London Fog

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #10

#10

Lima belas januari seribu sembilan ratus delapan puluh empat, di pertengahan musim dingin yang muram. Aku terbangun dari mimpi yang panjang, pada mimpiku, aku seperti berjalan pelan menembus udara yang membatu, badanku terlempar ke dunia yang penuh perasaan dingin dan tidak ramah, dimensi yang terisolasi, hanya aku dan bayangan. Di dimensi itu, Ada campuran antara kemarahan, kekecewaan, dan rasa kehilangan jati diri. Di ruang dimensi ini setiap perasaan memiliki bentuk, saat aku melambai pada keheningan yang berwujud seperti makhluk astral, dan hampir setiap perasaan memiliki wujud seperti itu, lalu ia memutar badannya, berjalan terus kedepan sampai kemudian memudar, entah di lenyapkan oleh siapa. Beberapa menit kemudian, rasa yang lain datang seperti cemas, kecewa, bahagia, sedih, dan marah. Mereka berkumpul tapi sedikit berjarak, seolah-olah sedang membahas sesuatu. Aku dari jauh memperhatikan, lalu salah satu diantara mereka melirik ke arahku, setiap dari mereka memiliki warna masing-masing, seperti bahagia berwarna ungu, marah berwarna merah, sedih berwarna biru, kecewa berwarna hijau, dan cemas berwarna kuning, dan sedangkan keheningan yang tadi lenyap berwarna putih. Pada saat mereka selesai menyulam percakapan, terjadi sebuah perselisihan yang tak bisa di hindari, terpecah menjadi dua kubu antara bahagia dan kecewa. Sedih dan marah berada di kubu kecewa, dan cemas berada di kubu bahagia, karena nampaknya cemas sependapat dan punya jalan yang sama dengan bahagia. Akhirnya keributan tak terhindari, hingga rasa cemas di kubur hidup-hidup oleh marah dan sedih, lalu hanya menyisakan bahagia yang berkelahi dengan rasa kecewa. Namun, selang beberapa menit kemudian rasa keheningan yang tadi lenyap, tiba-tiba muncul dari sebuah portal hitam berbentuk bundar, ia bergegas menyerang ketiganya. Alih-alih disitu rupanya ia memihak kubu bahagia, dan berkat kehadirannya, pertikaian selesai, dan dimenangkan oleh kubu bahagia. Mereka yang telah dikalahkan pergi lewat portal yang sama tadi, lalu keheningan menghampiriku seraya berbisik; “ seseorang yang mencoba menggenggam sesuatu, entah itu cinta, persahabatan, atau masa lalu, namun semakin dipegang, semakin ia terasa kosong. Perubahan datang diam-diam, dan akhirnya ia hanya bisa menerima bahwa semuanya sudah tidak sama lagi. Dalam kebisuan yang menggerogoti, Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada perpisahan dramatis. Yang ada hanya diam yang terus tumbuh, mengikis kedekatan seperti ombak mengikis karang. Pada akhirnya ia, menyadari bahwa ia tidak bisa memaksa sesuatu tetap utuh. Ada hal-hal yang memang ditakdirkan memudar, bukan pecah. Lalu akan ada perasaan hampa setelah usaha yang sia-sia, ada rasa lelah yang tidak diucapkan, sudah mencoba memahami, mencoba bertahan, tapi tetap saja yang tersisa hanyalah bayangan tipis dari apa yang dulu pernah ada. Menangkap perasaan kehilangan sesuatu yang perlahan menghilang tanpa suara. Bukan hilang seketika, melainkan memudar, perlahan, samar, menyisakan jejak yang hampir tidak bisa disentuh lagi. Seperti halnya dirimu, berdiri di dalam ruangan tempat cahaya perlahan memudar, tetapi masih mencoba melihat bentuk dari sesuatu yang dulu kau kenal. Kau meraih sisa-sisa kehangatan yang tinggal redup, namun tiap langkah semakin mengaburkan semuanya. Pada akhirnya, kau menyadari bahwa kau sedang mengucapkan selamat tinggal bukan melalui kata-kata, tetapi melalui pengertian bahwa beberapa hal memang tidak lahir untuk bertahan selamanya. Maka itu teruslah, Merinailah buat dia mendengar suara mu, menarilah biar dia tahu kau dimana.”

Dan setelah itu aku dilempar ke kehidupan yang sebenarnya, bahwa aku terbangun dari mimpi yang suram. Pukul delapan pagi mataku terbuka, dan napasku tersengal-sengal kecil, keringat keluar dari lubang kecil di leher dan dadaku. Bangun dari ranjang lalu berjalan ke dapur untuk membuat teh, Daisy masih dalam keadaan nyenyak, dan aku berniat membangunkannya nanti saja. Setelah tehku jadi, aku duduk dimeja kecil, sambil menelisik hal-hal yang terjadi di mimpiku, merenung, mengurut kejadian-kejadian masa lalu, sepertinya sesekali aku harus mengambil nomor antrian untuk melakukan pengakuan dosa, dan menyelaraskan jadwalnya dengan kegiatanku, atau ini entah, ini hanya kejadian alami saja, batinku. Hari ini jadwal exam mata kuliah epidemiologi di mulai pada pukul sebelas, jadi masih banyak waktu untukku untuk belajar sedikit dan membaca catatan-catatan. Sebelum mulai membaca, aku merasa akan lebih segar kalau mandi dulu. Jadi aku mengambil handuk, mengisi air di bak, dan sementara bak belum terisi penuh, aku membasahi rambut lalu mulai keramas. Bak terisi penuh, lalu aku masuk kedalam bak, Begitu kakiku menyentuh air, hangatnya merambat pelan, seperti sapaan pertama yang hati-hati agar tidak mengejutkan. Aku berjongkok, membiarkan tubuhku tenggelam setengah, lalu menyiramkan air ke bahu serta punggung. Suara cipratan terdengar lembut, memantul di dinding kamar mandi yang sederhana. Keramasan yang tertinggal di rambutku kutuntaskan. Jemariku mengusap kulit kepala dengan ritme lambat, seperti membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur. Buihnya turun mengikuti alur wajah, membuatku memejam sesaat. Ada rasa lega yang menjalar, seperti pikiran yang tadinya kusut mulai diluruskan oleh air. Aku mengambil sabun, aromanya lembut, sedikit manis. Setiap sapuan di lengan dan dada membuatku merasa lebih ringan, seakan kotoran bukan hanya yang menempel di kulit, tapi juga yang diam-diam mengendap dalam hati. Saat menyiram tubuh untuk terakhir kali, air mengalir deras, membawa pergi sisa busa dan mungkin, sedikit dari lelahku. Aku berdiri sejenak, diam, mendengar suara gemericik yang entah kenapa terasa menenangkan. Ketika akhirnya keluar dari bak, air menetes dari rambut ke lantai, seperti detik jam yang pelan-pelan mengembalikan diriku ke dunia nyata. Aku mengambil handuk, membungkus tubuh, dan menarik napas panjang, mandi yang sederhana, tapi membuat pagi itu terasa lebih jernih.

