Pagi berikutnya, matahari perlahan menembus sisa kabut tebal yang menyelimuti kota Seoul semalam. Sinarnya yang keemasan menyentuh atap-atap gedung tinggi dan memantul di permukaan jalanan yang masih basah terkena hujan. Namun, ketenangan alam itu sama sekali tidak tercermin di dalam hati Sabrina. Sejak pagi buta, ia sudah berada di kafe Nusantara Taste, memeriksa persiapan untuk cabang barunya di Gangnam, namun pikirannya melayang jauh, terjebak dalam peristiwa yang terjadi sehari sebelumnya.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Lee Joon Gi yang penuh pengertian dan Yong Junhyung yang tampak terluka terputar bergantian di kepalanya. Ia merasa berada di persimpangan jalan yang tidak memiliki tanda arah. Di satu sisi, ada kehangatan dan keterbukaan yang ditawarkan Joon Gi, di sisi lain ada masa lalu, perjuangan, dan kebersamaan yang telah terjalin bertahun-tahun bersama Junhyung.
"Bu Sabrina?"
Suara lembut Park Ji Woo membuyarkan lamunannya. Wanita muda itu berdiri di ambang pintu ruang kerja dengan ekspresi sedikit ragu.
"Ada tamu yang ingin bertemu Ibu. Katanya, dia kenal baik dengan Tuan Yong Junhyung. Namanya Yoon Doojoon."
Jantung Sabrina berdegup kencang mendengar nama itu. Yoon Doojoon, pemimpin grup Highlight, orang yang paling dekat dengan Junhyung dan sering menjadi tempat bercerita bagi seluruh anggota grup. Kehadirannya di sini pasti ada maksud tertentu.
"Baiklah, persilakan dia masuk. Sediakan minuman kesukaannya, teh hijau hangat."
Beberapa saat kemudian, Yoon Doojoon melangkah masuk. Pria itu tampak lebih santai dibandingkan saat ia masih aktif di dunia hiburan, namun tatapan matanya tetap tajam dan penuh kebijaksanaan. Ia tersenyum tipis melihat Sabrina yang berdiri menyambutnya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Sabrina. Aku tahu ini mungkin mengganggu pekerjaanmu," ucap Doojoon sopan, lalu duduk di kursi yang ditawarkan.
"Tidak apa-apa, Doojoon-ssi. Silakan duduk. Ada hal penting yang ingin disampaikan?"
Doojoon menarik napas panjang, menatap wajah Sabrina dengan tatapan yang penuh perhatian. Ia tahu apa yang akan ia sampaikan mungkin akan mengubah pandangan Sabrina selama ini, namun ia merasa berkewajiban untuk menceritakannya, bukan untuk memihak, melainkan agar wanita itu membuat keputusan dengan hati yang mengetahui seluruh kebenaran.
"Sabrina, aku datang ke sini bukan sebagai mantan atasanmu, bukan sebagai pemimpin grup, tapi sebagai teman. Aku telah melihat perjalananmu selama bertahun-tahun—mulai dari gadis asing yang canggung dan takut berbicara, hingga menjadi wanita mandiri yang sukses memiliki usaha sendiri. Dan aku juga telah melihat bagaimana Junhyung bersikap padamu, meski seringkali dengan cara yang sulit dimengerti."
Sabrina menunduk, meremas ujung kain celemeknya. "Aku tahu dia memiliki sifat yang tertutup. Aku hanya... aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri. Dan aku tidak ingin menyakiti siapa pun."
"Aku mengerti itu. Dan itulah sebabnya aku di sini. Aku ingin kau mendengar kisah yang selama ini disembunyikan Junhyung darimu. Kisah yang membuatnya bertindak seperti yang kau lihat selama ini."
Sabrina mendongak, matanya membesar karena penasaran sekaligus waspada. "Kisah apa yang disembunyikannya?"
"Kau ingat, sekitar lima tahun yang lalu, ketika Junhyung tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya dari grup dan menarik diri total dari dunia hiburan? Saat itu, dia mengatakan bahwa dia ingin menyendiri dan memperbaiki diri. Tapi apakah kau tahu alasan sebenarnya di balik keputusan itu?"
Sabrina menggeleng pelan. "Dia hanya mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu sendiri. Aku tidak memaksanya untuk bercerita lebih jauh."
Doojoon mengangguk pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah dan serius. "Saat itu, ada sekelompok orang yang berniat menjatuhkan nama baik Junhyung. Mereka menyebarkan tuduhan-tuduhan palsu, mencoba menghancurkan karirnya yang sedang menanjak. Dan yang paling berbahaya, mereka mengetahui bahwa ada seseorang yang sangat berarti baginya—yaitu kau."
Dada Sabrina terasa sesak mendengarnya. "Aku? Mengapa mereka melibatkanku?"
