LOVE, FAMILY, LAUGHTER

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #2

Kehadiran yang Mengejutkan


Mengeringkan rambutnya dengan handuk, Alisha yang baru selesai mandi tidak mau banyak membuang waktu, dia senang sekali karena waktunya ia menonton film dengan sang ibu. 

“Apa film kita hari ini?” tanya Alisha antusias.

Ika dengan wajah penuh semangat menunjukkan satu buah DVD sebuah film bertemakan fashion, “The Devil Wears Prada,” jawabnya.

“Asik, bentar lagi sekuelnya tayang kan?”

“Kalau gitu langsung saja kita nonton, ok,” tutur Ika lalu memasukkan dvd itu pada tempatnya akan diputar.

Popcorn dan kudapan kecil seperti biskuit sudah siap menemani malam tontonan mereka, Ika dan Alisha sangat menikmati sebuah film. Sejak dulu terutama Ika sangat tertarik dengan dunia seni peran yang akhirnya bisa membawanya untuk berkarir di dunia hiburan walau orang tuanya sangat menentang, namun ia sangat bersikeras untuk bisa melanjutkan karir di sana.

Film yang mereka tonton sukses membuat Alisha dan Ika tertawa sekaligus tertegun. Mereka sampai saat ini tidak percaya bahwa ada orang yang seperti Miranda Priestly itu, sangat perfectionist dan pintar namun juga ganas di saat bersamaan. 

Sambil memakan popcorn dengan pandangan lurus ke layar tv, Ika berkata, “Kalau mama kerja sama orang kayak gitu, kayaknya mama bakalan nyakar tuh orang deh.”

“Hahaha,” Alisha tertawa, “Mama nggak mungkin kerja sama orang kayak gitu, mama aja bentar-bentar kelupaan ini itu, mau jadi asisten macem Andrea atau Emily? Baru sehari kerja juga sudah dipecat kali.”

Ika memanyunkan bibirnya kesal, “Rese,” ucapnya menggerutu.

Di tengah-tengah film, tiba-tiba saja ponsel Ika berdering mengganggu prosesi tradisi nonton malam mereka. Ika buru-buru meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi, tapi ternyata nomor tidak dikenal.

“Siapa?” tanya Alisha.

“Nggak tahu, nggak kenal mama,” jawab ika, dia memang tidak terbiasa untuk mengangkat nomor telepon yang tidak dia kenal, takut-takut malah orang jahat.

Mereka lalu melanjutkan tontonannya hingga detik-detik terakhir saat film sudah ingin habis, Ika yang terlena oleh film tersebut tidak sadar kalau anaknya sudah tertidur pulas di sampingnya tanpa bersuara. Ika tersenyum, dia tahu anaknya pasti capek setelah latihan seharian. Ika kemudian menaruh kepala anaknya untuk bersandar pada pundaknya lembut, setelah itu dia kembali melanjutkan tontonannya sambil meminum es teh.


***


  Krinnngg….. Kriiingg….


Suara alarm kencang terdengar di seisi ruangan kamar Alisha, dia yang kaget sontak terjatuh dari tempat tidurnya. Nyawanya belum terkumpul, dia mendesah lega sebelum akhirnya kembali lagi harus terkejut karena waktu sudah sangat mepet. Hari ini dia ada rapat dengan production house untuk penggarapan video klip lagu barunya.

“Mampus gue,” ucapnya sebelum berlari ke kamar mandi, namun sebelum sampai di kamar mandi, dia melihat sebuah apel yang dibawahnya ada surat yang bertuliskan, ‘Mama pergi duluan, jangan lupa sarapan dulu sebelum kerja, kamu semalam tidurnya ngorok, haha’ isi kertas itu sukses membuat hati Alisha senang sekaligus gondok, “Masa iya dia ngorok?” tuturnya dalam hati. Tanpa menggubris lagi dia dengan cepat masuk ke kamar mandi.


***


Di tempat lain, Ika yang baru saja sampai di sebuah tempat pemotretan tersenyum jahil sembari memainkan ponselnya. Dia mengirim rekaman suara ngorok Alisha dan mengirimkannya ke anak kesayangannya itu.


“Suara siapa nih?” tanya Ika, Alisha pasti kesal sekali mendengar suara ngoroknya.

Sepuluh menit kemudian Alisha menjawab, “Awas ya, rese banget. Kenapa sih nggak bangunin? Aku kan jadi telat.”


“Orang tidurnya nyenyak banget, sampe ngorok noh. Mana tega mama bangunin.”


Tak lama berselang, Alisha hanya menjawab dengan emoticon kesal yang lucu, gambar pilus. Ika tersenyum, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas, percakapannya dengan sang anak telah selesai. Kini dia harus fokus dengan pekerjaannya.


“Mba Ika,” sapa sang fotografer yang memang telah mengenal Ika lama.

“Eh, Mas Guntur. Udah lama nggak ketemu ya.”

“Iya nih, apa kabar? Sehat Mba?”

“Sehat, wah kayaknya pas banget. Pasti foto saya jadinya ok nih ketemu Mas Guntur,” goda Ika yang memang suka iseng.


“Biasa aja Mba, saya mah hanya melakukan pekerjaan saja. Pas banget dapetnya artis yang bagus bagus kayak Mba dan Mas Juna.”

Mata Ika sontak melebar, dia terkejut, sudah lama dia tidak mendengar nama itu “Juna?”


“Iya, tuh Mas Junanya masih ganti pakaian dulu.”


Lihat selengkapnya