Keluar dari kamar mandi, kulihat Daisy masih terbaring di ranjang, tenang, seperti enggan kembali pada dunia. Aku mencoba membangunkannya, menggoyang pelan bahunya, tapi ia hanya meringkuk dan memalingkan wajah, seolah mimpi masih memintanya tinggal sedikit lebih lama. Aku menghela napas kecil, lalu cepat-cepat mengenakan pakaian. Setelah itu, handuk yang tadi kupakai mengeringkan tubuh kulingkarkan ke rambutku, membiarkannya menyerap sisa air yang masih menetes. Suasana kamar terasa lembut dan hangat, sementara pagi perlahan mulai membuka mata. Kemudian aku menepi di meja, membaca pelajaran-pelajaran kemarin, memahami ulang catatan-catatan yang kucatat, tenggelam dalam buku setebal kotak pos saat pagi masih mungil. Pagi itu pukul sembilan, ketika cahaya matahari baru merayap masuk melalui celah jendela dan seluruh rumah masih tenggelam dalam keheningan yang hampir menekan, aku duduk dengan buku ujian di pangkuanku, membaca baris demi baris sambil merasa seolah-olah setiap kata yang kutemui bukan hanya tuntutan akademis, melainkan semacam bujukan liar yang mencoba menuntunku memahami bukan saja pelajaran, tetapi juga kekacauan kecil dalam diriku sendiri, dan konyolnya, di tengah semua itu, ada ketenangan yang justru membuatku tetap bertahan di kursi itu, seakan pagi ini sengaja memelukku agar aku tidak melarikan diri dari hal-hal yang harus kuselesaikan. Tak lama kemudian, Daisy membuka matanya dan mengatakan, selamat pagi dunia sambil menggeliat dan menguap.

“Mukamu kenapa bonyok begitu?” tanya Daisy tiba-tiba, suaranya seperti memecah udara pagi yang masih malas bergerak.

“Hah? masa sih?” Aku meraba pipiku, separuh yakin ada sesuatu yang aneh di sana.

“Hehehe… becanda, deng.” ia tertawa kecil, tawa yang terdengar ringan tapi tetap meninggalkan riak samar di kepalaku.

“Ah… mengganggu saja,” kataku, mencoba menutupi rasa kesal yang sebenarnya tidak begitu besar.

Setelah ia mengusikku kemudian ia pergi mandi, sementara aku melanjutkan sampai jarum jam berhenti dipukul sepuluh. Daisy berangkat lebih dulu sejak tadi, kelasnya dimulai pada pukul sepuluh. Dan aku segera bergegas untuk menuju kelas. Ujian berlangsung dengan tenang, seolah seluruh ruangan sepakat untuk tidak menggangguku. Setiap soal yang terpampang di kertas tampak lebih bersahabat dari biasanya, dan jemariku menari pelan di atas lembar jawaban, menjawab satu per satu dengan keyakinan yang tumbuh perlahan. Di luar jendela, siang merayap masuk, membawa cahaya yang lembut dan hangat, seakan hari ini sengaja diciptakan untuk membuat semuanya terasa mudah. Tak ada tekanan yang menempel di pundak, tak ada kegugupan yang menyengat, hanya ritme damai yang menuntunku dari soal pertama sampai yang terakhir. Ketika aku akhirnya meletakkan pena, ada semacam rasa lega yang mengembang, seperti napas panjang yang selama ini kutahan. Siang itu, entah mengapa, dunia terasa sedikit lebih ramah. Dan untuk sesaat, aku percaya bahwa hal-hal sederhana seperti ujian yang berjalan lancar pun bisa menjadi alasan kecil untuk merasa baik-baik saja. Kini dalam sela-sela pertengahan musim dingin yang perlahan mencekam, saat aku keluar, ribuan butir salju dari langit turun kebawah. Entah aku harus terus berjalan menembus salju itu, atau mencari sebuah tempat untuk berteduh sejenak. Demikian hatiku berkata, sebaiknya cari tempat yang mampu menyeka semua dinginnya, lantas aku segera berlari ke tempat sebaik-baiknya tempat, yakni The White Horse. Nama kafetaria kampus yang sering kukunjungi.

Saat hendak kakiku mengarah ke tempat itu, seketika Terry memunculkan wajahnya, wajahnya seperti bangkit dari ingatan yang lama terkubur, seolah ia baru saja ditelanjangi angin pesisir dan dipulangkan kembali ke dunia yang sejak lama menunggunya. Setelah sekian lama menghilang dari dunia ini, akhirnya ia muncul juga. Kata pertama yang keluar dari mulutnya hanya ‘maaf’, dan entah kenapa aku tidak merasakan apa-apa, layaknya angin lewat saja. Aku tetap melangkah, membiarkan jarak di antara kami. Namun kalimat terakhirnya membuatku berhenti, ia berkata bahwa kabar duka datang menjemputnya, ayahnya telah tutup usia. Kemudian aku mengajaknya ke tempat itu dan memintanya untuk menceritakan disana saja. Sesampainya disana, dua gelas cappucino panas diatas meja, air mata menetes, dan sisa-sisa senyum yang renggang meleleh. Ayahnya meninggal karena tuberkulosis, baru kuketahui, rupanya penyakit itu telah menggerogotinya selama enam bulan yang lalu, perlahan, diam-diam. Yang paling menyakitkan adalah Terry sendiri tak pernah diberi tahu. Ia hidup seperti biasa, menjalani hari-harinya tanpa tahu bahwa sesuatu di rumahnya sedang runtuh pelan-pelan. Dan menjelang detik-detik terakhir, barulah kabar itu dilemparkan kepadanya dengan kasar, mendadak, seperti pintu yang dibanting angin malam. Kini, sekarang, ia benar-benar tinggal sendiri, sebatang kara, seperti benang tunggal yang harus menyulam seluruh hidupnya tanpa bantuan siapa pun. Tak ada lagi tangan yang menuntunnya kembali ke jalan ketika ia tersesat, tak ada suara lembut yang menyuruhnya beristirahat ketika dunia mulai terasa terlalu bising. Ia berjalan dengan langkah yang goyah, mencoba menyusu pada harapan yang tipis, namun setiap sudut kota justru membuatnya sadar bahwa tak ada lagi seseorang yang mendorongnya agar tetap bertahan di tengah dunia yang begitu sangar, begitu mudah meremukkan hati-hati yang rapuh. Entah bagaimana, arus perasaannya mengalir begitu saja dan berlabuh tenang di kolam perasaanku, aku pun terseret arus itu, hanyut perlahan, seakan bebannya merembes masuk ke dalam diriku hingga aku merasakan gelap yang sama dengannya.

“Suatu saat, kematian memang akan menjemput kita,” katanya dengan suara bergetar,

“tapi sampai hari itu tiba, kita masih berada di luar jangkauannya. Rasanya… begitu masuk akal bagiku. Hidup berdiri di sisi ini, sementara kematian berada di sisi seberangnya. Aku berada di sini, bukan di sana. Jaraknya mungkin hanya selebar lima peniti, dan sekeras apa pun kita mencoba, kematian yang kelak menggenggam kita itu tak akan pernah bisa menutupi malam-malam yang belum pernah kita jumpai.” ia mengusap matanya, menahan isaknya yang hampir pecah.

Aku menatapnya pelan, membiarkan kata-katanya menggantung di udara yang dingin.

“Kadang…,” ujarku,

“yang paling menakutkan bukan kematian itu sendiri, tetapi cara hidup yang menyeret kita dari satu hari ke hari berikutnya tanpa pernah memberi jeda. Seolah waktu menuntut kita terus bergerak, meski kita belum benar-benar siap.” kataku saat menatap ke langit-langit.

Terry menunduk, seperti mencoba mengerti beban itu dengan cara yang baru.

“Benar,” bisiknya.

