Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang baru bagi Sabrina. Kehadiran Lee Joon Gi ternyata bukan sekadar pertemuan sekali lalu hilang, melainkan menjadi rutinitas yang tak terduga. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali, pria itu pasti menyempatkan diri mampir ke Nusantara Taste, kadang sendirian, kadang ditemani manajernya, namun selalu dengan satu tujuan: bertemu dan mengobrol dengan Sabrina.
Joon Gi tidak pernah datang dengan gaya mencolok atau memamerkan statusnya. Ia selalu berpakaian sederhana, ramah pada semua karyawan, dan membuat suasana di sekitarnya terasa hangat. Ia tidak segan membantu merapikan kursi atau sekadar bercanda dengan para pengunjung, membuat siapa pun lupa bahwa pria di hadapan mereka adalah bintang besar yang diidola jutaan orang.
Bagi Sabrina, kedatangan Joon Gi selalu membawa warna baru. Setiap kali ia ada di sana, Sabrina merasa dunia menjadi lebih cerah, beban di pundaknya terasa lebih ringan, dan untuk sesaat ia lupa akan segala rasa rendah diri yang selama ini mengikatnya. Joon Gi selalu tahu kata-kata yang tepat untuk membuatnya tersenyum, selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tak pernah lelah meyakinkan Sabrina bahwa dirinya berharga.
Namun, di sisi lain, rasa bersalah juga terus menggerogoti hati Sabrina. Setiap kali ia tertawa lepas bersama Joon Gi, bayang-bayang wajah Yong Junhyung selalu muncul di pikirannya. Ia merasa seolah-olah sedang mengkhianati ikatan persahabatan dan perasaan yang sudah terjalin begitu lama dengan pria itu.
Siang itu, Joon Gi baru saja pulang setelah menghabiskan waktu hampir dua jam mengobrol dengan Sabrina. Ia meninggalkan kafe dengan senyum puas, meninggalkan Sabrina yang masih duduk termenung sambil menyentuh kalung perak berbentuk bulan sabit yang kini tak pernah lepas dari lehernya.
"Bu Sabrina, tampaknya Tuan Lee Joon Gi benar-benar menyukai Ibu," ucap Ji-woo yang kebetulan lewat, menyela lamunan Sabrina. "Dia tidak pernah menatap orang lain seintens dia menatap Ibu. Matanya seolah-olah hanya melihat Ibu seorang diri."
Sabrina tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Jangan bicara begitu, Ji-woo. Dia hanya baik dan ramah saja. Lagipula, aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya seperti sedang berdiri di persimpangan jalan yang gelap."
Bel pintu masuk berbunyi kembali, kali ini lebih keras dan tajam dari biasanya. Sabrina mendongak, dan seketika jantungnya berdegup kencang—bukan karena bahagia, melainkan karena cemas. Di ambang pintu, berdiri sosok yang wajahnya selama ini paling ingin dan paling takut ia temui sekaligus: Yong Junhyung.
Pria itu berdiri diam di sana, tatapannya tajam, dingin, dan tak terbaca. Matanya menatap Sabrina lekat-lekat, lalu melirik ke arah pintu tempat Joon Gi keluar tadi, sebelum akhirnya kembali menatap Sabrina dengan sorot mata yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Junhyung-oppa..." panggil Sabrina pelan, suaranya tercekat.
Junhyung melangkah masuk dengan langkah panjang dan tegas, mendekat ke arah meja tempat Sabrina duduk. Ia tidak tersenyum, tidak menyapa hangat seperti biasanya. Wajahnya datar, namun aura yang dipancarkannya begitu kuat dan menekan, membuat suasana hangat di dalam kafe seolah mendadak membeku.
"Kau sibuk rupanya," ucap Junhyung, suaranya rendah dan datar, namun ada tajam yang tersembunyi di baliknya. "Sampai-sampai tidak punya waktu untuk menjawab pesan atau telepon dariku selama dua hari ini."
