London Fog

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #9

#9

Kamis pagi tiga puluh desember pukul tujuh, begitu bangun aku segera mencuci muka, dan membasuh sedikit bagian tubuh, kaki dan tangan. Aku melihat diriku di cermin, lalu berkata, ah sial… seperti anak terlantar, batinku. Segera kubangunkan Daisy yang tubuhnya tak mengeras sama sekali diatas ranjang, setelah ia bangun ia bergegas ke kamar mandi sementara aku mengenakan pakaianku. Semalam seingatku badai salju datang, oleh karena itu pagi ini tidak begitu cerah, justru karena badai salju semalam membuat pagi ini, heningnya luar biasa, seluruh pemandangan serba putih bersih, dan nampaknya sedikit mengganggu siapapun yang beraktivitas diluar pada hari ini, termasuk diriku yang berhubung kelasku melakukan karyawisata perjalanan ke rumah sakit St. Mary’s di tengah kota London. Aku dan Daisy menyempatkan sarapan sebelum kami berdua melakukan kegiatan masing-masing, wafel Brussels, Liège, dan biskuit speculoos yang dibawa Daisy dari kampung halamannya, masih tersisa banyak hingga detik ini, beruntungnya dikamar kami ada lemari pendingin meskipun kecil, sehingga makanan-makanan itu tidak diserbu habis dimakan oleh jamur. Buah tangan dari Daisy nampaknya lumayan sangat membantu, pikirku. Setelah tehku habis dan Daisy selesai menyiapkan perlengkapan isi tasnya, kami segera berangkat, menutup pintu dan mengunci. Kami berpisah di latar asrama, Daisy mengambil arah langkah kekiri, aku menuju arah ke gerbang kampus. Aku tiba diluar gerbang, semua teman-temanku sudah berkumpul disana beberapa, dan beberapa lagi masih belum tiba. Bus yang digunakan untuk mengangkut kami telah tiba, sedangkan belum semuanya berkumpul, termasuk dosen pemandu karyawisata. Namun beberapa menit kemudian mereka-mereka muncul dan kami pun bergegas naik lalu menikmati laju bus.

Didalam perjalanan, bus dimuat dua puluh satu orang yang dimana bus ini memang akomodasi yang disediakan oleh kampus. Sering digunakan untuk acara atau kepentingan kampus, seperti kegiatan kelasku sekarang ini, atau sekadar mengangkut staff anggota kampus untuk menghadiri pertemuan. Di tengah perjalanan, dosen selaku penanggung jawab kegiatan ini menghimbau terkait tata cara kelangsungan agenda, dan juga mencatat kehadiran satu per satu. Menempuh perjalanan lima puluh menit, akhirnya kami tiba, turun dengan tertib seperti anak ayam yang berjalan dibelakang mengikuti induknya. Aku dan yang lainnya segera memasuki rumah sakit itu, didalam kami memasuki laboratorium dan semua orang diwajibkan memakai pakaian alat pelindung diri lengkap. Beberapa menit aku memperhatikan seorang dokter yang berbicara layaknya panjang ranting pohon sampai ke daun, seolah setiap ujungnya sedang mendengarkan. Cara ia menjelaskan sesuatu begitu rinci, begitu penuh kesabaran, sampai-sampai aku merasa ia sedang mengajari pohon itu memahami dunia. Atau mungkin pohon itu hanya menjadi alasan agar ia bisa berbicara tanpa ada yang menyela. Entah bagaimana, pemandangan itu membuatku sadar bahwa manusia memang butuh tempat untuk menumpahkan isi kepalanya, meski tempat itu hanyalah selembar daun yang ditiup angin, hingga akhirnya aku menguap. Kuperhatikan disekeliling tampak banyak tabung-tabung gelas kaca kimia diatas meja, ruangan seluas dua kali lipatnya dari kamarku ini menyimpan barang-barang aneh, cairan-cairan beragam warna, dan spatula kawat untuk mengaduk. Sebenarnya kita ini mau belajar ilmu farmasi atau mau menciptakan nuklir sih…, batinku. Jam makan siang tiba, kami dipersilahkan mencari makan masing-masing, karena seluruh kegiatan aneh ini tidak sepenuhnya ditanggung. Aku dan beberapa temanku menuju kantin yang terdapat di rumah sakit, letaknya di lantai paling bawah, serta agak sedikit terpencil.