“Dan mungkin itulah yang membuat kita bertahan. Kita berjalan karena tak ada pilihan lain. Karena meski jarak menuju kematian itu hanya setipis peniti, jarak menuju hidup yang sesungguhnya pun sama tipisnya.” napasnya terlihat mulai teratur.

Aku menghela napas pelan, memandangi salju yang jatuh di antara kami.

“Setidaknya,” kataku,

“selama kita masih berada di sini, di sisi hidup, kita punya ruang untuk meraba-raba arti dari semuanya. Entah arti kehilanganmu, atau arti hari esok yang belum berwajah.” Sambungku.

Terry tersenyum samar, rapuh, namun nyata.

“Mungkin begitu,” ujarnya.

“Mungkin yang harus kulakukan hanyalah terus berdiri, meski sendirian, sampai suatu saat aku merasa sisi ‘di sini’ cukup untuk ditinggali.” tangisnya berubah menjadi senyum yang mekar.

Aku mengangguk.

“Dan kalau suatu hari terasa terlalu berat, kau bisa memanggilku. Kita tak harus memahami semuanya sekarang. Kita hanya perlu… bernapas bersama sebentar.” ujarku.

Ucapan itu membuatnya kembali menatapku, seolah ada sedikit cahaya yang tak sengaja menyalakan dirinya.

“Terima kasih,” katanya pelan.

“Mungkin itu sudah cukup untuk siang ini.” terangnya.

Tadi siang langit hanya menggantungkan mendung seperti sebuah peringatan yang setengah hati, dan kini tiba-tiba, sore menjelma menjadi semacam pelabuhan, tempat yang entah mengapa terus didatangi, meski anginnya menusuk seperti lautan dingin yang tak pernah mengenal belas kasih. Di titik itu, terasa seolah seluruh dunia mendorongku kembali ke tepian yang sama, seakan di sanalah aku seharusnya menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba, namun tetap kucari tanpa alasan yang jelas. Aku dan Terry berjalan menuju kantin. Setelah kesedihan terlalu lama mengendap, menguras tenaga hingga ke dasar diri, rasa lapar pun menolak pergi. Seakan tubuh kami meminta jeda kecil dari beban yang tak terlihat, namun entah bagaimana, semua makanan di sana tampak enak di mataku, seolah kesedihan yang menumpuk sejak tadi berubah menjadi ruang kosong di dalam diriku, dan apa pun yang kulihat terasa sanggup mengisinya. Setelah kami selesai makan, Terry bangkit pelan dan berpamitan. Katanya ia harus mengikuti kelas yang mulai sore itu dan aku hanya mengangguk, membiarkan langkahnya menjauh sambil membawa sisa-sisa sunyi yang belum sempat ia ucapkan. Di saat-saat seperti ini, pikiranku cuma tertuju pada Daisy, seseorang yang seolah mampu menampung segala rasa yang tak sanggup kujelaskan. Mungkin ia perlu tahu, atau mungkin cukup mengerti saja, pikirku pelan. Namun demikian, entah bagaimana, tubuhku bergerak begitu saja, seolah punya kemauannya sendiri, otakku dibiarkan tidak bekerja memberikan perintah. Semacam vorteks atau lubang cacing menarikku ke sebuah pub dekat kampus, sekiranya waktu ini tepat untuk kuhabiskan disana. Untuk sekadar merayakan exam yang berjalan tanpa ada halangan, atau merayakan keberhasilan menemukan kembali sesuatu yang nyaris hilang… aku sendiri tak begitu yakin. Namun kupikir, betapa pun rapuhnya hidup ini, setiap hal barangkali memang pantas dirayakan, seolah perayaan kecil itu satu-satunya bukti bahwa aku masih bertahan. Ketika minumanku datang, tak jelas bagaimana, berbayang. Rindu kepada mereka datang seperti bayangan yang menetes dari langit-langit pikiranku, perlahan namun pasti, membentuk genangan yang tak bisa kuhindari. Setiap ingatan tentang rumah berubah menjadi lintasan kosong yang panjang dan berbelok-belok, seakan arsiteknya adalah seseorang yang gemar bercanda dengan kesepian. Aku berjalan di lintasan itu, mencoba menggapai suara mereka, namun gaung yang kutemukan justru suaraku sendiri, dipantulkan kembali tanpa belas kasih. Aku merindukan mereka, tentu saja, namun rindu ini tidak pernah berbentuk manusia. Ia lebih mirip bulatan hitam yang menyelinap di celah-celah kesadaranku, membuatku mempertanyakan apakah yang kurindukan benar-benar keluarga… atau hanya gambaran tentang diriku yang pernah merasa aman. Di dalam gelap yang memanjang ini, aku memanggil rumah, tetapi jawaban yang kudengar hanyalah langkah-langkahku sendiri yang semakin jauh dari segala yang dulu kupahami.

Sudah sepuluh menit berlalu, dan aku bahkan belum menyentuh wiski pertamaku. Entah kenapa pikiranku terasa terlalu gelap, segalanya di sekelilingku tampak samar, seolah dunia memilih menjaga jarak setipis bayangan. Aku duduk begitu saja, membiarkan waktu mengalir perlahan, aku menunggu. Hingga akhirnya, perlahan, aku mencoba memeluk kembali suasana hati, seperti mencari kunci yang jatuh di ruangan tanpa cahaya. Setiap detik terasa panjang dan sunyi, dan aku tak pernah tahu apakah yang kutemukan nanti benar-benar suasana hati yang kembali… atau hanya bayangan lain yang diciptakan kesendirianku. Seketika beberapa menit, pikiranku menyatu di satu titik, kuminum wiski murni ditanganku, saat wiski menyentuh bibirku, waktu seperti berhenti sejenak, memberi ruang bagi pikiranku untuk bernapas. Aku menyesap wiski itu perlahan, seolah menunggu suatu kenangan bangun dari tidur panjangnya, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan, wiski itu bukan hanya menghangatkan pikiranku, namun tubuhku juga. Aku membayangkan betapa marahnya ibuku jika ia mengetahui perilakuku seperti ini. Bayangan itu begitu jelas, hampir seperti ia berdiri tepat di hadapanku. Dan anehnya, aku justru tersenyum. Senyum tipis yang lahir dari keputusasaan, atau mungkin dari kelelahan yang terlalu lama kusimpan. Seakan-akan dengan tersenyum, aku bisa berdamai dengan kemarahan yang belum terjadi itu, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah diriku yang kembali membuat lelucon tragis atas hidupku sendiri. Di detik ini, sekalipun waktu enggan memberiku selembar kertas untuk pikiranku menulis isi hatiku. Pada saat-saat seperti ini, pikiranku justru bertamasya ke segala arah, liar, kusut, dan tak tahu jalan pulang. Seolah seluruh diriku hanyalah penonton yang menyaksikan pikirannya sendiri melarikan diri dari kenyataan. Lagi-lagi kesedihan memantul dari ruang masa lalu, teringat akan mereka, keheningan dipecahkan oleh suara-suara yang datang darinya, melalui bisikan-bisikan teguran yang menggigit.