"Mereka tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuat Junhyung menyerah adalah dengan mengancam orang yang dicintainya. Mereka mengancam akan menyeret namamu ke dalam gosip kotor, menyebarkan berita bohong yang bisa merusak reputasimu, bahkan berusaha mengusirmu dari Korea jika Junhyung tidak mau mengaku atas tuduhan yang tidak pernah dia lakukan."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sabrina. Selama ini, ia selalu merasa bahwa jarak yang diciptakan Junhyung adalah tanda ketidakpedulian, namun ternyata sebaliknya.
"Jadi... dia mundur dan menjauhiku... untuk melindungiku?" suaranya bergetar menahan emosi.
"Ya," jawab Doojoon tegas. "Dia memilih untuk menanggung semuanya sendirian. Dia berpikir, jika dia menjaga jarak, bersikap dingin, dan seolah tidak peduli, maka kau akan aman dan tidak menjadi sasaran. Dia rela mengorbankan karirnya, nama baiknya, dan bahkan perasaannya sendiri demi memastikan kau bisa hidup tenang dan membangun masa depanmu tanpa terbebani oleh masalahnya."
Doojoon berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati Sabrina. "Setelah situasi itu mereda dan ancaman itu perlahan menghilang, dia berusaha mendekat lagi. Tapi saat itu, dia melihat betapa kuatnya dirimu. Kau sudah memiliki tempat sendiri, kafe ini mulai berkembang, dan kau terlihat bahagia dengan caramu sendiri. Kemudian, dia melihat Lee Joon Gi datang. Dia melihat bagaimana pria itu bisa memperlakukanmu secara terbuka, tanpa rasa takut, tanpa harus menyembunyikan apa pun. Dia merasa, apa yang bisa dia tawarkan padamu sekarang? Hanya masa lalu yang kelam dan cinta yang harus disembunyikan. Sedangkan Joon Gi bisa memberikanmu dunia yang terbuka, di mana kau bisa dicintai dengan bangga."
Sabrina tidak mampu menahan air matanya lagi. Butiran bening itu mengalir di pipinya, membawa rasa haru yang mendalam sekaligus rasa sakit karena menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan orang yang ia kenal selama ini. Ia teringat pada momen-momen kecil: bagaimana Junhyung selalu memastikan ia pulang dengan selamat saat bekerja lembur, bagaimana ia diam-diam menolong saat kafe mengalami kesulitan modal, bagaimana tatapannya selalu mengikuti gerak-geriknya meski wajahnya terlihat datar. Semua itu bukan ketidakpedulian, melainkan bentuk cinta yang tersembunyi.
"Jadi selama ini... aku salah menilainya," bisiknya lirih.
"Tidak, kau tidak salah," Doojoon mencoba menenangkan. "Caranya memang sulit dimengerti. Dia terlalu takut untuk berbicara jujur karena khawatir hal itu justru akan membawamu kembali ke dalam bahaya. Aku tidak datang ke sini untuk memaksamu memilih Junhyung. Aku hanya ingin kau mengetahui kebenaran. Supaya keputusan yang kau ambil nanti bukan didasari oleh salah paham, melainkan oleh apa yang benar-benar kau rasakan di dalam hatimu."
Saat percakapan itu berlangsung, di luar kafe, Lee Joon Gi baru saja turun dari mobilnya. Ia berniat datang sekadar memastikan keadaan Sabrina, namun saat melihat sosok Yoon Doojoon di dalam, ia memutuskan untuk tidak masuk. Ia berdiri diam di balik tiang besar di pinggir trotoar, cukup jauh agar tidak terlihat namun cukup dekat untuk melihat ekspresi Sabrina yang tampak terkejut dan sedih. Ia bisa menebak apa yang sedang dibicarakan.
Joon Gi menghela napas panjang. Ia tidak merasa cemburu, melainkan merasa terhormat mengetahui betapa dihargainya wanita ini. Ia tahu, cinta yang dilandasi pengorbanan sebesar itu bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Namun, ia juga yakin bahwa cinta yang sejati harus mampu berdiri tegak di bawah sinar matahari, bukan hanya bersembunyi di dalam kegelapan.
Di tempat lain, di sebuah studio musik kecil yang terletak di pinggiran kota, Yong Junhyung duduk mematung di depan meja kerjanya. Ruangan itu sunyi, hanya diterangi cahaya lampu meja yang redup. Di hadapannya tergeletak sebuah foto lama yang diambil lima tahun lalu—foto dirinya bersama Sabrina dan anggota Highlight lainnya saat mereka baru saja merayakan keberhasilan album pertama. Wajah Sabrina di sana terlihat ceria dan penuh harapan.
Jari-jarinya yang kurus menyentuh permukaan kaca foto itu dengan lembut. Hatinya terasa berat. Ia tahu Doojoon sedang berbicara dengan Sabrina, dan ia tahu temannya itu pasti menceritakan semuanya. Ada rasa takut yang mencengkeram dadanya. Takut jika setelah mengetahui kebenaran, Sabrina justru merasa terbebani atau merasa berhutang budi, bukan karena cinta.
Apakah aku telah melakukan hal yang benar? Atau justru aku telah menciptakan jarak yang terlalu lebar untuk kita jembatani? gumamnya dalam hati.