Ika mengeraskan rahang melihat anaknya jadi rebutan lelaki yang kekanak-kanakan ini, yang satu tukang main cewek, yang satunya lagi suka ngilang nggak jelas. Mencoba menahan emosi Ika menghampiri Juna setelah mereka diusir tadi.
Bisik-bisik dengan wajah kesal dia berkata, “Juna, saya tidak akan tinggal diam kalau kamu menyakiti hati Alisha sekali lagi.”
Fadli yang juga mendengarnya hanya diam dengan tatapan tajam sebelum dia akhirnya pergi ke ruangannya sedangkan Ika langsung menghampiri anaknya.
“Alisha,” tutur Ika lembut, dia cemas pada kondisi anaknya mengingat bagaimana anaknya hancur ditinggalkan oleh Juna waktu itu tapi ternyata diluar dugaan, Alisha malah terlihat tenang dan santai.
“Mereka udah pada pergi? Pusing Alisha sama mereka.”
Ika mengangguk keheranan, “Udah, udah pergi kok. Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Mau pulang sekarang?” tanya Alisha santai.
“Mama mau ke tempat kakek kamu, mama nggak mau ah nenek kamu lama-lama di rumah. Kamu ikut ya, temenin mama.”
“Ok,” jawab Alisha singkat.
***
Malam itu, datanglah Ika dan Alisha ke rumah tempat Ika tumbuh besar, rumah yang terlihat begitu megah dan besar. Penuh ukiran-ukiran unik khas eropa dan pintu-pintu tinggi menjulang.
Seorang pria paruh baya kemudian keluar setelah mendengarkan bel yang berbunyi, “Ika? Hari apa ini? Kamu nggak sakit parah kan?” setelah tidak bertemu selama sepuluh tahun itulah yang dikatakan oleh Wandi, ayah Ika.
Ika hanya tersenyum begitupun dengan Alisha, mereka kemudian dipersilahkan duduk untuk berbincang.
“Mau minum apa?” tanya Wandi.
“Apa saja,” jawab Ika.
Wandi pun mengambil sebuah jus botol yang memang sejak dulu selalu tersedia di kulkas mereka untuk diberikan pada anak dan cucunya.
“Alisha, kamu sehat?” tanyanya lagi.
“Sehat Kek,” jawab Alisha canggung.
“Hmm, Pa, saya ini bingung ya? Mama datang tiba-tiba ke rumah saya dan bilang sedang menceraikan Papa, itu gimana ceritanya?”
“Oh, soal itu,” tutur Wandi dengan nada dalam, “Jadi begini Ka, mamamu itu marah sama Papa karena Papa bilang mau pensiun dini.”
“Pensiun dini? Kenapa?” tanya Ika heran, selama ini dia kenal ayahnya sangat gigih dan pekerja keras, aneh saja kalau dia tiba-tiba minta pensiun dini.
“Papa capek Ka, biarlah perusahaan itu dijalankan sama tante kamu, kamu juga nggak mau kan ada di sana. Malah milih jadi artis.”