Kerinduan salah satunya bukan sekadar halte, melainkan seperti kereta yang selalu datang pada waktu yang sudah ditentukan, tidak tergesa, tidak pula tertunda. Kadang aku merasa dikejar oleh bayangan yang sama yang ingin kutemui, bayangan yang selalu menghilang saat hampir kugapai. aku sering merasa jalan itu terlalu sepi, tapi tiap kali ingin menyerah, ada bagian dari diri yang menolak. Aku tahu aku tak bisa berhenti, karena berhenti berarti tersesat di kegelapan, tapi terus berjalan pun tak menjanjikan jawaban, hanya rasa hampa yang semakin tebal. Di sanalah aku, tersesat dalam lorong-lorong pikiranku sendiri, merasakan kerinduan itu bukan sebagai harapan, tapi sebagai dosa yang menghantui dengan halus, namun tak bisa kulepaskan. Malam ini kian pekat, seakan menelan seluruh kota, dan cider yang dicampur brendi menjadi teman paling mesra yang bisa kutemui. Minuman kedua yang kupesan, rasanya pahit, hangat, dan sedikit menyesakkan, seperti kesendirian yang kuterima tanpa protes. Aku meneguknya perlahan, membiarkan cairan itu merayap ke dalam, menemani bayangan-bayangan yang tak bisa kuhapus. Setiap teguk seolah mengingatkanku bahwa kesepian ini bukan hanya nyata, tapi juga terlalu setia, dan aku, tak lebih dari penonton yang tersenyum buram kepada luka-lukanya sendiri.

*

 

Februari tanggal tiga belas, disini, Februari adalah bulan di mana bunga snowdrop, atau galanthus, mulai bermekaran, menandakan datangnya musim semi. Banyak taman dan rumah pedesaan membuka kebun mereka untuk umum dalam acara ‘open garden’ bagi pengunjung untuk melihat hamparan bunga putih ini, seperti di The Gardens of Easton Lodge. Dengan arti lain open garden bisa disebut sebagai sebuah dunia mini yang terbuka sementara, di mana pengunjung sejenak melepaskan diri dari rutinitas dan tenggelam dalam warna, aroma, dan ketenangan alam. Salju perlahan mencair, meninggalkan tanah basah dan aroma tanah yang hangat. Di sudut taman tua, bunga snowdrop pertama muncul, putih, rapuh, dan tampak seperti cahaya yang menahan dingin musim dingin. Aku berdiri di sana, sendirian, memperhatikan kelopak-kelopak kecil itu, seolah mereka membawa pesan yang tak kumengerti sepenuhnya. Musim ini terkesan membuatku ingat tentang hal-hal yang hilang, teman-teman lama, tawa yang tak terdengar lagi, dan masa-masa ketika hati terasa ringan. Snowdrop tampak begitu sederhana, namun justru karena kesederhanaannya ia mampu menembus kesepian yang lama bersarang di dadaku. Aku berdiri di tepi taman yang masih diselimuti salju tipis. Di tengah dingin dan keheningan, segerombolan snowdrop muncul, putih dan rapuh, seolah menolak tunduk pada musim yang kejam. Aku menatapnya lama, merasa ada sesuatu yang akrab namun asing. Mereka kecil, hampir tak terlihat, namun keberadaannya menekan sesuatu di dadaku, rasa kesepian yang selama ini kusembunyikan. Aku tersenyum samar, pahit, menyadari bahwa bunga itu seperti aku sendiri, rapuh, tersisih, tapi tetap muncul, menantang dingin dunia yang tak peduli. Segala kesedihan dan kebisuan yang aku bawa terasa sedikit lebih ringan saat melihatnya. Snowdrop ini, meski tak bisa menolong atau menghibur secara nyata, seakan berkata bahwa bertahan, meski sepi dan tak terlihat, sudah cukup menjadi bentuk keberanian. Aku menunduk, meneguk udara dingin, dan untuk sesaat, membiarkan hati yang rapuh ini bernapas bersama bunga-bunga yang tak pernah menyerah pada kegelapan.

Aku berjalan di antara bunga-bunga itu, kaki menekan tanah yang lembab, dan rasanya seperti setiap langkah menyingkap kenangan lama yang tertimbun salju. Angin membawa dingin, namun juga bisikan halus, seakan musim ini sendiri mencoba menghibur, meski dengan cara yang tak pernah aku pahami sepenuhnya. Di tengah kesunyian itu, aku tersenyum samar. Snowdrop mekar di musim yang seharusnya dingin, menolak tunduk pada kegelapan. Aku, entah kenapa, merasa sedikit ringan. Bunga-bunga ini mengajarkan sesuatu yang sederhana, bahkan dalam kesepian dan dingin, ada keindahan yang tak bisa dihancurkan, ada harapan yang perlahan menembus pekat. Musim snowdrop ini, meski sunyi, bukan hanya tentang akhir dingin, tapi juga tentang keberanian kecil untuk mekar dan tentang hati yang, meski berat, masih mampu melihat cahaya. Bunga snowdrop selalu terasa seperti sentuhan lembut di tengah kesunyian. Ia menjadi pelengkap yang sempurna untuk karangan bunga perayaan apa pun, karena membawa makna harapan dan kepolosan. Tidak heran jika disini, biasanya bunga ini diberikan untuk merayakan kelahiran bayi, seolah setiap kelopak kecilnya ikut menyambut kehidupan baru dengan keheningan yang hangat.  

Sekelompok orang-orang tua diseberang, ikut menyambut kedatangannya. Taman tua liar itu seolah-olah berubah seketika menjadi pentas kecil, tanpa sorot lampu, tanpa panggung megah, hanya beberapa petak, tak lebih luas dari sebidang sawah. Mereka datang silih berganti, menangkap detik-detik yang hanya muncul sekali setahun dalam semusim. Aku berdiri di antara mereka, merasa keindahan itu seolah milik semua orang sekaligus bukan milik seorang pun. Dari anak-anak yang tersenyum riang hingga orang tua yang menatap dengan mata sendu, setiap pandangan menambah lapisan kenangan dan kesepian yang terasa lembut di hatiku. Keindahan itu hadir, sementara aku hanya penonton yang sadar, bahwa momen yang paling indah sering kali membuat kita merasa hangat sekaligus hampa. Aku meninggalkan taman itu perlahan, membawa seluruh jiwa dan raga yang terasa berat. Salju turun dengan pelan, menutupi setiap jejak kaki seakan menghapus kenangan yang baru saja hadir. Tidak ada yang manis, tidak ada yang dramatis, hanya kebenaran dingin yang menempel di udara, mengingatkan bahwa setiap pertemuan akan berakhir, setiap perpisahan pasti datang, dan aku harus terus melangkah di antara bayangan-bayangan yang perlahan terkubur putih. Pernah suatu malam, seseorang mencoba memotret bulan. Ia menatap hasil fotonya, lalu tertawa kecil. Bukan bulannya yang jelek, katanya, kameranya saja yang tidak mampu menangkap keindahannya. Dan entah mengapa, kata-kata itu menempel di kepalaku sampai sekarang. Mungkin, begitulah seharusnya aku memandang diri sendiri. Ketika dunia gagal melihat cahaya yang kupunya, bukan berarti aku tak indah, kadang mereka hanya tidak memiliki kamera yang cukup baik untuk melihatnya.

