Suasana pagi ini begitu terasa indah karena matahari pagi mulai menampakan dirinya, serta burung-burung mulai berkicau dan beterbangan mencari makanan.
Kami pun telah siap mendaki pulau padar pagi ini dengan pakaian olahraga masing-masing, namun aku dan Leo lebih dulu menaiki sekoci baru disusul dengan Brian, Megan dan Lintang.
Setengah jam kami mendaki pulau padar dan berfoto-foto di pulau padar, kami memilih makan siang di kapal pinisi yang kami sewa karena harus segera kembali ke Hotel mengingat sorenya kami akan pulang ke Jakarta.
Berkutat dengan ponsel pintar ku sejak pulang dari pulau padar, aku merasa janggal karena dia menatapku lekat sedari tadi. Membuatku bertanya tanpa berpikir panjang "Ada apa?" Tanyaku.
"Tidak apa apa. Hanya merasa cemburu saja" jawabnya.
"Cemburu?" Ulangku.
"Iya, entah siapa lagi laki laki yang sedang kamu hubungi sedari tadi" ujarnya ketus seraya bangkit dari keterdudukan.
Memasukan ponselku ke saku dan mengekori nya dari belakang akupun menjelaskan. "Aku cuma bahas kerjaan sama Mas Regas kok, bukan sama orang asing".
Mendengar ucapanku langkahnya pun terhenti hingga aku menabrak punggungnya yang lebar dan dia berbalik badan menghadapku. "Cuma? Really? Kamu bilang cuma?" Ujarnya.
"Maaf aku gak bermaksud buat kamu cemburu. Tapi, ini soal profesionalitas aku aja terhadap pekerjaan aku" ujarku memberi penjelasan.
"Kapan sih kamu benar-benar menikmati waktu kita berdua? Tanpa harus ngurusin soal pekerjaan kamu itu? Ini bukan pertama kalinya loh kita liburan bersama dengan kamu yang sibuk sendiri sama urusan pekerjaan kamu ca!" Jawabnya mengeluhkan hal yang sama tiap kali kami berlibur bersama.
"Maaf. Tapi pekerjaanku juga penting" keluh ku yang tidak bisa mengabaikan urusan pekerjaan.
"Sekarang kamu pilih deh! Kerjaan kamu atau hubungan kita" ujarnya membuat napasku tertahan dan dadaku terasa berat untuk bernapas.
"Apa sih! Kamu jangan membuat pilihan seperti itu! Karena sampai kapan pun hubungan kita dan pekerjaan aku sama pentingnya" jawabku menepis pilihan yang di ajukan Leo.
Melihatnya tersenyum pahit dan menatapku lekat, membuatku memahami perasaannya saat ini. Sehingga perlahan aku meraih tangannya untuk aku genggam. "Aku tau kamu kecewa, tapi sungguh aku hanya profesional aja sebagai kepercayaan Mas Regas"
"Baiklah, kalau begitu urus saja pekerjaan kamu dan soal hubungan kita lebih baik kita break untuk saat ini" pinta Leo membuat tubuhku lemas dibuatnya.
"Leo, please jangan seperti ini" keluhku.
"Kamu yang pilih seperti ini Ca!" Ujarnya.
"Baiklah kalau memang itu yang jadi keputusan kamu! Aku juga gak akan mengemis lagi untuk mempertahankan hubungan kita" tegasku.
"Bagus! Salam dari aku untuk Mas Regas dan tolong ucapkan terimakasih karena sudah berhasil merebut waktu kamu dari aku" ujarnya seraya melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan aku dengan kehampaan.
Pasalnya tiap ada pertengkaran aku yang selalu menjadi pengemis agar hubungan ini baik-baik saja. Leo bahkan hanya memikirkan perasaannya saja tanpa perduli bagaimana perasaan aku terhadap dirinya.
Mendorong koperku untuk masuk bagasi pesawat, kami pun bertukar tempat duduk. Leo tidak lagi mau duduk di sebelahku melainkan duduk di sisi Lintang, sedangkan aku duduk bersisian dengan Megan.
Aku tau ini akan terjadi, makanya aku sudah menyiapkan diri. Aku sengaja memejamkan mataku selama di pesawat karena aku tidak ingin memberikan klarifikasi apapun kepada teman temannya kenapa kami duduk terpisah.
Sesampainya di Jakarta, kami semua langsung menaiki mobil Brian yang dikemudikan oleh supir pribadinya. Kemudian aku meminta agar aku diantar lebih dulu daripada yang lain dan Brian menyetujui itu.
Sementara Leo, sedari tadi hanya memejamkan matanya atau sekedar mengecek ponsel ditangannya tanpa menghiraukan aku atau pun teman teman yang lain. Ya, seperti ini lah kebiasaan buruknya ketika marah.