Hari syuting di Nusantara Taste akhirnya selesai saat senja mulai menutup langit Seoul dengan warna jingga keunguan. Keramaian perlahan mereda, kru film mulai membereskan peralatan, dan para penggemar yang berkerumun di luar pun pulang dengan wajah puas setelah sekilas melihat idola mereka. Namun bagi Sabrina, rasanya seolah waktu berhenti berputar sejak pertemuannya dengan Lee Joon Gi tadi siang.
Ia berdiri di balik meja kasir, tangan sibuk merapikan buku catatan, namun pikirannya melayang jauh. Suara lembut, senyum hangat, dan tatapan mata Lee Joon Gi yang begitu dalam terus terputar berulang-ulang di ingatannya. Sabrina yang selama ini terbiasa hidup sederhana, tertutup, dan sering merasa rendah diri, seolah dipaksa menyadari satu kenyataan pahit: bahwa di dunia ini ada pria yang begitu sempurna, begitu berkelas, dan begitu memikat, hingga rasanya mustahil bagi wanita biasa sepertinya untuk berada dalam lingkaran yang sama.
"Tuan Lee Joon Gi..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Dia benar-benar orang yang luar biasa. Tampan, terkenal, kaya, tapi tidak sombong sama sekali. Bahkan dia mau mengobrol denganku—gadis asing yang tidak punya apa-apa—dengan sangat sopan."
"Masih melamunkan si aktor tampan itu, Nona Pemilik?"
Suara ceria Ji-woo tiba-tiba terdengar dari samping, membuat Sabrina tersentak kaget hingga buku di tangannya hampir terlepas. Ia menoleh dan mendapati Ji-woo sedang tersenyum jahil sambil menahan tawa.
"Jangan bicara sembarangan, Ji-woo! Aku tidak sedang melamunkan siapa-siapa," bantah Sabrina cepat, pipinya memerah padam menahan malu.
Ji-woo tertawa kecil lalu duduk di kursi sebelahnya. "Tidak usah malu, Bu. Semua wanita di Korea bahkan di seluruh Asia pasti akan melakukan hal yang sama kalau diperhatikan dan diajak bicara langsung oleh Lee Joon Gi. Pesonanya itu lho, luar biasa! Seolah dunia ini hanya berputar di sekelilingnya saja. Tadi aku lihat jelas, dia menatap Ibu dengan cara yang... berbeda. Bukan sekadar menatap pemilik tempat, tapi seperti menatap seseorang yang menarik perhatiannya."
"Kamu ini ada-ada saja," Sabrina menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu meski hatinya berdebar tak karuan. "Dia hanya bersikap ramah karena itu sifat aslinya. Lagipula, lihatlah siapa aku dan siapa dia. Jaraknya bagaikan bumi dan langit. Jangan pernah memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi, itu hanya akan menyakiti diri sendiri."
Meskipun mulutnya berkata demikian, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Sabrina tak bisa membohongi diri sendiri. Ada getaran aneh yang ia rasakan setiap kali teringat tatapan mata Joon Gi—tatapan yang membuatnya merasa dilihat, dihargai, dan diakui keberadaannya sebagai wanita, bukan sekadar pekerja atau orang asing.
Sementara itu, di dalam mobil mewah yang membawanya pulang ke kediaman pribadinya, Lee Joon Gi duduk bersandar lemas di kursi belakang. Namun wajahnya tidak tampak lelah seperti biasanya setelah seharian bekerja keras. Sebaliknya, seulas senyum kecil yang sulit diartikan tersungging di bibirnya. Ia menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Seoul yang mulai menyala satu per satu, namun pikirannya sama sekali tidak ada di sana.
"Kau tampak berbeda hari ini, Oppa," ucap Choi Min-seo, manajer sekaligus sahabat yang duduk di kursi depan, menoleh ke belakang dengan tatapan heran. "Biasanya setelah syuting sepanjang hari, kau langsung tertidur atau mengeluh pegal. Tapi hari ini... kau malah tersenyum sendiri. Ada apa?"
Joon Gi mengalihkan pandangannya ke arah Min-seo, senyumnya melebar sedikit. "Min-seo, kau tahu pemilik kafe tempat kita syuting tadi?"
Min-seo mengangguk. "Tentu. Wanita Indonesia yang cantik dan tenang itu? Sabrina namanya, kan? Dia memang wanita yang menarik. Sederhana, tapi berkelas dengan caranya sendiri. Kafe yang dia bangun pun luar biasa indah dan unik."
"Iya, dia," jawab Joon Gi pelan, suaranya berubah menjadi lebih lembut dan serius. "Aku sudah bertemu banyak wanita selama bertahun-tahun menjadi aktor. Wanita cantik, cerdas, kaya, terkenal, dan dari kalangan terpandang. Mereka semua berusaha tampil sempurna di hadapanku, berusaha menarik perhatian dengan cara yang berlebihan. Tapi Sabrina..."