Sabrina menunduk, merasa bersalah. Memang benar, selama beberapa hari belakangan ini, karena kesibukan dan juga karena keraguannya sendiri, ia menjadi jarang menghubungi Junhyung. Padahal dulu, tak sehari pun mereka lewat tanpa bertukar kabar.
"Maaf, Oppa. Aku... aku sangat sibuk mengurus kafe. Banyak hal yang harus diselesaikan," jawab Sabrina mencoba menjelaskan, meski ia tahu alasan itu terdengar lemah.
Junhyung tertawa kecil, namun tawaan itu sama sekali tidak terdengar gembira. Ia menunjuk ke arah kursi yang baru saja diduduki Joon Gi.
"Sibuk mengurus kafe, atau sibuk melayani bintang besar yang sering mampir ke sini akhir-akhir ini? Lee Joon Gi, kan?" tanyanya langsung, tanpa berbelit-belit.
Wajah Sabrina memucat. Ia tidak menyangka Junhyung tahu. "Oppa, itu bukan seperti yang kau pikirkan. Dia hanya datang sebagai tamu, dia suka dengan suasana tempat ini—"
"Tamu?" potong Junhyung cepat, matanya menyipit tajam. "Tamu yang datang hampir setiap hari? Tamu yang menatapmu seolah kau adalah satu-satunya wanita di dunia ini? Dan tamu yang memberimu kalung mahal yang tak pernah kau lepas itu?"
Junhyung menunjuk tepat ke arah kalung perak di leher Sabrina. Ia melihatnya, ia memperhatikannya, dan pemandangan itu membuat rasa panas yang aneh menjalar di dadanya—rasa sakit, kesal, dan cemburu yang luar biasa hebat.
Sabrina buru-buru menutup kalung itu dengan tangannya, merasa sangat terjepit. "Ini... dia memberinya sebagai tanda persahabatan saja. Tidak ada maksud lain, sungguh."
"Persahabatan?" Junhyung melangkah mendekat, kini jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia menatap mata Sabrina dalam-dalam, seolah ingin menembus jiwa wanita itu. "Sabrina, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun. Aku tahu bagaimana caramu menatap orang, bagaimana caramu tersenyum, dan bagaimana caramu merasa. Saat kau bersamanya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat selama ini. Kau terlihat... bersinar. Kau terlihat bahagia dengan cara yang berbeda."
Sabrina terdiam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak bisa membohongi Junhyung, pria ini terlalu mengenalnya.
"Oppa, aku... aku bingung," akui Sabrina dengan suara bergetar. "Joon Gi... dia orang yang sangat baik. Dia membuatku merasa berharga, membuatku merasa aku juga pantas dicintai dan diperlakukan dengan lembut. Selama ini, aku selalu merasa diri ini kecil, tidak berguna, dan hanya menjadi beban bagi orang lain. Tapi saat bersamanya... rasanya semua rasa itu hilang."
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang langsung menancap tepat di ulu hati Junhyung. Ia mundur selangkah, menatap Sabrina dengan tatapan yang sulit dijelaskan—campuran antara kaget, terluka, dan juga rasa sedih yang mendalam.
"Jadi selama ini, menurutmu aku membuatmu merasa seperti beban? Aku membuatmu merasa tidak berharga?" tanya Junhyung pelan, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. "Apakah semua yang kulakukan selama ini—melindungimu, membantumu, mendukungmu sampai kau bisa berdiri tegak seperti sekarang—tidak cukup untuk membuatmu merasa berharga?"
"Bukan begitu, Oppa! Kau salah paham!" Sabrina buru-buru menjelaskan, air matanya akhirnya menetes juga. "Kaulah orang yang paling berharga dalam hidupku. Kaulah yang menyelamatkanku, kaulah yang menjadi rumahku. Tanpamu, aku pasti sudah hancur sejak lama. Tapi... tapi caramu mencintaiku, caramu peduli padaku... semuanya selalu dibalut dengan ketegasan, dengan rahasia, dengan jarak. Kau selalu menjagaku dari jauh, selalu melindungiku agar tidak terluka, tapi kau tidak pernah membiarkanku merasa setara denganmu. Aku selalu merasa diriku lebih rendah darimu, merasa aku tidak pantas bersanding denganmu."
