Dua tahun berlalu begitu cepat sejak hari pembukaan Nusantara Taste di kawasan Gangnam. Siapa sangka, usaha yang bermula hanya dari hobi dan keberanian yang terbatas itu kini tumbuh menjadi salah satu tempat yang paling dicari dan dibicarakan di seantero Seoul. Kafe ini tidak hanya dikunjungi oleh warga lokal yang penasaran dengan cita rasa asli Indonesia, tetapi juga menjadi tujuan wajib bagi wisatawan asing yang ingin merasakan suasana hangat dan berbeda.
Bagi Sabrina, kesuksesan ini bukanlah miliknya seorang diri. Di balik kemegahan bangunan, aroma kopi yang semerbak, dan tawa pengunjung yang riang, ada dukungan tak tergantikan dari para anggota Highlight—terutama Yong Junhyung. Pria itu selalu menjadi pendorong terkuat, bahu tempatnya bersandar, dan telinga yang selalu siap mendengar keluh kesah saat rasanya beban di pundak terasa terlalu berat. Hubungan mereka kini semakin dekat, melampaui batas atasan dan bawahan, bahkan lebih dari sekadar sahabat. Di mata orang lain, mereka terlihat seperti kakak beradik yang tak terpisahkan. Namun di dalam hati Sabrina yang berusia 29 tahun ini, ada perasaan lain yang tumbuh perlahan, perasaan yang ia simpan rapat-rapat karena rasa takut dan rasa tidak pantas yang masih sering menghantui.
Siang itu, cuaca di Seoul sedang sangat cerah. Cahaya matahari masuk membias lewat jendela kaca besar, menerangi setiap sudut ruangan yang dihiasi ornamen khas Indonesia. Sabrina sedang sibuk memeriksa catatan keuangan dan mengawasi pelayanan, memastikan semuanya berjalan sempurna seperti biasa. Sebagai pemilik, ia tidak pernah merasa lebih tinggi dari karyawannya; ia masih sering turun tangan melayani pengunjung atau meracik minuman jika diperlukan.
"Bu Sabrina," panggil Park Ji-woo, manajer kafe yang juga sahabat dekatnya, menghampiri dengan napas terengah-engah namun wajahnya tampak berseri-seri.
"Ada apa, Ji-woo? Tenang saja, jangan lari-lari di dalam," tegur Sabrina lembut sambil tersenyum.
"Maaf, Bu. Tapi ada kabar yang sangat penting! Tadi pihak tim produksi film besar menghubungi kami. Mereka meminta izin untuk menggunakan kafe kita sebagai lokasi syuting hari ini juga! Katanya, tempat kita sangat cocok dengan deskripsi yang mereka cari: hangat, unik, dan punya karakter yang kuat."
Sabrina tertegun sejenak, matanya membelah kaget. "Syuting? Di sini? Hari ini juga?"
"Iya! Dan tahu tidak siapa aktor utamanya? Lee Joon Gi!" bisik Ji-woo dengan antusias, matanya berbinar-binar. "Dia aktor paling populer sekarang, Bu! Hampir semua wanita di Korea tergila-gila padanya. Wah, kafe kita pasti akan semakin terkenal nanti!"
Nama itu terdengar asing namun sekaligus akrab di telinga Sabrina. Ia tentu saja tahu siapa Lee Joon Gi. Wajah tampan dan karismatik pria itu sering menghiasi layar televisi, papan iklan, dan majalah-majalah ternama. Sosok yang dikenal sebagai aktor jenius dengan senyum yang mampu melelehkan hati siapa saja. Bagi Sabrina, Lee Joon Gi ibarat bintang yang begitu tinggi dan jauh, mustahil untuk dijangkau oleh orang biasa sepertinya.
"Benarkah? Itu kabar yang luar biasa. Tentu saja kami izinkan, Ji-woo. Silakan bantu mereka menyiapkan segala keperluan. Pastikan mereka nyaman dan jangan sampai mengganggu pengunjung lain," perintah Sabrina dengan tenang, meski di dalam hatinya ada sedikit rasa gugup.
Beberapa jam kemudian, suasana kafe berubah menjadi sangat sibuk namun tertib. Puluhan kru film sibuk membawa peralatan, mengatur pencahayaan, dan menata tempat duduk. Berita bahwa Lee Joon Gi akan ada di sana pun menyebar cepat, membuat banyak orang berkerumun di luar kafe berharap bisa melihat sekilas idolanya. Sabrina membiarkan semuanya berjalan, ia memilih berdiri di sudut ruangan, mengamati dari jauh tanpa ingin ikut-ikutan mencari perhatian. Baginya, pekerjaan dan kenyamanan orang lain adalah yang utama.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu masuk. Kerumunan di luar semakin riuh, suara teriakan pujian terdengar samar-samar. Pintu mobil terbuka, dan keluarlah seorang pria dengan penampilan sederhana namun berkelas. Mengenakan kemeja putih longgar yang digulung hingga siku dan celana kain berwarna cokelat muda, ia berjalan dengan langkah tenang dan senyum tipis yang hangat.