*

 

Pagi ini Daisy dan aku berencana pergi ke Birmingham setelah kelas kami selesai, mungkin sore hari pukul tiga, karena disana ada karnaval valentine fair dan sekaligus kami ingin mendatangi King’s Lynn Valentine’s fair di Norfolk. Pada pukul dua siang aku menunggu Daisy di bawah pohon oak dekat lapangan utama kampus, setelah beberapa menit menunggu akhirnya Daisy muncul dengan tas coklat kulitnya yang hanya digantung pada bahu sebelah kiri. Lalu kami menaiki bus rute yang menuju kereta bawah tanah London, kemudian mengambil rute dengan kereta sampai menuju stasiun Vauxhall, di Birmingham. Tiba disana, dalam waktu dua jam setengah, kami lanjut menaiki trem khusus di Birmingham, hanya ada disini. Di badan samping bus terdapat tulisan Birmingham City Transport, atau umum dikenal sebagai BCT. Karena Birmingham bukan kota dengan lalu-lintas sepadat pusat kota London, desain bus dan kebutuhan operasional tentu jauh berbeda, meskipun sama-sama memiliki dua tingkat, namun BCT cenderung lebih polos pada badan bus. Setelah kurasakan, perbedaan dari keduanya tampak tak terlalu menonjol, rancangan mirip, jiwanya pun mirip. Kami tiba setelah perjalanan yang entah tak begitu terasa, langit pun membiru seolah sebentar lagi, hitam menggeser warnanya. Menjelang malam, udara disini, sama halnya terasa dingin layaknya di London, seperti semua Februari di Inggris, tetapi dari kejauhan cahaya lampu karnaval pecah diantara kabut tipis. Begitu aku mendekat, aroma manis toffee apple dan wangi minyak mesin dari wahana berputar bercampur menjadi satu, bau khas yang hanya muncul sekali setahun, saat Valentine Fair dibuka. Anak-anak berlari kecil, sarung tangan wol mereka saling bersentuhan. Sementara itu, para remaja berjaket denim penuh patch band rock tertawa terlalu keras, seakan musim dingin tak pernah sanggup menyentuh mereka. Para pedagang memanggil siapa saja yang lewat, menawarkan permen, popcorn, dan hadiah-hadiah kecil yang tampak murahan, namun entah mengapa, justru terasa berarti pada malam seperti ini.

Di tengah lapangan, komidi putar tua dengan lampu kuning keemasan berputar perlahan, memantulkan cahaya. Musiknya selalu sama, lagu-lagu lama yang tak pernah berhenti diputar sejak bertahun-tahun lalu, namun justru itulah yang membuatnya terasa seperti ritual, sesuatu yang tak berubah sekalipun waktu terus bergeser. Pasangan muda berjalan berdampingan, saling menggenggam tangan, tetapi ada juga mereka yang datang sendirian, berdiri di pinggir keramaian, menikmati hiruk-pikuk itu seperti orang yang menonton hidup dari jauh. Dan aku, entah termasuk yang mana, hanya berdiri sejenak, membiarkan seluruh kegaduhan itu menyentuhku tanpa benar-benar mengusik. Di antara semua itu, langit gelap menggantung rendah. Tidak ada salju yang turun malam ini, hanya angin musim dingin yang tipis, tetapi cukup untuk membuat seseorang menarik kerah mantel lebih tinggi. Tapi anehnya, Valentine Fair memancarkan hangatnya sendiri, energi riang tersebar, hangat yang datang dari suara tawa, dari lampu-lampu yang tak kenal lelah, dari kenyataan bahwa bahkan pada malam paling dingin sekalipun, manusia tetap mencari alasan untuk berkumpul dan merayakan sesuatu. Aku dan Daisy membeli gulali yang dijual oleh pria bermantel lusuh, kumis tipis, dan janggut yang menyerupai semak-semak rimbun. Gerai makanan berderet begitu banyak hingga kami tak tahu harus mencicipi yang mana dulu. Alih-alih memilih, kami justru saling tertawa dan memutuskan naik komidi putar, membiarkan malam itu memutar kami perlahan, seperti dua anak kecil yang lupa waktu. Saat komidi putar mulai bergerak, aku merasakan sesuatu yang aneh namun menyenangkan. Seperti ada bagian kecil dalam diriku yang selama ini tertidur, lalu perlahan membuka mata. Lampu-lampu kuning yang berputar di sekeliling kami memantulkan kilau lembut pada udara malam, membuat semuanya terasa sedikit tidak nyata, seakan waktu memperlambat langkahnya hanya untuk memberi kami ruang bernapas. Aku mendengar tawa kami terseret angin, ringan seperti catatan musik yang lepas dari piringan hitam tua. Tidak ada yang benar-benar istimewa dari momen itu, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa penting. Komidi putar berputar, orang-orang di sekitar bergerak seperti potongan cerita kecil, dan aku merasa seolah dunia, untuk sesaat, menunjukkan sisi yang lebih ramah. Di puncak putaran, ketika kami melihat seluruh taman dari ketinggian yang tidak seberapa dan lautan manusia dibawah, aku merasakan kebahagiaan sederhana yang jarang muncul, tenang, bersih, dan tidak meminta apa-apa. Hanya sejenis kelegaan halus yang membuatku percaya bahwa malam itu, segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya.

Keanekaragaman perasaan senang tertuang di ketinggian itu, di ketinggian itu, segala macam perasaan senang bercampur menjadi satu, seperti ingin meyakinkanku bahwa dunia masih menyimpan sedikit kelembutan. Mungkin memang terdengar lebih baik daripada bawah, lebih jernih, lebih jujur. Karena itulah aku memilih tetap di sini, di tempat tinggi yang sunyi ini, meski terkurung dalam kabin sempit yang menggantung di antara langit dan tanah. Setidaknya di sini, aku bisa mendengar diriku sendiri tanpa harus berpura-pura. Ketika akhirnya turun, kakiku kembali menyentuh tanah, tetapi perasaannya tetap tergantung di atas sana, di ketinggian yang dingin, di antara lampu-lampu redup, di kursi yang berayun pelan seperti menimang seseorang yang tak pernah benar-benar kembali.

“Tadi sangat menyenangkan sekali ya, Liza,” Daisy tertawa kecil,

“iya aku pun rasanya tak ingin kemana-mana saat diatas,” ujarku,

“kapan lagi kita bisa kaya gini ya…,” sahut Daisy,

“entah, mungkin tunggu tahun depan lagi.” tuturku sambil menyilangkan kedua tangan.

Meski karnaval ini bertema valentine, namun hari valentine, bagiku, selalu terasa seperti lelucon yang terlalu serius. Orang-orang menukar cokelat dan kata-kata manis seolah kebahagiaan bisa dibungkus rapi lalu diserahkan begitu saja. Sementara aku, yang bahkan kesulitan memahami diriku sendiri, hanya bisa berdiri di tengah-tengah, mengamati satu per satu setiap orang yang berpegangan tangan, seperti seseorang yang tidak diundang ke pesta yang terlalu terang. Ada sesuatu yang menggelitik hati, rasa hangat yang seharusnya hadir, namun justru terasa dingin, seperti angin musim dingin yang masuk lewat celah pintu. Cinta, pada hari-hari seperti ini, tampak seperti benda asing yang hanya bisa disentuh dengan ujung jari, tidak pernah benar-benar bisa digenggam. Akan tetapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diri yang berharap, meski malu mengakuinya. Bagian yang ingin percaya bahwa bahkan untuk orang sepertiku, dunia mungkin menyediakan sepotong kecil kue kasih sayang. Atau cahaya samar yang tidak menghangatkan, tetapi cukup untuk membuatku bertahan satu malam lagi. Perayaan yang penuh harapan bagi banyak orang, tetapi juga pengingat bahwa beberapa dari sebagian hanya belajar mencintai dari balik jendela, dalam diam, sambil menertawakan diri sendiri. Semakin malam, semakin berubah, malam itu berubah menjadi sesuatu yang nyaris tak masuk akal, penuh warna, penuh suara, penuh hidup, layaknya seseorang sengaja menumpahkan cahaya ke atas gelapnya Februari. Lampu-lampu wahana berkelip seperti denyut nadi kota, sementara teriakan kegembiraan dan tawa orang-orang menyelinap ke udara dingin, berusaha menghangatkan apa pun yang tersisa dari hati manusia. Di balik hiruk-pikuk itu, ada sensasi aneh yang tak bisa kujelaskan. Campuran kebahagiaan yang terlalu cepat berlalu, nostalgia yang muncul tanpa alasan, dan perasaan bahwa aku hanyalah penonton yang tersesat di tengah ritual tahunan yang terus berulang. Bagi banyak orang, karnaval ini bukan sekadar hiburan, melainkan penanda bahwa musim dingin perlahan menyerah, bahwa kota yang pucat akan hidup kembali, meski hanya untuk beberapa malam. Tetapi aku menangkap sesuatu, ada sesuatu yang menyedihkan ketika melihat kerumunan itu. Mereka datang untuk mencari hangat, mencari tawa, mencari alasan untuk percaya bahwa hidup masih punya warna. Dan ternyata, aku berdiri di antara mereka, mencoba memahami bagaimana cahaya-cahaya kecil itu mampu menipu hati sejenak, membuatku percaya bahwa dunia, meskipun dingin dan rapuh, setidaknya masih menyimpan harapan yang tidak mudah padam.

