Love Bombing

Zee Lesta
Chapter #1

Chapter #1 Gadis Abu-Abu

Aku selalu percaya bahwa setiap orang dilahirkan dengan palet warna masing-masing. Ada orang-orang seperti Maya, sahabatku, yang warnanya kuning terang. Ia ceria, berisik, dan selalu menarik perhatian. Ada guru-guru yang warnanya cokelat tua yang berarti membosankan dan kaku. Lalu, ada aku. Adelia. Kalau kau bertanya apa warnaku, jawabannya adalah abu-abu. Bukan abu-abu yang elegan seperti gedung pencakar langit, tapi abu-abu kabur seperti asap knalpot yang mudah hilang tertiup angin.

Di SMA Cempaka Putih yang ramai ini, aku adalah figuran. Aku adalah orang yang sering tidak sengaja tertabrak di koridor hanya karena mereka memang tidak melihatku. Dan jujur saja, aku tidak keberatan. Menjadi transparan berarti aman. Tidak ada drama, tidak ada ekspektasi berlebih, dan juga tidak akan ada mata yang menghakimi.

Pagi itu, perpustakaan sekolah sedang sepi-sepinya. Bau kertas lama adalah aroma favoritku. Di pojok paling belakang, di meja yang kayunya sudah agak mengelupas, aku membuka buku sketsaku. Pensil 2B-ku menari di atas kertas, mencoba menangkap detail bayangan dari pot tanaman di sudut ruangan.

"Detailnya bagus banget,"sebuah suara berat tiba-tiba memecah keheningan.

Krak!

Aku tersentak. Ujung pensilku menekan kertas terlalu keras hingga patah. Rasanya kesal karena konsentrasiku seketika buyar. Namun saat aku mendongak, kalimat yang sudah di ujung lidah itu mendadak menguap dan jantungku berdegup kencang.

Di depanku berdiri Tegar.

Semua orang tahu Tegar. Dia adalah definisi dari "pemeran utama". Kapten tim basket sekolah berwajah tampan dengan rahang tegas, rambut yang selalu tampak berantakan dengan cara yang keren, dan senyum yang bisa membuat siswi kelas sepuluh sampai kelas dua belas mendadak lupa cara bernapas. Dia sedang memegang sebuah kotak susu cokelat dingin.

"Eh, sori. Aku bikin kamu kaget ya?" Ia menarik kursi di depanku tanpa menunggu izin.

Aku mengerjap, masih berusaha memproses kenyataan bahwa seorang Tegar sedang duduk di mejaku, meja si gadis abu-abu.

"Nggak ... eh, iya, dikit." Aku buru-buru menutup buku sketsaku, merasa malu karena karyaku dilihat oleh orang asing.

"Jangan ditutup," katanya lembut.

Tangannya bergerak, seolah ingin menahan tanganku, tapi dia berhenti tepat sebelum menyentuh kulitku. Sopan.

"Aku tadi lewat dan nggak sengaja lihat. Kamu punya bakat yang luar biasa, Adelia."

Dia tahu namaku?

"Kamu ... tahu namaku?" Suaraku terdengar kecil, nyaris seperti cicitan tikus.

Lihat selengkapnya