"Ca. Makasih ya" ungkap Mas Ragas dengan tatapan lekat seraya tersenyum.
"Hati hati ya Mas" Peringatku mengabaikan ucapan terimakasih nya yang sudah kesekian kali saat sepanjang perjalanan.
"Iya. Aku pulang ya" ujarnya membuatku menganggukkan kepala seraya tersenyum dan melambaikan tangan begitu mobilnya berlalu pergi.
Melanjutkan langkah memasuki lobby apartment, aku langsung disambut oleh tepuk tangan dari Leo yang tiba tiba saja muncul entah dari mana.
Syok
Itulah yang saat ini aku rasakan, bahkan membuatku mundur beberapa langkah dari hadapannya. Leo yang berada di hadapanku saat ini begitu menakutkan, wajahnya kini kian tegas dan memerah serta tangannya terlihat sudah mengepal erat.
Menelan silivaku secara kasar, dengan penuh keberanian aku meraih tangannya. Namun, lantas dia tepis hingga aku hampir goyah menjatuhkan diri ke lantai.
"Bagus ya Ca! Hebat kamu! Baru beberapa jam aja hubungan kita selesai, kamu udah asik jalan sama bajingan itu?!" maki Leo dengan nada tinggi dan menatapku nanar.
"Kamu salah paham Leo" ucapku menenangkan dan mencoba sekali lagi meraih lengannya dan kali ini dia kembali menepisnya.
"Salah paham? Oh, jadi maksud kamu ini soal kerjaan lagi gitu?" Tanyanya membuatku mengangguk dan mendapatkan lenganku dia cengkram erat.
"Sakit Leo!!" rintihku karena dia memaksa aku berjalan mengekorinya dari belakang.
"Bisa bisa nya kamu playing victim ca. Kamu nuduh aku ada apa apa sama perempuan lain padahal kamu yang ada apa apa sama bajingan itu" tuturnya dengan nafas yang terengah menahan amarah seraya membuka pintu kamar apartement dan menghempaskan aku ke sofa di ruang tengah.
"Awww" jeritku yang terjungkal duduk di sofa.
"Siapa dia?" Tanyanya tepat di depan wajahku seraya menangkup pipiku dalam cengkramannya yang sangat erat.
"Mas Ragas, Vice Branch Manager di kantor" jawabku dengan mata yang mulai berkaca kaca menatap mata Leo.
"Suka sama dia?" Tambahnya bertanya dengan tatapan kalut dan cengkeramannya semakin lama semakin erat.
"Sakit" rintihku yang masih tidak dia tanggapi dan nafasnya terasa berat dan terengah.
"Sekali lagi aku tanya kamu suka sama dia,Ca?" Tanyanya meneriakiku dan hal ini membuatku refleks menutup mata menangis dan terisak.
Tidak ada jawaban dariku atas pertanyaan yang dia ajukan, membuatnya lantas melepaskan cengkeramannya dan ketika aku membuka mata Leo sudah masuk kedalam kamar.
"Aku pamit. Maaf kalau sikapku membuat kamu takut" ucapnya tepat ketika keluar dari kamar dengan satu koper besar yang dia bawa di sebelahnya.
Bangkit dari keterdudukan, aku pun segera menghampirinya dan memeluknya sangat erat dan terisak semakin kencang. "Aku gamau kita kaya gini, Le"
"Tapi di hati kamu udah bukan aku lagi" ujarnya seraya mengelus bahuku lembut.
"Tapi kamu yang memutuskan hubungan kita" jawabku meluruskan awal permasalahan ini muncul.
"Aku pamit, Ca. Makasih sudah mau nerima aku masuk di hidup kamu" tuturnya seraya melepaskan diri dari pelukkan ku.
Drrtttt.. drrtttt...
[Rachel Calling]
Sekilas melihat nama tersebut itu lagi tertera di panggilan masuk ponsel Leo, aku lantas menjauh dan menghapus dengan cepat air mataku.
Sia sia.
Mungkin Leo memang menginginkan wanita itu makanya dia memutuskan hubungan kami begitu saja dengan aku yang menjadi kambing hitamnya. Baiklah, maka aku pun harus bisa terbiasa tanpa dia lagi mulai sekarang.
Janji.
"Aku rasa kamu benar. Kita memang harus selesai" ucapku tersenyum tipis membuatnya menolak sambungan masuk dan menatapku lekat.