Sehari setelah malam penghargaan, Cally terlihat sedang berlari santai. Matanya lurus kedepan, menatap jalanan yang ia lalui setiap pagi di waktu olahraga paginya. Semua anggota tubuhnya bergerak namun pikirannya terpaku pada suatu sosok, sosok yang sering ia lihat di kedai kopi langganannya, Zane. Entah kenapa sosok lelaki rapih itu selalu menyelimuti pikiran Cally, dia bahkan belum pernah berkenalan dengannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Terdengar konyol tapi itulah yang dirasakan Cally.
Selama sepuluh tahun menempuh karirnya, Cally tidak pernah sama sekali merasakan perasaan itu. Perasaan menggebu-gebu untuk bertemu, hanya untuk melihat raut serius orang yang bahkan tidak sadar akan kehidupan sekitarnya. Orang yang hanya terpaku pada laptopnya.
“Itu dia! Duduk di kursi itu seperti biasa, mata terpaku pada layar” gumam Cally saat memasuki kedai kopi langganannya dan melihat sosok Zane yang duduk di kursi dekat jendela, dengan iced cappuccino nya yang masih tersisa setengah.
Kilas balik saat pertama kalinya Cally melihat Zane. Seperti biasa, selepas lari paginya, Cally selalu singgah di Coffnow dan memesan iced americano. Saat dia menunggu pesanannya, barista meneriakkan nama itu, nama yang akhirnya menempel dalam benak Cally.
“Iced cappuccino, Zane!” saut barista itu. Sosok pemilik pesanan itu pun datang kearah bar untuk mengambil pesanannya. “Iced americano, Cally!” saut barista itu lagi. Cally pun mengambil pesanannya dan saat dia membalikkan badannya untuk meninggalkan kedai itu, dia tidak sengaja menabrak Zane dan menumpahkan kopinya ke badan Zane yang tinggi dan bidang itu. Baik Cally dan Zane terkejut, dan Cally dengan buru-buru mengambil segenggam tisu untuk menepuk-nepuk bekas kopi di baju Zane.
“OMG!! I’m so sorry” ucap Cally dengan nada sedikit panik. “I’ts okay, all good” kata Zane sembari menepis tangan Cally perlahan. “Seriously, maaf banget! Aku tidak mendengar ada orang dibelakangku because of this stupid headphone!”. Sambil tersenyum tipis, Zane mengulang perkataannya dan tetap mengambil pesanannya lalu bergegas mengambil laptop dan tas nya kemudian keluar dari kedai. Saat Cally ingin mengejarnya untuk menawarkan ganti rugi, Zane sudah masuk didalam taksi yang berhenti tepat di depan kedai.
Kejadian itu begitu memalukan untuk Cally, namun entah kenapa dia tetap mengulang kejadian itu di benaknya. Senyum tipis yang membingkai wajah orang yang terkena tumpahan kopinya itu, sosok yang sangat dewasa dan bijak itu selalu ada dipikiran Cally.