Sabrina terisak pelan, meluapkan segala unek-unek yang selama ini dipendamnya rapat-rapat.
"Sementara Joon Gi... dia tidak pernah memandang perbedaan itu. Dia memandangku sebagai wanita, sebagai manusia yang sama derajatnya. Dia tidak menyembunyikan perhatiannya, dia tidak takut menunjukkan pada dunia bahwa dia menghargaiku. Dan aku... aku manusia biasa, Oppa. Aku lemah. Aku tergoda dengan perlakuan yang begitu terbuka dan hangat itu."
Keheningan yang berat menyelimuti mereka berdua. Junhyung berdiri diam, menatap wanita yang dicintainya itu dengan pandangan yang perlahan melembut. Rasa cemburu dan amarah yang tadi meledak seketika mereda, digantikan oleh rasa sakit yang luar biasa—bukan karena marah pada Sabrina, tapi karena ia sadar bahwa ia sendirilah penyebabnya.
Ia sadar, selama ini, karena rasa takutnya sendiri, karena rasa rendah dirinya sendiri, ia selalu menempatkan Sabrina di posisi yang berbeda. Ia selalu menganggap Sabrina sebagai gadis lemah yang harus dilindungi, bukan sebagai wanita yang setara yang harus dicintai dan dihargai. Ia selalu menyembunyikan perasaannya, selalu menjaga jarak demi keamanan, tanpa sadar hal itu justru membuat Sabrina merasa tidak berharga dan tidak aman.
"Maafkan aku..." ucap Junhyung pelan, suaranya terdengar lelah dan hancur. "Maafkan aku, Sabrina. Aku tidak pernah menyadari bahwa caraku menjagamu justru membuatmu merasa terasing. Aku mengira dengan melindungimu dari dunia luar, aku membuatmu aman. Tapi ternyata aku justru mengurungmu dalam ketidakpastian."
Junhyung menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dadanya.
"Dan soal Lee Joon Gi..." lanjutnya, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun tetap serius. "Aku tidak menyangkal dia pria yang hebat. Dia tampan, terkenal, mapan, dewasa, dan bisa memberimu segala hal yang mungkin sulit aku berikan. Dia bisa mencintaimu secara terang-terangan, dia bisa memperkenalkanmu pada dunia tanpa rasa takut. Hal-hal yang selama ini aku takut lakukan."
Junhyung menatap Sabrina dalam-dalam, matanya kini memancarkan keteguhan hati yang luar biasa.
"Tapi ingat satu hal, Sabrina. Apa yang dia berikan padamu sekarang—perhatian, pujian, hadiah—semuanya itu indah dan manis. Tapi dunia yang dia tinggali sama berbahayanya dengan duniaku, bahkan mungkin lebih keras. Dia adalah sorotan utama, segala gerak-geraknya diawasi jutaan mata. Jika kau bersamanya, kau tidak hanya menjadi miliknya, tapi kau akan menjadi milik pembicaraan semua orang. Kau siap menghadapi itu? Kau siap menghadapi tuduhan, cibiran, dan sorotan tajam dunia luar?"
Junhyung mendekat lagi, kali ini dengan lembut ia mengusap air mata di pipi Sabrina.
"Aku cemburu, Sabrina. Jujur saja, aku sangat cemburu melihatmu tersenyum bahagia karena orang lain. Tapi lebih dari itu, aku khawatir. Aku takut kau terluka, aku takut kau hanya terbuai oleh manisnya perhatian di awal, lalu nanti kau hancur saat kenyataan pahit datang menghantam. Aku takut kau salah memilih jalan, lalu kau akan tersesat dan terluka parah."
