Love Bombing

Zee Lesta
Chapter #4

Chapter #4 Cuma Butuh Satu Detik

Pesan singkat di layar ponsel itu membuatku tersenyum simpul, tapi ada sedikit rasa geli yang aneh di ulu hatiku.

"Jangan pernah makan bareng cowok lain."

Kalimat itu terdengar seperti candaan posesif yang manis, khas cowok-cowok di novel remaja. Aku memasukkan ponsel ke dalam laci meja, mencoba fokus pada buku biologi yang baru saja kubuka.

Namun, fokusku buyar saat Maya datang dengan langkah tergesa-gesa dan langsung menggeser kursi di sampingku.

"Del! Gila ya, tadi aku lihat dari jauh di parkiran!" Maya setengah berbisik, tapi matanya melotot lebar. "Sarapan bareng di taman? Serius?! Kamu tahu nggak, tadi si Clarissa lewat dan mukanya sudah kayak mau meledak?"

Aku hanya bisa meringis kecil. "Tegar cuma nggak mau aku masuk kelas dengan perut kosong, May. Dia ... perhatian banget."

"Perhatian banget apa niat banget?" Maya menyipitkan mata. "Tapi ya sudahlah, nikmati saja. Kapan lagi si gadis abu-abu jadi headline gosip satu sekolah karena dipuja sang kapten basket?"

Maya terus mengoceh tentang betapa beruntungnya aku, sementara aku hanya mengangguk-angguk. Pikiranku justru melayang ke pesan Tegar tadi. Apakah dia benar-benar cemburu? Padahal kami baru saja mulai dekat.

Jam istirahat tiba. Belum juga aku berdiri dari kursi, sosok Tegar sudah muncul di ambang pintu kelas. Dia tidak masuk, hanya berdiri di sana dengan satu tangan di saku celana, sementara tangan lainnya melambai padaku. Seluruh teman sekelasku mendadak sunyi, mata mereka bergantian menatapku dan Tegar.

"Ayo, Del. Kantin?" ajaknya dengan suara yang cukup lantang.

Dengan perasaan canggung, aku berjalan menghampiri Tegar.

"Katanya mau nunggu di kantin. Kok malah ke sini?" tanyaku saat sudah berada di sampingnya.

"Nggak papa. Buat kamu, apa sih yang enggak" jawabnya santai sambil merangkul bahuku.

Aku tersentak sedikit. Ini pertama kalinya dia merangkulku di depan umum, di koridor yang penuh orang. Aku ingin melepaskannya karena merasa risih ditatap banyak orang, tapi saat aku melirik wajah Tegar, dia tampak begitu bangga. Seolah-olah dia sedang menunjukkan kepada dunia bahwa aku adalah miliknya.

Di kantin, keadaan tidak jauh berbeda. Tegar memesankan mie ayam dan es jeruk untukku, bahkan sebelum aku sempat memilih.

Lihat selengkapnya