Sialnya, kami tak sempat melanjutkan perjalanan ke Norfolk. Malam sudah terlalu larut, dan jalanan mulai ditelan gelap yang malas bergerak. Semua itu terjadi karena kami terlalu betah di sini, terlalu lama membiarkan diri hanyut dalam lampu-lampu hangat, suara tawa, dan percakapan kecil yang tak ingin berakhir. Pada akhirnya, kami hanya saling pandang dan tertawa kecil, seolah keterlambatan ini bukanlah kerugian, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri. Lagipula… ada sesuatu yang menyenangkan dari tersangkut di satu tempat karena keindahannya. Seakan waktu, untuk sekali saja, tidak keberatan membiarkan kami tinggal sedikit lebih lama. Seperti kata kebanyakan orang, berlian tidak selamanya kekal. Berlian sering dipuja sebagai lambang keabadian, kilau yang konon tak tersentuh waktu. Namun jika direnungkan lebih dalam, bahkan berlian pun tidak benar-benar kekal. Ia bisa retak oleh tekanan yang salah, hilang di telapak tangan yang ceroboh, atau sekadar lenyap maknanya ketika hati yang memberikannya telah pergi. Kilau itu hanya tampak abadi karena seseorang ingin percaya ada sesuatu yang tetap, sesuatu yang tidak berubah saat hidup terus merayap dengan segala kejutannya. Padahal, berlian hanyalah batu yang kebetulan bertahan dari perjalanan panjang di perut bumi. Yang kekal bukanlah cahayanya, melainkan anggapan manusia terhadapnya dan anggapan itu pun dapat pudar kapan saja. Mungkin justru di situlah letak keindahannya, sesuatu yang tampak kuat, namun tetap rapuh, sesuatu yang tampak bertahan, namun tetap bisa hilang. Berlian bahkan dapat mengingatkan seseorang bahwa cahaya paling tajam pun tidak bisa menahan waktu. Yang bisa dilakukan hanyalah menghargai kilaunya selagi masih ada, dan menerima bahwa tak ada apa pun di dunia ini bahkan yang paling berkilau sekalipun, yang benar-benar abadi.

Walaupun seumur hidupku belum pernah merasakan valentine yang sesungguhnya, malam ini seakan memberi bentuk kasih sayang yang berbeda. Bukan cokelat atau bunga, bukan janji manis yang mudah pudar, melainkan pelukan malam yang enggan melepasku. Udara di sekeliling terasa lebih manis daripada cokelat mana pun, dan ada kebahagiaan yang lebih harum daripada mawar yang paling segar. Entah bagaimana, kehangatan kecil ini membuatku merasa seolah dunia, meski hanya sebentar, memperlakukanku dengan sedikit tulus. Dan mungkin, untuk seseorang sepertiku, itu sudah cukup. Barangkali inilah malam yang terasa akrab tanpa perlu diperkenalkan, terlalu jauh jika dikatakan suram, namun juga tidak berlebihan. Sebuah pengalaman paling khidmat, yang menghampiri sekali saja, dan belum tentu akan kembali untuk kedua kalinya. Setelah lelah, kami akhirnya kembali, dengan langkah ringan dan hati yang masih hangat oleh malam itu. Dan tentu saja, besok kelas libur. Rasanya seperti hadiah kecil yang manis, seolah dunia memberi kami waktu tambahan untuk bernapas, bersantai, dan menikmati hari-hari ini sampai musim dingin benar-benar berakhir, atau sampai kampus memasuki half-term break yang selalu kutunggu.

*

 

Awal Maret datang pelan-pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah tetangganya tanpa berniat mengganggu. Di Inggris, musim dingin tak pernah pergi secara dramatis, ia surut perlahan, menyisakan embun beku di jendela dan udara pagi yang masih menggigit. Namun ada tanda-tanda kecil yang membuat orang sadar bahwa musim semi sedang merangkak kembali ke dunia. Di kota-kota kecil, termasuk sudut-sudut pedesaan Norfolk, Cambridgeshire, dan Bibury, halaman rumah mulai berubah warna. Salju tipis yang dulu menutupi tanah kini menyisakan bercak kecokelatan, membuka ruang bagi tunas-tunas pertama. Snowdrop muncul lebih dulu, bunga kecil putih seperti lampu-lampu mungil yang menandai babak baru. Orang-orang sering berkata bahwa jika snowdrop sudah bangkit, maka harapan pun ikut bangkit bersamanya. Pagi-pagi, burung robin kembali terdengar, suaranya pelan namun jelas, seperti mengingatkan siapa pun yang mendengarnya bahwa kehangatan sedang dalam perjalanan. Di jalanan kota, orang-orang mulai melepas syal tebal, meski masih ragu-ragu seakan mereka tahu bahwa musim dingin bisa saja kembali hanya untuk bercanda. Aroma batu basah dan tanah yang hidup kembali terasa sangat kuat. Anak-anak mulai bermain di luar tanpa mengenakan sarung tangan, para pekerja membuka jendela toko sedikit lebih lama, dan kereta bawah tanah membawa angin yang sudah tidak sekejam Januari. Bahkan cahaya matahari terasa berbeda, lebih panjang, lebih jujur, seolah tidak lagi bersembunyi di balik awan abu-abu yang menumpuk sepanjang musim dingin. Di taman-taman kota, daffodil kuning bermunculan seperti senyum yang lama ditahan. Mereka tidak takut pada angin, meski masih dingin. Dan di malam hari, udara tidak lagi menusuk, hanya menarik lengan, mengajak orang berjalan pulang dengan langkah tenang. Begitulah pergantian musim di sini, tidak terburu-buru, tidak dramatis, namun begitu terasa. Seakan negeri itu menarik napas panjang setelah berbulan-bulan tertahan. Dan siapa pun yang hidup pada masa itu pasti tahu betapa indahnya momen ketika dunia yang membeku akhirnya mulai bergerak lagi, perlahan namun pasti, menuju musim yang lebih hangat.

