Love Eventually

Yusrina Imaniar
Chapter #11

Kitten

Saat Alana terbangun, Alana menemukan Zidan masih tertidur pulas di sofa. Alana melihat ke arah jendela, cahaya matahari sudah mulai terlihat. Cepat-cepat Alana turun dari ranjang dan pergi membasuh wajahnya. Ia tidak ingin terlihat kusut atau berantakan di depan Zidan.

Setelah membasuh wajah, Alana membuka tirai kamar hotelnya. Melihat pemandangan kota yang baru memulai kesibukannya. Alana menghela napas panjang, sudah sehari berlalu sejak pernikahan mereka. Rasa lelahnya belum juga hilang.

“Mau sarapan jam berapa?”

Alana terperanjat, ia melihat ke arah Zidan yang sudah terbangun. Zidan meregangkan tubuhnya. Meski baru bangun tidur, anehnya Zidan tidak terlihat seperti orang yang baru bangun. Rambutnya tidak kusut seperti orang kebanyakan. Matanya juga tidak sayu.

“Kaget! Bisa enggak nanti lagi bersuara dikit gitu, kalau bangun! Ini tiba-tiba udah duduk dan nanya masalah sarapan!” omel Alana.

Zidan tersenyum kecil. Ia bangkit dari sofa dan merapikan bantalnya. “Saya udah biasa, sering tidur di kantor juga,” ucap Zidan tenang.

Alana mengerutkan keningnya. “Mana enak tidur di kantor! Sengaja, ya? Mau pamer enggak punya istri?” ujar Alana asal. Perkataan Alana membuat Zidan tertawa.

“Ah, begini ya ternyata rasanya diomelin istri. Sekarang saya tahu rasanya,” kata Zidan.

Alana memilih tidak berkata apa-apa lagi. Status mereka yang kini telah berubah menjadi suami istri membuat Alana canggung. Zidan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Alana duduk di sofa dan menyalakan televisi, berharap suara televisi bisa sedikit meredakan rasa canggung yang Alana rasakan.

“Mau kopi? Atau teh?” tanya Zidan sambil menuang air mineral ke teko listrik.

“Kamu minum kopi pagi-pagi? Belum makan udah minum kopi?” tanya Alana kaget. Alana pernah sakit perut setelah minum kopi sebelum makan, sejak itu ia tidak pernah lagi minum kopi pagi hari. Lebih sehat minum air putih atau susu menurut Alana.

“Kebiasaan. Jadi mau kopi atau teh?” tanya Zidan lagi.

Alana melihat jam di ponsel dan bangkit dari duduknya. Sudah jam delapan pagi. Seharusnya mereka sudah bisa sarapan di restoran hotel. Alana memakai sandalnya dan membuka pintu kamar.

“Jangan minum kopi dulu! Ayo sarapan!”

“Tapi…”

“Ayo!” seru Alana. Gadis itu menarik lengan Zidan, meski setelah itu Alana buru-buru melepasnya setelah Zidan keluar dari kamar. Zidan mengikuti langkah Alana yang berjalan di depannya menuju lift.

Lihat selengkapnya