Hari-hariku berlalu dengan ritme yang sama: bangun sebelum matahari terbit, bekerja sekuat tenaga, dan pulang saat langit sudah sepenuhnya gelap. Tiga bulan masa percobaan telah berlalu, dan syukurlah, kinerjaku dinilai memuaskan. Aku resmi diangkat menjadi staf tetap, bahkan perlahan mulai diberi tanggung jawab lebih besar hingga akhirnya dipercaya menjadi asisten pribadi tim Highlight. Kenaikan posisi ini membuat beban kerjaku semakin berat, namun gajiku pun ikut naik. Itu menjadi penyemangat terbesar bagiku. Setiap kali rasa lelah itu mendera hebat, aku hanya perlu mengingat tujuanku: bertahan, menabung, dan suatu hari memiliki sesuatu yang benar-benar milikku sendiri.
Selama bekerja di sana, aku semakin mengenal karakter kelima anggota grup ini. Yoon Doojoon yang tenang dan tegas, sering menjadi tempat kami para staf bertanya jika ada masalah rumit. Yang Yoseob dengan tawanya yang ceria, selalu berhasil mencairkan suasana tegang. Lee Gikwang yang energik dan ramah, tak segan membantu mengangkat barang berat jika melihatku kesulitan. Son Dongwoon yang cerdas dan dewasa, sering memberikan pandangan yang bijak meski usianya termuda.
Namun, sosok yang paling menarik perhatianku—dan sekaligus yang paling sulit dipahami—tetaplah Yong Junhyung.
Di mata publik, ia dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu yang jenius, lirik-lirik ciptaannya selalu dalam dan penuh makna. Tapi di dunia nyata, di balik layar, sosok Junhyung jauh lebih tertutup, pendiam, dan sering kali terlihat dingin. Ia jarang tersenyum, lebih suka menyendiri, dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis atau mendengarkan musik daripada mengobrol santai. Rekan-rekan kerjaku sering berbisik bahwa Junhyung adalah anggota yang paling sulit dilayani, teliti, dan perfeksionis. Mereka menyarankan agar aku berhati-hati, jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun di hadapannya.
Namun, kejadian malam hujan itu terus terngiang di ingatanku. Pria yang memberikan jaketnya, yang menolongku saat aku terjatuh, dan yang memberikan nasihat berharga itu—ia tidaklah sedingin yang orang lain kira. Ada sisi lain dari dirinya yang tersembunyi, yang hanya muncul saat tidak ada orang lain yang melihat.
Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa perhatian diam-diam itu tidak berhenti hanya pada kejadian itu saja.
Suatu siang yang terik, jadwal mereka sangat padat. Mulai dari syuting acara varietas, rekaman lagu baru, hingga wawancara majalah. Kami semua bergerak cepat, tidak ada waktu untuk istirahat yang layak. Aku sibuk membagikan air mineral, handuk, dan memastikan jadwal berjalan tepat waktu. Keringat membasahi pelipis, tenggorokanku terasa kering, tapi aku tak sempat memikirkan diriku sendiri. Fokusku hanya satu: memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.
Saat jeda istirahat singkat tiba, aku duduk sejenak di sudut ruang tunggu, menyandarkan punggung di dinding sambil menghela napas panjang. Rasanya tenagaku seolah tersedot habis. Tanpa kusadari, mataku terpejam sejenak, hanya untuk mengistirahatkan penglihatan yang lelah.
"Kamu belum makan?"
Suara berat yang kukenal itu tiba-tiba terdengar tepat di hadapanku. Aku tersentak kaget dan langsung membuka mata. Di sana, berdiri Yong Junhyung sambil menatapku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan—bukan marah, tapi juga tidak tersenyum.
Aku buru-buru berdiri tegak, membersihkan pakaianku yang sedikit kusut. "M-maaf, Junhyung-ssi! Saya tidak tertidur, cuma istirahat sebentar saja. Kalau ada yang dibutuhkan, saya segera siapkan."
Junhyung menggeleng pelan, lalu menyodorkan sesuatu ke arahku. Sebuah kotak makanan ringan dan sebotol susu hangat.
"Makan dulu," ucapnya singkat. "Wajahmu pucat sekali. Kalau kamu jatuh pingsan nanti, yang repot kami juga."
