Cally lahir dari keluarga yang serba terpenuhi, bagaimana tidak, ayahnya adalah pemilik ICORP. Perusahaan teknologi besar yang sangat sukses dan diketahui seluruh dunia. Rumah mereka penuh dengan barang-barang mahal dan terkesan dingin, setiap sudut rumahnya hanya diisi dengan berbagai patung dan barang-barang kuno koleksi milik ibu Cally yang juga seorang pengusaha barang antik. Ibunya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari dan mengoleksi barang-barang tersebut dari seluruh dunia. Maka dari itu Cally lebih sering menghabiskan waktu dengan kakak laki-lakinya.
Sejak kecil, Cally lebih suka bermain petak umpet atau berlarian di sekitar taman besar di belakang rumah bersama kakaknya, jauh dari bermain boneka seperti anak perempuan pada umumnya. Ayah dan ibunya berusaha mendidiknya agar menjadi wanita yang elegan dengan mendaftarkannya kelas balet. Namun, Cally tak pernah tertarik dengan dunia itu. Cally selalu mencari cara untuk melewatkan kelas balet tersebut. Masa remajanya pun tak jauh berbeda. Dia seringkali absen dari sekolah swastanya yang bergengsi itu hanya untuk bertemu dengan teman-temannya dari sekolah biasa. Dan teman-temannya itulah yang sampai sekarang menjadi teman bandnya.
Suatu hari, Cally memutuskan untuk mengubah penampilannya. Sebaris tulisan bertinta hitam menghiasi lengannya – lapsae animae, Bahasa latin untuk jiwa yang terbang tinggi. Iya, sebuah tato kini terukir di lengannya. Tato yang menunjukkan betapa Cally ingin kebebasan.