Love Bombing

Zee Lesta
Chapter #3

Chapter #3 Ledakkan Perhatian

Malam ini, kamarku yang biasanya tenang mendadak terasa sibuk. Di atas meja belajar, ponselku menyala setiap beberapa menit sekali, menerangi sketsa pot tanaman yang kugambar tadi pagi, yang masih setengah jadi. Aku mencoba fokus, tapi getaran di atas meja itu terlalu menggoda untuk diabaikan.

Tegar : Lagi apa, Del? Gambarnya sudah selesai?

Aku tersenyum kecil, tadi siang kami sudah tukeran nomor WhatsApp lewat Instagram. Aku mengetik balasan singkat.

Adelia : Belum, masih arsiran dasar.

Baru saja aku meletakkan ponsel, benda itu bergetar lagi.

Tegar : Jangan terlalu diforsir ya. Aku nggak mau kamu capek. Oh iya, tadi aku baru dengar lagu yang liriknya mirip banget sama kamu. Mau aku kirim link-nya?

Belum sempat aku membalas "iya", sebuah tautan YouTube sudah masuk. Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu akustik bertempo lambat itu. Liriknya tentang seseorang yang menemukan permata di tempat yang tak terduga. Hatiku mencelos. Apakah aku permata itu bagi Tegar?

Adelia : Lagunya bagus banget, Gar. Makasih ya.

Tegar : Apa sih yang nggak buat kamu? Del, kamu tahu nggak? Tadi pas di motor, aku ngerasa waktu jalan lambat banget. Aku pengen jalanan ke rumah kamu nggak ada ujungnya biar bisa lama-lama sama kamu.

Aku menggigit bibir bawahku, menahan pekikan gemas agar tidak terdengar sampai ke kamar Ayah di sebelah. Kalimat-kalimat Tegar terasa seperti serangan bertubi-tubi yang menghantam pertahananku. Dia begitu terbuka, begitu berani menyatakan perasaannya. Sangat kontras denganku yang selalu menyimpan segalanya sendiri.

Tegar : Del? Kok cuma di-read? Kamu marah ya?

Aku tersentak. Hanya jeda tiga puluh detik dan dia sudah merasa aku marah?

Adelia : Nggak kok, Gar! Aku cuma bingung mau balas apa. Kamu pinter banget kalau ngomong.

Tegar : Aku cuma jujur, Del. Aku bener-bener takut kalau aku nggak kasih tahu sekarang, kamu nggak bakal tahu betapa berartinya kamu buat aku hari ini. Jangan ilang ya? Aku nggak suka kalau chat-ku nggak dibalas lama.

Jangan ilang ya? Kalimat itu terasa sedikit mengganggu, tapi aku menganggapnya sebagai bentuk rasa sayang yang meluap-luap. Aku pun menghabiskan sisa malam itu dengan membalas pesan-pesan darinya. Tegar menanyakan segalanya, dari merk pensil favoritku, makanan yang aku benci, sampai jam berapa biasanya aku bangun tidur.

Lihat selengkapnya