Malam itu, seperti janji Lucas pada Brie, dia mendatangi toko kue itu dengan menutupi wajahnya menggunakan masker dan kacamata hitam, tidak lupa dengan topi yang menutupi sedikit wajahnya. Brie masih terkejut dengan penampilan Lucas, yang begitu berbeda dari sosoknya yang biasanya tampak di depan kamera dan sorotan media. Lucas seperti mencoba menghilangkan identitasnya untuk sementara waktu, atau mungkin juga ingin melarikan diri sejenak dari dunia yang memandangnya.
Mereka berdua berjalan melewati kota yang kini terasa berbeda. Seperti ada jarak antara dunia yang mereka tinggalkan di toko kue dan dunia yang mereka masuki dalam percakapan ini—sebuah dunia yang lebih tenang, jauh dari sorotan. Di sepanjang jalan dan taman yang mereka lewati, percakapan mereka pun mengalir begitu saja, dengan tawa dan senyum yang tak terhindarkan, meski terkadang ada kepahitan yang tersembunyi di baliknya.
“Kau terlihat sangat serasi dengan Cally” ucap Brie, mencoba membuka topik yang sudah lama mengganjal di pikirannya. Suara Brie terdengar ringan, tapi ada sedikit ketegangan yang sulit disembunyikan di balik kata-katanya. Seolah-olah, ia ingin tahu lebih banyak tentang hubungan Lucas dengan Cally—lebih banyak dari sekadar apa yang telah terlihat di permukaan.
Lucas menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak terlalu lama berpikir. Ia tahu bahwa jawabannya akan membawa kesan tertentu, namun pada saat yang sama, ia tidak ingin berbohong kepada Brie. Setelah beberapa detik, ia menghela napas pelan dan menjawab dengan suara pelan. “Ya, begitulah.”
Brie tersenyum, meskipun senyumnya terasa agak memaksakan. “Ya, itulah kami, pasangan ter sempurna abad ini,” lanjutnya dengan sedikit sarkasme, mencoba mengurangi ketegangan yang mulai terasa di antara mereka. Ia sedikit tertawa, seolah mengejek kenyataan bahwa mereka berdua tahu betapa tidak nyamannya dia dengan citra sempurna yang dipaksakan oleh dunia.
Brie ikut tertawa, meski tawa itu terasa lebih seperti pelarian dari perasaan yang tidak ingin dia hadapi. Ia tahu betul bahwa Lucas tidak suka pujian berlebihan, dan ia bisa merasakan betapa Lucas terperangkap dalam peran yang sudah dibentuk oleh orang-orang di sekitarnya.
Malam semakin larut, dan meskipun kota semakin sepi, suasana di sekitar mereka terasa hangat. Brie menoleh ke Lucas, yang masih setia berjalan di sampingnya, masker dan kacamata hitamnya kini terlihat sedikit lebih longgar, seolah menandakan bahwa ia merasa lebih nyaman di sini, jauh dari keramaian.