Ia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.
"Sabrina berbeda. Dia tidak berusaha menjadi orang lain. Dia apa adanya. Tenang, tulus, dan ada kekuatan yang begitu besar di balik tatapan matanya yang lembut. Saat dia menatapku, aku merasa dia melihat aku sebagai Lee Joon Gi yang biasa, bukan sebagai aktor terkenal yang dipuja jutaan orang. Rasanya... damai, Min-seo. Pertama kalinya sejak lama, aku merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura sempurna."
Min-seo menatap sahabatnya itu lekat-lekat, perlahan menyadari apa yang sedang terjadi. "Oppa... jangan bilang kau jatuh hati padanya?"
Joon Gi tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ke luar jendela, namun kali ini sorot matanya tampak penuh tekad.
"Aku tidak yakin apakah ini cinta pada pandangan pertama atau bukan. Tapi yang aku tahu, sejak aku melangkah masuk ke kafe itu dan melihatnya berdiri tenang di sudut ruangan, duniaku seolah terguncang. Semua yang ada di sekitarku menjadi tidak penting. Aku hanya ingin mendengar suaranya, melihat senyumnya, dan mendengar ceritanya lebih banyak lagi. Pesonanya tidak terlihat dari riasan atau pakaian mahal, tapi terpancar langsung dari hatinya yang paling dalam. Dan itu jauh lebih kuat, jauh lebih memikat daripada kecantikan wanita mana pun yang pernah aku temui."
Min-seo menghela napas pelan, campuran antara kaget dan khawatir sekaligus senang. Selama bertahun-tahun ia menemani Joon Gi, ia tahu betul bahwa sahabatnya itu jarang sekali tertarik pada wanita, apalagi bicara setulus ini. Joon Gi selalu menutup hatinya rapat-rapat karena kecewa dengan banyaknya wanita yang hanya mendekatinya demi kekayaan, ketenaran, atau statusnya.
"Kalau begitu, apa rencanamu?" tanya Min-seo pelan. "Kau tahu kan siapa dia? Dia orang asing, dia pemilik usaha yang sedang berkembang, dan aku dengar dia punya hubungan yang sangat dekat dengan anggota grup Highlight, terutama Yong Junhyung. Orang bilang hubungan mereka lebih dari sekadar teman atau atasan-bawahan."
Nama Yong Junhyung membuat senyum di wajah Joon Gi sedikit memudar. Ia tahu siapa pria itu. Yong Junhyung dikenal sebagai musisi berbakat, pendiam, misterius, dan sangat tertutup. Joon Gi juga pernah mendengar desas-desus bahwa Junhyung sangat melindungi seorang wanita asing yang pernah bekerja sebagai staf mereka.
"Junhyung..." gumam Joon Gi. "Kalau memang dia orang yang berharga bagi Sabrina, maka aku harus bekerja lebih keras lagi. Tapi aku tidak akan mundur, Min-seo. Untuk pertama kalinya, aku menemukan wanita yang membuatku ingin berhenti mencari dan mulai menetap. Aku tidak peduli dari mana dia berasal, siapa saja yang ada di dekatnya, atau seberapa sulit jalannya. Aku akan mendekatinya, mengenalnya, dan membuatnya tahu bahwa dia adalah wanita yang luar biasa, wanita yang pantas mendapatkan cinta yang tulus dan utuh."
Suaranya tegas dan penuh keyakinan, seolah keputusan itu sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
Sementara itu, di tempat lain—tepatnya di dalam ruang latihan milik Highlight—suasana terasa sangat dingin dan tegang, padahal udara di ruangan itu cukup hangat. Yong Junhyung duduk sendirian di sudut ruangan, memegang gitar akustik namun sama sekali tidak memetik senarnya. Wajahnya datar, dingin seperti biasa, namun matanya yang tajam tampak menyimpan badai emosi yang sulit diungkapkan.
Pemandangan yang ia lihat tadi sore masih membayangi matanya. Melihat Sabrina—Sabrina yang selalu tampak tegang, murung, atau berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan orang lain—tiba-tiba tertawa lepas, tersenyum bahagia, dan bersinar terang hanya karena berbicara dengan pria lain. Pria yang tampan, populer, sempurna, dan pasti jauh lebih mampu memberikan segala hal yang tidak bisa ia berikan pada Sabrina.
"Kau terlihat seperti orang yang baru saja kalah perang, Hyung," sapa Yang Yoseob yang baru selesai berlatih, menghampiri lalu duduk di samping Junhyung. "Ada masalah?"
Junhyung menghela napas panjang, meletakkan gitarnya di samping. "Aku melihat Sabrina tadi."