Untuk seukuran kantin rumah sakit tidak terlalu buruk, sebagian makanannya enak, dan meskipun tempatnya sempit. Setelah makan siang, kami kembali ke lab dan melanjutkan materi sebelumnya yang tertunda. Kini, giliran seorang perawat yang memimpin proses penyampaian kaidah prinsip farmasi, Ketika ia menerangkan, entah bagaimana otakku terasa lebih mudah menangkap setiap detail yang ia sampaikan. Seolah-olah kata-katanya punya cara jalurnya sendiri, menyingkirkan semak-semak di kepalaku, membuat jalur agar semuanya masuk dengan pelan tapi pasti. Tidak tergesa, tidak memaksa, hanya mengalir seperti seseorang yang tahu benar bagaimana berbicara pada pikiran yang sering tersesat. Membayangkannya, perawat itu perlahan menjelma seperti seorang pendeta yang berdiri di atas mimbar, hanya saja mimbar itu berupa rangkaian kursi plastik dan mesin infus. Ia berbicara tenang, hampir seperti sedang berkhutbah kepada umat yang duduk rapi, padahal yang ia hadapi hanyalah pasien-pasien setengah mengantuk dan suara detak monitor. Tapi entah bagaimana, ada kesan sakral yang mengambang di udara, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya punya cara sendiri untuk membuat ruangan itu terasa lebih tertib dari sebelumnya. Saking menikmatinya, aku bahkan tak sadar jam dinding di atas lemari asam itu seperti berkedip terlalu cepat, semacam ada tangan tak terlihat yang memajukan waktu beberapa langkah di depan kami. Dan ketika kesadaran akhirnya menepuk bahu, kami pun perlahan mengundurkan diri, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang masih hangat. Lalu kami kembali ke bus, membiarkan mesin dan jalanan melipat jarak, membawa kami kembali ke tempat asal kami, seakan semuanya hanyalah mimpi kecil yang singgah sebentar di sela hari.

Sungguh pengalaman yang luar biasa bagiku hari ini, di dunia farmasi yang mereka perlihatkan padaku, ruang-ruang dingin dengan botol-botol kaca, mesin peracik yang berdengung seperti bisikan mekanis, dan lembar-lembar resep yang tampak lebih seperti tuntutan hukum, aku merasa seakan sedang menyaksikan bagaimana manusia mencoba menawar nasibnya sendiri. Obat-obatan itu ditata rapi, namun keheningannya mengintimidasi, seolah masing-masing menyimpan cerita tentang tubuh yang memberontak, sakit yang meminta tempatnya, dan harapan yang dipaksakan bertahan lebih lama dari semestinya. Tadi, ketika salah satu seorang apoteker menjelaskan prosedur kerja mereka, aku mengangguk meski sesungguhnya merasa seperti terdakwa yang menerima penjelasan atas hukuman yang belum ia pahami. Mungkin itulah hal yang membuat pengalaman ini luar biasa, bukan karena pengetahuan barunya, tetapi karena cara tempat itu membongkar ilusi bahwa manusia sepenuhnya berdaulat atas dirinya sendiri. Di rumah sakit, segalanya terasa ditentukan oleh proses tak kasatmata yang lebih tua dari kehendak pribadi, sebuah birokrasi biologis yang tak dapat dinegosiasikan. Namun anehnya, di antara semua ketidakpastian itu, aku merasakan sesuatu yang mendekati kekaguman. Bahwa ada orang-orang yang, walaupun terus-menerus bergulat dengan misteri tubuh manusia, tetapi tetap berdiri tiap hari di bawah cahaya lampu putih yang hampir tak memberikan bayangan. Bahwa pekerjaan mereka, seperti menulis, menimbang, mencampur, menyerahkan obat, merupakan upaya kecil namun gigih untuk menyelamatkan seseorang dari kehancurannya sendiri. Ketika kami meninggalkan tempat itu, rasanya seperti keluar dari sebuah mimpi pahit yang tidak ingin kuakui telah menyentuhku. Tapi sesuatu tertinggal di sana, atau mungkin sesuatu terbawa pulang bersamaku, kesadaran bahwa tubuh, waktu, dan sistem yang mengurungku diam-diam saling bersekongkol, dan aku hanya tamu singkat yang mencoba memahami sedikit saja dari keseluruhannya.