Sabrina terdiam mendengar penjelasan itu. Ternyata di balik tatapan tajam dan sikap dingin Junhyung tadi, tersembunyi rasa takut kehilangan dan kekhawatiran yang sama besarnya dengan rasa cintanya.
"Oppa..."
"Aku tidak akan melarangmu bertemu dengannya," potong Junhyung lembut, namun tegas. "Kau sudah dewasa, kau berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Aku tidak lagi berhak melarangmu atau mengaturmu seperti dulu saat kau masih menjadi stafku. Tapi aku memohon padamu, gunakan akal sehatmu. Jangan hanya mengikuti kata hati saja. Perhatikan, amati, dan pertimbangkan segalanya dengan matang. Karena bagaimanapun juga, bagiku... keselamatan dan kebahagiaanmu adalah segalanya. Jika kau bahagia bersamanya, jika dia benar-benar bisa membuatmu bahagia lebih dari yang bisa kulakukan, maka... aku akan melepaskanmu. Meski hatiku hancur berkeping-keping."
Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan sangat pelan, namun terdengar begitu jelas dan berat. Junhyung menarik tangannya perlahan, lalu melangkah mundur.
"Aku pergi dulu. Pikirkanlah baik-baik, Sabrina. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar yakin dengan pilihanmu. Dan ingat, apa pun yang terjadi, di mana pun kau berada... pintu ini dan hatiku akan selalu terbuka untukmu. Tempat pulangmu tidak akan pernah hilang."
Junhyung berbalik, melangkah pergi meninggalkan Sabrina yang masih terpaku dengan air mata yang terus menetes. Pintu kaca tertutup kembali, memisahkan mereka, namun kata-kata Junhyung masih terngiang jelas di telinga dan berdentum keras di dalam dada.
Sabrina meremas dadanya yang terasa sesak. Ia tahu Junhyung berkata begitu karena tulus mencintainya, karena takut kehilangan dan takut melihatnya terluka. Namun di sisi lain, perlakuan tulus Joon Gi juga terus menghantui pikirannya.
"Cemburu atau khawatir? Atau keduanya?" batin Sabrina pilu. "Keduanya sama-sama mencintaiku, tapi dengan cara yang sangat berbeda. Dan aku... aku terjebak di tengah-tengah, tidak tahu ke mana kaki ini harus melangkah."
Pertanyaan besar itu kini menggantung di udara, menuntut jawaban yang tak bisa ditunda lagi. Sabrina sadar, waktunya semakin sempit. Ia tidak bisa terus-menerus membiarkan dua pria hebat itu berjuang demi dirinya, sementara ia sendiri diam saja dalam keraguannya. Keputusan berat itu harus segera diambil, sebelum hati siapa pun terluka lebih dalam lagi.
Keheningan di dalam Nusantara Taste seolah berubah menjadi beban yang menekan setiap sudut ruangan. Suara denting sendok yang biasanya terdengar berirama, sapaan hangat pengunjung, bahkan bisikan pelan Ji-woo di sudut ruangan—semuanya lenyap seketika, seolah dunia luar berhenti berputar hanya untuk menyisakan suara isak tangis pelan Sabrina dan langkah perlahan Junhyung yang menjauh.
Sabrina masih terpaku di tempatnya, tangan kanannya masih menekan kuat kalung bulan sabit di lehernya, seolah benda itu tiba-tiba menjadi terlalu panas untuk disentuh, namun terlalu berharga untuk dilepaskan. Air matanya terus menetes tanpa henti, membasahi pipi yang tadi sempat merona karena senyum saat Joon Gi masih ada di sana. Kata-kata Junhyung masih terngiang di telinganya, berulang-ulang seperti gema yang tak mau hilang: "Jika kau bahagia bersamanya, aku akan melepaskanmu. Meski hatiku hancur berkeping-keping."