Tiba-tiba guntur, petir dan segala badai yang pernah tercipta datang menghantam Ika. Matanya melotot melihat orang yang ada di hadapannya itu. Wanita paruh baya itu datang dengan satu koper besar dan dua tas kecil. Ika yang terkejut bukan main mengerutkan alisnya tak percaya. Apalagi ini.
Risma alias ibu kandung Ika dengan angkuhnya menatap sang anak dengan tersenyum penuh arti, “Kasih tahu ke satpammu siapa saya,” ucapnya tegas.
Satpam di rumahnya ternyata sudah sempat menghalau Risma, tapi ibunya itu punya seribu satu cara untuk masuk ke dalam rumahnya.
Ika menelan ludahnya, “Pak, nggak apa-apa, dia ibu saya. Makasih ya,” tutur Ika yang membuat dua orang satpam sontak terkejut.
“Maaf Nyonya, kami tidak tahu,” ucap Pak Joko, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ika dan ibunya.
Risma langsung melangkahkan kakinya masuk tanpa basa-basi membuat Ika yang ada di hadapannya terbelalak bingung, “Rumahnya bagus, nyaman dan bersih, cuma sedikit hampa.”
Ika hanya diam, dia masih shock melihat sosok yang ada di hadapannya itu.
“Mama mau teh ya, yang hangat,” pintanya lagi.
Akhirnya Ika mau tidak mau memberikan keinginan ibunya, duduk sambil memberikan sencangkir teh, Ika berkata “Ma, ada apa mama kemari?” tanyanya dalam, karena dia benar-benar heran, ada apa ini sampai ibunya tiba-tiba datang tanpa peringatan.
“Saya nggak boleh menemui anak saya?”
“Ya boleh, tapi…?”
“Kenapa telepon saya tidak kamu angkat?”
“Telepon? Oh, maaf tapi saya nggak ngangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal,” ujar Ika sambil sedikit meledek.
“Bagus, kamu bisa jaga diri kamu. Dimana Alisha? Dia tinggal sama kamu?”
“Dia lagi pergi, belum pulang. Dia tinggal di rumah sebelah.”
Mendengarnya Risma hanya mengangguk, dia kemudian memindai seisi ruangan tanpa celah. Tangannya dilipat ke belakang, satu per satu perabotan yang ada di sana ia perhatikan. Bagai pengawas di sebuah perusahaan. Jeli tanpa ampun.
Melihat hal tersebut membuat Ika jadi curiga, dia yang sudah menahannya sejak tadi akhirnya berucap, “Ma, kayaknya udah sepuluh tahun deh kita nggak bicara.”
“Terus?”
“Terus itu koper?”
“Mulai saat ini mama akan tinggal di sini.”
Duar, “Hah? Mama jangan bercanda, ngapain mama tinggal di sini? Nggak mungkin ah, mana mau mama tinggal di sini, kan ada papa…,” seketika itu teori-teori liar muncul di kepala Ika, apalagi melihat raut wajahnya ibunya yang tiba-tiba berubah jadi muram, ‘Apa ada sesuatu antara ibu dan ayahnya? Ada apa ini? Astaga’
“Mama sudah menceraikan papamu.”
Tambah pusinglah Ika mendengarnya, dia langsung meminum teh hangat yang dia buat tadi tanpa jeda. Kacau ini kacau.
***
Beberapa jam kemudian ketika Alisha pulang ke rumah, Ika dengan wajah paniknya langsung menarik anak itu masuk ke ruang tamu. Risma ada di rumah Ika sedangkan sekarang Ika berada di rumah Alisha.
“Ada apa sih Ma?” tanya Alisha.
Ika menghela napas, “Kamu jangan kaget ya.”
Alisha bertambah bingung ketika ibunya bicara seperti itu, “Iya tapi ada apa?”
“Ada nenek kamu di rumah mama.”
“Hah? Kok bisa?”
“Mama pusing,” ucap Ika memijat dahinya, “Dia bawa koper gede sama tas udah kayak orang mau pindahan, dan parahnya lagi dia bilang dia mau nyerein kakek kamu.”
“Waduh,” kini Alisha yang tepok jidat.
Tiba-tiba saja Risma masuk ke rumah Alisha melewati pintu penghubung, dirinya sangat penasaran dengan keadaan anak dan cucunya itu dan saat melihat cucunya, Risma dengan mata tegasnya memindai dari atas hingga bawah.