Kami pun semua, tiba ditempat semula kami berkumpul, Dosen yang mengarahkan kami mengucapkan terima kasih lalu berpamitan pada kami semua. Setelah itu, urusan waktu sepenuhnya berpindah ke tangan kami, kami dibebaskan untuk pergi ke mana pun yang kami mau, selama langkah kaki masih sanggup mengikuti keinginan hati masing-masing. Sore belum seluruhnya berakhir, waktu yang kupunya hari ini masih sangat panjang. Aku ingin meminum kopi di kafetaria kampus, jadi rencana selanjutnya adalah, melangkahkan kaki kesana dan berharap ketentraman disana masih menyediakannya untukku. Sesampai disana, kursi meja banyak yang kosong, kuletakkan tasku di kursi dekat kaca, lalu kutinggal memesan secangkir kopi. Bau kopi yang menguap dari mesin espresso melayang seperti awan kecil yang tersesat, sementara suara penghalus biji kopi terdengar berdecit ragu-ragu, akankan ia haluskan atau jangan, seolah berasal dari tempat yang jauh beberapa detik di masa depan. Dua orang mahasiswa duduk di meja-meja panjang, namun wajah mereka tampak seperti bayangan yang berubah-ubah, sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu orang tertawa, tetapi satunya lagi, suaranya seperti masih tertahan di kepalanya, hingga tidak benar-benar jatuh ke telinga temannya. Disamping mesin kasir, suara susu yang dipanaskan berbunyi lirih seperti sedang merintih kesakitan, dan kipas langit-langit berputar malas, seakan sedang mengawasi siapa saja yang masuk. Aku duduk sendirian, menatap secangkir latte panas yang permukaannya memantulkan cahaya seperti kolam kecil, mengkilap. Sesekali, pintu kaca terbuka dan angin dari luar menyusup, membawa aroma halaman kampus, tanah lembap tertimbun salju, dan sedikit bau kertas buku yang terlalu sering dipinjam. Di antara suara obrolan, gemerisik halaman, dan langkah-langkah yang tak pernah benar-benar berhenti, lalu-lalang orang pergi, kafetaria itu terasa seperti tempat yang tahu terlalu banyak tentang siapa saja yang duduk di dalamnya. Seolah-olah dindingnya menyimpan percakapan siapapun orang yang datang, dan lantainya menahan jejak-jejak mereka yang datang dengan hati penuh, lalu pulang dengan kepala kosong. Beberapa jam kemudian, semakin banyak orang datang dan kursi-kursi mulai menggeser posisinya menjadi kursi apotik yang dipakai untuk mengantri menunggu obat, tampak padat dan tidak dibiarkan sedikitpun celah. Seseorang memesan sandwich, yang lain mengambil tempat duduk. Dan aku tetap di sana, merasa kafetaria itu seperti ruang transit, tempat pikiran bisa melayang bebas, tapi tubuh tetap tertambat pada kursi yang sama, menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri bisa mengira, bahwa tak ada seekor binatang pun yang enggan duduk didepanku.

Hanya membaca buku, kemampuan yang bisa aku banggakan. Tak ada lagi yang bisa kukerjakan disela-sela menunggu hari berakhir, atau setidaknya ada seseorang yang menawarkanku untuk ikut keluar berpetualang dengannya. Setelah berjam-jam seperti orang idiot, akhirnya nasib baik menghampiri, Daisy mengetahui keberadaanku seperti sebuah alat pendeteksi yang tiba-tiba berbunyi, begitu ia memasuki radius tertentu di sekelilingku. Seolah ada gelombang halus yang memantul dari dadaku menuju dirinya, lalu kembali lagi padaku tanpa bisa kutolak. Bukan sihir, bukan pula firasat, lebih seperti mekanisme sunyi yang bekerja di balik dunia nyata, sebuah sensor tak kasatmata yang hanya peka terhadap langkah-langkahnya. Dan setiap kali ia mendekat, udara di sekitar seakan berubah warna, semacam ruang itu sendiri memberi tanda bahwa ia sudah tiba.

“Hey, bagaimana perjalanan tadi?” katanya,

“yaa… lumayan menyenangkan.” kataku.

“Kau sudah makan?” Daisy meletakkan tasnya,

“sudah tadi disana,” jawabku,

“oh, oke kalau begitu.” Daisy menekuk sedikit wajahnya.

“Memangnya kau belum makan?” tanyaku,

“belum,” jawabnya singkat,

“ayo, aku temani kau makan, kau mau makan dimana?” kataku sambil merapikan tasku,

“entahlah, kau mau pergi agak jauh?” katanya,

“kemana?” tanyaku.

“Hmm… mungkin Drayton West, disana aku tahu tempat burger enak,” ia menjentikkan jari.

