Hujan di Seoul terasa berbeda. Dinginnya tidak hanya menyentuh kulit, tetapi seolah-olah menembus hingga ke tulang, merembes masuk ke dalam rongga dada, dan menekan segala perasaan yang selama ini berusaha aku simpan rapat-rapat. Di bawah payung hitam yang sudah agak usang ini, aku berdiri mematung di tepi trotoar yang basah, menatap jalanan yang sibuk dengan lampu-lampu kendaraan yang berkilauan memantulkan butiran air. Kota ini megah, indah, dan berkilau—seperti sebuah permata yang dipoles sempurna. Namun, bagi gadis sepertiku yang datang dengan tangan kosong dan masa lalu yang pincang, Seoul terasa seperti istana kaca yang dingin; indah untuk dipandang, namun tajam dan bisa melukai siapa saja yang berani terlalu mendekat.
Namaku Sabrina. Dua puluh enam tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Indonesia, sebagai anak yang dinantikan namun kemudian menjadi anak yang ditinggalkan. Sejak usia sepuluh tahun, kata "rumah" bagiku hanyalah sebuah definisi di dalam kamus, tanpa arti yang nyata. Kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa Ayah dan Ibu mengubah seluruh duniaku dalam sekejap mata. Dunia yang dulu hangat, penuh canda, dan aroma masakan Ibu, berubah menjadi ruangan yang sunyi, dingin, dan penuh dengan tatapan iba dari orang-orang di sekitarku.
Aku besar di sebuah panti asuhan sederhana, dibesarkan oleh Bu Hartati—wanita tua yang lembut namun tangguh, yang menjadi satu-satunya sosok ibu yang aku kenal seumur hidupku. Di sana, aku belajar satu hal penting: untuk bertahan, kamu tidak boleh lemah. Air mata hanya akan membuat orang lain semakin melihatmu sebagai objek yang patut dikasihani, dan aku benci dikasihani. Aku ingin dihargai, aku ingin dilihat, dan yang paling utama—aku ingin membuktikan bahwa meski aku lahir tanpa harta, tanpa gelar, dan tanpa keluarga utuh, aku tetap bisa menjadi seseorang.
Itulah mimpi yang kubawa bersamaku saat aku memutuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan tanah air, menyeberangi lautan yang luas, menuju negeri yang dikenal dengan nama Negeri Ginseng. Keputusanku datang bukan karena keberanian yang meluap-luap, melainkan karena kehabisan pilihan. Di tempatku dilahirkan, peluang terasa sangat sempit, seolah-olah takdir sudah ditentukan sejak lahir: anak yatim, miskin, tidak punya koneksi—maka masa depanmu pun akan sama persis. Aku menolak menerima takdir itu. Aku ingin menulis ceritaku sendiri, meski aku tahu kertas yang kugunakan mungkin penuh dengan noda dan sobekan.
Sampai di Seoul, kenyataan menamparku dengan keras. Mimpi yang terlihat indah dari kejauhan, ternyata memiliki sisi yang sangat tajam saat diinjak. Aku datang dengan kemampuan bahasa Korea yang hanya aku pelajari sendiri dari buku dan video daring, dengan tabungan yang hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan, dan tanpa kenal siapa pun di sini. Bulan-bulan pertama adalah masa terkelam dalam hidupku. Tidur di kamar petak yang lembap, makan hanya secukupnya agar perut tidak keroncongan, dan bekerja apa saja demi segepok uang kertas yang nilainya terasa begitu kecil dibandingkan mahalnya hidup di kota ini.
Aku pernah menjadi pencuci piring di restoran pinggir jalan, pembantu rumah tangga, hingga pekerja paruh waktu yang mengangkut barang di pasar. Tubuhku yang mungil sering kali dipaksa bekerja melebihi kemampuannya, hingga lelah itu terasa bukan lagi sebagai rasa sakit, melainkan teman akrab. Ada malam-malam di mana aku duduk sendirian di lantai kamar yang dingin, menahan tangis agar tidak terdengar oleh tetangga, dan bertanya pada diriku sendiri: “Sabrina, apa kamu salah datang ke sini? Apakah tempat ini memang tidak pernah ditakdirkan untuk orang sepertimu?”