Itu Lee Joon Gi.
Meskipun tanpa riasan tebal dan pakaian mewah layaknya di drama, pesonanya tetap menyilaukan. Wajahnya yang tirus dengan mata yang tajam namun lembut membuat siapa pun yang menatapnya seolah terpukau. Ia menyapa kru dan tim produksi dengan ramah, tidak ada kesombongan sedikit pun, padahal ia adalah bintang terbesar di negeri ini.
Saat sedang berjalan menuju lokasi yang ditentukan, tanpa sengaja mata Lee Joon Gi tertuju pada sosok yang berdiri diam di sudut ruangan. Seorang wanita dengan rambut panjang terurai rapi, mengenakan pakaian kerja yang sederhana namun bersih dan sopan. Wanita itu tidak ikut berteriak atau memotret seperti yang lain, ia hanya berdiri tenang, menatap sekeliling dengan sorot mata yang teduh dan bijaksana. Ada ketenangan yang aneh namun menenangkan terpancar dari dirinya, sesuatu yang jarang sekali Joon Gi temui pada wanita lain.
Dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, Lee Joon Gi mengubah arah langkahnya dan berjalan lurus menuju ke arah Sabrina.
"Permisi," sapa Joon Gi lembut, suaranya rendah namun jelas, membuat Sabrina tersentak kaget karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian pria besar itu.
Sabrina buru-buru membungkuk sopan, jantungnya berdebar kencang tak karuan. "I-iya? Selamat datang di Nusantara Taste, Tuan Lee. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Joon Gi tersenyum, senyum yang benar-benar tulus dan tidak dibuat-buat. "Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku Joon Gi. Kamu pemilik tempat ini, kan?"
"Benar. Saya Sabrina. Senang sekali bisa kedatangan Anda," jawab Sabrina, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar.
"Aku baru saja berkeliling melihat-lihat. Tempat ini sungguh indah. Suasananya hangat, menenangkan, dan aromanya... sangat unik, berbeda dari kafe-kafe lain yang pernah aku kunjungi. Kamu yang merancang semuanya sendiri?" tanya Joon Gi, matanya menatap lekat wajah Sabrina, seolah sedang mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan wanita itu.
"Iya, sebagian besar idenya saya yang buat. Saya ingin tempat ini terasa seperti rumah bagi siapa saja yang datang, tempat di mana mereka bisa merasa nyaman dan dilupakan sejenak kelelahan mereka," jawab Sabrina jujur.
Joon Gi mengangguk pelan, tatapannya semakin dalam. "Kamu berhasil, Sabrina. Tempat ini memang terasa seperti rumah. Dan anehnya, sejak aku masuk ke sini, aku merasakan kedamaian yang sudah lama sekali tidak kurasakan. Terima kasih sudah membuka tempat yang seindah ini."
Pujian itu terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat pipi Sabrina memerah karena malu sekaligus haru. Mendapatkan pujian setinggi itu langsung dari Lee Joon Gi sendiri adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Terima kasih banyak, T-Tuan Joon Gi. Itu pujian yang sangat berharga bagi saya," ucap Sabrina sambil menundukkan wajah sedikit.
"Joon Gi saja, ingat?" candanya pelan, membuat suasana menjadi lebih cair. "Kalau begitu, sebagai tanda terima kasih karena sudah meminjamkan tempat yang luar biasa ini, bolehkah aku meminta kamu yang menyajikan minuman spesial andalan tempat ini? Aku ingin mencicipi rasa yang diciptakan oleh tangan pemiliknya sendiri."
Sabrina tertegun sejenak, lalu tersenyum kecil. Senyumnya yang sederhana itu, tanpa sadar, membuat jantung Lee Joon Gi berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada keaslian yang terpancar dari wajah Sabrina, sesuatu yang murni dan alami, jauh dari kepura-puraan atau usaha berlebihan untuk terlihat cantik. Di mata Joon Gi, Sabrina terlihat begitu cantik dengan caranya sendiri—cantik yang tumbuh dari ketulusan hati dan kekuatan jiwa.
"Tentu saja. Silakan duduk sebentar, saya akan buatkan yang terbaik untuk Anda," jawab Sabrina lembut.
Sabrina berjalan menuju meja kerja dengan langkah yang masih sedikit kaku namun berusaha tenang. Ia meracik minuman spesial racikannya sendiri, campuran kopi pilihan dengan rempah khas Indonesia yang hangat dan manis, disajikan dengan penuh ketelitian dan kasih sayang. Bagi Sabrina, setiap cangkir yang keluar dari tangannya selalu ia anggap sebagai sebuah doa kebaikan untuk siapa pun yang meminumnya.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa nampan berisi dua cangkir minuman yang masih mengepulkan asap wangi. Ia meletakkannya di meja tepat di hadapan Lee Joon Gi.
"Ini dia. Kami menamainya 'Pelukan Hangat'. Campuran kopi, susu, dan sedikit jahe serta gula merah. Rasanya manis, hangat, dan menenangkan," jelas Sabrina sambil mendorong cangkir itu pelan ke arah Joon Gi.