Kemudian kami pergi ke tempat yang Daisy maksud, wilayah yang tak jauh dari bandara Heathrow. Kami tiba disana, pada pukul tujuh malam. Ternyata wilayah yang persis sebuah desa kecil, yang seolah terlipat di antara bukit-bukit hijau yang mulai kehilangan warnanya. Jalan utamanya hanya satu, tapi membentang seperti penggaris. Dihiasi deretan rumah bata yang catnya mengelupas perlahan, seakan waktu sendiri sedang mencoba menuliskan sesuatu pada dinding-dinding itu. Pada malam yang berkabut, kabut rendah menggantung di atas kebun apel yang tinggal separuh hidupnya karena dimakan selimut putih tebal, menyusup lewat pagar kayu yang sudah miring, dan membuat suara langkah siapa pun terdengar seperti rahasia yang enggan terungkap. Toko roti kecil di sudut jalan, dimiliki pasangan tua bermarga Whitmore yang cukup terkenal, kata Daisy. Menjadi satu-satunya tempat yang benar-benar hidup di antara bangunan lain yang tampak selalu mengantuk, aroma roti gandum yang hangat bercampur dengan suara radio tua yang memutar lagu-lagu The Police, membuat siapa pun merasa seperti tengah melangkah ke ruang yang tertinggal dari dekade sebelumnya. Tak jauh dari sana, halte bus dengan papan kayu lapuk berdiri sendirian, menunggu bus nomor 47 yang sering terlambat tanpa penjelasan, seakan waktu di Drayton West memang sengaja berjalan dengan ritmenya sendiri. Di bagian selatan desa, terdapat padang rumput luas yang memanjang hingga sungai kecil. Sepertinya airnya dingin, batinku. Kami bergerak perlahan, Daisy membawa ranting kayu sebagai tongkat jalan yang ia ambil sewaktu tadi di tepi jalan, yang seakan-akan seperti kami sedang mendaki bukit sungguhan. Lampu jalan hanya beberapa, menyala redup saat senja tiba. Mereka memantulkan cahaya kuning pucat pada jendela-jendela rumah, membentuk bayangan yang bergerak lambat, seperti arwah yang ingin pergi namun selalu kembali. Orang-orang di Drayton West adalah tipe yang jarang mengangkat suara, kata Daisy. Mungkin karena kehidupan di desa kecil seperti itu membuat mereka menyimpan banyak hal dalam diam, kerinduan, kehilangan, kebiasaan, atau mungkin hanya kebosanan yang sudah terlanjur akrab. Pada malam tertentu, ketika angin dari utara mulai menebalkan udara, satu-satunya pub di desa, The Rhythm End menjadi tempat orang-orang menghangatkan diri. Di dalamnya, kursi kayu berderit, pintu berdecit, orang-orang berbicara seperlunya, dan gelas-gelas mengeluarkan bunyi kecil seperti dentingan nostalgia yang menjaga semuanya tetap utuh.

Kami pun tiba di depan bangunan seperti rumah penduduk pada umumnya, ada garasi, pekarangan. Memang kata Daisy tempatnya seperti itu, tempat yang terkenal karena roti bundar dengan isi patty-nya. Sungguh sangat jauh sekali dari bayanganku, kukira berjualannya semacam di sebuah kios ataupun mobil van atau truk pada umumnya, pikirku. Seketika kami pun memasuki halaman rumah yang hanya diterangi lampu kuning redup, pemiliknya menyambut kami dengan mata sayup, senyum tipis. Meja-meja yang terurai di depan pekarangannya di penuhi, dipenuhi orang-orang yang menikmati burger ditempat, jika kulihat sekilas, lebih mirip seperti sebuah keluarga yang melakukan sesi bermain panggang-panggangan. Beruntung dewi fortuna masih memihak, membiarkan satu meja kosong khusus untuk kami, kami pun bergegas memesan. Dilihat-lihat sebenarnya aku merasa perutku tampak sedikit memadat, tapi apa boleh buat, meski perutku sudah terisi, aroma daging yang dipanggang itu menelusup seperti lagu lama yang tiba-tiba diputar kembali, menghidupkan sesuatu yang kupikir sudah tertidur. Burger kami datang, ya, tampak tidak jauh berbeda pada burger di seluruh dunia, hanya saja mungkin saus dan patty-nya yang memiliki tempat yang tidak bisa diganggu oleh lidahku. Keduanya menyimpan perjanjian diam dengan langit malam, membuat tiap gigitan berubah menjadi teka-teki yang berjalan mondar-mandir di dalam mulutku, mencari arti yang tak pernah benar-benar ingin ditemukan. Akhirnya perutku dan Daisy tak bisa lagi berbuat apa-apa, kami pun dibuat tak berdaya, untuk kembali ke asrama pun sepertinya kaki kami sependapat dengan kata hati, paling tidak menunggu sampai benar-benar rasa kenyang berdamai dengan waktu.

Arloji ditanganku mengatakan, malam sudah layak di sebut penghujung hari. Pukul setengah sepuluh kurang kami melawan waktu di gemerlapnya malam itu, kami bergegas agar kejadian sebelumnya tak terulang. Halte bus menjadi kesekian kalinya saksi perjalanan yang tak ada henti-hentinya, tiap kali aku berdiri di bawah atapnya yang renta, aku merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar tahu caranya tiba. Setiap perjalanan, setiap retakan kecil di ruang waktu, punya kesan sendiri, seperti halte itu menyimpan semuanya dalam lipatan rahasia. Ia mengenali langkah-langkah yang gelisah, bayangan tubuh yang berubah-ubah panjangnya, dan tatapan seseorang yang berharap bus datang bukan untuk membawanya pulang, tetapi untuk melepaskannya dari sesuatu yang tak bisa ia ucapkan, dan selamanya akan menjadi rahasia yang tertutup takdir. Kehidupan ini sungguh terasa singkat jika kita berjalan terburu-buru, batinku. Pukul sepuluh kurang beberapa menit lagi kami tiba di depan pintu asrama, untung saja aku dan Daisy tidak terperosok ke dalam arus nasib yang gelap. Lalu setelah tiba di tempat peristirahatan yang tak menawarkan pelarian, ranjang yang paling mengerti arus gerak tubuhku. Aku segera membasuh diri, meluruhkan jejak hari agar tak lagi dikenali, merendam diri dalam pengakuan sunyi, membasuh bayang-bayang yang menempel di kulit, tenggelam sebentar dalam ketidakpastian yang cair, mengguyur tubuh seperti menagih pengampunan dari sesuatu yang tak bernama, dan menghapus wujud sementara yang kubawa sejak pagi. Setelah itu membenamkan seluruh jiwa raga di alas yang kusebut ranjang, yang merangkul tanpa belas kasih. Selamat tidur, Daisy. Selamat tidur juga untuk dunia yang entah kenapa selalu terasa membenciku, gumamku pelan. Di dalam diriku sendiri, aku tahu kita seringkali tidak sejalan, aku dan batinku seperti dua musafir yang tersesat di persimpangan yang sama. Namun, pada akhirnya kaulah satu-satunya tempat aku bisa bernaung dari segala keburukan yang menunggu di luar sana. Ada kalanya kau juga memahami kekalutanku, memeluknya diam-diam, seolah berkata bahwa meskipun aku rapuh, aku tetap punya ruang untuk pulang.

