Hidupku kini terasa jauh lebih berwarna dan bermakna. Di satu sisi, aku bekerja dengan penuh dedikasi bersama Highlight, menjadi bagian dari perjalanan kesuksesan mereka yang kian bersinar. Di sisi lain, aku memiliki Junhyung—sosok yang menjadi sandaran hati, pelindung, dan sekaligus sumber kekuatan terbesarku. Cinta kami tumbuh perlahan, tersimpan rapi, namun terasa begitu nyata dan hangat.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu hal yang sering membuatku termenung sendirian. Meski gajiku sudah cukup layak dan aku bisa menabung sedikit demi sedikit, aku sadar bahwa menjadi asisten artis bukanlah pekerjaan yang bisa kugeluti selamanya. Pekerjaan ini menguras tenaga dan pikiran, dan suatu saat nanti, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri, memiliki sesuatu yang benar-benar milikku, sesuatu yang bisa menjadi tempatku pulang dan berkarya.
Sejak kecil, aku memiliki hobi yang menjadi pelarian saat aku sedih atau kesepian: memasak dan membuat minuman. Di panti asuhan dulu, aku sering membantu Ibu Hartati di dapur, memotong sayur, mengaduk adonan, hingga menyeduh teh atau kopi untuk teman-teman. Aku selalu merasa bahwa makanan dan minuman yang dibuat dengan hati bisa menenangkan perasaan siapa pun yang meminumnya. Rasa hangat dan manisnya, seolah mampu menghapus sejenak beban hidup yang berat.
Kebiasaan itu terbawa hingga aku bekerja di sini. Di sela-sela waktu istirahat, aku sering membawa bekal makanan atau kopi racikan sendiri untuk dibagikan kepada anggota dan staf lain. Aku melihat betapa mereka menikmatinya, melihat senyum lega yang terukir di wajah lelah mereka setelah menyesap kopi hangat atau menyantap kue buatan tangan sendiri. Pemandangan itu membuat hatiku puas dan bahagia luar biasa.
Suatu sore, setelah semua pekerjaan selesai, hanya ada aku dan Junhyung yang masih tinggal di ruang istirahat. Seperti biasa, aku menyeduh kopi dengan campuran rempah khas yang aku ingat resepnya dari tanah kelahiranku, lalu menyajikannya untuk kami berdua.
Junhyung menyesap perlahan, matanya terpejam sejenak menikmati rasa yang menyebar di lidahnya. Lalu, ia membuka mata dan menatapku dengan tatapan kagum.
"Sabrina," panggilnya lembut. "Kopi ini... rasanya berbeda dari apa pun yang pernah kucicipi selama hidupku. Hangat, kuat, tapi ada rasa manis dan lembut yang tersisa. Rasanya seperti dipeluk, seperti pulang ke rumah. Kamu hebat sekali membuatnya."
Wajahku memerah tersipu mendengar pujiannya. "Ah, kamu berlebihan, Oppa. Itu cuma racikan sederhana. Aku hanya memasukkan sedikit perasaanku saat membuatnya, itu saja."
Junhyung meletakkan cangkirnya, lalu menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang serius namun bersinar antusias.
"Kamu tahu tidak? Kemampuanmu ini bukan hal biasa. Rasanya unik, tulus, dan memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh kafe-kafe mahal di luar sana. Sabrina, kenapa kamu tidak membuka usaha sendiri? Membuka sebuah kafe kecil, tempat kamu bisa menampung semua resep dan rasa yang kamu miliki? Aku yakin, siapa pun yang datang ke sana akan merasa betah dan bahagia."
Jantungku seolah berhenti berdetak sejenak. Pertanyaan itu, saran itu... sebenarnya pernah terlintas sekilas di pikiranku sebagai mimpi yang terlalu tinggi, sesuatu yang hanya bisa kuhayalkan namun mustahil terwujud.
"Membuka kafe?" gumamku pelan, terdengar ragu dan tak percaya. "Oppa, kamu tahu kan saya orangnya siapa? Saya cuma gadis biasa, orang asing, tidak punya modal besar, tidak punya pengalaman bisnis, dan saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Itu mimpi yang terlalu besar buat saya. Saya takut gagal, takut rugi, dan takut kalau nanti usaha saya sepi tidak ada yang datang."
Junhyung menggeleng pelan, lalu tangannya yang hangat menggenggam tanganku di atas meja.
"Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri lagi, Sabrina. Kamu punya bakat, kamu punya ketekunan, dan yang paling penting—kamu punya hati yang tulus. Itu modal utama yang tidak dimiliki oleh pengusaha mana pun. Uang bisa dicari, pengalaman bisa dipelajari, tapi ketulusan tidak bisa dibeli."
Ia mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya lembut namun penuh keyakinan yang menular.
"Kamu sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun, menahan lelah, menahan lapar, menahan rindu. Sekarang saatnya kamu berjuang untuk dirimu sendiri, untuk mimpimu sendiri. Bayangkan saja, sebuah kafe kecil yang hangat, penuh aroma kopi dan masakan lezat buatanmu, menjadi tempat berteduh bagi siapa saja yang lelah, sama seperti kamu yang selalu menjadi tempat berteduh bagi kami. Bukankah itu indah?"
Bayangan yang ia gambarkan perlahan mulai terbentuk di kepalaku. Sebuah ruangan kecil yang hangat, beraroma wangi, penuh tawa, dan di sana aku bisa berkarya sepuas hati... Rasanya begitu indah, begitu sempurna, hingga membuat mataku berkaca-kaca.
"Tapi modalnya, Oppa... untuk menyewa tempat, membeli peralatan, dan izin usaha, biayanya pasti sangat mahal di Seoul ini. Tabungan saya belum cukup untuk itu," ucapku jujur, suara bergetar karena harapan yang mulai tumbuh namun terhalang oleh kenyataan.
Junhyung tersenyum, senyum yang penuh rencana dan keyakinan.
"Kamu lupa ada siapa? Ada aku, ada Doojoon, Yoseob, Gikwang, dan Dongwoon. Kami semua keluarga kamu, Sabrina. Kalau kamu berani memulainya, kami akan berani mendukungmu. Bukan sebagai sumbangan atau pemberian cuma-cuma, tapi sebagai investasi. Kami percaya padamu, kami percaya pada usahamu. Kamu bisa mencicilnya nanti kalau sudah berhasil. Yang terpenting sekarang adalah keberanianmu untuk melangkah."
Ucapan Junhyung membuat dadaku terasa penuh sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Selama ini aku selalu merasa sendirian, merasa harus mengurus segalanya sendiri karena tidak punya keluarga. Namun ternyata, aku salah. Aku memiliki mereka. Orang-orang hebat yang mencintaiku dan percaya padaku melebihi apa yang pernah kubayangkan.
"Kalian mau membantu saya? Benarkah itu?" tanyaku dengan mata yang sudah basah oleh air mata bahagia.