun, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap ia muncul kembali, walau hanya sebagai siluet samar, sekadar mengingatkan bahwa beberapa kepergian tidak pernah menyelesaikan apa pun dan hanya mengubah bentuknya. Daisy secara tiba-tiba memberitahuku, ia memilih kembali ke Belgia pada sabtu pagi, ia pamit kepadaku, disini hanya aku dan beberapa teman-teman termasuk Mount, yang tak memilih kembali ke pelukan keluarga mereka. Aku mencoba menafsirkan surat dari ibu yang tiba pada sebelum malam natal:
“Nak apa kabar, ibu harap kau baik-baik saja pada Natal tahun ini. Ini mungkin sesuatu yang terlalu berat untuk kau jalani, meski ibu tahu seringkali kau merasakan hari-harimu belakangan ini menyusut, buram, kabur. Entah akhir-akhir ini, dari dasar mimpi ibu, ibu melihat kau mengambang diatas udara mengenakan jaket bulu angsa yang lapuk dimakan musim dingin sana. Namun ada kehangatan, yang tidak pernah bisa dieja, tidak pernah benar-benar memilih waktu yang tepat untuk muncul, ia hanya mendekapmu begitu saja, bagaikan api dalam tungku yang tiba-tiba melembut ketika menyentuh tengkuk dan telapak tangan. Kini kau menjajaki gemuruh angin yang menggulung, berhembus kencang, menjelajah layaknya nelayan yang di susupi bajak laut di tengah pelayaranmu. Nak, momen seperti ini sebagai sesuatu yang tidak utuh, namun justru karena itulah ia terasa nyata. Pelukan keluarga bukan sekadar lengan yang melingkar, melainkan ruang aneh yang membuatmu terasa berpikir, mungkin dunia tidak sekejam itu, setidaknya untuk beberapa detik. Pelukan keluarga juga bukan tentang jarak yang selalu berlindung dalam satu atap, melainkan ia bisa sesekali berwujud lewat permohonan atau seruan batin yang dikirim pada sesuatu yang tak dapat didefinisikan, ataupun barangkali lagu pengantar tidur. Oleh karena itu… ibu dan ayah berharap kau mendapatakan karunia serta sukacita pada Natal tahun ini yang sama, seperti sebelum-sebelumnya. Nak, permohonan ibu hanya satu. Lekaslah sembuh dari waktu yang tak pernah berdamai di ujung hari, lekaslah mengingat kesepian itu tak pernah berlama-lama mendiami isi kepalamu. Ibu, ayah, Diza sayang padamu.”
Setelah kubaca, seperti energiku terisi kembali. Ada cahaya terang menunggu di balik ruangan yang tertutup kain hitam, seolah sebuah pintu kecil yang tak pernah kutahu keberadaannya selama ini. Cahaya itu tidak memanggil dengan gegas, hanya berdiri di sana, diam, sabar, seperti sesuatu yang memahami bahwa untuk membuka pintu menuju diri sendiri, manusia membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia membutuhkan waktu, kesunyian yang cukup panjang, dan sedikit keajaiban yang tidak pernah benar-benar terbuka lebar.
Pada malam sedingin ini, kami berkumpul di Aula kampus untuk menggelar makan malam Natal, hanya sembilan puluh orang kurang lebih yang tersisa. Diantaranya termasuk dua teman program studiku dan Mount yang kukenal, kami mengambil piring satu per satu dengan berbarsi teratur. Seperti domba yang dikeluarkan dari kandang, aku mengambil kalkun panggang dengan pisau, lalu kentang panggang dan berbagai sayuran seperti asparagus serta saus cranberry. Kami semua duduk di meja yang tersusun memanjang persegi empat, diatas meja tersaji lilin merah dalam gelas, dan sedikit dekorasi minimalis dari daun cemara. Sebelum kami menyantap semuanya, kami diperkenankan berdoa, dipimpin oleh seorang murid laki-laki yang taat dari Amerika, sambil berpegangan tangan satu sama lain, dengan khidmat. Setelah berdoa selesai, Seluruh orang melahap hidangan malam Natal dengan cara yang aneh, terasa serempak, seolah denting garpu dan sendok mereka mengikuti ritme tak terlihat yang datang dari jauh, mungkin dari hati seseorang yang pernah kehilangan sesuatu, atau dari kenangan yang tak lagi punya alamat. Aroma daging panggang dan roti hangat berputar perlahan di udara, seperti melayang di antara percakapan yang setengah jujur dan setengah disembunyikan. Dan di tengah semua itu, ada semacam ketenangan, keakraban, dan kegembiraan halus yang bukan berasal dari makanan, tetapi dari kenyataan bahwa untuk satu malam saja, dunia berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu, dan membiarkan waktu berjalan setenang salju yang jatuh di luar jendela. Secara alami, acara makan-makan selesai. Nyanyian kidung Natal kemudian mengalir dari panggung kecil itu, seperti suara-suara yang tersesat lalu menemukan tempat beristirahatnya sendiri. Semua orang bernyanyi bersama, tetapi ada rasa hampa yang merayap di sela nada, seolah orkestra paduan suara itu pernah memiliki detak jantung namun kini memilih berdetak di tempat lain, di waktu lain. Suara mereka naik turun dengan keheningan yang aneh, seperti gelombang yang lupa kembali ke pantai. Dan di tengah semua itu, aku berdiri sambil berpikir betapa anehnya manusia, bahkan ketika kehilangan ritmenya, mereka tetap bernyanyi, seolah musik bisa menjahit kembali sesuatu yang tak terlihat dalam diri mereka.
