Keesokan pagi, matahari telah mencapai puncak dan menerangi seisi bumi dengan kehangatannya, di situ ada Ika yang sedang bersantai di sebuah Kafe bersama dengan beberapa temannya.
Linda, teman Ika sekaligus juga artis senior berkata, “Sekarang enak sekali ya jadi artis, mudah buat anak-anak muda untuk bisa masuk ke Industri hiburan.”
“Betul, sekarang mereka hanya bermodalkan handphone dan tampang cantik dengan pengikut yang banyak bisa langsung ditawarkan main film,” sambar Kalina.
“Dulu mah kita harus bisa akting, ikut audisi puluhan kali, jadi figuran dulu pemeran pendukung kalau laku ya baru jadi peran utama,” protes Linda lagi.
Mendengar hal tersebut membuat Ika meletakkan teh yang baru saja ia minum, “Zaman memang sudah berubah, anak-anak ini sebenarnya kreatif dan berbakat cuma saja kurang pengalaman dan terkadang terkesan menyepelekan sesuatu.”
“Saya heran sama Industri Hiburan Indonesia ini,” ceplos Linda kembali mencurahkan isi hatinya, “Kok bisa mereka memilih artis hanya dari banyaknya followers atau pengikut, bukan dari kemampuan mereka. Saya kasihan sama orang-orang yang memang punya kemampuan akting yang baik kalah dengan yang punya followers banyak, dan belum lagi anak-anak jurusan perfilman atau teater, mereka tuh hebat-hebat loh.”
“Makanya itu perfilman kita nggak maju-maju,” celetuk Kalina enteng.
Ika tertawa kecil, “Berat memang, tapi kita harus optimis. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan bisa memajukan industri ini?”
Ucapan Ika seketika membuat suasana menjadi hening, Linda dan Kalina hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi.
***
Di tempat lain, setelah istirahat yang panjang dan berkualitas, Alisha memutuskan untuk berolahraga guna mempertahankan bentuk tubuhnya. Walau terkadang malas datang, namun Alisha tidak ingin mengecewakan penggemar dan timnya, terlebih lagi ini semua juga kembali untuk dirinya menjadi sehat dan kuat. Dua jam berada di tempat olahraga, tiba-tiba saja ponselnya bergetar bertubi-tubi. Notifikasi pesan, email, dan panggilan masuk memenuhi layar. Alisha mengernyit, bingung. Saat ia membuka salah satu pesan dari manajernya, jantungnya langsung serasa copot.
Sebuah foto…
Foto dirinya dan Juna berciuman di bar semalam, tertangkap jelas dalam pose penuh gairah. Foto itu sudah tersebar di media gosip dan trending besar.
Judul-judul mencolok bermunculan:
“ALISHA DAN JUNA KETAHUAN KENCAN DI BAR MEWAH!”
“CINTA LAMA YANG BERSEMI KEMBALI”
“KELAKUAN TIDAK PANTAS SEORANG ARTIS”
Alisha terdiam. Napasnya tercekat. Dia langsung menjawab telepon masuk yang datang dari Manajernya.
“LO GILA YA? MAU PENSIUN DINI LO?” teriak Ica yang begitu kesal.
Alisha langsung menjauhkan telepon dari telinganya, bisa-bisa gendang telinganya pecah mendengar teriakan Manajernya.
Ica kembali terus mengoceh, “Gue habis diomelin Pak Bakti tahu nggak? Banyak tawaran iklan dan tampil ditahan sama klien gara-gara kasus lo ini. Terus Pak Bakti juga bilang kalau keadaan tidak membaik, album lo akan ditahan untuk rilis.”
“Yah Ca, gue udah modal banyak. Semuanya udah siap tinggal rilis aja, gimana sih? Gue ketemu Pak Bakti deh, lebay banget soal begini aja jadi merembet kemana-mana.”
Ica menarik napasnya, “Gue udah di kantor, cepetan kesini.”
“Ok,” tutur Alisha penuh beban.