London Fog

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #11

#11

Pada kamis pukul sembilan pagi, gerimis turun, turun perlahan seperti embun yang tahu caranya menyentuh bumi tanpa membuatnya terbangun. Hari itu tujuh belas Maret seribu sembilan ratus delapan puluh empat, kota London berubah menjadi kanvas hijau, syal-syal wol di leher para pejalan, pita kecil di rambut anak-anak, hingga bangunan bata yang disinari cahaya neon berwarna zamrud. Angin London membawa aroma bir yang dituang pagi-pagi, tak pernah terlihat semeriah ini bagiku. Pagi itu Uxbridge masih tertidur dalam gerimis tipis, seperti tirai bening yang diturunkan perlahan agar dunia tidak bangun terlalu cepat. Jalanan kampus mengkilap oleh air, dan aroma tanah bercampur daun yang gugur semalam, membuat udara terasa lebih dekat dengan hati. Di depan gerbang kampus, Terry sudah menunggu. Jaket wolnya tampak sedikit lembap, rambutnya menunduk tertiup angin basah, namun senyumnya, ah, senyumnya tetap hangat, seperti seseorang yang sengaja menanti lebih awal karena diam-diam ingin melihatku muncul dari jauh.

“Kau datang juga,” katanya sambil mengibaskan gerimis dari bahunya.

“Tentu, kau pikir aku akan melewatkan hari sebesar ini?” jawabku.

Kami mulai berjalan menuju halte bus di ujung jalan. Udara pagi menggigit pelan, tapi langkah kami ritmis, seperti dua nada yang akhirnya menemukan tempat untuk berdampingan. Pusat kota London masih satu jam perjalanan, namun terasa lebih dekat karena Terry tak berhenti bercerita tentang apa saja, warna hijau yang akan memenuhi kota, band tradisional yang dimainkan di pub, sampai lampu-lampu kota yang nanti berubah bagai zamrud hidup. Bus datang dengan suara mesin berat khas kendaraan tua. Pintu terbuka dengan desis panjang, dan kami naik, duduk bersebelahan di kursi belakang. Jendela berkabut oleh hujan halus yang tak kunjung berhenti. Sesekali bahu kami bersentuhan saat bus mengayun di tikungan, dan ada denyut kecil yang tak terlihat namun terasa jelas, mungkin dari jantung, mungkin dari sesuatu yang lebih rumit dari itu. Di luar, toko-toko kecil Uxbridge berlalu, satu per satu hilang di balik kabut. Lalu digantikan jalur perkotaan yang makin ramai ketika bus memasuki tengah kota. Kami naik tube menuju pusat kota, bergoyang pelan seiring suara besi tua yang bersentuhan. Di gerbong, beberapa orang mengenakan topi hijau tinggi, beberapa membawa biola, dan ada pula yang memeluk segelas kopi panas seolah itu satu-satunya hal yang menyelamatkan mereka dari udara dingin. Terry berdiri di sampingku, cukup dekat sehingga bahunya sesekali menyentuh bahuku. Setiap kali itu terjadi, jantungku bergerak pelan. Ketika kami keluar di Piccadilly, dunia seolah meledak jadi riuh. Parade sudah berjalan, deretan penabuh drum, langkah-langkah kaki yang serempak, alunan tin whistle, dan bendera Irlandia yang melambai seperti gelombang kecil. Orang-orang berkumpul, tak peduli dari mana mereka berasal, hari itu semua terasa setara, sama-sama hanyut dalam semangat perayaan. Gerimis berubah menjadi hujan yang lebih tipis lagi, seolah cuaca pun ingin turun tangan dan menyiapkan panggung untuk kami. Setibanya di pusat kota, atmosfer langsung berbeda. London seperti hidup lebih cepat daripada biasanya. Setiap sudut dipenuhi warna hijau, syal, pita, bendera kecil yang menari tertiup angin. Musik tradisional Irlandia terdengar dari kejauhan, riuh namun hangat, seperti riang yang datang tanpa permisi. Terry menarik pergelangan tanganku pelan.

“Ayo,” ucapnya, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan dunia baru.

“Kota ini berubah hari ini. Kau harus melihatnya dari dekat.”

Kami masuk ke arus manusia, tawa, sorak, ramah-tamah, dan suara langkah yang menyatu dengan lantunan fiddle yang dimainkan oleh sekelompok musisi jalanan. Cuacanya dingin, tapi suasananya hangat seperti ruang tamu keluarga. Anak-anak berlari memakai topi hijau raksasa, orang dewasa membawa pint ale, dan bangunan-bangunan kota dihiasi cahaya yang perlahan berubah kehijauan. Di tengah keramaian itu, aku sempat menatap Terry. Hujan telah menempel di ujung bulu matanya, tetapi entah kenapa itu justru membuatnya tampak lebih hidup, lebih nyata. Seolah-olah seluruh kota London sedang merayakan sesuatu, namun aku merayakan kedatangannya.