Tepat pada jam dua belas malam acara selesai, seperti lebah yang melayani ratu di sarangnya, tanpa diminta kami secara sadar merapikan semua piring, sendok, meja, dan kursi dengan teratur. Betapa singkatnya waktu ini, terasa terhempas ditengah alunan irama yang berhenti di kepala. Waktu bergerak seperti sosok aneh yang mengenakan tiga wajah, berlari dan tiba-tiba saja menghilang. Jam dinding seperti berhenti bukan karena rusak, tapi karena ia menolak bekerja untukku. Irama yang tadi membekas, mengalir seperti sungai dibawah padang pasir, menggantung di kepalaku. Bagaikan ada seseorang yang membiarkan kabelnya terputus, dan membiarkanku terombang-ambing dalam jeda yang konyol. Tetapi di detik itu, aku sadar betapa singkatnya waktu ini, bukan sekadar singkat, tapi rapuh, seperti lembaran kertas tipis yang bisa robek hanya karena hembusan napas. Dan anehnya, justru ketika irama itu terhenti, aku merasa seolah seluruh dunia sedang mencoba memberi isyarat, bahwa kita hidup dalam detik-detik yang terus terhempas tanpa pernah benar-benar kita genggam. Setelah acara benar-benar selesai aku keluar mencari angin yang damai, aku melihat Mout terduduk di kursi panjang, yang entah milik siapa. Kali ini aku yang mengagetkannya.
“Sedang apa kau disini?” tanyaku dengan tangan disaku jaket.
“Kau? ada perlu apa?” ia menoleh dan menatap wajahku.
“tidak, cuma ingin mencari angin.” aku berdiri disampingnya.
Lalu mount menggeser posisi duduknya, dan memberi isyarat agar aku paham apa maksudnya,
“Duduklah, kalau kau mau. Kalau tidak, ya… kau berdiri saja,” ujarnya,
“iya terimakasih.” Kataku, lalu duduk.
Antara detik atau angin yang salah pada malam itu, sehingga menyebabkan keadaan membeku, satu menit kemudian angin membawa pesan kepadaku agar mencoba berbicara padanya.
“Kau tidak kembali kerumah?” tanyaku dengan pelan namun jelas,
“hah? oh kau berbicara padaku.” dia meledek.
“Rumahku terlalu dekat bagiku, jadi aku tidak memutuskan merayakan Natal dirumah.” katanya,
“Maksudmu?” kataku sambil menopang tubuhku pada kedua tangan diatas kursi,
“rumahku di Manchester, sekitar seratus sembilan puluh lima mil dari sini.” ucapnya.
“Lalu?” tanyaku mengangguk-angguk,
“yaa… tidak menginginkan pulang saja.” jelasnya.
“Apa keluargamu menginginkanmu pulang?” tanyaku,
“begini biar kujelaskan, kalau aku pulang maka keadaannya semakin rumit,” ia mengambil sebungkus Winston dari sakunya,
“bukan berarti kehadiranku tidak diinginkan, tapi yang ada malah menambah masalah menjadi pelik. Jadi sampai sini mengerti?” lalu ia menyulutnya dengan zippo silver.
“Oke, baiklah. Aku mengerti.” kataku, pura-pura mengerti.
Hening berdatangan bersamaan dengan salju yang menetes dari langit, serupa tangisan seorang anak kecil yang meminta dibelikan cotton candy.
“Apa kau pernah berpikir bagaimana rasanya berjalan diatas waktu yang berhenti tiba-tiba, lalu mendengar suara ayah atau ibumu dari kejauhan, namun suara itu kecil, terdengar samar-samar, dan seperti menjerit meminta tolong,” ujarku,