*

 

Ahhh… aku menguap, seolah semalam seseorang membukakan tirai kecil menuju surga, sehingga aku dapat mengintip wujud sesungguhnya, meskipun hanya lima detik. Tubuhku terasa ringan seperti kapas yang hanyut, dan hatiku entah bagaimana ikut menari pelan, riang, lega, seperti akhirnya menemukan tempat beristirahat yang sudah lama hilang. Tidak terasa hari ini aku tiba di penghujung tahun, seperti seseorang yang tanpa sengaja berjalan terlalu jauh dan baru sadar ketika melihat matahari terbenam di belakang punggungnya. Libur akhir tahun pun datang perlahan, tanpa suara, seperti kudanil yang tahu caranya masuk ke dasar air tanpa membuat permukaan air sekitar berderit. Ada perasaan bahagia yang menyelinap, tipis dan samar, tidak sepenuhnya nyata. Semacam kebahagiaan yang kalau disentuh terlalu keras bisa pecah, atau kalau dipandangi terlalu lama justru menghilang begitu saja. Aku duduk di tepi ranjang mencoba merasakannya, tapi yang kurasakan justru seperti angin dingin yang melintas sebentar di antara celah ventilasi, singkat, namun cukup untuk membuatku menarik napas sedikit lebih dalam. Mungkin beginilah rasanya berada di persimpangan waktu, setengah dari diri ingin berbaring saja, memutar lagu jazz yang gemanya memantul di dalam kepala, sementara separuh lainnya ingin berjalan, mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa disebutkan namanya. Tetap saja, ada semacam kelegaan yang mengendap. Meski kebahagiaan itu semu, keberadaannya cukup untuk membuatku merasa manusia. Hari-hari panjang yang lewat seperti kereta malam akhirnya terhenti, dan aku bisa, setidaknya untuk sekarang, merayakan jeda kecil ini. Libur akhir tahun mungkin bukan pelarian besar, tapi ia semacam ruang kosong yang manis, tempat di mana aku bisa berdiri diam, mendengarkan detak jam, dan membiarkan dunia berputar tanpa harus mengejarnya.

Mungkin Daisy memiliki ide tentang waktu yang akan dihabiskan sepanjang masa libur ini, atau sekadar merayap seharian penuh di dalam kamar, batinku. Aku membangunkannya pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu ke sebuah dunia yang bukan miliknya. Ia selalu menjadi sosok yang sulit dipahami ketika masih terbungkus oleh mimpi, seakan sebagian dari dirinya tertinggal di sebuah alam lain, tempat logika berjalan pincang dan waktu melenggang tanpa arah. Dalam keadaan begitu, matanya bukan sekadar mata, ia seperti dua gerbang yang belum memutuskan ingin terbuka ke realitas atau tetap bertahan di tanah tempat bayangan memiliki suara sendiri. Berurusan dengannya saat bangun tidur sama rumitnya seperti menangani konflik sebuah negara. Ada negosiasi yang tak terdengar, ada batas wilayah yang tak boleh disentuh, dan ada sisi-sisi rapuh yang harus diperlakukan dengan kecermatan seorang diplomat yang sudah kelelahan. Kadang ia hanya menggerakkan jari, namun dari sana terasa seperti ada badai kecil yang sedang dipindahkan dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Setiap pagi bersamanya selalu terasa seperti mencoba menarik seseorang dari pusaran mimpi yang menolak melepaskan genggamannya. Dan aku, entah bagaimana, tetap menjadi saksi atau mungkin korban dari pergulatan magis itu. Mungkin ini karena pengaruh efek kekenyangan, pikirku. Namun beberapa menit kemudian ia terbangun, seolah dirinya dibangkitkan dari kehidupan kedua yang menunggu di ujung tahun.