Namun, setiap kali rasa putus asa itu datang menyerang, bayangan wajah Bu Hartati dan pesan sederhananya selalu terngiang jelas di telingaku: “Nak, rumah bukanlah tempat kamu dilahirkan, melainkan tempat di mana kamu merasa dihargai dan dicintai. Teruslah melangkah sampai kamu menemukannya.” Kata-kata itulah yang menjadi bahan bakarku. Aku tidak boleh pulang dengan tangan kosong dan kepala tertunduk. Aku harus terus berjalan, meski langkah itu berat, meski jalannya berlubang dan penuh duri.
Perubahan besar dalam hidupku terjadi dua tahun setelah aku menginjakkan kaki di Seoul. Saat itu, aku sedang bekerja sebagai staf kebersihan dan pendukung di sebuah agensi hiburan besar. Pekerjaannya kasar, aku hanya dianggap sebagai bagian dari perlengkapan kantor—ada, tetapi tidak perlu dilihat atau diajak bicara. Tugasku hanya memastikan ruangan bersih, kopi tersaji, dan segala keperluan terpenuhi tanpa banyak bertanya. Di sanalah aku pertama kali melihat mereka: BEAST, grup idola yang namanya sangat harum, yang kemudian berganti nama menjadi HIGHLIGHT.
Bagi dunia, mereka adalah bintang-bintang yang bersinar terang, dicintai jutaan orang, hidup dalam kemewahan dan popularitas. Namun dari balik layar, aku melihat sisi lain dari kehidupan mereka yang tidak pernah terlihat oleh mata penggemar. Aku melihat betapa kerasnya mereka berlatih hingga keringat membasahi seluruh tubuh, betapa sedikitnya waktu istirahat yang mereka miliki, betapa lelahnya mata mereka di balik senyum yang selalu harus ditampilkan sempurna. Dan di antara kelima pria itu, ada satu sosok yang paling sering menarik perhatianku—bukan karena ia yang paling populer atau paling tampan menurut standar orang banyak, melainkan karena tatapannya.
Yong Junhyung.
Ia selalu terlihat dingin, tertutup, jarang tersenyum, dan lebih sering berdiri sedikit terpisah dari yang lain. Orang-orang menganggapnya sombong atau angkuh. Namun, entah mengapa, setiap kali matanya tanpa sengaja bertemu dengan mataku—seorang gadis asing yang hanya pekerja rendahan—aku melihat sesuatu yang lain di sana. Ada kelelahan yang mendalam, ada kesunyian yang sama dengan yang aku rasakan, dan seolah-olah di balik sikap dingin itu, ia sedang membangun tembok tinggi agar tidak ada yang bisa menyakiti atau melihat kelemahannya.
Suatu hari yang hujan, nasib baik seolah-olah akhirnya tersenyum padaku. Manajer tim mereka sedang mencari seseorang yang teliti, jujur, dan mau bekerja keras untuk membantu mengurus administrasi serta keperluan pribadi anggota grup. Bukan posisi yang bergengsi, masih tergolong staf pendukung, tapi gajinya cukup layak dan pekerjaannya lebih terhormat daripada sekadar mengelap lantai. Dengan nekat, aku memberanikan diri melamar. Aku tidak punya ijazah bergengsi, tidak punya koneksi, dan aku orang asing. Aku pikir peluangku nol persen.
Namun, mungkin karena ketekunanku yang selalu bekerja tanpa mengeluh, atau mungkin karena keberuntungan kecil, aku diterima.
Hari itu adalah awal dari babak baru dalam hidupku. Aku menjadi bagian dari tim kecil yang mengurus mereka. Awalnya sulit. Bahasa, budaya, dan jarak status membuatku merasa sangat kecil. Aku berjalan berjinjit, takut salah bicara, takut salah langkah, takut keberadaanku hanya akan menjadi beban bagi mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai diterima. Bukan sebagai selebriti, bukan sebagai teman yang setara, tapi setidaknya sebagai orang yang bisa dipercaya.
Yoon Doojoon, sang pemimpin, tegas namun sangat peduli, sering mengingatkan anggota lain untuk menghormati staf. Yang Yoseob yang ceria dan hangat, sering mengajakku mengobrol dan tertawa, membuatku merasa sedikit lebih rileks. Lee Gikwang yang energik dan ramah, serta Son Dongwoon yang tenang dan bijaksana, perlahan membuat dinding pemisah itu menjadi lebih tipis.
