Love's Path In Seoul

Maghfira Izani
Chapter #9

Dukungan penuh dari Highlight

Dua hingga tiga hari setelah konser megah mereka di Tokyo Dome selesai, suasana masih terasa hangat oleh kesuksesan yang baru saja diraih. Sebelum kembali ke Seoul untuk melanjutkan rencana selanjutnya, seluruh anggota Highlight memutuskan untuk beristirahat sejenak dan berkeliling kota Tokyo. Mereka juga membawa peralatan sederhana untuk merekam mini vlog, sebagai kenang-kenangan sekaligus hiburan bagi penggemar.

Di tengah keramaian anggota yang saling bercanda dan sibuk mengatur kamera, Sabrina memilih berjalan agak di belakang. Ia tidak ikut larut dalam keriuhan itu, melainkan membiarkan pikirannya melayang jauh. Ia terus mempertanyakan perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya—sesuatu yang sulit dijelaskan, namun selalu membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.

Jang Hyunseung yang berjalan di sampingnya seolah bisa membaca kegelisahan itu. Ia menoleh, lalu tersenyum tipis. “Kau terlihat sering melamun belakangan ini. Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?” tanyanya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh anggota lain.

Sebelum Sabrina sempat membuka mulut untuk menjawab, Hyunseung melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih dalam dan serius. “Kalau soal Yong Junhyung, dengarkan aku. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Dia bukan tipe orang yang main-main dalam urusan hati. Kalau dia sudah menyayangi seseorang, dia akan sangat tulus dan royal. Bahkan, dia sering kali lebih memprioritaskan orang yang berarti baginya daripada pekerjaan atau kesibukan lainnya. Sikapnya itu sampai membuat banyak wanita lain tanpa sadar merasa cemburu melihatnya.”

Tak lama kemudian, rombongan tiba di loket penjualan tiket menuju Disneyland Jepang. Saat semua orang sibuk melihat daftar harga dan jenis tiket, pandangan Sabrina tanpa sadar melayang ke arah Junhyung. Dan di saat yang sama, mata Junhyung juga berbalik menatapnya. Waktu seolah berhenti sejenak saat tatapan mereka bertemu. Junhyung buru-buru memalingkan wajah seolah tidak terjadi apa-apa, meski samar terlihat pipinya memerah. Sabrina pun merasakan wajahnya memanas, terkejut dan gugup.

Karena terlalu terpaku pada kejadian tadi, Sabrina tidak menyadari langkah kakinya yang mundur perlahan. Bruk! Suara benturan terdengar pelan. Ia baru sadar bahwa ia telah menabrak punggung Son Dongwoon yang berhenti berdiri tepat di belakangnya. “Hati-hati ya,” ucap Dongwoon sambil menoleh dan tersenyum lembut, sementara beberapa anggota lain tertawa kecil melihat kejadian yang tak terduga itu.

Mimpi yang dulu hanya terlintas samar di benakku, kini perlahan mulai menjelma menjadi rencana nyata. Semangat yang membara di dadaku tak pernah surut, didorong oleh keyakinan dan dukungan luar biasa dari orang-orang terdekatku—keluarga baruku, kelima anggota Highlight. Sejak keputusan itu disepakati, mereka tidak sekadar berjanji lewat kata-kata, melainkan benar-benar menunjukkannya lewat tindakan nyata yang membuatku semakin terharu dan takjub.

Proses persiapan berjalan jauh lebih cepat dan lancar daripada yang kubayangkan. Dengan bantuan Dongwoon yang teliti dan cermat, urusan administrasi, perizinan, hingga kontrak sewa tempat berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Ia yang selalu memeriksa setiap baris kalimat dengan saksama, menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti dengan sabar, dan memastikan aku tidak dirugikan dalam bentuk apa pun.

"Jangan khawatir, Sabrina. Semuanya sudah kupastikan aman dan adil. Kamu adalah keluarga kami, jadi tidak boleh ada yang memanfaatkanmu," ucap Dongwoon dengan nada tenang namun tegas, membuat rasa cemas yang sering menghantui perlahan hilang.

Sementara itu, Gikwang yang dikenal paling telaten dan punya selera seni yang bagus, mengambil alih urusan desain dan penataan ruangan. Ia tidak segan-segan meluangkan waktu di sela jadwal latihan dan syuting untuk ikut mencari perabotan, memilih warna cat, hingga menata letak meja dan kursi.

"Konsepnya harus hangat, nyaman, dan terasa seperti rumah, sesuai dengan kepribadianmu," ujar Gikwang antusias sambil menunjukkan sketsa gambar yang ia buat sendiri. "Aku ingin siapa pun yang masuk ke sini langsung merasa betah, seolah sedang berkunjung ke rumah sahabat lama. Jadi, jangan kaku-kaku ya!"

Doojoon, sebagai pemimpin yang bijaksana, selalu menjadi penengah dan pemberi nasihat yang paling tenang. Ia mengingatkan agar aku tetap berpikir jernih, tidak terburu-buru, dan selalu mempertimbangkan segala kemungkinan dengan matang. Namun di balik itu, ia adalah orang yang paling tegas melarangku merasa berhutang budi atau merasa terbebani.