“D-e-e-z-z-y… apa kau memiliki rencana?” aku langsung menodongkan pertanyaan ke dirinya yang benar-benar baru membuka kedua matanya,

“rencana apa?” katanya sambil mengulet seperti cacing yang di siram air panas.

“untuk di habiskan selama liburan ini!” kataku,

“hooaamm… sebentar, berikan aku waktu.” katanya sambil kembali memeluk bantal.

Kemudian ia tertidur lagi, kubiarkan ia pasrah ditelan keinginannya. Sementara aku menyiapkan sarapan yang masih tersisa, namun ini yang terakhir. Nampaknya aku dan Daisy akan dibuat repot nanti-nantinya jika seluruh makanan habis, dan sepertinya kami harus bekerja sama dalam mengelola bahan-bahan makanan kedepannya. Aku memasak air panas untuk membuat teh, lalu kupanggang ulang waffle di atas wajan stainless dan kuoleskan sedikit margarin diatasnya dan kemudian kubolak-balik setiap sisinya agar terpanggang merata. Setelah teh dan waffle siap, kuhidangkan diatas meja makan yang lebar serta panjangnya hanya sekitar tujupuluh senti meter. Selagi makanan itu masih panas, aku berdiskusi dengan hatiku, apa sebaiknya aku membasuh muka lebih dulu sebelum menyantapnya langsung. Selanjutnya hati memberikan jawaban, ya, katanya. Lalu aku melangkahkan tubuhku ke kamar mandi. Awalnya aku cuma ingin membasuh muka, sekadar menghapus sisa kantuk yang masih menempel. Tapi baru saja air menyentuh kulit wajahku, tubuhku ikut menuntut seperti merasa iri, meminta bagian dari kesegaran yang sama. Begitu urusan di kamar mandi selesai dan aku melangkah keluar, kulihat Daisy sudah terjaga. Ia duduk di kursi meja makan dengan postur seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan untuk hidup pagi ini. Rupanya aroma waffle yang mengambang di udara cukup untuk membangkitkan semangatnya, seolah wangi manis dari saus maple itu memanggil jiwanya lebih cepat daripada alarm mana pun atau bahkan diriku sendiri.

“Huuft… sulit sekali bangunin kau,” kesalku,

“emm…emm, hehehe. Kau pandai sekali memasak, kenapa kau tidak ikut lomba masak saja? soalnya buatanmu enak.” ucapnya sambil mengunyah.

“Apa sih? itu kan cuma tinggal dipanaskan sebentar.” kataku sambil mengeringkan rambut.

“Hey Liza! kenapa nanti malam kita tidak ke Trafalgar Square saja,” usul Daisy,

“wah boleh juga sih… ide bagus.” jawabku saat membelah waffle.

Aku menikmati waffle itu perlahan, seakan setiap gigitan yang lembut mengenang pagi ini sampai pagi berikutnya. Tak ada yang terburu-buru, hanya rasa manis yang meleleh di lidah, hangat yang mengalir ke tubuh, dan suasana tenang yang membuat waktu berjalan sedikit lebih pelan. Dalam momen kecil itu, rasanya dunia cukup sederhana, hanya kami, waffle, earl grey dan pagi yang jinak. Setelah aku dan Daisy selesai sarapan, aku mencuci piring kotor dan Daisy menjerang air untuk ia mandi. Aku hendak mengintip dari balik jendela usai mencuci piring, udara di luar terasa seperti hela napas yang membekas di kaca, dingin, jernih, dan mudah pecah. Embun tipis menggantung rendah di atas jalanan, membungkus tanah dalam selimut putih yang tenang. Pohon-pohon berdiri kaku, telanjang tanpa daun, namun tetap anggun seperti para penari yang menunggu musik dimulai. Suara burung hanya terdengar sesekali pagi itu, pendek dan ragu-ragu, seakan mereka juga merasakan bahwa dunia belum sepenuhnya bangun. Bau roti hangat dari kafetaria di ujung, tercium sampai sini, bercampur dengan aroma tanah lembap, menciptakan kehangatan kecil di antara gigitan angin yang tajam. Dan matahari, jika ia berani muncul, pasti muncul dengan malu-malu, menawarkan cahaya keemasan yang lembut, cukup untuk membuat pagi itu tampak seperti lukisan yang belum selesai. Dari koridor kamarku, kudengar seseorang perempuan berlari-lari, dan berteriak. Aku mengintip dari lubang kecil di pintu, rupanya itu adalah suara Luna dan Emily yang entah, bertengkar karena apa. Mungkin soal permainan mereka diatas ranjang, atau hubungan pihak ketiga yang membuat hubungan rumit itu, semakin rumit. Entahlah lagipula itu bukan urusanku, tak ada yang perlu di resahkan, batinku. Pagi yang tenang masih memelukku lembut, sementara di dalam dada ada rasa yang pelan-pelan ingin meletup, ingin keluar dan merasakan suasana penghujung tahun. Seolah keheningan dan kegembiraan kecil itu diambang ketidakpastian, berjalan tergesa-gesa tanpa saling menunggu satu sama lain.

