Alisha dengan wajah malas keluar dari mobil, mau tidak mau itu dia lakukan karena mobil Juna menghalangi pintu pagar rumahnya.
“Minggir,” ucap Alisha.
“Aku bawain sop iga kesukaan kamu,” tuturnya memberikan makanan yang baru saja ia beli tadi.
Alisha berdengus tak percaya, “Bawa balik makanan kamu, aku mau masuk dan kamu tolong minggir. Kalau nggak aku akan tabrak mobil kamu,”
Dia tidak main-main kali ini, Juna yang bingung dibuat terkejut saat mobil Alisha melaju mendekati mobilnya. Sampai tinggal sedikit lagi jarak, mobil Alisha sontak berhenti.
Juna hanya bisa menyeringai melihatnya, dia menggantungkan makanan pada pagar rumah Alisha dan pergi menggunakan mobilnya. Sedangkan Alisha dengan wajah datar masuk ke rumahnya, kali ini dia tidak akan memberikan ruang untuk Juna.
***
Di tempat lain, Wandi menatap ruang tamunya nanar. Rumahnya terasa sangat sepi. Saat Ika pergi membawa anaknya, Wandi menangis sendirian di kamar mandi tanpa ada yang tahu termasuk Risma, karena dia sadar kalau ia telah kehilangan anak semata wayangnya sekaligus cucu kesayangannya. Alisha adalah cahaya baru baginya, warna yang telah lama tidak ia lihat.
Wandi menarik napas, kemudian duduk di sofa cokelat yang selalu ia bangga-banggakan yang adalah produk terbatas dengan kualitas terbaik. Kali ini dia harus merasakan berpisah dari belahan jiwanya, teman hidupnya, orang yang selalu ada untuknya, cinta dan kasih sayangnya. Malam ini rasa itu semua berkumpul, kesepian, rasa sedih, kesal dan rasa bersalah campur aduk jadi satu. Dia lalu menutup matanya dengan tangan dan menangis dalam diam.
***
Kebetulan sekali Ika hari ini pulang cepat, pas pukul 5 sore. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke puncak besok karena ada syuting di sana selama beberapa hari. Sampai ke rumahnya dan menyadari bahwa ibunya tidak ada dimana-mana, dia mulai cemas dan mencari kesana kemari namun ibunya tidak juga ditemukan.
“Kemana si mama?” tanyanya dalam hati. Mencoba tenang namun juga tetap khawatir, Ika mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sang ibu.
Suara dering telepon kemudian terdengar dengan suara langkah kaki yang terdengar teburu-buru. Ika kemudian membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata ibunya datang dengan begitu banyak tas belanjaan yang ia beli. Ika menaikkan alisnya terkejut, semua merek-merek baju dan tas terkenal ada di belanjaan yang ibunya bawa.
“Kamu nelpon mama ya? Mama habis dari PIM tadi,” ucap ibunya sambil berjalan santai.
Ika membuka mulutnya terkejut, “Mama belanja sebanyak itu? Itu Charles & Keith, LV, Chanel, dan Dior. Banyak banget?”
Risma meletakkan semua belanjaannya di meja, “Mama bosen, tuh mama beliin kamu cardigan sama topi.”
“Mama masih waras kan? Nggak demam? Papa tahu nggak mama suka belanja sebanyak ini?” tutur Ika dengan nada cuek di akhir kalimat.
“Kamu ini,” ujar Risma protes pada anaknya, “Oh ya, ini tadi si Mba kebetulan ngasih mama ini, jadi mama pake deh,” tandas Risma memberikan kartu kredit milik Ika.
Ika terkejut bukan main, “MAMA!” ucapnya dengan nada tinggi. Dia tidak percaya ini, apa-apaan ibunya memakai kartu kreditnya untuk membeli semua barang-barang mahal itu. Habis sudah dirinya.
***
Keesokan pagi, Alisha yang ingin sarapan bersama dengan ibu dan neneknya dibuat terkejut saat melihat ibunya dengan raut wajah depresi, lemas tak ingin hidup terbaring di atas sofa dengan pandangan kosong dan rambut berantakan, kasihan sekali ibunya ini.
“Ya ampun mama, bikin kaget aja.”
“Sha, mama nggak kuat. Mama mau pergi aja, mama nggak kuat hidup sama nenek kamu,”
Alisha terdiam tak percaya, dia lalu mendatangi ibunya dengan segelas air, “Kenapa lagi sih?”
Ika yang melihatnya langsung meraih gelas tersebut dan meminumnya hingga habis, dengan raut sedih berlebihannya itu Ika bercerita, “Nenek kamu kemaren borong barang-barang mewah. Pakai kartu kredit mama Alisha, kartu mama, hhuuauaaa,” Ika menangis kencang.
Alisha menaikkan alisnya terkejut, “Gawat juga kalau gitu,” tuturnya menoleh ke sisi lain wajah Ika agar ibunya itu tidak mendengar ocehannya.
“Dia beli Dior, LV sama Chanel juga, hhuuaaa,” kembali Ika menangis kencang, “Mama pusing Sha.”
Alisha menelan ludahnya bingung, dan tiba-tiba saja dia punya ide, “Kenapa mama nggak telpon lagi Kakek? Siapa tahu dia berubah pikiran,”
Tiba-tiba lampu di otak Ika seperti menyala, dia menatap Alisha dengan tatapan antusias nan bahagia. Tepat saat itu juga, Risma datang dengan pakaian rapi dan penuh riasan.
“Sarapan hari ini apa?” tanya Risma datar.
Ika yang sedang begitu menggebu-gebu langsung kembali menuju kamarnya dan menghubungi sang ayah.
“Halo,” Jawab Wandi.