Perlahan, kutanggalkan satu per satu kerinduan berat yang bersarang di Februari. Bulan itu selalu terasa seperti koridor panjang serta bergaung dingin, setiap langkah hanya mengantar pada kesunyian yang sama. Tapi Maret datang dengan cara berbeda, lebih ramah, lebih hangat, kadang aku berpikir, mungkin Maret memang berniat baik sejak awal. Ia ingin menjemputku dari kemurungan yang menetes pelan sepanjang Februari, dan membawaku berjalan lebih ringan. Atau barangkali ia sama saja dengan bulan-bulan lain, hanya putaran waktu yang terus bergerak. Tapi tetap saja, ada sesuatu pada wajahnya yang membuatku percaya. Dalam senyum tipisnya, Maret tampak menjanjikan sesuatu. Bukan kebahagiaan besar, bukan keajaiban yang mencolok. Hanya jaminan halus bahwa tidak akan terjadi apa-apa yang terlalu menyakitkan, selama kupu-kupu masih berani mengunjungi taman. Seakan kedatangannya sendiri adalah bentuk kecil dari harapan, bahwa setelah dingin yang panjang, selalu ada bulan yang bersedia memelukku dengan cara yang lebih bijak. Mata kuliah semacam menyeretku ke sebuah perpustakaan waktu yang padat dan berdebu, tempat kesibukan menumpuk seperti buku-buku tua yang tak sempat kubuka. Hari-hari bergerak cepat, seolah tiap detik memiliki agenda sendiri, dan aku hanya mengikutinya tanpa sempat bertanya. Dalam ritme yang kian menebal itu, tak ada ruang untuk bernegosiasi dengan masa lalu, ia menunggu di belakang kaca yang mulai kusam, memanggil pelan namun tak pernah cukup nyaring. Yang tersisa hanyalah konsentrasi yang harus kurawat, langkah yang harus kutegakkan, dan tantangan-tantangan kecil yang datang seperti gelombang, tak selalu besar, namun cukup untuk membuatku terus waspada. Meski begitu, ada sesuatu yang menenangkan dalam kesibukan ini, seakan aku sedang dibawa menuju versi diriku yang lebih kuat, perlahan, tanpa kusadari, seperti pohon yang tumbuh diam-diam di tengah musim.

Hari selasa, aku bertemu Terry di lapangan saat hendak mengikuti kelas kedua, ia mengatakan dengan suara yang hampir tenggelam, bahwa ia ingin aku ikut bersamanya merayakan St. Patrick’s Day. Tanggal tujuh belas katanya, aku menatapnya lama, seperti mencoba membaca makna lain yang mungkin tersembunyi di antara kata-katanya.

“St. Patrick’s Day itu apa?” tanyaku saat berjalan dipinggir lapangan.

“St. Patrick’s Day itu, festival budaya Irlandia global dengan parade, warna hijau, daun shamrock, musik, dan makanan khas Irlandia. Walaupun itu perayaan khusus bagi warga Irlandia sendiri, namun di beberapa kota-kota besar di Inggris juga ikut merayakannya setiap tahun tanggal tujuh belas maret, karena masih banyak komunitas Irlandia disana,” Terry menenteng tasnya,

“ohh begitu…,” aku mengangguk,

“sebenarnya… atau lebih tepatnya…, acara perayaan budaya sekaligus acara religius untuk menghormati St. Patrick, seorang misionaris yang dianggap membawa agama Kristen ke Irlandia.” ia berhenti sejenak.

“Apa antusias masyarakat non-Irlandia juga besar?” tanyaku,

“tentu saja,” Terry mengangguk,

“St. Patrick itu siapa, sebenarnya? Pendeta? Pahlawan?” tanyaku,

“Bisa dibilang keduanya. Ia adalah santo pelindung Irlandia. Menurut sejarah, St. Patrick hidup pada abad ke lima. Ia dikenal karena menyebarkan ajaran Kristen di Irlandia, dan konon berjasa menghapus praktik-praktik pagan di sana.” terangnya.

“Terus apa hubungannya sama warna hijau? Dan kenapa daun shamrock jadi simbolnya?” tanyaku sambil membunyikan jari,

“Shamrock itu lambang yang dipakai St. Patrick untuk menjelaskan konsep tritunggal, Ayah, Putra, dan Roh Kudus. Tiga daun dalam satu batang. Sederhana, tapi mudah dipahami masyarakat kala itu. Soal warna hijau, itu simbol Irlandia sendiri, yaitu ‘Emerald Isle’. Tanah hijau yang subur dan penuh legenda.” ujarnya saat langkah kakinya berhenti.

Di depan gedung kelasku, angin sore berputar pelan seperti sedang menata ulang debu dan cahaya. Di bawah tangga kecil itu, kami berhenti. Hanya beberapa langkah antara kami, namun rasanya seluruh dunia merapatkan dirinya agar lebih dekat. Kami saling berhadapan, dan untuk sesaat, suara kampus yang ramai terdengar seperti gema yang jauh.

“Wah, ternyata nggak cuma pesta dan parade ya,” kataku sambil membenarkan posisi tas di bahuku.

“awalnya bukan. Dulu St. Patrick’s Day cuma perayaan religius. Baru kemudian berkembang jadi festival budaya, ada parade, musik tradisional, minum-minum di pub, sampai menyalakan cahaya hijau di bangunan kota,” ia menatapku dengan tatapan yang terang,

seperti lampu kota yang baru dinyalakan sebelum malam jatuh, hangat, yakin, dan sedikit menggoda, sehingga mataku juga ikut menyala.

“Jadi sekarang orang merayakan bukan hanya untuk menghormati St. Patrick, tapi juga identitas Irlandia itu sendiri?” kataku dengan nada pelan, namun ada nada takjub yang tak bisa kusamarkan.

“Tepat. Ini semacam hari ketika masyarakat Irlandia di seluruh dunia bilang; ‘Kami bangga dengan akar dan cerita kami.’ Karena itu, meski kau bukan orang Irlandia, kalau ikut merayakan tetap sah-sah saja.” ia tersenyum lebar, senyum yang membuat dadaku seperti ditarik ke arahnya.

“Kalau begitu, ajak aku ya. Aku ingin melihat sendiri bagaimana sejarah bisa berubah menjadi perayaan sebesar ini.” aku tersenyum saat perlahan menaiki tangga, seolah setiap menaiki anak tangga terasa berat.

“Dengan senang hati. Besok kamu akan lihat kota berubah menjadi lautan hijau.” tutupnya sambil memutar tubuhnya, langkahnya menjauh, tapi kehangatannya masih tertinggal di udara, menempel di kulitku lebih lama dari seharusnya.

