Hari yang telah kutunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya tiba juga. Pagi itu, matahari bersinar cerah menembus celah gedung-gedung tinggi kota Seoul, seolah ikut merayakan hari bersejarah bagiku. Dengan hati berdebar kencang namun penuh semangat, aku berdiri di balik pintu kaca besar yang bertuliskan nama kafe kesayanganku: Nusantara Taste.
Aroma harum kopi yang baru diseduh, bercampur dengan wangi rempah khas masakan Indonesia, menyebar memenuhi seluruh ruangan. Aroma itu bukan sekadar bau masakan biasa; bagiku ia adalah aroma rumah, aroma kenangan, dan aroma perjuangan yang telah kutempuh selama bertahun-tahun. Segala sesuatu sudah kusiapkan dengan sangat teliti. Kursi dan meja tertata rapi, pajangan bernuansa tanah air terpasang indah di dinding, serta deretan makanan dan minuman yang tersaji rapi terlihat sangat menggugah selera.
Aku mengenakan pakaian kerja sederhana namun rapi, berusaha menjaga senyum meski jantung berdegup kencang. Di sampingku berdiri Kang Tae-jun, koki andalan yang sudah aku latih dengan sabar, serta dua orang staf tambahan yang sigap dan ramah. Mereka menatapku dengan tatapan antusias, siap membantu menjalankan hari pertama pembukaan ini.
“Jangan gugup, Nona Sabrina. Semuanya sudah sempurna, rasanya lezat dan tempatnya terasa hangat. Pelanggan pasti akan datang dan menyukainya,” ujar Tae-jun dengan nada menenangkan.
Aku mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Terima kasih banyak, Tae-jun. Semoga saja orang-orang di sini bisa menerima dan menyukai cita rasa yang mungkin terasa asing bagi lidah mereka.”
Bel pintu berbunyi nyaring, menandakan pembukaan resmi. Namun selama satu jam pertama, suasana di dalam kafe masih terasa sepi. Beberapa orang lewat di depan, melirik sekilas dengan rasa penasaran, tapi tak ada yang berani melangkah masuk. Rasa cemas mulai merayap di dadaku. Berbagai pikiran negatif sempat muncul: Apakah aku salah mengambil keputusan? Apakah masakan ini tidak akan diterima di sini?
Namun, kekhawatiran itu segera lenyap seketika saat sekelompok orang masuk dengan suara tawa yang sangat kukenal betul.
“Selamat pagi, pemilik kafe hebat!” seru Yoseob dengan lantang sambil melangkah masuk paling depan, diikuti oleh Doojoon, Gi Kwang, Dongwoon, Yong Junhyung, dan tak lupa Lee Joon Gi yang tersenyum lebar.
Mereka datang mengenakan pakaian santai namun rapi, seolah sedang menghadiri acara penting yang paling ditunggu.
“Kalian semua datang!” seruku bahagia, rasa lega seketika memenuhi dada.
“Mana mungkin kami absen di hari paling bersejarah dalam hidupmu?” kata Doojoon sambil menatap sekeliling ruangan dengan pandangan kagum. “Wah, Sabrina… tempat ini jauh lebih indah dan nyaman daripada yang kubayangkan. Suasananya hangat, tenang, dan membuat hati terasa damai. Kamu hebat sekali merancangnya sedemikian rupa.”
“Benar sekali!” timpal Gi Kwang sambil menghirup udara dalam-dalam. “Paduan warnanya pas, dekorasinya unik, dan aromanya… sungguh menggugah selera!”
Yong Junhyung berdiri sedikit di belakang, menatapku lekat-lekat dengan senyum tipis yang menenangkan. Matanya berkata: Aku bangga padamu. Kamu pasti bisa melakukannya. Di sampingnya, Lee Joon Gi memberi isyarat jempol yang penuh dukungan, meyakinkanku bahwa ia akan selalu ada mendampingiku.
“Silakan duduk, semuanya,” ajakku dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. “Kalian adalah pelanggan pertama yang paling terhormat. Akan kusiapkan menu terbaik khusus untuk kalian semua.”
Tak lama setelah mereka duduk, hal yang tak terduga terjadi. Berita kehadiran mereka menyebar cepat, membuat penggemar mulai berdatangan satu per satu. Awalnya hanya ingin melihat dan menyapa, namun begitu mencium aroma masakan dan melihat suasana yang unik, rasa penasaran mereka berubah menjadi minat yang besar.
“Kak, boleh kami ikut duduk dan mencoba menunya juga?” tanya seorang gadis muda dengan sopan.
“Tentu saja, silakan masuk dan pilih tempat yang nyaman!” jawabku antusias.
Bel pintu terus berbunyi, suara langkah kaki dan percakapan memenuhi ruangan yang semula sepi. Antrean pelanggan bahkan terbentuk hingga ke luar pintu. Aku dan staf bekerja secepat kilat melayani pesanan satu demi satu. Keringat mulai menetes di dahi, kaki terasa pegal dan ngilu, namun senyum tak pernah lepas dari wajahku.
Menu andalan yang kusajikan adalah perpaduan cita rasa asli Indonesia dengan sedikit sentuhan lokal agar lebih mudah diterima: nasi goreng dengan bumbu rahasia turun-temurun, soto hangat dengan kuah yang kaya rempah, berbagai jenis kue dan roti manis khas daerah, serta kopi racikan khas Nusantara yang menjadi kebanggaanku.
Awalnya aku masih khawatir mereka akan merasa rasanya aneh atau terlalu kuat bumbunya. Namun, reaksi yang kudapatkan justru sebaliknya.
“Wah! Ini enak sekali! Kuahnya hangat, gurih, tapi ada rasa segar yang unik di lidah,” puji seorang pelanggan.
“Kopinya luar biasa! Rasanya tegas, kuat, tapi tidak pahit. Ada rasa manis lembut yang terasa di akhir. Belum pernah saya merasakan kopi seenak ini sebelumnya,” ucap yang lain dengan mata berbinar.
“Bahannya terasa sangat segar, dan rasanya tulus. Beda dengan kafe mahal yang rasanya terasa sama saja. Di sini rasanya seperti dimasak sendiri oleh ibu di rumah, penuh perhatian,” komentar seorang pria paruh baya.
Mendengar pujian-pujian itu, rasanya hati ini meluap bahagia hingga ingin menangis terharu. Usaha keras, waktu, tenaga, dan kasih sayang yang kucurahkan selama ini ternyata sampai juga ke hati mereka. Ternyata rasa yang tulus dan penuh cinta bisa dimengerti dan disukai oleh siapa saja, tanpa memandang batas negara atau bahasa.
Sore menjelang malam, antrean pelanggan masih belum habis. Aku tak sempat istirahat, bahkan untuk sekadar minum air pun terasa sulit, tapi rasanya tidak lelah sama sekali. Justru rasanya hati terasa penuh, sangat penuh. Aku akhirnya punya sesuatu yang benar-benar milikku sendiri.