Aku menatap bingung pada makanan yang ada di tangannya. "Tapi... ini kan bekal kamu, Junhyung-ssi? Saya masih bisa menahan diri, nanti kalau sudah selesai baru saya cari makan."
"Sudah kubilang ambil saja," potongnya tegas, namun nadanya tidak kasar. "Aku masih kenyang. Jangan menolak, ini perintah."
Tanpa menunggu jawabanku, ia meletakkan makanan itu di tanganku lalu berjalan pergi kembali ke arah anggota lain sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih. Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu kembali menatap makanan di tanganku yang masih hangat. Hati kecilku terasa hangat sekali. Di tengah kesibukan dan dinginnya udara ruangan ber-AC, perhatian kecil ini terasa begitu berarti.
Dia memang aneh, batinku tersenyum tipis. Suka marah-marah atau bicara singkat, tapi selalu diam-diam menjaga orang di sekitarnya.
Kejadian-kejadian serupa terus berulang dalam berbagai bentuk.
Suatu kali, saat aku salah mengatur jadwal karena kebingungan dengan banyaknya catatan, manajer utama kami marah besar dan membentakku di depan semua orang. Aku terdiam, menunduk menahan air mata, merasa sangat bersalah dan takut akan dipecat. Rekan kerja yang lain hanya diam, tak berani membela. Namun tiba-tiba Junhyung angkat bicara.
"Itu salah saya, Manajer-nim," ucap Junhyung tenang namun tegas. "Saya yang lupa memberitahu perubahan jadwal terakhir tadi. Sabrina tidak bersalah, dia hanya mengikuti apa yang saya katakan."
Semua orang terdiam kaget, termasuk manajer yang langsung berhenti memarahi. Padahal aku tahu persis, Junhyung sama sekali tidak pernah memberitahuku hal itu. Ia hanya menutupi kesalahanku agar aku tidak dimarahi lebih lanjut.
Setelah manajer pergi, aku mendekatinya dengan perasaan sangat bersalah. "Junhyung-ssi, kenapa kamu membela saya? Padahal saya yang ceroboh, seharusnya saya yang menerima hukuman itu."
Junhyung sedang menyesuaikan tali sepatunya, ia mendongak sekilas lalu kembali menunduk. "Kamu masih baru di posisi ini, masih banyak yang belum kamu hafal. Wajar kalau salah. Dia terlalu keras padamu. Lagipula," ia berhenti sejenak, suaranya sedikit melembut, "kamu bekerja lebih keras dari siapa pun di sini. Kalau ada orang yang pantas dimarahi, itu bukan kamu."
Jantungku berdegup kencang mendengar kalimat itu. Ada rasa haru yang mendadak memenuhi dadaku.
"Terima kasih, Junhyung-ssi. Benar-benar terima kasih," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia hanya mendengus pelan, seolah malu karena telah memuji orang lain. "Jangan baper. Kerja yang lebih teliti lagi mulai sekarang, itu saja balasan yang saya minta."
Sejak saat itu, pandanganku terhadap pria itu berubah total. Aku mulai memahami sifat aslinya. Yong Junhyung adalah tipe orang yang tindakannya lebih keras daripada kata-katanya. Ia tidak pandai merangkai kata manis, tidak pandai memuji, dan tidak suka menampakkan kasih sayang secara terang-terangan. Namun, di balik sikap dingin dan jarang tersenyum itu, ia memiliki hati yang paling lembut dan peduli dibandingkan siapa pun yang pernah kukenal.
Ia akan menjadi orang pertama yang menyuruhku pulang lebih dulu jika melihatku terlalu lelah, dengan alasan yang seolah-olah mengusir: "Pekerjaan sudah selesai, kamu tidak perlu diam di sini seperti patung, pulanglah." Padahal aku tahu, ia hanya tidak ingin aku kelelahan berlebihan.
Ia selalu memastikan aku membawa payung saat cuaca mendung, tanpa perlu berkata banyak, payung itu akan ada di meja kerjaku dengan catatan kecil tulisan tangannya yang acak-acakan: "Hujan nanti."
Ia bahkan pernah membelikan obat saat aku batuk-batuk dan bersin terus-menerus selama seminggu, dengan alasan: "Nanti menular ke kami, repot jadinya konser minggu depan." Padahal jelas-jelas obat itu mahal dan dibelikan khusus untukku.
