Love Bombing

Zee Lesta
Chapter #2

Chapter #2 Jeratan Manis

"Del, kamu nggak kesurupan, kan?"

Suara Maya menarikku kembali ke realitas kantin yang bising. Aku tersadar bahwa aku sudah menatap layar ponselku selama hampir dua menit tanpa berkedip. Pesan dari Tegar masih di sana, seolah-olah menantang logikaku.

"Pulangnya aku antar, ya?"

"Dia ... dia serius mau antar aku pulang," bisikku pelan, lebih kepada diriku sendiri.

Maya memutar bola matanya dengan gemas. "Ya iyalah serius! Masa kapten basket sekolah kurang kerjaan mau prank cewek di kantin pakai ramalan cuaca? Balas, Adelia! Sebelum dia berubah pikiran!"

Jemariku masih terasa kaku. Ada keraguan kecil yang menggelitik di balik dadaku. Aku tidak pernah pulang dengan laki-laki sebelumnya. Biasanya aku berjalan kaki ke halte bus atau dijemput ayah jika beliau sedang tidak lembur. Tapi menolak Tegar rasanya seperti membuang tiket lotre yang sudah jelas menang.

Adelia: Apa nggak merepotkan? Aku ada ekskul batik dulu sampai jam empat.

Aku menahan napas. Typing ... muncul seketika.

Tegar_Dirgantara: Nggak sama sekali. Aku juga latihan basket sampai jam 4. Pas banget, kan? Aku tunggu di depan ruang seni ya nanti. Don't say no, Del. :)

Simbol senyum di akhir pesan itu seolah mengunci segala kemungkinan untukku menghindar. Aku meletakkan ponsel dengan lemas, wajahku terasa panas sampai ke telinga.

"Dia bakal nunggu di depan ruang seni," kataku pada Maya.

Maya memekik tertahan, nyaris menjatuhkan kerupuknya. "Wah, gila! Tegar bener-bener nggak main-main. Dia mau satu sekolah lihat kalau dia jemput kamu? Ini bakal jadi berita besar, Del. Siap-siap saja akunmu di-tag orang-orang."

Peringatan Maya seharusnya membuatku cemas, tapi rasa senang yang membuncah jauh lebih mendominasi. Sepanjang sisa pelajaran sejarah setelah istirahat, aku sama sekali tidak bisa fokus. Pikiranku justru menyusun adegan jam empat sore nanti di depan ruang seni, bersama Tegar.

Lihat selengkapnya