Dan ada Junhyung.
Hubunganku dengannya memang tidak seakrab dengan anggota lain. Ia tetap pendiam, tetap jarang bicara. Namun, ia adalah orang yang paling sering memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari orang lain. Saat aku sakit dan memaksakan diri bekerja, dialah yang diam-diam meletakkan obat dan minuman hangat di mejaku tanpa sepatah kata pun. Saat aku kelelahan terjatuh tertidur di ruang tunggu, dialah yang meletakkan jaket tebal di tubuhku agar aku tidak kedinginan. Saat orang lain menganggapku hanya alat kerja, Junhyung memperlakukanku sebagai manusia.
Perhatian-perhatian kecil itu, yang tidak pernah ia ucapkan dengan kata-kata, perlahan menumbuhkan benih perasaan yang tidak seharusnya ada. Aku sadar betul siapa aku dan siapa dia. Ia bintang yang bersinar terang, aku hanyalah serbuk debu yang beterbangan di sekelilingnya. Cinta ini mustahil, gila, dan berbahaya. Namun, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati pada pria yang menjadi satu-satunya tempat aku merasa aman di tengah ribuan orang asing ini? Bagaimana mungkin aku tidak mencintai pria yang diam-diam melindungiku saat seluruh dunia terasa menakutkan?
Bertahun-tahun berlalu, aku tumbuh bersama mereka. Dari sekadar asisten yang serba takut, aku menjadi bagian yang tak tergantikan. Aku belajar banyak hal dari mereka: tentang kerja keras, tentang disiplin, tentang bagaimana tetap tegar meski dihujani kritikan. Dan berkat dukungan mereka—terutama desakan Junhyung yang bilang “Sabrina, kamu lebih hebat dari yang kamu pikirkan. Kamu pantas memiliki mimpimu sendiri”—aku akhirnya memberanikan diri melangkah lebih jauh.
Aku melepaskan pekerjaanku yang stabil itu, untuk membangun mimpi yang selama ini kusimpan rapat di dalam hati: sebuah tempat yang membawa rasa hangat seperti rumah, yang menyajikan cita rasa yang aku rindukan dari kampung halaman, dipadukan dengan kehangatan kopi yang aku pelajari di sini. Dengan tabungan yang kukumpulkan setetes demi setetes, dan sedikit bantuan serta dukungan moril yang tak terhingga dari Highlight, “Nusantara Taste” lahir. Sebuah kafe kecil yang sederhana di jantung kota Seoul.
Aku bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Dari bangun pagi hingga larut malam, aku meracik, melayani, membersihkan, dan mengurus segalanya sendirian. Kesuksesan tidak datang dengan mudah, namun kesabaran dan ketulusan rasanya ternyata didengar oleh banyak orang. Orang-orang mulai datang, penasaran, lalu jatuh cinta pada rasa dan suasana yang kubangun. Kabar tentang kafe milik mantan staf Highlight menyebar, dan dukungan para penggemar mereka luar biasa besarnya.
Dua tahun setelahnya, mimpi yang dulu terasa mustahil itu menjadi nyata. Aku berhasil membuka cabang kedua di kawasan elit Gangnam. Kini, aku bukan lagi gadis miskin yang tidur di kamar sempit. Aku adalah pemilik dua kafe yang cukup dikenal, dihormati, dan mampu hidup layak. Namun, anehnya, meski tanganku kini penuh dengan kesuksesan, hatiku masih terasa kosong dan gelisah. Aku memiliki segalanya yang dulu kuinginkan, tapi aku masih merasa seperti orang asing yang belum menemukan tempat untuk benar-benar berlabuh.
Hingga pada suatu sore musim semi, saat bunga sakura berguguran menari-nari tertiup angin, takdir kembali memutar roda nasibku dengan cara yang tak pernah aku duga. Di tengah kesibukan melayani pelanggan, aku bertemu dengan sepasang mata yang menatapku dengan cara yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tatapan yang penuh kekaguman, kelembutan, dan ketertarikan yang jujur—tanpa keraguan, tanpa tembok pembatas, tanpa rahasia.