Hari ini Alisha pergi ke sebuah kafe yang menyediakan perpustakaan bagi pelanggan untuk membaca atau bahkan mengerjakan pekerjaan mereka. Kafe itu unik dengan nuansa jadul yang antik. Rak-rak buku tersusun rapi dengan buku yang tertata menunggu untuk dibaca. Kafe ini sudah berdiri sejak tiga tahun lalu dan adalah kafe milik teman Alisha, dia suka kesini jika sedang tidak ada kerjaan.
Puput yang sedang dirayu oleh tamu untuk dapat meminjam bukunya ribut karena dia tidak mau bukunya dipinjam, “Nggak boleh, nanti bukunya hilang. Kalau mau baca disini aja.”
“Ih pelit banget sih,” tutur perempuan muda yang sepertinya masih sekolah ini, dia bersikeras ingin sekali meminjam buku karya Chairil Anwar yang berjudul ‘Deru Campur Debu’ “Sehari aja, sehari aja,” tuturnya meminta.
Puput dengan mata melototnya tidak mau tahu, “Nggak boleh!” ucapnya tegas sembari menarik buku tersebut, buku itu adalah buku favorit miliknya yang ia dapatkan dengan susah payah. Enak saja main pinjam-pinjam. “Nanti rusak,” tuturnya lagi.
Anak sekolah itu tetap tidak mau kalah, dia menggenggam buku itu kuat-kuat sampai akhirnya mereka berdua tarik-tarikan. Keributan kecil terjadi membuat semua orang di sana menoleh. Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil, tarik menarik terjadi beberapa saat sampai tanpa diduga Alisha datang menghampiri temannya itu.
“Eh bocah,” sahut Alisha pada pelajar itu.
Pelajar itu sontak terkejut, matanya terbelalak melihat kulit putih halus nan mulus wanita di hadapannya ini. Sungguh cantik dan menawan, dia terbata-bata bicara, “Ar…tis.”
Alisha meraih buku yang sekarang berada di tangan temannya itu, “Nih, jaga baik-baik awas kalau sampai hilang atau rusak,” dia memberikan buku itu pada pelajar tersebut yang membuat Puput langsung cemberut.
Pelajar itu tersenyum, “Terima kasih,” ujarnya sebelum berlari pergi dari tempat itu dengan pandangan tetap pada Alisha. Anak itu seperti sudah tersihir oleh kehadiran penyanyi yang sedang naik daun itu.
Puput dengan wajah bete akhirnya membawa Alisha ke ruang rahasia mereka, Alisha diberikan es teh dengan kentang goreng, “Mau makan nggak?” tanyanya.
“Lo ada menu apa? Ada yang baru nggak?”
“Karena lo udah bikin gue kesel, gua ada gado-gado dengan seratus cabe gimana?”
“Sewot amat Mba, nanti gue ganti bukunya kalau rusak. Jangan pedes gado-gado ya, pake lontong.”
Puput tersenyum miring sambil berdengus, temannya kadang mengesalkan tapi juga baik, “Ok.”
Sepuluh menit berlalu dan Alisha sudah asik membaca buku yang membuatnya tertarik, hari ini dia ingin santai, tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain. Puput pun datang membawa gado-gado pesanan temannya.
“Gue liat-liat makin kece aja lo di tv.”
Mendengarnya Alisha langsung menutup bukunya dan menatap Puput, kebetulan dia sedang lapar dan gado-gado adalah menu makanan dan diet yang cocok untuknya, sambil mengambil gado-gadonya Alisha berkata, “Itu make up, jangan ketipu sama tampilan-tampilan artis yang mewah dan glamour. Semua orang punya kekurangan, punya ujian dan kegelapannya masing-masing.”
“Tahu Sha, tahu, gue cuma ngeledek, santai bro,” ledek Puput.
Mulai menyantap makanannya Alisha langsung kepincut dengan gado-gado ini, “Sambel kacang emang nggak pernah salah,” tuturnya sambil sangat menikmati.
“Enak kan masakan gue.”
“Gue akuin, masakan lo enak. Lebih enak dari masakan nyokap gue.”
“Oh iya, apa kabar nyokap lo. Jadi keinget tante gue.”
“Hmm,” sambil mengunyah Alisha mencoba untuk menjelaskan, “Di rumah gue lagi ada nenek gue, nenek gue minta cerai dari kakek gue makanya dia tinggal di rumah nyokap.”
“Yang bener lo? Gila. Kakek nenek lo yang kaya raya itu kan?”
“Yup, rumahnya aja gede banget. Rumah gue nih ama nyokap gue digabungin jadi satu aja masih kalah gede.”
“Keren sih, trus nyokap lo gimana?”
“Stress dia ada nenek gue, nenek gue bawel.”
“Hahaha, kebayang sih gue muka tante gimana.”