Love Bombing

Zee Lesta
Chapter #5

Chapter #5 Tenggelam dalam Euforia

"Adelia." Tegar menyebut namaku dengan lantang. "Aku, Tegar Dirgantara, mau kamu jadi pacar aku. Detik ini juga, di depan semua orang. Aku mau semua orang tahu kalau kamu punya aku, dan aku punya kamu. So, kamu mau kan jadi pacarku?"

Hening.

Kantin yang biasanya seperti pasar mendadak senyap seperti kuburan. Aku bisa melihat Maya di meja seberang menutup mulut dengan kedua tangan, sementara di sudut lain, Clarissa menatapku dengan pandangan membunuh.

Tegar menatapku dengan penuh harap. Di matanya, aku melihat sebuah janji tentang dunia yang penuh warna, dunia yang selama ini terasa jauh dari jangkauan. Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk, karena menolaknya di sini, di depan semua orang, terasa seperti sebuah kejahatan.

"I ... iya, Gar. Aku mau," jawabku nyaris tak terdengar.

Seketika kantin pecah oleh sorakan dan tepuk tangan. Tegar tersenyum sangat lebar, menarikku ke dalam pelukannya yang erat. Sangat erat sampai aku sulit bernapas.

"Mulai sekarang, kamu milikku, Del. Cuma milikku," bisiknya tepat di telingaku.

Di tengah riuhnya ucapan selamat, aku hanya bisa terdiam dalam pelukannya. Aku seharusnya bahagia, bukan? Si gadis abu-abu baru saja ditembak oleh pangeran sekolah. Tapi kenapa rasanya bukan seperti sebuah awal yang indah?

"Perhatian semuanya!" teriak Tegar lagi. "Karena hari ini Adelia resmi jadi pacarku, semua makanan di kantin siang ini aku yang bayar! Makan sepuas kalian!"

Detik itu juga, kantin berubah menjadi lautan kegembiraan. Nama Tegar dielu-elukan. Teman-temannya bersiul, dan ibu-ibu penjaga kantin sibuk mencatat pesanan yang melonjak drastis. Tegar benar-benar menunjukkan kuasanya sebagai "pemeran utama". Ia tidak hanya menembakku, ia baru saja membeli restu dari seisi sekolah dengan kemurahatiannya.


Aku hanya bisa terduduk kaku, mencoba menyembunyikan wajahku yang sudah sewarna kepiting rebus. Maya dari meja seberang memberikan isyarat "Gila!" lewat gerak bibirnya, sementara aku merasa seperti pajangan.

"Kenapa diam saja, Sayang? Kamu senang, kan?" Tegar kembali duduk di sampingku, merangkul bahuku dengan protektif. Ia mengambil selembar tisu dan mengusap ujung bibirku.

"Gar, ini berlebihan ...," bisikku pelan. "Kamu nggak perlu traktir semua orang."

Lihat selengkapnya