Semenjak percakapan terakhirnya dengan Yong Junhyung, hati Sabrina terasa seperti tercabik-cabik setiap kali ia menarik napas. Kata-kata pria itu—penuh rasa sakit, cemburu, namun dibalut dengan kasih sayang dan kekhawatiran yang tulus—terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya. Ia tahu Junhyung benar, pria itu hanya takut ia terluka, hanya takut ia salah melangkah. Namun, di sisi lain, Sabrina juga tidak bisa menyangkal bahwa kehadiran Lee Joon Gi telah membawa cahaya yang selama ini tersembunyi jauh di dalam hatinya
Dua hari berlalu, namun rasanya seperti dua tahun yang penuh siksaan batin. Sabrina berusaha tampil tenang di depan karyawan dan pengunjung, menyambut tamu dengan senyum ramah seperti biasa. Namun, begitu ia sendirian, bayang-bayang dua wajah yang sama-sama berarti itu langsung memenuhi pikirannya. Junhyung yang dingin namun menjadi rumah pertamanya, dan Joon Gi yang hangat serta membuatnya merasa menjadi wanita paling istimewa.
Siang itu, langit Seoul tampak kelabu. Akan turun hujan lagi, pikir Sabrina saat melirik ke luar jendela. Ia sedang duduk di meja sudut, mencoba berfokus pada catatan keuangan, namun matanya sering kali kosong menatap ruang hampa.
"Bu Sabrina," suara Ji-woo memecah keheningan, membuat Sabrina tersentak.
"Ada apa, Ji-woo?" tanyanya lemah.
"Tuan Lee Joon Gi ada di depan. Dia datang, tapi... sepertinya ragu untuk masuk. Dia melihat suasana di sini agak sepi dan Ibu terlihat sedang tidak enak badan," ucap Ji-woo pelan, wajahnya tampak prihatin melihat keadaan majikannya yang jelas-jelas sedang gelisah.
Sabrina menghela napas panjang. "Biarkan dia masuk, Ji-woo. Jangan sampai dia tahu aku sedang kacau begini."
Tak lama kemudian, Joon Gi melangkah masuk. Hari ini ia mengenakan jaket tebal berwarna hitam, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin luar. Saat matanya bertemu dengan Sabrina, seulas senyum hangat langsung terukir di wajahnya, meski samar-samar terlihat kekhawatiran di sana.
"Selamat siang, Sabrina," sapa Joon Gi lembut, lalu duduk tepat di hadapan wanita itu. "Maaf mengganggu. Aku cuma khawatir, langit mendung begini, biasanya suasanamu juga ikut berubah. Benar saja, wajahmu terlihat lelah sekali."
Sabrina memaksakan senyum tipis. "Aku baik-baik saja, Joon Gi. Hanya sedikit lelah, mungkin karena kurang tidur."
Joon Gi menatapnya lekat, matanya yang tajam seolah bisa menembus kebohongan kecil itu. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut menggenggam tangan Sabrina yang tergeletak dingin di atas meja. Sentuhan hangat itu seketika membuat jantung Sabrina berdegup kencang, namun kali ini ada rasa bersalah yang ikut menyelinap masuk.
"Jangan bohong padaku, Sabrina," ucap Joon Gi pelan namun tegas. "Aku mungkin baru mengenalmu belum lama ini dibandingkan orang lain, tapi aku bisa merasakan apa yang kau sembunyikan. Ada yang mengganggu pikiranmu, bukan? Dan aku dengar... kemarin Junhyung dari Highlight datang ke sini. Kalian bertemu, dan setelah itu kau berubah menjadi seperti ini."
Nama itu disebut begitu saja dari mulut Joon Gi, membuat Sabrina terperanjat. "Kau... kau tahu?"
Joon Gi mengangguk pelan, tatapannya tidak berubah lembut, namun ada kesedihan yang samar terlihat di sana. "Aku tahu segalanya, Sabrina. Aku tahu kau sudah lama mengenalnya. Aku tahu dia adalah orang yang paling berarti bagimu sebelum aku datang. Aku tahu dia melindungimu, membantumu berdiri tegak, dan mungkin... aku juga tahu bahwa hatimu sudah lama tertambat padanya."
Sabrina menunduk dalam, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga. "Maafkan aku, Joon Gi. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apa pun darimu. Aku hanya... aku hanya bingung. Hatiku terasa terbelah dua. Di satu sisi, ada Junhyung yang menjadi segalanya bagiku selama bertahun-tahun. Tanpanya, aku bukan siapa-siapa. Di sisi lain, ada kau yang datang membawa kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, membuatku merasa berharga dan dicintai dengan cara yang begitu indah."
Isak tangis kecil terdengar tertahan di tenggorokannya. "Aku orang yang jahat, bukan? Aku merasa serakah. Aku ingin keduanya, padahal aku tahu itu mustahil. Aku takut kehilangan Junhyung, karena dia adalah rumahku. Tapi aku juga takut melepaskanmu, karena kau membuatku merasa hidup dan dicintai sebagai wanita."
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Joon Gi tidak melepaskan genggamannya, ia justru meremas tangan Sabrina lebih erat, seolah memberikan kekuatan. Ia tidak marah, tidak kecewa, dan tidak menuntut. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang penuh pengertian dan kasih sayang yang mendalam.
"Kau tidak jahat, Sabrina," ucap Joon Gi pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan menenangkan. "Kau hanya manusia biasa yang sedang bingung memilih antara dua kebahagiaan yang berbeda. Cinta itu memang rumit, dan tidak ada yang salah dengan perasaanmu. Kau berhak dicintai, dan kau berhak merasa bahagia."
Joon Gi menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Aku tahu siapa Yong Junhyung. Aku tahu dia pria yang hebat, berbakat, dan setia. Aku tahu cintanya padamu bukanlah sekadar permainan. Dia berjuang dengan caranya sendiri, diam-diam dan penuh pengorbanan. Aku mengerti kenapa kau sangat menyayanginya. Pria seperti dia, yang rela menjadi bayangan demi melindungi wanita yang dicintainya, jarang sekali ditemui di dunia ini."
Sabrina mendongak, menatap Joon Gi dengan mata terbelalak kaget. Ia menyangka Joon Gi akan marah atau memburuk-burukkan Junhyung, tapi ternyata justru sebaliknya.
"Namun," lanjut Joon Gi, sorot matanya berubah menjadi tegas namun tetap lembut. "Aku juga pria yang mencintaimu, Sabrina. Dan cintaku ini bukanlah main-main. Aku datang padamu bukan karena penasaran, bukan karena ingin bersenang-senang, tapi karena aku menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupku di dalam dirimu. Aku ingin menjadi tempat pulangmu yang baru. Aku ingin menjadi pria yang bisa mencintaimu secara terang-terangan, memegang tanganmu di hadapan semua orang, mengenalkanmu pada keluargaku, dan menjadikanmu bagian dari hidupku tanpa rasa takut atau rahasia."
Joon Gi mendekatkan wajahnya sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Sabrina.
"Junhyung mencintaimu dengan cara melindungimu agar tidak terluka. Tapi aku mencintaimu dengan cara berdiri di sampingmu, berjalan bersamamu menghadapi dunia, dan membiarkanmu menjadi wanita yang kuat dan setara. Dia mencintaimu agar kau aman. Tapi aku mencintaimu agar kau bahagia seutuhnya."