“Indah, kan?” katanya.

“Ya,” jawabku, meski mataku sedang melihat hal lain.

“Lebih indah dari yang kubayangkan.” kataku.

Ia tertawa pelan, suara yang rasanya cukup untuk menghangatkan telapak tanganku yang dingin.

“Ayo,” katanya sambil menepuk kantong mantel,

“kota sudah menunggu kita.”

Terry memegang lenganku agar aku tak terseret kerumunan. Sentuhan itu sederhana, namun cukup membuat detak di dadaku berubah tempo.

“Indah, ya?” katanya mendekat, suaranya nyaris tersapu sorak-sorai.

“Indah… bahkan terasa lebih hangat daripada yang kubayangkan.” jawabku.

Aku masih takjub, aku tidak pernah membayangkan kota sebesar London bisa berubah begitu cepat menjadi lautan warna, suara, dan denyut yang tak bisa kusebut selain… kehidupan itu sendiri. Ketika aku dan Terry menembus kerumunan di sekitar, langkah-langkah kami seolah ikut menyeret napas yang tak henti terpukau. Di udara, aroma bir yang manis, suara tawa yang mengalir bebas, dan irama drum Irlandia yang memantul di antara gedung-gedung tua membuatku sesekali berhenti tanpa sadar. Kami berhenti di dekat seorang perempuan tua yang memainkan biola, nadanya jernih dan bergulir seperti sungai kecil di pedalaman Irlandia. Musiknya membuat waktu melambat, orang-orang yang melintas seakan bergerak dalam tarian kecil tanpa mereka sadari. Di tengah kerumunan parade yang bergelombang seperti arus hangat yang tak pernah berhenti, kami berdiri berdekatan, nyaris bersentuhan. Warna-warna hijau berkibar di udara, bendera, syal, topi, bahkan cat wajah anak-anak yang meloncat kegirangan. Musik tiup dari marching band menyelinap ke sela-sela langkah kami, menggetarkan trotoar yang basah oleh sisa gerimis pagi. Di antara sorak-sorai dan tawa yang mengalun seperti gelombang panjang, keduanya seolah menemukan ruang kecil yang hanya milik kami. Aku merapatkan mantel, sementara Terry sedikit memiringkan tubuhnya agar angin tak langsung mengenai wajahnya. Tanpa kami sadari, tangan kami sesekali bersentuhan ringan, singkat, namun cukup untuk menaruh kegelisahan manis di dada. Parade bergerak perlahan, membawa boneka raksasa berwarna hijau, penari dengan rok berayun, dan para pemain drum yang memukul ritme seperti detak jantung kota. Namun bagi kami, dunia luar terasa bergeser ke belakang… menjadi latar, menjadi gema.Terry melirikku, rambutnya sedikit tertiup angin, dan aku mendengar Terry tertawa kecil, tawa yang tak begitu keras, tapi cukup untuk membuatku menoleh.  Terry menatapku sesaat, sebuah tatapan tenang, seolah ingin memastikan aku menikmati setiap detiknya.

“Kau tahu?” ujarnya pelan,

“bagiku, St. Patrick’s Day selalu jadi hari ketika kota ini terasa lebih jujur. Tidak formal, tidak kaku. Hanya… manusia dan kegembiraannya.”

“Apa itu alasan kau mengajakku datang?” tanyaku sambil menahan senyum.

Ia tertawa kecil, sedikit gugup.

“Ho-uh… mungkin saja.”

Lalu ia menunduk sebentar, seperti menyembunyikan rona yang tiba-tiba muncul di wajahnya. Suaranya meresap keluar pelan.

“Dari ribuan cara mati tenggelam, orang-orang pasti lebih memilih mati tenggelem diantara kedua matamu. Dan lalu ribuan orang tenggelam dalam ketidakberdayaan…”

Ia mengangkat wajahnya sedikit, matanya bergetar seperti ingin berkata sesuatu yang lebih dari sekadar kalimat itu.

“Oleh karena itu, tak perlu laut…,” ia melanjutkan dengan nada yang lebih rendah, lebih dekat,

“dalam upaya menenggelamkanku, cukup berikan matamu saja… sudah cukup.” tuturnya.

“Kalau begitu…,” ucapku perlahan, merasakan detak jantungku sendiri seperti bergeser dari tempatnya,

“kubiarkan kau tetap hidup di permukaan mataku, meski hanya setipis cahaya sore.”

