Ika langsung menelpon ayahnya dan dengan cepat Wandi datang. Kebetulan Risma masih merasa kesakitan, entah kenapa tiba-tiba ibunya itu bisa terjatuh tapi dia sungguh khawatir.
“Aduh Ika, sakit banget. Telepon Papa kamu udah belum?” aduh Risma sambil menangis sedikit.
“Saya di sini, saya di sini sayang. Tenang ok, ada saya,” tiba-tiba Wandi meraih tangan Risma dan menggenggamnya erat.
Dua jam kemudian Ika dan Alisha duduk di bangku tunggu dengan wajah lelah. Mereka belum beristirahat semenjak pulang dari Puncak tadi.
“Semoga nenek baik-baik saja,” tutur Alisha.
“Iya dia sudah tenang tadi juga sudah diberikan obat anti nyeri. Kita lihat saja nanti.”
Wandi lalu keluar untuk memanggill Ika, “Ka, ibumu manggil.”
“Oke,” ucap Ika langsung menghampiri.
Alisha yang duduk sendirian tiba-tiba saja menoleh dan melihat Juna yang bersama dengan Shafia masuk ke ruangan dokter. Seketika jantungnya berdebar kencang, tubuhnya mematung, dokter itu adalah dokter kandungan.
***
Keesokan hari, Alisha kembali dengan jadwalnya yang padat. Dia harus pemotretan untuk cover album dan juga ada beberapa undangan sebagai bintang tamu di beberapa acara tv. Bekerja di depan layar memang terkadang sangat melelahkan, tapi ini adalah resiko yang harus diambil dan memang sepadan dengan apa yang didapat. Dan yang tidak disangka-sangka datanglah Fadli yang ternyata adalah rekan pemotretan Alisha hari itu.
Sambil berpose, mereka bicara dengan mulut yang tertutup rapat, “Lo ngapain sih?” protes Alisha.
“Gue dipaksa soalnya katanya si Raihan nggak bisa hadir. Sakit dia.”
Alisha mendesah, “Kebiasaan deh tuh anak.”
Setelah pemotretan kebetulan studio tempat Alisha syuting dekat jadi dia langsung menuju lokasi. Acara hari itu sangat menghibur dan nyaman, mereka semua lucu dan Alisha bisa mengimbangi itu semua membuat acara semakin hidup. Setelah selesai semua jadwal, Alisha yang berjalan di lobby ingin pulang terkejut dengan berita yang tiba-tiba bikin satu gedung ini heboh.
Berita di media online menyebutkan kalau Shafia, artis yang sedang banyak diperbincangkan ternyata hamil. Dia diketahui belum menikah dan saat ini tidak memiliki pasangan. Ada sebuah inisial yang disebutkan disitu yang dicurigai sebagai pasangan Shafia, inisialnya adalah JB. Alisha terdiam berhenti berjalan, dia mematung bagai terkena petir. Fadli yang kebetulan berada di sana, langsung menghampiri Alisha dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
“Ayo kita pergi,” ucap Fadli.
***
Fadli yang tahu Alisha pasti terguncang tanpa banyak bicara langsung mengantarnya pulang. Di dalam perjalanan Fadli berkata, “Itu bukan Juna,” ucapnya.
“Hah?” Alisha masih belum bisa mencerna.
“Itu bukan anak Juna.”
Mendengar perkataan Fadli, Alisha langsung menoleh dengan mata berkaca-kaca dia lega namun juga sedih. Ternyata setelah semua usaha yang ia lakukan untuk melupakan pria itu, Juna tetap saja akan selalu ada di hatinya.
Pas sekali saat sampai di rumahnya, ternyata mobil Juna telah terparkir rapi. Namun kali ini dia menunggu di dalam mobil. Fadli yang kesal sontak melepaskan sabuk pengamannya ingin beranjak tapi Alisha menahannya.
“Biar gue yang bicara, gue mau selesaikan ini semua,” tuturnya lembut yang akhirnya diiyakan oleh Fadli.
Alisha lalu keluar dari mobil Fadli dan menghampiri Juna, Fadli hanya diam di dalam mobil mengamati.
“Ngapain kamu kesini? Urusan kita sudah selesai,” tutur Alisha dalam.
“Aku tahu ak tidak pantas untuk dimaafkan. Aku mengerti kalau kamu marah sama aku, tapi aku hanya ingin minta maaf Sha. Aku ingin tidak ada suatu perasaan yang mengganggu di antara kita. Aku ingin membersihkan semuanya.”