Hujan terus turun membasahi jalanan Seoul, seolah ikut merasakan kegalauan yang menyelimuti hati Sabrina. Di dalam kafe yang mulai sepi, suasana terasa hening, hanya terdengar suara rintik air yang memukul kaca jendela dan detak jam dinding yang berjalan lambat. Lee Joon Gi masih duduk di hadapannya, tatapannya tetap lembut dan penuh pengertian, tidak memaksa, tidak menuntut apa pun selain kejujuran.
"Terima kasih sudah mengerti," ucap Sabrina pelan, berusaha menahan sisa air matanya. "Aku butuh waktu, Joon Gi. Bukan untuk mempermainkan hatimu, tapi untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan hatiku sendiri."
Joon Gi tersenyum tipis, lalu mengusap lembut punggung tangan Sabrina sebelum melepaskannya perlahan. "Aku mengerti. Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Aku tidak akan ke mana-mana. Tapi ingat satu hal: pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, kapan pun kau siap."
Ia berdiri, merapikan sedikit jaketnya yang basah terkena percikan air. "Aku permisi pulang dulu. Istirahatlah yang cukup, jangan memaksakan diri terlalu keras. Besok aku akan datang lagi, atau kita bisa bertemu jika kau sudah merasa lebih tenang."
Sabrina mengangguk pelan, mengantarnya sampai ke pintu kafe. Saat Joon Gi melangkah keluar dan menghilang di balik rintik hujan, pandangan Sabrina tanpa sengaja tertuju ke arah pinggir jalan. Sesaat ia melihat sosok mobil yang selama ini ia kenal—mobil Yong Junhyung—yang perlahan menyala dan bergerak menjauh, hilang di tikungan jalan yang berkabut.
Jantungnya berdegup kencang. Apakah Junhyung melihat semuanya? Apakah ia mendengar percakapan mereka? Rasa bersalah kembali menyergap hatinya, bercampur baur dengan rasa bingung yang semakin dalam.
"Bu Sabrina, sebaiknya Ibu pulang saja. Saya dan Tae Jun bisa membereskan semuanya di sini," suara Park Ji Woo memecah keheningan dari arah belakang.
Sabrina menoleh, melihat Ji Woo dan Kang Tae Jun yang menatapnya dengan prihatin. "Baiklah, terima kasih. Jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu utama."
Setelah berpamitan, Sabrina berjalan menuju apartemennya yang tidak terlalu jauh dari sana. Hujan masih turun, payung yang ia bawa seolah tidak mampu menahan angin yang berhembus kencang. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus melayang antara dua sosok pria yang sama-sama berarti baginya.
Di satu sisi, ada Yong Junhyung. Pria yang pertama kali menyambutnya saat ia masih asing dan tak berdaya di negeri ini. Ia yang mengajarkannya seluk-beluk pekerjaan, yang menutupi kesalahannya, yang selalu ada di saat-saat sulit meski dengan caranya yang dingin dan tertutup. Junhyung adalah bagian dari perjalanan hidupnya, saksi dari setiap tetes keringat dan air mata yang ia curahkan. Ia adalah rumah yang sudah ia kenal—nyaman dan aman, namun harus disimpan dalam kerahasiaan.
Namun di sisi lain, ada Lee Joon Gi. Pria yang datang tiba-tiba, membawa angin segar yang mengubah pandangannya tentang cinta. Joon Gi tidak bersembunyi. Ia tidak takut pada pandangan orang lain, tidak takut pada gosip atau sorotan media. Ia menawarkan cinta yang terang, di mana Sabrina tidak perlu merasa menjadi rahasia, tidak perlu merasa bersalah saat berjalan berdampingan. Ia menawarkan masa depan yang jelas, di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.
Sesampainya di apartemen, Sabrina melepas jaket basahnya dan duduk termenung di tepi tempat tidur. Ia meraih ponselnya, melihat layar yang gelap. Ada keinginan untuk menghubungi Junhyung, memastikan keadaannya, meminta maaf jika memang ia melihat apa yang terjadi. Namun ia takut. Takut mendengar suara dinginnya, takut melihat kekecewaan di matanya, takut harus segera membuat keputusan yang belum siap ia jawab.
Di tempat lain, di sebuah studio musik sederhana, Yong Junhyung duduk mematung di depan meja kerjanya. Ruangan itu sunyi, hanya diterangi cahaya lampu meja yang redup. Di hadapannya tergeletak secarik kertas berisi lirik lagu yang belum selesai ditulis, namun pikirannya jauh melayang ke tempat lain.
Apa yang dilihatnya tadi terus terbayang di kepalanya. Cara Joon Gi memegang tangan Sabrina, cara ia menatapnya dengan penuh kasih sayang, cara ia berbicara seolah tidak ada hal lain yang lebih berharga di dunia ini. Semua itu membuat dada Junhyung terasa sesak, namun di sisi lain, ia tidak bisa menyangkal kebenaran dari kata-kata yang pernah ia dengar.
Selama ini, ia selalu berpikir bahwa melindungi Sabrina dengan menjaga jarak dan kerahasiaan adalah cara terbaik. Ia takut jika nama Sabrina dikaitkan dengannya, masa lalunya yang kelam akan ikut menimpa wanita itu. Ia takut sorotan media, takut komentar miring, takut Sabrina terluka karena hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Tapi apakah perlindungan itu justru menjadi belenggu? Apakah dengan menjaganya agar tetap aman, ia justru menghalangi kebahagiaan yang lebih besar untuknya?
Junhyung menghela napas panjang, meremas rambutnya dengan frustrasi. Ia mencintai Sabrina, itu hal yang tidak bisa disangkal lagi. Ia rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Tapi jika kebahagiaan itu justru ada di sisi pria lain yang bisa memberikan apa yang tidak bisa ia berikan—kebebasan, keterbukaan, dan masa depan yang pasti—apakah ia berhak untuk mempertahankannya?
Ponsel di sampingnya bergetar, menampilkan nama Yoon Doojoon. Dengan tangan yang masih bergetar, Junhyung mengangkatnya.
"Junhyung, kau di mana? Aku mendengar kabar kau ke kafe Sabrina tadi," suara Doojoon terdengar tenang dari seberang sana.
"Aku di studio," jawab Junhyung singkat.
"Kau melihatnya, kan? Melihat bagaimana Joon Gi memperlakukannya," Doojoon melanjutkan, tidak perlu bertele-tele. "Aku tahu perasaanmu, Jun. Kami semua tahu. Tapi kau harus jujur pada dirimu sendiri. Apa yang kau tawarkan padanya? Cinta yang harus disembunyikan? Atau kau berani melangkah maju dan berjuang terang-terangan?"
Kata-kata itu menusuk tepat di hati Junhyung. Ia terdiam, tidak mampu menjawab.
"Berpikirlah baik-baik, Jun. Jangan biarkan rasa takut membuatmu kehilangan apa yang paling berharga. Tapi ingat juga, keputusanmu nanti harus yang terbaik untuknya, bukan hanya untuk egomu sendiri."
Panggilan itu berakhir, meninggalkan Junhyung dalam kesunyian yang semakin terasa berat. Ia menatap jendela yang berkabut, mencerminkan bayangan dirinya sendiri yang tampak lelah dan bimbang.
Di malam yang sama, di rumah keluarga Lee, Lee Joon Gi duduk di ruang tamu bersama ibunya, Lee Soo Jin. Wanita paruh baya itu menatap putranya dengan tatapan penuh perhatian, seolah bisa membaca beban yang dipikulnya.