LOVE, FAMILY, LAUGHTER

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #6

TAMU TAK DIUNDANG

Hujan besar melanda Jakarta dan sekitarnya, Risma di dalam rumah tidak bisa diam, ada saja yang dia ributkan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Ini kenapa jam segini makanan belum siap?” ujarnya pada asisten rumah Ika.

Asisten tersebut tersenyum getir, “Nyonya Ika jarang makan di rumah karena dia pulangnya selalu larut malam Bu.”

“Terus kamu biarin rumah ini nggak ada makanan? Kelaparan gitu?”

Asisten tersebut menelan ludahnya sedikit kesal, “Saya buatkan makanan sebentar ya.”

Beranjak menuju sofa, kini asisten satunya lagi yang kena protes oleh Risma, “Ini kenapa kotak-kotak sepatu ada di bawah meja. Kan jadi kotor, ini juga handuk kenapa ada di sofa.”

Asisten yang kali ini sedikit berani, “Nyonya biasanya taruh di situ karena sepatunya selalu baru Bu, jadi biar nyarinya nggak susah di taruh di situ,” jawabnya agak ketus.

“Ya kamu beresin dong, gimana sih.”

“Tapi nyonya….” 

“Biarin aja di situ Hen,” tutur Ika yang tiba-tiba datang dengan beberapa belanjaan dan makanan yang baru ia beli.

“Ika, kamu ini dari dulu nggak berubah berantakan sekali,” protes Risma.

“Ma, Ika dari dulu memang begini, nggak pernah berubah, ok. Itu sengaja Ika taruh di situ supaya gampang dicari, hidup Ika itu selalu berjalan cepat, jadi semuanya harus dikondisikan, mama tinggal duduk tenang, nih makan. Ika bawain sushi dan sashimi dari tempat kesukaan mama.”

Mendengarnya Risma tidak jadi kesal, dia hanya menggigit bibirnya melihat sushi kesukaannya yang sangat menggugah selera itu

Ika kemudian ke dapur dan kebetulan Bi Isnah yang tadi disuruh untuk memasak baru keluar dengan masakan hangatnya, “Sini Bi, ini biar saya makan.” 

Mereka akhirnya makan bersama di satu meja, Ika makan sangat lahap dengan ayam goreng serundeng bikinan Bi Isnah.

Risma yang melihatnya terheran-heran, “Kamu makan yang bener kenapa sih Ka. Pelan-pelan makannya nanti keselek.”

Ika tertawa kecil, “Hehe, Ika laper banget dari tadi siang belum makan.”

“Belum makan? Kamu gimana sih? Nanti kalau sakit gimana? Kenapa nggak minta pembantu kamu untuk masakin bekal? Ngapain banyak-banyak nyewa pembantu kalau nggak ngebantu kehidupan kamu.”

Ika sontak kehilangan napsu makannya, ibunya ini sungguh membuat semuanya jadi tidak nyaman. Dia yang sedang menggenggam ayam langsung meletakkan paha ayamnya, dia menarik napas sebelum menoleh pada sang ibu, “Bisa nggak, nggak usah rewel gitu sekali-kali. Anaknya nih mau makan ya, jadi nggak masuk nih makanannya kalau diocehin begitu terus,” tandas Ika.

Risma hanya diam dengan wajah tidak senang lalu kembali menikmati sushi mahalnya itu. Tak lama berselang ketika mereka sedang menikmati makan malamnya, suara bel berbunyi. 

Ika bingung, dia tidak menunggu seseorang malam ini, “Siapa ya?”

Risma kemudian membalas, “Mba tolong bukain itu kayaknya si Yudha.” pintanya pada Heni.

Ika terkejut bukan main, apa-apaan ini? Ngapain ibunya mengundang Yudha ke rumahnya. Menatapnya ibunya dengan mata yang melotot, tiba-tiba Yudha sudah berada di ruang tamu mereka.

“Halo, para wanita cantik,” sapa Yudha sambil bergurau, pria ini memang senang sekali bercanda. 

Dengan hangat Yudha menghampiri Risma dan cipika-cipiki dengan perempuan itu, mereka sepertinya dekat sekali.

“Hai, Ika,” tutur Yudha yang langsung memeluk dan mencium pipi ibu dari anaknya itu.

Ika yang terkejut tidak bisa berkata-kata dia hanya menatap ibunya dan Yudha secara bergantian, jari telunjuknya pun menunjuk bergantian ke arah ibu dan ayah dari anaknya itu.

“Mama sengaja mengundangnya kemari Ka, dia menelepon mama dan karena sudah lama dia tidak bertemu denganmu dan Alisha, jadi sekalian saja mama undang dia kesini.”

Ika masih bingung harus bicara apa, “Hmm, ya. Kebetulan yang luar biasa,” tutur Ika.

“Kamu nggak bales pesan dan telepon saya jadi ya saya hubungi mama kamu. Saya nggak nyangka kalau sekarang dia tinggal sama kamu, sudah dekat ya kalian?” tutur Yudha sambil tersenyum meledek ke arah Ika.

Ika membalas senyuman itu juga dengan senyuman sedikit kesal yang terpaksa, “No.”

“Mau minum apa Yudha?” Risma menawarkan dengan sangat ramah.

“Apa saja,” jawab Yudha.

“Jus jeruk ok?”

“Boleh,” tutur Yudha.

Sembari Risma ke belakang menyiapkan minuman untuk Yudha, Ika menatap mantan kekasihnya itu dan berkata, “Jadi…?”

Lihat selengkapnya