Siang itu Uxbridge terasa sedikit kabur, seperti cat air yang belum sempat mengering. Orang-orang berjalan cepat, menenteng tas, buku, membawa kehangatan masing-masing yang tak pernah benar-benar menular. Sungguh mengesankan. Baru beberapa bulan aku tinggal di sini, namun ragam tradisi dan budayanya seakan tak pernah habis ditawarkan. Semuanya datang seperti angin dari pantai yang membawa cerita baru. Aku benar-benar terkesan, batinku. Selama beberapa bulan tinggal di Inggris, aku sering merasa seperti berjalan di dalam buku yang halamannya terus berganti tanpa menunggu aku selesai membaca. Ada hari-hari ketika angin membawa aroma roti panggang dari toko kecil di ujung jalan, dan ada pula hari ketika hujan turun seperti seseorang yang tengah mencoba menghapus seluruh kesedihan dunia. Tapi di antara semua itu, satu hal yang tak pernah benar-benar kusangka adalah betapa beragamnya budaya yang bernapas di tanah ini. Di sini, setiap minggu seperti membuka pintu ke ruang yang berbeda. Kadang aku berpikir dunia di sini berjalan dengan ritme yang berbeda, lebih luas, lebih riuh, namun anehnya juga lebih sunyi pada saat tertentu. Seolah setiap budaya membawa ruang sendiri di dalam udara, dan aku bisa menyentuhnya jika aku cukup diam untuk mendengar. Ada kebebasan yang tak pernah kusadari sebelumnya, kebebasan untuk menjadi diri sendiri, atau menjadi seseorang yang sama sekali baru, tanpa perlu memutuskan yang mana lebih benar. Yang paling membuatku kagum adalah bagaimana orang-orang saling menerima keberadaan satu sama lain, bukan sebagai tamu atau pendatang, tetapi sebagai bagian dari cerita yang sama. Di pasar akhir pekan, aksen-aksen berbeda bertabrakan tanpa sengaja, namun tidak pernah saling meniadakan. Di perpustakaan, aku melihat buku-buku dari berbagai negara duduk berdampingan seakan mengobrol pelan. Bahkan dalam keheningan malam, suara langkah kaki dari berbagai manusia memberi ritme yang membuat kota ini tetap hidup. Mungkin itulah yang selama ini kucari, kesadaran bahwa dunia jauh lebih luas daripada yang pernah kubayangkan, namun sekaligus cukup kecil untuk dirangkum dalam jalan pulang dari stasiun menuju asramaku. Keanekaragaman ini bukan sekadar pemandangan, ia adalah semacam musik latar yang tak terlihat, namun selalu kudengar. Dan entah mengapa, setiap kali aku menutup jendela kamar saat angin malam masuk, aku merasa sedikit lebih utuh dari hari sebelumnya. Seperti seseorang yang akhirnya mengerti bahwa hidup, pada akhirnya, hanyalah perjalanan mendengarkan berbagai suara dan belajar merasakan semuanya sebagai bagian dari diri sendiri.

Pada saat malam tiba, segala sesuatu seolah berjalan dengan kehendaknya sendiri, tenang, tak tersentuh, dan tak pernah bisa sepenuhnya kuatur. Aku kembali membaca surat-surat lama dari ibuku, surat yang sudah begitu sering menemaniku hingga kata-katanya hampir kuhafal di luar kepala. Anehnya, justru di saat kalimat itu semakin akrab, aku mulai berhenti menulis balasannya. Entah apa maksud dari semua ini. Aku sendiri tak benar-benar mengerti diriku. Rasanya bukan karena sengaja menjauh, bukan pula karena ingin melupakan. Mungkin ada ruang di dalam diriku yang belum menemukan kata yang tepat untuk kembali padanya. Atau mungkin, di lubuk yang paling pelan, aku hanya lelah berharap pada kalimat-kalimat yang dulu selalu mampu menghidupkanku. Namun malam tetap berjalan, dan aku duduk di dalamnya, mencoba memahami sesuatu yang bahkan tak sepenuhnya ingin dijelaskan oleh diriku sendiri. Aku belajar dengan sungguh-sungguh di sini, sebab suatu hari nanti aku ingin ibuku merasakan bahagia yang berasal dariku. Ada keinginan besar yang terus berdenyut dalam dada, namun anehnya tak pernah benar-benar tertuang dalam surat. Mungkin karena setiap kali ingin menuliskannya, kata-kata itu justru menguap, menyisakan rasa yang tak terucap. Begitulah akhirnya, belakangan ini aku tidak benar-benar bisa mengirimkan apa pun kepadanya. Mungkin bisa dibilang, aku terlalu rapuh bila terlalu sering bersentuhan dengannya, bahkan hanya lewat surat atau telepon. Setiap kali mencoba melakukannya, aku merasa seperti kembali terkurung dalam sebuah ruangan kedap suara, tempat gema masa lalu tak henti memantul dan mengguncangkan hatiku sendiri. Aku berupaya selalu yakin bahwa inilah yang terbaik untukku saat ini. Keyakinan yang rapuh, tentu saja, seperti sehelai kertas tipis yang bisa terkoyak hanya karena hembusan ragu. Namun aku tetap menggenggamnya, seolah itu satu-satunya alasan agar aku bisa terus melangkah. Ada hari-hari ketika diriku sendiri terasa seperti bayangan yang mengekor tanpa tujuan, tapi entah bagaimana, aku tetap memaksa hati untuk percaya bahwa pilihan ini, betapa pun getirnya, adalah satu-satunya jalan yang tidak akan menelanku hidup-hidup. Dan dengan itu, aku bertahan, pura-pura kuat, sambil berharap kelemahan ini tak terlihat dari luar.

*

 

Sabtu empat belas maret, waktunya bagi diriku, selalu terasa seperti jeda yang tidak pernah sungguh-sungguh kuminta, namun tetap datang seperti pengampunan kecil dari dunia. Hari ketika waktu berjalan lebih cepat daripada hari senin sampai jumat yang melambat, seakan ragu untuk menyentuhku. Di pagi itu, aku bangun dengan tubuh yang masih setengah tertinggal di mimpi, dan entah mengapa udara terasa lebih jernih, bukan karena hidup menjadi lebih baik, tetapi karena aku tidak perlu pura-pura tegar untuk sementara. Sabtu adalah hari ketika manusia seharusnya beristirahat, tetapi bagiku, ia lebih mirip tempat tinggal untuk batin yang mengambang, mencari alasan untuk tetap bertahan. Orang-orang menyebutnya hari libur, tapi aku menyebutnya hari ketika aku dan kesendirianku kembali berdamai, meski hanya sebentar. Kadang aku duduk di dekat jendela, memandangi cahaya yang masuk dengan lesu, seperti aku. Dan aku berpikir… mungkin inilah satu-satunya hari yang tidak meminta apa pun dariku. Sabtu, hari libur itu bukan tentang kegembiraan, melainkan tentang menunda rasa sakit, walau hanya satu hari. Dan Daisy, Daisy tetaplah Daisy, tak pernah berubah walau tahun berganti, bulan berganti, hari berganti. Dengan irama khasnya, kepala dipendam dibawah bantal, ujung kaki sampai leher terbungkus selimut, sementara aku kali ini, membiarkan lebih lama untuk dirinya hanyut, di dalam dunia fantasinya. Sehingga aku pun dapat merasakan kesendirian ini sekejap, memelukku di atas pangkuan buku-buku. Di meja, berdiri sebuah cangkir teh yang seolah menjadi teman pura-pura, hangatnya tipis, tapi cukup untuk menemani pikiranku. Di sampingnya, sepotong bagel yang kubeli kemarin, meski hanya sepotong, setidaknya ia menjadi satu-satunya yang membuat diriku berdiri keras melawan terpaan angin hari ini.

Saat aku keluar dari asrama untuk sekadar mencari angin, tiba-tiba kulihat dari kejauhan di bawah sinar hangat matahari yang menembus sela pepohonan, Mount berjalan kaki perlahan, seolah membawa sebuah harapan kecil di pundaknya. Langkahnya tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar halus di udara, seperti dunia ikut menahan napas hanya untuk memberinya ruang lewat. Dalam momen itu, aku merasa seakan adegan kecil di kampus ini sedang terlipat menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan, sebuah pertanda, mungkin atau hanya cara semesta mengajakku untuk memperhatikan hal-hal yang biasanya luput. Aku menggantung pikiranku dan terburu-buru mengikuti langkah perginya, setelah dekat kupanggil dirinya.

Lihat selengkapnya