Love & L(ie)ability

Amni Vora
Chapter #1

Would Never, Ever Forget

Lima tahun ke depan, kamu akan jadi sosok yang seperti apa?

Pertanyaan itu sulit dibayangkan oleh seseorang seperti Mentari, yang nyaris tak pernah lagi berharap.

Setelah batal menikah dengan tunangannya, kekasih barunya meninggal, dan lamaran pekerjaannya ditolak oleh berbagai perusahaan, Mentari selalu mengitari setiap sudut kota dengan mobil tantenya.

Tanpa arah. Tanpa tujuan.

Mungkin rute yang diambilnya setiap hari selalu sama—melewati gedung teater legendaris di kotanya. Tapi ia tidak pernah benar-benar berhenti di satu tempat untuk waktu yang lama.

Selalu singkat. Sebagaimana hubungannya dengan tunangannya, hubungannya dengan almarhum kekasihnya, dan tenggat waktu lamarannya diterima dan ditolak.

Suatu siang, Mentari tengah menghentikan mobilnya di baris terdepan sebelum garis penyeberangan jalan di perempatan gedung teater kota. Orang-orang yang menyeberang di hadapannya tak membuatnya terkesan maupun penasaran. Hingga tiba-tiba, tampak seorang laki-laki yang menggandeng seorang perempuan saat menyeberangi jalan bersama.

Ari, batin Mentari singkat begitu melihat sisi wajah laki-laki tersebut. Ari adalah mantan tunangan Mentari yang membatalkan pernikahan terjadwal mereka secara sepihak.

Sembari menunggu lampu merah berubah hijau, Mentari mengamati gerak-gerik Ari dan perempuan di sampingnya yang berada di antara para penyeberang jalan. Cincin yang tersemat di jari manis laki-laki itu pun tak lolos dari perhatiannya.

Namun, terdapat satu kejanggalan.

Ari, yang tampak menggenggam tangan perempuan di sampingnya dengan tangan kirinya, menunjukkan gestur aneh pada tangan kanannya. Ibu jari kanannya kerap menggosok cincin di jari manis kanannya seolah-olah cincin itu membuatnya tidak nyaman.

Alih-alih menaruh perhatian pada lampu yang berubah hijau, Mentari masih melekatkan pandangannya pada jari manis kanan Ari sehingga klakson-klakson kendaraan di belakangnya mulai bergema. Barulah saat ia menyadari telah membuat orang-orang di belakangnya merasa tidak sabar, Mentari memindahkan tuas transmisinya dan melajukan mobilnya perlahan.

Hanya sesaat. Karena berikutnya, Mentari memarkirkan mobilnya di tepi jalan dekat gedung teater kota, di mana tidak hanya mobilnya yang terparkir paralel di sana.

Gedung teater itu terkenal akan pertunjukan-pertunjukan balet Barat yang langsung dibawakan oleh penari-penari muda berbakat. Hari libur maupun hari kerja, akan selalu ada deretan mobil yang parkir di tepi jalan dan antrean di depan loket gedung berarsitektur Eropa.

Saat Mentari mencapai ekor antrean, Mentari menyapu antrean tersebut dengan pandangannya. Ditemukanlah sosok yang sedari tadi membangkitkan rasa penasarannya di tengah-tengah antrean.

Rupanya kamu masih suka kesenian Barat, batin Mentari sambil menggenggam erat tali tas selempangnya.

Mentari tidak pernah mengambil pusing terkait keputusan Ari untuk membatalkan pernikahannya karena alasan terlilit utang puluhan juta. Toh, Mentari tidak bisa membantu Ari membayar kewajibannya dengan kondisinya yang menganggur.

Namun, Mentari tidak menyangka Ari akan menjalin hubungan baru dengan perempuan yang tampak lebih mapan darinya. Seketika, seluruh penerimaannya terasa seperti sebuah lelucon. Apakah benar Ari membatalkan pernikahannya karena terlilit utang atau karena Mentari tidak cukup mapan baginya? Dua tahun penuh perayaan meriah dan mesra terdengar cukup tidak masuk akal bagi Mentari untuk mendapatkan kedua jawaban.

Lihat selengkapnya