"Dengar, Sabrina," ucap Doojoon suatu kali saat kami sedang meninjau lokasi kafe yang baru saja kami sewa. "Uang bisa dicari lagi, bisa didapatkan lagi. Tapi kesempatan melihat orang yang kita sayangi sukses dan bahagia, itu hal yang tidak ternilai harganya. Kami tidak memberikan ini karena ingin balasan, kami melakukannya karena kami yakin kamu akan berhasil, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari perjalananmu. Jadi, singkirkan rasa bersalah itu. Anggap saja ini modal bersama, dan nanti kalau untung, baru kita bicarakan lagi. Tapi kalau rugi, jangan pikirkan itu. Kami sanggup menanggungnya."

Mendengar ucapan itu, rasanya ingin sekali aku menangis lagi. Bagaimana mungkin aku bisa seberuntung ini? Dilahirkan tanpa orang tua, dibesarkan dengan kekurangan, namun kemudian dipertemukan dengan orang-orang yang hatinya selembut dan sebesar ini?

Dan tentu saja, ada Yong Junhyung. Ia mungkin tidak banyak bicara seperti Yoseob, atau sibuk bergerak ke sana kemari seperti Gikwang, tapi kehadiran dan dukungannya adalah yang terbesar, yang paling dalam, dan yang paling membuatku kuat.

Junhyunglah yang menanggung porsi terbesar dari dana yang dibutuhkan. Saat aku menolak karena merasa tidak enak hati, ia hanya menatapku tajam namun lembut, lalu berkata singkat: "Aku menyimpannya untuk hal yang berharga. Dan bagiku, kesuksesanmu adalah hal yang paling berharga."

Ia sering datang diam-diam ke lokasi kafe saat pekerja lain sudah pulang, hanya untuk menemaniku membersihkan sisa-sisa renovasi atau sekadar duduk diam menemaniku menyusun daftar menu hingga larut malam. Ia tidak banyak menawarkan saran soal bisnis, karena ia tahu aku punya cara dan seleraku sendiri, tapi ia selalu menjadi pendengar terbaik saat aku bingung atau ragu.

"Bagaimana menurutmu, Oppa? Apakah nama menunya terlalu sulit dibaca orang Korea? Apakah rasanya akan terlalu asing bagi mereka?" tanyaku suatu malam, saat kami sedang menyiapkan daftar hidangan.

Junhyung tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

"Kenapa kamu harus takut berbeda? Justru karena beda itulah orang akan penasaran dan datang. Rasa asli dari negerimu, sentuhan tanganmu yang tulus, itu yang akan menjadi kekuatan terbesar kafe ini. Jangan ubah jati dirimu hanya untuk menyenangkan orang lain, Sabrina. Biarkan mereka yang datang untuk mengenal dan menyukaimu, sama seperti aku dan teman-temanku menyukaimu apa adanya."

Kata-katanya selalu berhasil menenangkan hatiku yang gelisah. Ia benar. Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk diterima. Cukup menjadi diriku sendiri, dengan segala keunikan dan ketulusanku.

Sementara itu, Yoseob bertugas menjadi pemandu sorak nomor satu. Setiap kali bertemu, ia selalu berteriak semangat dan tak henti-hentinya memuji rencanaku. Ia bahkan sudah mulai menyebarkan kabar ke teman-teman sesama artis, produser, dan staf agensi lain, bahwa sebentar lagi akan ada tempat paling istimewa yang harus dikunjungi.

"Kalian belum tahu betapa enaknya masakan Sabrina! Kopinya saja bisa membuat orang yang sedang sedih jadi bahagia lagi. Kalian pasti akan berebut tempat nanti," celoteh Yoseob dengan wajah bangga seolah kafe itu miliknya sendiri.

Hari-hari persiapan itu sungguh melelahkan, fisik dan pikiran bekerja tanpa kenal lelah. Sering kali pulang sudah pagi, mata terasa berat, dan tubuh serasa mau patah. Namun, setiap kali aku melihat mereka—melihat betapa besar perhatian, waktu, dan tenaga yang mereka curahkan demi mimpiku—rasa lelah itu seketika lenyap tergantikan oleh semangat yang membara.

Aku sadar, kafe ini bukan lagi sekadar usahaku sendiri. Kafe ini adalah bukti persahabatan, bukti kasih sayang, dan bukti bahwa keluarga tidak harus selalu terikat darah. Kami membangunnya bersama-sama, batu demi batu, harapan demi harapan.

Hingga tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Ruangan yang dulunya kosong dan berdebu, kini telah berubah wujud menjadi tempat yang indah, hangat, dan penuh karakter. Desain interiornya memadukan nuansa kayu yang hangat dengan sentuhan dekorasi yang sederhana namun berkesan. Di salah satu sudut, kami memasang rak kayu panjang yang berisi berbagai cenderamata dan foto-foto kenangan—termasuk foto masa latihan kami, foto kebersamaan, hingga foto pemandangan indah dari Indonesia yang aku kirimkan oleh Ibu Hartati.

Di dinding utama, terpajang sebuah papan nama yang indah dengan tulisan rapi: NUSANTARA TASTE

Lihat selengkapnya