Ia menatapku setajam silet,

“Karena jika kau tenggelam… kau akan tenggelam dengan cara paling menawan, cara yang hanya bisa diberikan oleh seseorang yang membuat dunia terasa lebih tenteram sekaligus lebih berarti,” bisikku,

Lalu aku tersenyum kecil.

“Dan jika mataku adalah lautnya… maka barangkali kau sudah lama terapung di sana, tanpa berniat kembali ke darat.” tambahku,

Kami berdiri begitu dekat, hanya berjarak sejengkal. Tatapan kami saling bertaut, perlahan tangan kami pun saling menemukan, menggenggam dengan hati-hati, seolah dunia di sekitar, kerumunan sekitar, berubah menjadi semut-semut yang berjalan kembali ke sarangnya. Sedangkan kami menjelma kolibri yang hinggap sama-sama memakan nektar bunga.

“Kau tahu?...” bibirnya sedikit bergetar,

“aku ingat saat aku menyediakan kursi untukmu di Pavilion, kemudian kita berjalan menyusuri lintasan waktu sambil mengedipkan mata berkali-kali, dan kau tahu? itu membuatku meriang. Aku bahkan tidak memperhatikan rambutmu saat itu dan aku tidak tahu pada akhirnya bahkan…, aku bisa.. disini, berdiri disini denganmu, lalu menatapmu dengan sangat dekat. Dan brengseknya lagi, tidak ada yang bilang, kalau tanganmu telah dibuat pas dengan bentuk tanganku, tawa yang kau buat sangatlah menggangguku. Tapi sekarang, lihatlah…! seperti aku sedang dibius olehmu, mungkin aku harus mengatakan, agar membuat semua ini menjadi mudah,” ujarnya,

“semua apa?” tatapku.

“Aku mencintaimu.” jujurnya.

Lalu angin tiba-tiba telah mengubah arahnya,

“Didalam kepalamu itu, seluruh dunia akan menjadikan penginapan satu malam.” tuturnya.

“Dan aku sejujurnya, tidak pernah memaksa siapapun untuk memilihku. Jika kau merasa bisa menemukan lebih baik di tempat lain, maka pergilah. Aku tidak akan menahanmu. Hidup terlalu singkat, untuk bergantung pada orang yang tidak yakin untuk menetap. Karena aku orang yang percaya pada kebebasan, kehendak tuhan. Jika kau harus tinggal, berarti disinilah tempatmu berada. Bukan karena aku memintamu. Aku ingin menjadi bagian pilihan, bukan pilihan satu-satunya. Aku pantas mendapat orang yang dapat melihat nilaiku, yang paham apa yang kubawa ke hidup mereka, aku tidak ingin orang bersamaku merasa takut lagi, kesepian, atau kebiasaan. Pintu selalu terbuka, kau bebas pergi kapan saja. Jadi jika kau berpikir kebahagiaanmu ada di tempat lain. Aku tidak akan menghalangi jalanmu.” jelasnya, tak ada sedikitpun keraguan dari sorot matanya.

“Tentu, akupun bisa merasakan ketulusan itu, siapun mungkin dapat memahaminya,” kataku pelan,

“dan aku pun mungkin salah satu orang yang bisa dibilang, beruntung, atau rugi… ”

“beruntung, karena dapat menyaksikan keindahan kata-kata yang keluar dari tutur katamu. Dan betul-betul rugi, karena telah menolak menjadi bagian dari pilihan itu tadi.” Aku tersenyum lebar.

Terry ikut tersenyum, kali ini membentang seluas hamparan jalanan kota. Angin membawa serpihan kertas hijau melayang melewati kami, seperti hujan kecil yang diberkahi keberuntungan. Aku merasakan dadanya hangat, seluruh tubuhnya seolah dipeluk oleh sesuatu yang tak kasat mata, entah perayaan itu, entah Terry sendiri, atau keduanya. Aku mendekat, hanya benar-benar setengah jengkal jarak yang tersisa. Kerumunan menjadi latar samar, warna-warna memudar namun cahaya pada wajah Terry tetap terang. Terry mengangkat tangan dan menyentuh pipiku dengan hati-hati, seakan takut sentuhan itu akan memecahkan sesuatu yang rapuh namun indah. Dan di momen itu, tanpa aba-aba dari musik, tanpa jeda dari kerumunan, kami saling mendekat. Bibir kami bertemu dalam kehangatan yang manis dan ragu sekaligus, seperti dua hati yang baru belajar berani. Kerumunan tetap bersorak, musik tetap mengalun, namun bagi kami waktu berhenti mengalir sejenak. Kami tidak tahu apakah dunia sedang mengamati, atau apakah nasib akan berubah setelah ini. Yang kami tahu hanya satu, yaitu di tengah parade St. Patrick’s Day yang meriah, di tengah hiruk pikuk yang mengguncang jalanan London, kami akhirnya menemukan satu perayaan kecil yang hanya milik kami berdua. Dan kemudian, kami lanjut menepi di sebuah latar pub kecil yang penuh tawa, roti, soda dingin, dan lagu-lagu rakyat yang dinyanyikan bersama sekelompok pria yang lupa lirik di tengah jalan. Tanpa sadar, aku dan Terry duduk semakin dekat, seolah seluruh bangku kayu itu merapatkan kami agar tidak kehilangan satu sama lain di tengah hiruk pikuk. Ketika malam turun dan kota mulai menyalakan lampu-lampu hijau di jembatan serta gedung pemerintah, kami berjalan pulang melewati trotoar basah. Tawa orang-orang masih terdengar dari kejauhan, namun di antara kami justru tercipta keheningan, semacam keheningan yang tidak memisahkan, tetapi menghubungkan.