Perlahan namun pasti, rasa hormatku berubah menjadi rasa yang lebih dalam. Rasa kagum bercampur rasa aman yang luar biasa setiap kali ia ada di dekatku. Di antara ribuan orang di Seoul yang acuh tak acuh, Yong Junhyung adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa bahwa keberadaanku itu penting, bahwa aku diperhatikan, dan bahwa aku tidak sendirian.
Hubungan kami pun menjadi semakin dekat. Tidak lagi sekadar atasan dan bawahan, tapi seperti sahabat, atau bahkan kakak dan adik. Ia sering memanggilku saat sedang sendirian di ruang latihan, memintaku mendengarkan lagu ciptaannya yang baru jadi.
"Bagaimana menurutmu? Bagian nadanya terlalu tinggi tidak?" tanyanya suatu kali, saat kami berdua saja di ruangan kedap suara.
Aku mendengarkan dengan saksama, lalu tersenyum tulus. "Indah sekali, Junhyung-ssi. Liriknya sangat menyentuh. Rasanya seperti mendengar isi hatimu sendiri."
Junhyung terdiam sejenak, menatapku lekat-lekat. Untuk sesaat, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang sangat langka, namun membuat wajah tampannya bersinar sepuluh kali lipat.
"Kamu orang pertama yang mengerti maksud lagu ini dengan benar," ucapnya pelan. "Biasanya orang lain hanya menilai nadanya saja. Tapi kamu... kamu seolah bisa mendengar apa yang tidak terucapkan."
Hari itu, di bawah sorot lampu ruang latihan yang redup, aku sadar satu hal penting.
Aku, Sabrina, gadis yatim piatu berusia 29 tahun yang miskin dan asing ini, telah jatuh cinta. Cinta yang tumbuh perlahan, kokoh, dan mendalam pada pria yang dingin bagi dunia, namun hangat bagiku—Yong Junhyung.
Aku tahu cinta ini mustahil. Jarak antara kami terlalu jauh. Ia bintang besar yang dipuja jutaan orang, aku hanyalah asisten kecil yang tak dikenal siapa pun. Ia hidup dalam sorotan lampu kamera, aku hidup dalam bayang-bayang. Cinta ini tidak boleh ada, tidak mungkin terwujud, dan pasti akan menyakitkan.
Namun, aku tidak sanggup berbohong pada hatiku sendiri. Setiap kali ia menatapku, setiap kali ia bicara, setiap kali ia diam-diam menjagaku, rasanya seperti mendapatkan seluruh dunia yang selama ini tak kumiliki: rumah, keluarga, dan kasih sayang.
Biarlah, pikirku. Biarlah cinta ini kusimpan rapat-rapat di dalam hati, menjadi rahasia terbesarku. Selama aku bisa berada di dekatnya, melihatnya tersenyum, dan merasakan perlindungannya, aku sudah cukup bahagia. Aku tidak menuntut lebih. Cukup menjadi orang yang ia percaya, cukup menjadi orang yang ia anggap teman, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Di tengah riuh rendah kehidupan Seoul yang keras dan penuh persaingan, kehadiran Junhyung bagaikan pelabuhan tenang tempat aku berlabuh. Ia adalah misteri yang berhasil kupecahkan, dan ia adalah jawaban dari doa-doa sunyiku agar diberi kekuatan untuk tetap bertahan.
"Terima kasih sudah ada, Junhyung-oppa," bisikku pelan, menggunakan panggilan yang hanya berani kukatakan di dalam hati. "Kamu telah mengubah hidupku, lebih dari yang kamu tahu."
Dan perjalanan panjang kami pun terus berlanjut, melangkah bersama, menyusuri jejak-jejak perjuangan dan mimpi di kota Seoul ini, tanpa tahu bahwa takdir masih menyimpan banyak kejutan, ujian, dan pertemuan yang akan mengubah segalanya di masa depan.
Rasa itu kusimpan rapat dalam dada, seolah menyimpan bara api di dalam guci tanah liat. Aku tahu risikonya, tahu betapa tipisnya batas antara hubungan kerja dan perasaan yang tumbuh tanpa diminta. Setiap hari aku berusaha menjaga sikap—tetap sopan, tetap profesional, tidak melampaui batas yang seharusnya. Namun, bagaimana mungkin menahan getaran hati setiap kali matanya tanpa sengaja bertemu pandang denganku?