Pulang ke rumah ternyata membuat Ika khawatir dengan keadaan Alisha, dia di depan kamarnya hanya berputar-putar tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan Alisha sejak tadi tidak mau diganggu hanya diam di dalam kamarnya.
Tak lama berselang Yudha datang dengan jaket kulit dan celana jeansnya langsung menghampiri Ika.
“Saya lihat semuanya di tv, kenapa bisa kacau begitu sih? Kok kamu bisa biarin dia ada di situasi seperti itu?”
Ika mendesah kesal, “Tolong ya Yudha Arensyah, anakmu itu sudah dewasa, sudah 25 tahun. Memangnya saya CCTV ngawasin dia 24 jam? Saya juga nggak tahu kenapa dia bisa ngelakuin itu,” tutur Ika dengan berbisik, kemudian menggerakkan kepalanya ke kamar Alisha, “Tuh, anaknya di dalam sekarang dan nggak mau keluar.”
Yudha yang sedikit tidak habis pikir dengan semua ini bicara pelan namun penuh penekanan pada Ika, “Sudah saya bilang, saya nggak setuju dia jadi artis, akhirnya jadi seperti ini kan.”
“Orang dia yang mau, dia kan juga sudah lihat saya selama ini.”
Yudha menggelengkan kepalanya, “Dia kebanyakan bergaul sama kamu.”
“Dasar, keras kepala,” tutur Ika yang mulai naik pitam. Bukannya menenangkan, bapak dari anaknya itu malah membuatnya semakin emosi.
Baru saja Yudha ingin mengetuk pintu kamar sang anak, tiba-tiba Alisha keluar dengan wajah muramnya, “Kalian berisik, aku mau tidur, jangan ganggu.” tutur Alisha singkat dan padat.
Mendengar Alisha berkata seperti itu, Ika dan Yudha sontak saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka akhirnya meninggalkan anaknya sendirian di dalam kamar.
Duduk di sofa berdua, Yudha memijat kepalanya pusing, “Punya anak itu sulit ya,” keluhnya yang tanpa sadar kembali membuat Ika kesal.
“Belum sama melahirkan dan menyusui itu loh.”
Mendengarnya membuat Yudha terbelalak, dia langsung menoleh pada Ika dengan tatapan terkejut. Itu serangan yang sama sekali tidak ia duga, posisi duduknya yang tadinya santai sontak berubah menjadi kaku.
“Iya Kanjeng Ratu saya mohon maaf sudah menyinggung Anda,” sindir Yudha.
Kalau dipikir-pikir Ika dan Yudha seperti memiliki kepribadian yang sama, mereka juga terlahir dari keluarga kaya raya. Saat itu, waktu tahu kalau Ika hamil, jujur Yudha tidak terlalu panik. Dia hanya tidak mengerti apa yang akan dia hadapi, masa depan yang sedikit berantakan, orang tuanya yang marah besar, kuliahnya yang akhirnya tidak jadi ia ambil dan pernikahan di usia muda yang berujung dengan perceraian. Di usia sangat muda dia mengalami itu semua.
Karena sifat mereka yang hampir sama itu, dia dan Ika sering adu mulut, pernikahan mereka bagaikan kapal yang berjalan di atas es tipis yang sewaktu-waktu bisa pecah dan karam. Mereka bercerai saat usianya 19 tahun dan Ika belum masuk di dunia hiburan. Dirinya terkejut saat Ika masuk dunia hiburan dan namanya langsung naik daun.
Mengambil napas dalam, dengan nada serius Yudha berkata, “Aku tidak menyangka kalau kalian akan menjadi artis terkenal seperti ini. Kalian berdua terlalu mirip.”
Ika tertawa kecil, “Saya pun terkejut waktu tahu dia ingin menjadi penyanyi. Saya sudah coba melarangnya tapi dia tidak mendengar saya. Dunia hiburan ini penuh kepalsuan dan politik. Kalau yang mentalnya tidak kuat akan hancur.”
Tiba-tiba saja pikiran Yudha mengarah pada satu orang, “Tunggu laki-laki brengsek yang…”
“Juna? Nggak tahu dia kemana,” ucap Ika.
“Brengsek dia, Juna itu? Yang mantannya Alisha dulu?”
“Iya.”
“Saya samperin dia sekarang, ayo dimana rumahnya? Kita samperin,” Yudha emosi.
Ika mengerutkan dahi melihat mantan suaminya itu, “Eh, duduk sini. Tenang dulu, kamu mau masuk berita dan semua orang tahu kalau kamu, ayah Alisha mukulin Juna? Terus nanti anakmu itu jadi marah dan malah nggak mau ketemu sama kamu.”
Mendengarnya Yudha langsung diam mematung, dirinya jadi lemas dan melemparkan tubuhnya kembali ke sofa.
Ponsel Ika lalu berdering bagai alarm yang tidak akan berhenti, dia mendesah malas ketika melihat nama di layar yang muncul, dengan hati yang berat dia menjawab telepon tersebut, “Halo Ma,” jawabnya.
“Ika Novianti Haryanto, bagaimana bisa kamu membiarkan anakmu melakukan itu semua?”
Mendengarkan hal tersebut membuat Ika memutar bola matanya, Yudha yang berada di sampingnya langsung menjauh dengan wajah meledek. Dia tahu kalau yang menelepon itu pasti Risma, mantan mertuanya.
Ika menghela napasnya pasrah, “Semuanya lagi diurus ya Ma, ini Alishanya juga masih perlu waktu.”
“Beritanya sudah heboh dimana-mana, apalagi dia sampai kena lemparan telur begitu. Kalian berdua tuh kenapa sih? Kenapa senang sekali bikin masalah dan membuat semua orang jadi pusing, mama kan jadi nggak fokus ngapa-ngapain Ika. Papamu juga sudah melihat beritanya dan dia pusing tujuh keliling, bisa nggak kalian itu hidup biasa-biasa saja, seperti orang pada umumnya. Nggak perlu…”