Daisy selesai mandi, ia mengenakan pakaian, mantel dan bawahan serba hitam dan penutup kepala berwarna kuning yang di rajut langsung oleh ibunya. Sedangkan aku mengenakan mantel panjang rajut warna krem dengan syal warna yang sama. Kami berencana keluar untuk minum, ide Daisy ialah kami pergi ke Fulham, suatu tempat yang terdapat pub besar disana. Hammersmith Pub, butuh perjalanan dua jam jika menggunakan bus, namun jika berjalan kaki kurang lebih memakan waktu lima sampai enam jam. Segala urusan jangkauan melacak sesuatu kuserahkan kepada dirinya, aku hanya mengangguk seperti anjing yang mengerti perintah majikannya, kami melangkah keluar dari asrama, sepanjang jalan tak terlihat orang keluar di dalam keadaan pagi-pagi dingin begini. Kendati begitu, hanya ada satu orang yang kulihat melintas, berjalan pelan, tenggelam dalam pikirannya sendiri, menuju kantin yang padahal kosong. Anehnya, ia tetap melangkah ke sana, meskipun hari ini seluruh kelas dan kegiatan kampus sedang libur, seakan kantin itu memanggilnya dengan alasan yang tak diketahui siapa pun. Kami tiba di halte, dan pagi tiba-tiba menyentakku, bukan dengan keras, hanya dengan kehadiran matahari yang merayap perlahan dari balik pohon besar yang gundul, seolah sedang mengintip dunia. Dari kejauhan, bus muncul seperti makhluk besar yang bangun terlalu cepat, rodanya berasap akibat menggerus jalanan yang dingin. Ketika akhirnya berhenti di depan kami, kami naik dan mengambil rute ke barat. Di kursi yang tenang, Daisy mencolek telingaku.

“Bagaimana dengan laki-laki bernama Terry itu?” Daisy membuatku kaget,

“hah? kenapa tiba-tiba jadi membicarakannya?” kataku,

“ya aku hanya penasaran saja. Bagaimana kelanjutannya.” Daisy berlagak bodoh sambil menjulingkan matanya.

“Entahlah, sangat rumit. Bahkan aku sendiri pun, menertawakan keberadaannya.” Aku mengabaikan seolah-olah tak ingin ditanya lagi.

“Oh begitu, jadi benar kan? apa yang pernah kukatakan,” sambung Daisy,

“apa…?” tanyaku,

 “tidak jadi hehehe…”

“huuffttt…” aku menghela napas.

“Pertemuan selalu berjalan beriringan dengan perpisahan, seperti dua bayangan yang tak pernah benar-benar bisa dipisahkan. Setiap kali seseorang memasuki hidup kita, dunia diam-diam mulai menyiapkan ruang kosong di suatu tempat, ruang yang kelak mungkin terisi jarak, waktu, atau sunyi yang datang tanpa permisi. Pertemuan adalah awal dari sesuatu yang hangat, namun di dalam kehangatan itu selalu ada garis tipis yang mengarah pada kemungkinan hilang. Begitu dua manusia saling menyapa, semesta sebenarnya sedang mengukir pola, ada saat untuk berdekatan, dan ada saat untuk melepaskan. Tidak semua perpisahan menyakitkan, dan tidak semua pertemuan berarti bahagia. Tapi keduanya selalu saling membutuhkan. Tanpa perpisahan, kita tak akan tahu betapa berharganya pertemuan. Tanpa pertemuan, perpisahan hanyalah ruang kosong tanpa cerita. Mungkin begitulah hidup bekerja, kita berjalan, bertemu, tersenyum, kehilangan, lalu bertemu lagi. Dan di tengah semua itu, kita belajar bahwa setiap pertemuan adalah anugerah singkat, dan setiap perpisahan adalah cara dunia mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar menetap, kecuali makna yang kita simpan sendiri.” ia menepuk pundakku,

“Lagipula aku bukan tipe yang meromantisasi hal yang telah lenyap begitu saja” lirihku,

