Malam itu, Ika berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan yang sudah hampir tutup. Dengan masker dan cardigan putih biru yang terlindungi oleh payung, dia memperlihatkan tubuh ramping tingginya yang sedikit terlihat berisi. Wajah bulat dengan mata tajam berkacamata, bibir tipis nan mempesona juga kulit sawo matang membuat Ika terlihat lebih muda dari orang seusianya. Dia menunggu dengan bergidik kedinginan karena cuaca yang akhir-akhir lebih seperti di Puncak daripada di Jakarta. Ia melihat jam berwarna sage yang ada di tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Harusnya Alisha sebentar lagi akan keluar.
Tepat seperti dugaan Ika, tak lama berselang Alisha keluar dengan jaket merahnya berhenti menatap hujan yang turun. Dia lalu menurunkan pandangannya menatap Ibunya yang sudah menunggu. Alisha sontak berlari menghampiri sang Ibu, senyumnya merekah bagai mawar. Walau umurnya sudah dewasa, tapi Ika tetap menganggap Alisha seperti anak kecil, dan malam ini adalah malam minggu. Dua jomblo ini sepertinya akan menghabiskan waktu bersama.
“Sudah lama nunggunya?” tanya Alisha.
“Nggak, baru kok, kita makan bakso aja yuk. Dingin-dingin enak nih makan bakso,” ucap Ika langsung tertuju pada makanan.
“Yah, masa bakso lagi sih Ma, yang lain kenapa.”
“Kamu yang bayar ya?” tembak Ika tanpa basa-basi.
Alisha sontak tersenyum, “Hehe, yaudah bakso aja yuk bakso,” tuturnya lalu menggandeng tangan ibunya pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.
***
Makan bakso memang hal yang paling nikmat ketika hujan dan cuaca dingin seperti ini. Ika terlihat napsu sekali, tenggelam dalam makanannya.
“Ehm, enak ini Sha. Sambel dong,” pintanya pada Alisha yang kebetulan berada di sebelah mangkok sambal
“Sambalnya juga mantap nih,” tutur Alisha yang mengaduk mangkok baksonya dengan antusias.
“Oh iya, tadi mama udah ngomong ama Mba Hasna, laundryan kamu besok udah jadi katanya.”
“Hemm, kebetulan baju aku juga udah pada abis,” tuturnya sembari kepedesan.
“Sha, mama beli alat ini nih dari Tiktok, murah Sha. Lumayan.”
“Aduh Ma, itu jangan-jangan nggak bagus lagi. Dipake dua kali juga udah rusak.”
“Nggak lah, ah mama mau beli yang ini lagi. Buat ngebersihin tas-tas kita yang udah buluk.”
Alisha menghela napasnya, “Terserlah,” ujarnya lelah sembari beranjak dari kursi makannya setelah selesai.
Ika yang melihat hal tersebut langsung menyusul, sejak awal niatnya adalah untuk mentraktir sang anak bukan sebaliknya, “Mama aja yang bayar.”
“Udah aku aja, nggak apa-apa. Besok-besok baru mama deh.”
Ika tersenyum, “Baik banget sih anak mama nih.”
“Nanti aku mau ditraktir yang mahal ya, steak, pizza. Ok.”
“Ye, ngelunjak nih bocah.”
Tiba-tiba dua orang ibu-ibu menghampiri mereka dengan wajah antusias, mereka tersenyum sumringah sambil malu-malu bicara pada Alisha, “Mbak Alisha ya? Yang di tv itu kan? Yang nyanyi ‘Langit Cerah’ ucap Ibu berpakaian putih itu seolah tahu kalau yang ada di hadapannya ini adalah Alisha, seorang penyanyi yang sedang naik daun.
Alisha kemudian tersenyum, sedangkan Ika perlahan melangkahkan kakinya menjauh tidak mau ikut campur. Dia memalingkan wajahnya seakan takut akan ada yang tahu sesuatu. Dia menunduk terus tanpa berani menampakkan wajahnya.
Ibu itu kembali melontarkan pertanyaan, atau mungkin malah permintaan yang kalau bisa sangat dihindari oleh Alisha, “Boleh foto bareng?”
Alisha tersenyum dan mengangguk, dia merupakan orang yang sulit untuk menolak permintaan orang lain bahkan ketika dia adalah seorang artis yang dikenal oleh satu Indonesia raya ini. Akhirnya foto pun berlangsung dengan cepat, karena lelah dan ingin pulang Ika akhirnya mencoba mendekat dan meraih tangan Alisha. Saat itu juga salah satu ibu-ibu penggemar Alisha menoleh pada Ika dan langsung curiga.
Ibu itu terdiam lalu berkata, “Oh ada Mba Ika. Ika Novianti kan?” tutur Ibu itu sambil menoleh pada temannya. Mereka berdua terkejut dan jadi semakin antusias melihat dua artis yang terkenal itu ada di hadapan mereka. Mereka jadi histeris kesenangan, mungkin mereka tidak menyangka kalau mereka akan melihat orang yang biasa tampil di tv ada di tempat makan bakso biasa seperti ini, siapa juga yang akan menyangka kan?
Ibu yang satu mulai sedikit bawel meminta juga untuk berfoto dengan Ika, dan gara-gara mereka berteriak kesenangan, orang-orang di tempat itu pun mulai mengerubung. Ika yang melihat situasi itu sontak menarik tangan Alisha dan membawanya pergi, kalau mereka tidak pergi sekarang bisa-bisa jadi ricuh. Mereka berlari keluar tempat makan, suasana masih gerimis tapi pelarian mereka sungguh sangat berkesan. Mereka tertawa sembari masuk ke dalam taksi yang sudah mangkal di pinggir jalan.