“Terima kasih sudah ikut denganku hari ini,” kata Terry sambil memasukkan kedua tangannya ke saku mantel.

“Aku yang harus berterima kasih,” jawabku.

“Entah kenapa… hari ini terasa seperti membuka pintu kecil dalam diriku.” tambahku.

Ia menoleh, wajahnya tenang diterpa lampu jalan.

“Untukku juga.” ia tersenyum kecil.

Kami melanjutkan langkah, perlahan, menyusuri London yang masih bersinar hijau. Dan di dasar hatiku, di sebuah wilayah kecil yang tak terganggu oleh apa pun, nama Terry menyalakan cahayanya sendiri. Mungkin itulah cara perayaan bekerja pada akhirnya, membuat dunia lebih hidup, dan membuat seseorang di sampingnya terasa lebih dekat daripada sebelumnya. Bus malam melintas, menciptakan angin kecil yang mengibaskan ujung mantelku, kami berjalan lagi, langkah kaki yang selaras, seolah trotoar panjang itu membentangkan jalan hanya untuk kami berdua. Di kejauhan, suara musik Irlandia dari pub terakhir yang belum tutup mengalun lembut, tapi terasa jauh, seperti kenangan yang mulai menenangkan diri. Saat kami tiba di gerbang kampus, yang mulai diselimuti kabut tipis, Terry berhenti.

“Hari ini… rasanya seperti permulaan,” ucapnya dengan nada hati-hati, namun tulus.

Aku menatapnya lama, bibirnya menahan senyum yang tak bisa dicegah.

“Begitu pun untukku.”

Dan di tengah keheningan yang membungkus malam itu, kami hanya berdiri berdekatan, tidak terburu-buru, tidak canggung. Dunia terasa lebih kecil, lebih sederhana. Angin malam menyentuh pipi kami berdua, seperti memberkati sesuatu yang diam-diam tumbuh di antara dua hati yang sebelumnya tak terlalu saling memperhatikan. Pada akhirnya kami saling berpamitan, dan entah kenapa, pikiranku tiba-tiba berhenti di satu titik paling terpcencil, seakan dunia kali ini benar-benar menyalakan lampu kecil tepat di dalam dadaku. Ada sesuatu tentang takdir yang terasa begitu istimewa, bukan karena ia sederhana, melainkan justru karena ia penuh simpul yang sulit diuraikan. Ketika segala sesuatu tampak rumit, ketika jalan-jalan hidup seperti berbelok tanpa pemberitahuan, aku sadar… tak ada yang benar-benar bisa kusalahkan. Semua terjadi seperti arus yang memilih jalannya sendiri, kadang tenang, kadang membentur dinding batu, lalu kembali mengalir dengan cara yang tak pernah terduga. Dia memang bukan sosok yang dulu pernah kubayangkan. Bukan seseorang yang kutulis dalam angan masa kecil, bukan pula yang kutunggu di peron kehidupan. Namun entah bagaimana, kehadirannya justru mengisi celah yang tidak pernah kusadari ada. Ada sesuatu darinya, entah langkahnya, caranya memanggil namaku, atau tatapannya yang selalu ingin memahami, yang membuatku tetap bertahan, tetap ada di sini, menatap hari-hari berikutnya dengan sedikit keberanian baru. Kadang aku merasa takdir sengaja memutar semuanya, menarikku ke arah yang tak kupilih, hanya agar aku menemukan diriku sendiri melalui jalan yang lebih lembut. Dan di jalan itu… ada dia, berdiri begitu biasa, namun menghadirkan sesuatu yang tak bisa kugantikan. Mungkin terkadang, begitulah cara dunia bekerja, tidak memberi yang kita inginkan, tetapi memberi yang tanpa sadar kita butuhkan. Dan aku, tanpa bermaksud, tanpa rencana apa pun… memilih untuk percaya.

*

 

Lihat selengkapnya