“argghh… aku ingin merokok,” geramnya,

Pengeras suara di dalam bus mulai berbicara, suaranya mengalir pelan seperti bisikan dari dimensi lain, menyebutkan rute pemberhentian yang akan kami tuju. Rasanya seperti bus itu sendiri sedang bercerita, memandu kami melewati siang yang tampak mulai mengeras. Lima menit kemudian kami turun, dan bus itu melaju pergi tanpa menoleh, seperti jejak keberadaannya barusan hanya kebetulan, juga tak ingin diakui siapa pun. Halte berdiri diam, dingin, seperti tempat yang tidak pernah benar-benar menginginkan siapa pun singgah terlalu lama. Rasanya bantuan kecil itu perjalanan singkat yang baru saja kami alami, enggan meninggalkan jejak, seperti segala sesuatu di dunia ini selalu sibuk menghapus dirinya sendiri sebelum sempat dikenang. Tempat ini terasa tidak asing bagiku, seolah jalanan ini pernah kulewati di suatu waktu yang tak tercatat dalam ingatan perjalananku. Ada bayangan pengenalan yang samar, seperti aku tahu arah setiap belokan, tetapi tak satu pun nama jalan berani menampakkan dirinya. Rasanya aku berjalan di ruang yang mengenaliku lebih baik daripada aku mengenal dunia, dan justru karena itu, semuanya tampak semakin membingungkan. Fulham road, sesuatu yang sedikit sulit digambarkan wajahnya, sebuah wilayah kecil dimana orang-orang berjalan dengan ritme yang tetap, seperti karakter dalam buku yang tahu persis ke mana mereka harus menuju. Ada yang masih membawa tas kerja padahal sudah di penghujung tahun, dan ada juga yang menenteng cangkir kopi kertas, namun semuanya tampak tenggelam dalam dunia mereka masing-masing, dunia yang mungkin tidak pernah bersinggungan, meski mereka melewati trotoar yang sama. Di salah satu jendela, seekor kucing duduk memandang ke luar seperti pengamat bisu, seolah ia tahu sesuatu yang manusia tidak sempat perhatikan. Mobil-mobil melewati jalan dengan suara rendah, seperti hentakkan mesin yang lebih memilih berteman dengan keheningan daripada memecahnya. Dari kejauhan, deru bus tingkat merah routemaster mendekat perlahan, memberi kesan bahwa waktu sedang bergerak, tapi tidak terlalu cepat. Fulham Road selalu punya cara menciptakan perasaan itu, perasaan bahwasannya aku sedang berada di tempat biasa, namun sekaligus sedikit terpisah dari kenyataan. Uap air yang menggantung di udara perlahan berkumpul, menyatu menjadi awan hitam yang berjalan pelan di atas kota. Ia melintas tenang melewati deretan gedung bata merah, seperti sedang meluangkan waktu untuk mengamati setiap sudut sebelum melanjutkan perjalanannya. Fulham terasa seperti sebuah fragmen kota yang menjaga nostalgia, di antara sungai, rumah bata, trotoar teduh, dan sejarah panjang. Tapi di saat yang sama, ia juga hidup, dengan kehidupan urban, komunitas modern, dan kenyamanan kontemporer. Bagi yang berjalan di jalan-jalannya, Fulham bisa terasa seperti kampung lama di jantung kota besar, sebuah sudut di mana masa lampau dan masa kini bersisian dengan lembut.

Kami tiba di depan pintu Hammersmith pub, ketika aku masuk, banyak hal-hal yang sebelumnya belum pernah kutemui. Sebagian besar hampir tampak sama dengan pub lain seperti, lampu-lampu kuning temaram menggantung rendah, memantul di permukaan gelas bir dan meja kayu tua. Tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap, sekadar cukup untuk melihat wajah orang yang diajak bicara, dan cukup samar untuk membuat waktu terasa melambat, namun pub ini, berlantai kayu yang berusia ratusan tahun. Aroma oak tua bercampur bir pahit, serta udara lembap khas Inggris yang ikut masuk setiap pintu terbuka. Ada pula, suara riuh namun akrab di telinga, bukan bising, melainkan gumaman ramai, orang-orang bicara dengan nada rendah namun cepat, tawa pecah sesekali, suara gelas bersentuhan, dan dari kejauhan terdengar siaran pertandingan sepak bola. Semua suara bercampur jadi latar yang hangat di telinga. Disini bukan sekadar tempat minum, lebih seperti ruang tamu bersama. Di dalamnya ada pasangan yang merayakan sesuatu yang kecil, kakek-kakek yang sudah duduk di kursi favoritnya sejak tahun 70-an, dan mahasiswa yang mencari kehangatan di tengah musim dingin. Dinding-dinding dipenuhi dengan foto tim sepak bola lokal, poster bir klasik, piala pub quiz, papan tulis dengan tulisan kapur tentang menu hari itu. Meja kayu penuh goresan, bekas cincin gelas, dan cerita-cerita yang tak pernah dicatat. Lagu rock Inggris seperti; The Smiths, Black Sabbath, Deep purple, The Cure, dan The Clash berputar, menari, namun volume dipasang rendah, musik hanya berperan sebagai pengiring suasana, bukan mendominasi. Juga disini tampak tidak ada yang tergesa, orang datang untuk duduk, berbincang, menghabiskan waktu. Bahkan pelayan pun bekerja dengan ritme yang tenang, seakan pub punya denyut jantungnya sendiri. Saat musim dingin seperti ini, pintu pub selalu menjadi portal ajaib dari luar yang beku, masuk ke dalam yang hangat penuh cahaya. Jaket-jaket tebal menggantung, pipi orang-orang merah karena udara luar, dan segelas ale atau stout jadi teman paling setia. 

Lihat selengkapnya